
Jeje dan Fira menuruni tangga menuju meja makan. Di meja makan sudah ada Mama Inan dan Papa Rayhan.
"Maaf membuat menunggu mama dan papa," ucap Fira yang merasa tidak enak pada orang tua Jeje.
"Tidak apa-apa nak, lagi pula kita mengerti, pengantin baru bawaannya mau berdua terus," goda Mama Inan.
Pipi Fira langsung merona merah menahan malu saat mama mengodanya.
"Sudah ayo duduk, dan makan," ajak papa Rayhan.
Fira dan Jeje duduk dan makan bersama mama Inan dan papa Rayhan.
"Je, kamu kapan mau ngadain pesta pernikahan kamu?" tanya mama Inan di sela-sela makan.
"Ini alasan Jeje kemari ma, mau bahas Pesta pernikahan. Rencananya Jeje mau mengadakan pesta pernikahan minggu depan"
"Bagus kalau kamu sudah merencanakannya, mama mau pesta besar ya je, mama mau tunjukin sama semua orang kalau anak mama sudah menikah."
"Sewajarnya saja ma pestanya, tanpa kita undang banyak orang, beritanya akan cepat menyebar, jadi akan banyak orang yang tahu juga." Papa Rayhan memberi saran pada istrinya.
"Benar kata papa ma. Jeje hanya akan mengundang kerabat dan beberapa kolega saja."
"Ya sudah kalau begitu." Mama Inan pasrah dengan keinginan Jeje yang di dukung oleh suaminya.
__ADS_1
"Kamu mau pesta pernikahan seperti apa fir?" Tanya mama Inan pada Fira.
"Fira ikut saja ma."
"Ya sudah nanti mama temani Fira untuk cari gaun pernikahannya," lanjut mama Inan.
"Iya ma," jawab Fira.
"Kalau mama yang temani Fira cari gaun, tolong carikan gaun yang tidak terlalu terbuka," ucap Jeje meminta mamanya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Mama Inan bingung dengan anaknya.
"Jeje tidak mau orang-orang melihat Fira dengan gaun terbuka," ucap Jeje dengan sinis
Fira yang mendengar pembahasan tentang pesta pernikahan hanya ikut saja. Dia menyerahkan semuanya pada Jeje dan mamanya.
**
"Sini," ucap Jeje seraya menepuk tempat tidur, meminta Fira untuk tidur disampingnya.
Fira yang baru keluar kamar mandi, langsung melangkahkan kakinya merangkak ke tempat tidur tepat di samping Jeje.
Jeje yang melihat Fira naik ketempat tidur, merentangkan tangannya dan membawa Fira kepelukannya.
__ADS_1
"Akan seperti apa pesta pernikahan kita?" Tanya Fira yang sedang asik didalam pelukan Jeje.
"Kamu mau seperti apa, aku akan wujudkan."
"Aku tidak punya keinginan apa-apa."
Jeje keheranan dengan jawaban Fira.
"Setahu aku wanita suka berkhayal akan seperti apa pesta pernikahan mereka?, ada yang mau gaun mewah, gedung yang mewah dan tamu undangan yang banyak." Jeje menjelaskan apa yang dia tahu.
"Aku tak pernah berkhayal seperti itu."
"Kenapa?" Tanya Jeje masih bingung.
"Dulu aku berpikir, tidak akan pernah mendapatkan pesta mewah atau gaun mewah, karena aku bukan dari kalangan atas, jadi untuk apa aku buang waktu untuk berkhayal."
Jeje menghela nafasnya mendengar istrinya berkata seperti itu. "Kalau kamu tidak punya khayalan, ayo kita ciptakan khayalanmu sekarang. Apapun yang kamu khayalkan aku akan berusaha menurutinya. Akan aku berikan semua yang teristimewa untukmu," ucap Jeje.
"Bagiku kamulah yang teristimewa, aku tidak perlu keistimewaan lainnya," ucap Fira mengeratkan pelukannya.
Jeje yang di peluk fira merasakan fira memeluknya menyalurkan rasa cintanya.
Jeje langsung memegang dagu fira dan mendongakkan wajah Fira. "Itulah kamu, tidak perlu kemewahan untuk sebuah keistimewaan," ucap Jeje seraya mencium Fira lembut.
__ADS_1