Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Satu kesempatan


__ADS_3

Setelah acara empat bulanan Fira. Adhi mengantarkan Zara pulang ke rumah.


"Kalau lihat orang hamil, rasanya senang." Zara yang mengingat bagaimana kebahagiaan Fira.


Keheningan di dalam mobil seketika terpecah oleh suara Zara. Adhi yang sedang fokus pada jalanan di hadapannya juga di buat menoleh, saat mendengar suara Zara.


"Akan lebih senang saat kamu yang hamil sendiri." Adhi yang merasakan apa yang di rasakan Zara pun menjawab.


Pipi Zara merona saat mendengar ucapan Adhi.


"Sabar ya," ucap Adhi seraya meraih tangan Zara. Menautkan jemarinya pada pada jemari Zara, Adhi berusaha untuk meyakinkan Zara.


"Iya."


Sepanjang perjalanan ke rumah Zara, Adhi mengengam tangan Zara erat. Rasanya Adhi bahagia, bisa bersama dengan Zara. Dia berharap hubungan dengan Zara bisa sampai ke jenjang pernikahan.


Sesampainya di rumah, Zara langsung keluar dari mobil Adhi. "Sampai jumpa besok di kantor," ucap Zara.


"Sampai jumpa besok."


Zara masuk ke dalam rumah. Tapi langkahnya terhenti saat meliahat ayah dan ibunya berada di ruang tamu.


"Ayah, ibu, kenapa disini?"


"Kami menunggumu," ucap Abian pada putrinya.


"Bicara padaku?" tanya Zara.


"Duduk dulu, Ra," pinta Bu Intan.


Zara yang di minta duduk pun, akhir ya memilih duduk di depan ayahnya dan di samping ibunya.


"Ayah mau memberitahu kamu, Ra, jika bengkel ayah bangkrut." Dengan memberanikan diri Abian mengatakan pada Zara.


Zara yang mendengar ucapan ayahnya merasa sangat terkejut. "Bukannya bengkel ayah kemarin baik-baik saja?" Rasanya Zara tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Maafin ibu, Ra," ucap Bu Intan.


"Intan!" Abian yang merasa tidak terima pun memperingatkan mantan suaminya.


"Sebenarnya ada apa ini?" Zara yang tidak mengerti kondisi di hadapannya merasa sangat bingung.


"Ibu yang memakai uang ayahmu, hingga akhirnya ayahmu sekarang bangkrut, dan punya banyak hutang."


"Hutang?" Zara tidak menyangka jika ayahnya sampai punya hutang untuk memberikan uang pada ibunya.


"Intan, cukup, aku tidak mau kamu membahas itu kembali." Abian semakin memperingatkan keras pada mantan istrinya.


Bu Intan hanya menangis. "Ini semua karena aku, andai kamu tidak meminjam uang untuk di berikan padaku, kita tidak akan mengorbankan Zara." Suara Intan di iringi tangisan begitu memenuhi ruangan.


"Bu, yah, sebenarnya ada apa?" tanya Zara. Zara menatap Abian dan Intan bergantian, meminta jawaban atas pertanyaannya.


"Ayah punya hutang, Ra, dan orang yang memberi hutang ayah meminta kamu sebagaia gantinya." Dengan air mata Abian pun mengatakan pada Zara.


Zara hanya terperangah mendengar ucapan ayahnya. Dirinya tidak mengerti kenapa Si pemberi hutang itu meminta dirinya untuk mengantikan. "Kenapa harus begitu?" tanya Zara yang ingin tahu.


"Karena ayahmu tidak bisa membayar." Suara wanita terdengar dari arah pintu.


Zara yang mendengar suara menoleh pada sumber suara. Mata Zara membulat sempurna melihat wanita yang dia kenal berdiri di depan pintu. "Tante Sarah," ucap Zara.


Pandangan Zara beralih pada pria yang berdiri di samping Sarah. "Bang Atta." Zara masih tidak percaya dengan yang di lihatnya.

__ADS_1


Tadi waktu di acara Fira, Zara memang tidak melihat Atta datang. Tadi Zara juga mendengar Jeje dan Daffa yang saling bertanya tentang Atta. Tapi kini dia tahu jawabannya kenapa Atta tidak hadir di acara Fira. Ternyata Atta mempersiapkan diri untuk datang ke rumahnya


"Ayahmu punya hutang, dan dia tidak bisa membayar, jadi sebagai gantinya, aku meminta dirimu," ucap Sarah seraya melangkah masuk ke dalam rumah Zara.


Tampak Atta yang berada di samping Sarah, ikut masuk ke dalam rumah Zara.


Zara yang mendengar ucapan Sarah, masih tidak percaya. Menatap kembali pasa ayahnya, Zara berharap mendapatkan jawaban, jika semua yang di katakan Sarah adalah salah. "Apa itu benar yah?"


Abian hanga bisa tertuduk lesu. Dirirnya tidak punya keberanian menatap putrinya. "Benar."


Rasanya bagai di hujam tombak tajam. Hati Zara terasa sakit, saat mendapati ayahnya memiliki hutang dengan mama Atta. Tapi lebih membuat sakit adalah, kenyataan yang mengatakan jika dirinyalah sebagai ganti dari hutang yang ayahnya miliki.


"Berapa hutang ayah?" Memberanikan diri Zara bertanya pada Sarah.


Sarah langsung tertawa kecil. "2 Milyar."


Zara tersentak kaget mendengar berapa uang yang di pinjam ayahnya. Matanya membulat sempurna, merasakam kekegetannya. "Ayah, untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Zara menatap Abian.


"Ra, ini bukan salah ayahmu, ini salah ibu." Bu Intan pun membela mantan suaminya itu.


"Apa maskud ibu?" Zara bingung saat mendengar uang sebanyak itu di gunakan untuk ibunya.


Bu Intan bingung harus menjelaskan apa.


"Jawab, Bu, uang sebanyak itu ibu gunakan untuk apa?" Suara Zara semakin meninggi meluapkan kekesalannya.


"Zara! Turunkan suaramu!" Abian yang dari tadi diam, akhirnya membuka suara, saat mendengar ucapan Zara.


"Sebaiknya kalian urus masalah, itu nanti saja, ya," ucap Sarah memotong pembicaraan Zara dan kedua orang tuanya. " Sekarang kita bahas pernikahan saja." Sarah yang dari tadi berdiri akhirnya duduk.


"Pernikahan?" Zara masih mencerna ucapan Sarah dengan baik. Dirinya tidak tahu maksud dari pernikah siapa yang di maksud.


"Pernikahan siapa yang Tante maskud?" Zara menatap Sarah menanti jawab ibu dari Atta itu.


Entah apa yang di rasa oleh Zara. Kekagetan bertubi-tubi menghampirinya. Rasanya dadanya mulai sesak saat mendengar semua kenyataan yang ada.


Padangan Zara beralih pada Atta. "Bang, jawab kalau ini tidak benar?" Zara masih memiliki secerca harapan, jika apa yang di dengarnya semua salah.


"Ini benar, kita akan menikah." Atta yang dari tadi diam, akhirnya mulai terdengar suaranya.


"Apa Bang Atta lupa aku sedang menjalin hubungan dengan Adhi." Rasanya Zara tidak habis pikir, kenapa Atta tega melakukannya ini semua.


"Kalian baru berpacaran bukan, jadi apa yang salah jika aku akan menikahimu?"


Zara hanya bisa terperangah mendengar jawaba Atta. Dirinya tidak menyangka Atta akam berbuat sejauh ini. "Apa ini cara Abang mendapatkan aku?"


"Iya," jawab Atta. "Karena mendapatkanmu dengan baik tidak bisa, aku lakukan semua ini."


Atta yang tadinya mendapatkan tawaran mamanya untuk mendapatkan Zara sempat menolak. Tapi setelah melihat bagaimana Adhi menyatakan cinta pada Zara, Atta akhirnya menerima tawaran mamanya.


Sarah yang sempat mengobrol dengan Abian sewaktu di rumah sakit, mengetahui jika Abian memiliki bengkel. Tadinya Sarah ingin mengajak kerja sama dengan Abian, karena berharap Atta bisa dekat dengan Zara.


Tapi niat Sarah berubah saat melihat kedekatan Adhi dan Zara. Sarah berpikir mengunakan kerja samanya sebagai alasan mendapatkan Zara untuk anaknya.


Saat Atta menyetujui, Sarah mulai menyusun strategi. Tapi keberuntungan seperti sedang berpihak padanya. Karena tiba-tiba Abian datang dan memijam uang untuk di berikan pada istrinya, dan Sarah tidak melepaskan kesempatan itu.


"Sudah, ayo kita lanjutkan lagi pembahasan pernikahannya," ucap Sarah menghentikan Atta dan Zara yang masih berdebat.


"Aku tidak mau menikah," ucap Zara tegas.


Sarah hanya bisa mendegus di iringi tawa. "Kalau kamu tidak mau menikah, apa kamu mau membayad hutan ayahmu?" tanya Sarah sinis.

__ADS_1


Zara yang mendengar ucapan Sarah langsung menghampiri ayahnya. "Yah, Zara mohon, Zara tidak mau menikah dengan Bang Atta," ucap Zara memohon pada Ayahnya. "Yah, ayah tahu bukan, Zara mencintai Adhi yah." Air mata Zara sudah mengalir di wajah cantiknya. Pemohonan demi permohonan, di ucapkan oleh Zara.


Abian menatap sendu putrinya. Dalam hatinya, dirinya tidak mau mengorbankan kehagiaan putrinya. Tapi dirinya tidak mampu untuk membayar hutangnya yang cukup banyak.


"Ra, kita tidak punya cukup uang untuk membayar hutang." Abian mencoba memberikan penjelasan pada Zara.


"Yah, kita bisa jual rumah, jual bengkel, Zara juga akan berkerja dengan giat, untuk membantu memenuhi kebutuhan kita yah."


"Ra, rumah dan bengkel tidak akan cukup untuk melunasi hutang ayah."


"Zara akan cari yah, tapi Zara mohon jangan nikahkan Zara." Zara hanya bisa bersimpuh dan memohon di kaki ayahnya.


"Ra, jangan seperti ini, kalau kita tidak bisa membayar, ayahmu akan di penjara." Bu Intan mencoba membujuk Zara. Menarik Zara lembut, Intan membantu Zara berdiri.


Mendengar ibunya membujuk, emosi Zara meradang. Zara langsung menghempas tangan ibunya, yang memegang lengannya. "Ini semua salah ibu, kalau saja ibu tidak kembali, ayah tidak akan punya hutang."


"Cukup, Ra, ayah sudah tidak mau mendengar apa pun lagi. Keputusan ayah sudah bulat, kamu akan menikah dengan Atta," ucap Abian.


Zara hanya tercengang mendengar ucapan ayahnya. Rasanya segala permohonannya tidak bisa membuat ayahnya luluh. "Berikan satu kesempatan untuk melunasi hutang ayah, Tante," ucap Zara menatap Sarah.


"Kalau pun aku memberimu waktu, apa kamu yakin jika tidak akan menolak jika kamu tidak mendapatkan uang?" tanya Sarah tajam.


"Iya, aku akan menerima jika aku tidak mendapatkan uang." Dengan keyakinan Zara menjawab.


"Baiklah, aku akan berikan waktu."


Mendengar ucapan Sarah, Zara merasa lega. Paling tidak dirinya bisa mencari pinjaman.


"Tapi hanya satu hari."


Zara membulatkan matanya saat mendengar waktu Sarah hanya memberikan waktu satu hari. "Kenapa hanya satu hari?"


"Terserah padamu, jika mau silakan, jika tidak aku tidak akan memaksa." Sarah hanya tersenyum puas saat memberikan waktu pada Zara.


"Baiklah, aku setuju." Zara tidak punya pilihan. Zara lebih memilih mendapatkan waktu dari pada tidak sama sekali.


"Baiklah kalau begitu, besok lusa, aku akan kemari, dan uangnya harus sudah ada."


"Baik."


"Ayo, Ta, kita pergi, kita akan kembali ke mari lusa, untuk menjemput calon istrimu."


Atta pun berdiri dan mengikuti mamanya untuk keluar dari rumah. Sebenarnya Atta merasa berat saat mamanya memberikan waktu pada Zara. Karena Atta takut Zara akan mendapatkan uang dan tidak akan jadi menikah dengan dirinya.


Masuk ke dalam mobil Atta melajukan mobilnya meninggalkan rumah. "Kenapa mama memberikan waktu pada Zara?" protes Atta.


"Apa kamu pikir cari uang 2 milyar itu mudah? Kalau pun ada, mana ada orang akan meminjamkan uang sebesar itu?"


"Tapi ma..."


"Sudahlah percayalah pada mama."


Atta hanya bisa pasrah saat mamanya, mengatur semuanya.


***


"Apa kamu sadar dengan apa yang katakan, Ra?" Abian tidak habis pikir dengan apa yang di katakan oleh Zara.


"Zara akan mencari uang itu yah, dan Zara pastikan Zara tidak akan menikah dengan Bang Atta."


Zara langsung masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan ayah dan ibunya. Entah kenapa dirinya masih merasa kesal dengan ibunya, yang jadi penyebab ayahnya memiliki hutang.

__ADS_1


Di dalam kamar, Zara memikirkan siapa yang bisa membantunya. Satu nama yang di pikirannya, adalah Fira. Tapi mengingat Fira masih di rumah mertuanya, rasanya Zara bingung bagaimana menghubungi Fira.


Mengambil ponselnya, Zara mencoba mengirim pesan ke Fira. Berharap Fira akan membalasnya, dan Zara bisa menemuinya.


__ADS_2