
"Selamat Bang, atas pertunangannya," Adhi mengulurkan tangannya pada Jeje. Dengan memberi senyuman pada Jeje.
Jeje yang melihat Adhi tersenyum padanya, bisa mengartikan bahwa senyuman Adhi seolah sedang meremehkannya. "Terimakasih," Jeje menerima uluran tangan Adhi.
"Ternyata cuma segini doang besar rasa cinta Abang," sindir Adhi pada Jeje. Walaupun Adhi senang, saat Jeje memilih untuk bertunangan dengan orang lain. Tapi masih terbesit kesal, karena dia merelakan Fira untuk orang seperti Jeje, yang tidak bisa menjaga hatinya.
"Cinta? cinta seperti apa yang kamu pertanyakan? seharusnya kamu tanyakan pada wanita itu, sebesar apa cintanya sampai dia pergi meninggalkan ku?" Jeje begitu kesal dengar pertanyaan Adhi. Dia ingat betul bagaimana Fira yang memilih meninggalkannya begitu saja, dari pada berjuang bersamanya.
Adhi yang mendengar ucapan Jeje hanya tersenyum. "Suatu saat akan aku tanyakan padanya saat aku menemukannya nanti, dan saat Abang tahu dia pergi karena begitu mencintai Abang, Abang akan menyesal," cibir Adhi pada Jeje.
Jeje yang mendengar Adhi tak berhenti membuatnya emosi menjadi makin geram, "Hentikan omong kosongmu, dan pergilah dari sini, jangan karena kamu adik dari Daffa aku tidak bisa menghajarmu," ancam Jeje pada Adhi.
Adhi yang mendapat ancaman dari Jeje, hanya menanggapi santai. "Oke...aku akan pergi," ucapanya.
"Sekali lagi selamat atas pertunangan abang, semoga Abang segera menikah, karena setelah Abang menikah, aku tidak akan mempunyai saingan lagi, dan persaingan kita akan berakhir," ucap Adhi lagi dengan senyum kemenangan.
Jeje yang melihat ulah Adhi yang membuatnya emosi, hanya mengepalkan tangannya, Ingin rasanya dia melayangkan pukulan pada Adhi, tapi sejenak dia mengingat banyak orang yang berada di pesta.
Setiap ucapan Adhi benar-benar melintas di pikirannya. "Apa keputusanku sudah benar dengan memilih pertunangan ini ?" batin Jeje mempertanyakan semua yang dia lakukan sekarang.
Saat Jeje sedang asik dengan pikiranya, Ana menghampirinya. "Sayang ...." panggil Ana
Jeje yang mendengar ada yang memanggil, menoleh mendapati Ana menghampirinya.
"Aku sangat bahagia kita bisa bertunangan." Ana memeluk lengan Jeje, mengungkapkan perasaan senangnya, tapi Jeje sama sekali tidak menanggapinya.
"Apa kamu bahagia?" tanya Ana pada Jeje.
"Bahagia? kebahagiaanku sudah pergi bersama kepergian Fira," batin Jeje.
"Kenapa kamu diam saja," rengek Ana.
Jeje yang mendengar regekan Ana menjadi kesal. "Sudah lah Ana jangan merengek seperti anak kecil, kalau kamu tanya aku bahagia atau tidak jawabanya tidak, hanya mama dan kamu yang menginginkan pertunangan ini, jadi jangan bertanya lagi padaku," tegas Jeje, dan pergi berlalu meninggalkan Ana.
Ana yang melihat Jeje pergi, dan membentaknya sebelum pergi merasa sangat sedih. "Kenapa kamu selalu begitu padaku" batin Ana.
__ADS_1
Bu Inan yang melihat anaknya pergi meninggalkan Ana begitu saja, mencoba menghampiri Ana yang masih diam membeku.
"Ana, apa yang terjadi kenapa Jeje pergi begitu?" tanya Inan bingung.
"Aku hanya bertanya apa dia bahagia atau tidak, dan dia menjawab dia tidak bahagia tante," adu Ana pada Inan.
Bu Inan yang mendengar cerita Ana, hanya bisa membatin, "Anak itu belum bisa melupakan Fira juga"
"Sabar sayang, yang penting kamu sudah bertunangan dengan Jeje, setelah ini dia akan jatuh cinta dan menikahimu dengan cinta." Bu Inan mencoba menenangkan Ana.
"Apa mama yakin dia akan jatuh cinta pada ku?" Ana yang melihat Jeje seperti itu benar-benar tak yakin, Jeje akan jatuh cinta padanya.
"Berusahalah Nak, aku akan selalu mendukungmu," Bu Inan hanya memberi semangat untuk Ana, walaupun dirinya sendiri tidak yakin Jeje akan mencintainya.
"Sudah ayo temui teman-teman mama, mereka harus tahu kalau calon menantuku seorang pengusaha dan wanita dari kalangan atas."
Ana mengikut Inan yang memperkenalkan dirinya pada teman-teman Inan. Inan sangat membanggakan Ana. Selain anak tunggal dari orang terpandang Ana juga seorang pengusaha muda hebat. Ana juga mengurus bisnis ayahnya seperti halnya Jeje. Itulah alasan Inan berusaha keras menjodohkan Ana dan Jeje, menurut Inan Ana dan Jeje cocok dan menjadi satu akan menjadikan sebuah perusahaan bertambah besar suatu saat nanti.
**
"Berarti cintanya dengan Fira memang nggak sepenuhnya," jawab Adhi yang masih fokus menyetir.
Setelah memberi ucapan selamat pada Jeje, Adhi memilih langsung mencari Zara, dan mengajaknya pulang.
Zara yang mendengar ucapan Adhi langsung menoleh pada Adhi. "Kalau nggak sepenuhnya, dia nggak akan nyari Fira juga dhi,"
"Ya harusnya dia mencari Fira sampai dapat, jangan menyerah begitu aja." Adhi yang masih kesal karena Jeje menyerah begitu saja merasa sedikit kesal.
"Sampai dapat?" tanya Zara. "Kamu aja nyari Fira juga nggak dapat-dapat," cibir Zara pada Adhi.
Adhi menoleh ke arah Zara sebentar sebelum kembali ke arah jalanan di depannya, " Kenapa kamu ngomongnya begitu,"
"Kamu jangan nyalahin Pak Gajendra aja dhi, mungkin dia punya alasan menerima pertunangan ini." Zara mencoba membela.
"Kenapa kamu belain bang Jeje?" tanya Adhi merasa tidak terima.
__ADS_1
Zara hanya melirik sinis pada Adhi. "Enam bulan bukan waktu sebentar lho dhi, banyak hal bisa terjadi,"
"Terjadi apa maksud kamu?" tanya Adhi yang masih bingung.
"Contoh aja, bisa aja selama enam bulan mencari, dia bisa jatuh cinta sama orang lain, atau saat mencari selama itu orang tuanya meminta berhenti mencari," jelas Zara pada Adhi.
Adhi hanya mencerna baik-baik ucapannya. Adhi membenarkan, dalam enam bulan mencari Fira banyak hal yang bisa terjadi, termasuk padanya. Sudah banyak yang di laluinya juga selama enam bulan mencari Fira.
"Jadi jangan buruk sangka," hardik Zara pada Zara.
"Iya."
"Tapi kira-kira Fira kemana ya dhi, kita udah cari kemana-mana tapi belum juga menemukannya, aku sangat merindukannya," ucap Zara tanpa jeda member tahu isi hatinya
Adhi hanya tersenyum mendengar Zara yang tanpa henti bicara.
**
"Kamu benar tidak mau ikut abang ?" tanya Daffa pada adiknya.
Setelah berencana untuk menemui mamanya. Hari ini Daffa dan Tania pergi menemui mamanya.
"Abang pergi saja, kalau nanti disana ada hal menarik aku akan kesana." Adhi mengoda abangnya.
"Baiklah, akan aku carikan hal menarik disana nanti, dan kamu akan kesana dengan sendirinya," cibir Daffa kesal.
"Berapa hari abang disana?"
"Tania banyak jadwal pemotretan setelah ini jadi aku tak akan lama disana."
Tania calon istri Daffa adalah seorang model. Tania dulu adalah teman Daffa kuliah, mereka sudah cukup lama berpacaran, dan akhirnya mereka memutuskan menikah.
"Baiklah titipkan salamku, Bang."
"Kenapa tidak kamu hubungi saja, kenapa mesti titip salam," kesal Daffa.
__ADS_1
"Ya akan aku hubungi setelah Abang disana."