
Sudah tiga bulan Fira tinggal di rumah baru. Usia kandungan Fira yang sudah mencapai tujuh bulan pun membuat perutnya sudah nampak besar. Keadaan perut yang besar membuat aktivitas Fira sudah mulai kesulitan.
"Kamu sudah siap?" Fira yang baru saja masuk ke dalam kamar, untuk mengecek apakah Jeje sudah selesai mandi.
"Sudah, tapi yang ini belum," ucap Jeje seraya menunjukan dasi pada Jeje.
Fira hanya tersenyum saat Jeje menyerahkan dasi padanya. Melangkah menghampiri Jeje, Fira menerima, dan memakaikan dasi itu di kerah kemeja Jeje.
Jeje yang melihat Fira ingin memakaikan dasi lehernya, menegadah. "Kapan ibu akan tinggal disini?" Jeje sedikit menundukan sedikit kepalanya.
"Jangan menunduk dulu," tegur Fira yang kesulitan memakaikan dasi saat Jeje menundukan kepalanya.
"Iya."
Setelah tinggal merapikan saja, Jeje menundukan kembali kepalanya. "Aku tanya kapan ibu kemari?" Jeje mengulang kembali pertanyaanya.
"Setelah Kak Raka menikah."
"Besok Raka menikah, berarti ibu akan kemari lusa?" Jeje memastikan pada Fira.
"Mungkin."
"Aku harap ibu tidak menunggu lagi untuk tinggal disini." Jeje yang melihat kondisi kandungan Fira yang sudah membesar membuat dirinta benar-benar khawatir.
"Iya, aku pastikan ibu tidak akan menunda lagi." Fira tahu, sebesar apa harapan Jeje untuk ibunya tinggal bersamanya. Bu Ani yang menunda karena ingin menunggu Raka menikah, membuat Jeje kecewa.
"Besok kamu jangan terlalu lelah." Suara Jeje terdengar menahan kesal, saat mengingatkan Fira. Fira yang akan menjadi pendamping wanita di acara pernikahan Raka dan Celia, benar-benar tidak bisa Jeje larang. Jeje mengingat bagaimana perdebatan mereka saat Fira memutuskan untuk menjadi pendamping Celia, Fira marah dan tidak menegur Jeje seharian penuh, dan itu benar-benar membuat Jeje tersiksa.
"Iya."
"Pintar," ucap Jeje seraya menghadiahi kecupan di pucuk rambut Fira.
Jeje dan Fira keluar dari kamar dan menuju ke meja makan. Menikmati sarapannya, Fira dan Jeje menyelipkan beberapa obrolan, mengenai sejauh apa persiapan pernikahan Raka. Fira yang selalu mendapatkan informasi dari ibunya, selalu tahu bagaimana perkembangan rencana pernikahan Raka dan Celia.
Setelah menyelesaikan makannya, Fira mengantarkan Jeje sampai mobil. Rutinitas pagi Fira memang hanya akan di isi dengan mempersiapkan segala kebutuhan Jeje.
Masuk ke dalam rumah Fira mengambil ponselnya. Pagi ini Fira ingin bermalas-malasan menikmati taman dan membaca beberapa artikel seputar kehamilan.
Duduk di kursi taman, Fira melihat bunga-bunga bermekaran. Fira mengingat bahagaimana dirinya pertama kali pindah rumah. Fira begitu antusias untuk menanam berbagai macam bunga. Tiap hari Fira juga sibuk dengan bunga-bunga.
Sampai pada saat perutnya yang mulai membesar, membuat Fira tidak bisa lagi untuk berlama-lama berjongkok menanam bunga. Kini Fira hanya di sibukan menyiram bunga saja karena menanam bunga, akan di kerjakan oleh asisten rumah tangga.
Membuka layar ponselnya, Fira melihat ponselnya. Mata Fira membulat saat melihat pesan di layar ponselnya. "Zara hamil?" ucap Fira. Fira yang mendapat pesan singkat dari Zara, langsung kaget.
Tanpa berlama-lama Fira mengusap layar ponsel untuk menghubungi Zara. Fira ingin mendengar lansgung dari Zara, tentang kebenaran kehamilan Zara.
"Halo, ra," sapa Fira saat sambungan telepon tersambung.
"Halo, Fira." Suara terikan Zara terdengar dari sambungan telepon.
"Kamu beneran hamil?" Fira memastikan kembali.
"Iya, fir, aku hamil dua bulan." Zara menjelaskan pada Fira.
"Aku turut senang ya, ternyata cepat juga kamu hamil."
"Iya."
"Kamu sehat-sehat ya," ucap Fira.
"Iya pasti itu."
Fira dan Zara saling berbagi pengalaman. Fira menceritakan beberapa kejadian yang pernah dia alami selama awal kehamilan.
Bertukar cerita Fira menikmati waktunya bersama dengan Zara. Sampai saat Fira menghentikan sambungan telepon dari Zara, karena tersengar suara seseorang yang datang.
Setelah mematikan sambungan telepon dengan Zara, Fira menuju ke ruang tamu. Saat di ruang tamu, Fira melihat Mama Inan lah yang datang.
"Mama," panggil Fira saat melihat mertuanya.
"Halo sayang," ucap mama Inan seraya menautkan pipinya.
"Ada apa mama kemari?"
"Mama mau ajak kamu belajar perlengkapan bayi." Mama inan begitu dengan semangat menjelaskan pada Fira.
"Tapi ma, Fira belum cek bayi kami laki-laki atau perempuan, jadi kalau mau beli takut salah."
Mama Inan sedikit berpikir, bagaimana caranya untuk membeli kepeluan cucunya saat dirinya tidak tahu calon cucunya apa. "Kalau begitu kita cek sekarang dulu."
Fira membulatkan matanya, saat mendengar jika mamanya mengajak dirinya untuk mengecek kandungan. "Tapi Jeje sedang kerja." Fira benar-benar bingung untuk menolak mertuanya itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu cepat hubungi dia, dan ajak dia untuk pulang."
Di minta mamanya untuk menghubungi Jeje, Fira merasa sangat bingung. Tapi menolak mamanya pun Fira tidak tahu harus bagaimana. Mengusap layar ponselnya, Fira menghubungi Jeje.
"Halo, sayang," ucap Fira saat menghubungi Fira.
"Iya, ada apa menghubungi." Jeje yang belum lama sampai kantor, merasa heran saat Fira menghubunginya.
"Sayang bisakah kamu pulang." Suara Fira terdengar ragu-ragu saat menuruti permintaan mamanya.
"Kamu kenapa sayang, apa kamu baik-baik saja?" Jeje yang mendengar permintaan Fira, begitu kaget.
"Aku baik-baik saja, tapi..."
Belum sempat Fira melanjutkan ucapannya, mama Inan sudah merebut ponsel Jeje. "Mama sama Fira mau periksa jenis kelamin anak kamu," jelas mama Inan.
"Mama?" Jeje sedikit kegat dengan suara mamanya.
"Sudah cepat pulang!" mama Inan pun memerintahkan Jeje untuk pulang.
"Ya ampun ma, kenapa harus periksa sekarang, ini belum jadwal periksa." Jeje tidak habis pikir, kenapa bisa mamanya meminta Fira memeriksakan kandungan sebelum waktunya.
"Iya, soalanya mama mau beli perlengkapan kamu. Jadi kalau belum tahu jenis kelaminnya, bagaiamana bisa mama beli."
Jeje hanya bisa mendengus kesal, saat ternyata alasan mamanya adalah itu. "Tapi ma..."
"Pulang sekarang atau mama dan Fira akan berangkat sendiri."
Mendapatkan ancaman dari mamanya, Jeje tidak punya pilihan lain. "Iya." Akhirnya Jeje hanya bisa pasarah menuruti keinginan mamanya.
Mama Inan yang mendengar Jeje akan pulang merasa sangat senang. Dia pun mematikan sambungan telepon dan memberikannya pada Fira.
Fira yang menerima ponselnya hanya bisa memasang wajah masam. Dirinya tahu, jika Jeje pasti tidak akan menolak permintaan mamanya.
***
Setelah Fira menunggu Jeje pulang, akhirnya Jeje pulang juga. Menunggu Fira dan mamanya di mobil, Jeje memasang wajah masam. Jeje benar-benar kesal dengan ulah mamanya, yang tiba-tiba memintanya untuk pulang.
"Jangan kesal begitu," tegur mama Inan pada Jeje.
"Bagiamana Jeje nggak kesal kalau mama merubah jadwal cek kehamilan Fira begitu saja."
Fira yang melihat Jeje dan mamanya berdebat hanya bisa mengeleng. Fira sudah bisa menebak, jika perdebatannya akan di menangkan oleh mertuanya.
Walaupun dengan kekesalan, Jeje tetap mengikuti mamanya untuk pergi ke dokter. Sebenarnya dirinya juga sangat ingin tahu jenis kelamin anaknya, tapi Jeje menunggu jadwal cek kehamilan Fira.
Sesampainya di rumah sakit, Jeje langsung mendaftarkan diri, dan langsung masuk ke ruangan dokter.
"Selamat pagi," sapa dokter pada Jeje, Fira dan mamanya.
"Pagi, dok." Fira menjawab sapaan dari dokter.
"Apa ada masalah, Nyonya Fira?" Dokter yang memang tahu jadwal kunjungan Fira pun bertanya.
"Tidak, dok," ucap Fira. "Mertua saya ingin melihat anak saya." Fira menjelaskan pada dokter.
"Oh, saya kira ada masalah." Dokter merasa lega, saat mendengar jika kondisi Fira baik-baik saja.
Fira pun hanya tersenyum saat menjawab ucapan dokter.
"Mari." Dokter pun mempersilakan Fira untuk naik ke ranjang perikasa. Dibantu oleh perawat, dokter memeriksa setelah perawat menuangkan gel ke atas perut Fira.
Jeje yang memang sudah berkali-kali melihat pemeriksaan anaknya dalam kandungan Fira, selalu saja di buat berdebar saat kejadian itu terulang. Jeje selalu berharap kalau keadaan anaknya akan baik-baik saja.
"Lihat, sepertinya pertumbuhan bayi Nyonya Fira bagus, beratnya juga sudah sesuai." Dokter menjelaskan pada Fira, Jeje dan mamanya.
"Jenis kelaminnya apa, dok?" tanya mama Inan begitu semangat.
"Oke, kita lihat ya, kira-kira jenis kelaminnya apa ya," ucap dokter seraya memutar alat kehamilan di perut Fira.
Jeje, Fira, dan mama Inan begitu berdebar menunggu dokter mengatakan jenis kelamin anak Jeje dan Fira.
"Sepertinya laki-laki," ucap dokter.
"Benarkah, dok?" tanya Jeje memastikan.
"Coba lihat, ini ada menaranya," ucap dokter menjelaskan bentuk kelamin anak dalam kandungan Fira.
Jeje, Fira, dan mamanya melihat ke arah layar USG, tapi mereka tidak tahu apa yang tergambar disana.
Tapi penjelasan dokter jika anak Fira laki-laki sudah menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Mata Fira berbinar saat mendengar jika anaknya adalah anak laki-laki. Sebenarnya Fira tidak mempermasalahkan apa pun jenis kelamin anaknya, tapi mendengar jika anaknya laki-laki Fira merasa sangat senang.
Mama Inan begitu senang saat mendengar jika anak Jeje adalah seorang laki-laki membuat mamanya begitu senang. Mama Inan berharap, jika kehadiran anak laki-laki bisa meneruskan garis keturanan dari Nareswara.
Dari awal pemeriksan tangan Jeje selalu mengenggam tangan Fira. Jeje tak kalah bahagia saat mendengar saat mendengar jika anaknya laki-laki. Sebagai ayah, dia memang ingin anak pertamanya lahir laki-laki, agar kelak bisa menjaga keluarganya.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan Jeje, Fira dan mamanya pergi ke mall. Mama Inan begitu tidak sabar membeli semua kebutuhan untuk cucunya.
Sesampainya di mall, Jeje, Fira dan mama Inan menuju ke toko perlengkapan bayi. Begitu banyak perlengkapan bayi berjajar di etalase, dengan warna-warna ceria yang begitu bagus.
Mama Inan yang melihat begitu banyak perlengkapan bayi yang begitu menarik, membuat mama Inan begitu bersemangat. Semua barang di beli oleh mama Inan.
Fira dan Jeje yang melihat mama Inan merasa sangat bingung. Karena begitu banyak yang di beli oleh mama Inan.
"Ma, cukup, ini sudah banyak," ucap Jeje yang melihat mamanya.
"Bagus, je, kalau anak kamu pakai pasti akan bagus sekali," ucap mama Inan menunjukan baju pada Jeje.
Jeje yang melihat hanya menajamkan pandangan. Yang di tunjukan mamanya, bukanlah itu saja yang di beli, karena sudah ada beberapa yang berada di kasir.
Tanpa menghiraukan Jeje, mamanya terus saja mengambil baju untuk cucunya.
"Ma, kalau mama beli ukuran ini terlalu banyak, tidak akan bisa di pakai semua, karena anak bayi cepat sekali pertumbuhannya. Lebih baik nanti kita beli lagi saat tahu seberapa besar anak kami." Fira menjelaskan pada mertuanya. Fira berharap mertuanya akan berhenti memilih baju dan perlengkapan yang terlalu banyak.
"Kamu benar juga," ucap mama Inan. Akhirnya mama Inan berhenti untuk membeli baju dan perlengkapan cucunya.
Fira bersykur saat mertuanya berhenti.
"Je, bayar," ucap mama Inan
Jeje hanya bisa membulatkan matanya, saat ternyata dirinyalah yang di minta membayar. Tapi mengingat ini semua untuk anaknya, akhirnya Jeje pun membayar semua yang di beli oleh mamanya.
Setelah menyelesaikakan semua pembayaran akhirnya Fira dan Jeje pulang ke rumah. Sebelum ke rumah, Jeje mengantarkan mamanya terlebih dahulu.
***
Jeje yang baru saja selesai mandi mencari keberadaan Fira. Tapi Jeje tidak menemukan Fira di kamarnya. Setelah memakai bajunya, Jeje keluar untuk mencari Fira. Tempat yang di tuju Jeje adalah kamar anaknya.
Membuka pintu kamar, Jeje mendapati Fira disana. "Ternyata benar kamu di sini," ucap Jeje yang masuk ke dalam kamar.
"Kamu sudah selesai mandi?" Fira yang melihat Jeje pun bertanya.
"Iya."
Jeje melangkah menghampiri Fira yang sedang duduk di sofa. Jeje melihat Fira sedang sibuk merapikan baju yang di beli tadi di mall.
"Apa tidak di cuci dulu?" tanya Jeje.
"Di cuci, nanti saja, yang penting aku rapikan dulu," ucap Fira. "Kamu lihat bukan kalau semua berantakan." Fira berkata seraya menujukan dengan matanya, seberapa banyak barang yang di beli mamanya.
"Aku heran dengan mama, semua di beli," grutu Jeje.
Fira hanya membalas dengan senyuman ucapan Jeje. "Ini cucu pertama, jadi wajar jika mama begitu ingin membelikan semua."
"Aku yang bayar, jadi aku yang beli." Jeje yang tidak terima pun menyanggah ucapan Fira.
Tawa Fira langsung terdengar saat mendengar, Jeje yang tidak terima.
"Kamu menertawakam aku," ucap Jeje seraya mencium pipi Fira. Jeje merasa sangat gemas karena Fira menertawakannya.
"Sayang," keluh Fira saat mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari Jeje.
Melepas ciumannya, Jeje beralih memeluk Fira. "Aku sudah tidak sabar menunggu anak kita lahir," ucap Jeje.
"Aku pun juga."
"Sekarang sebaiknya kamu istrihat, lanjutkan saja besok, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa karena kelelahan." Jeje melepas pelukannya dan mengajak Fira untuk ke kamarnya.
Fira yang memang sudah lelah, akhirnya mengikuti saja ajakan Jeje.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like
__ADS_1