
Adhi yang melihat mereka berempat sudah berlalu, kembali ke loby.
"Kenapa aku harus bersaing lagi dengan teman bang Daffa" batinnya seraya melihat ke arah pintu masuk kantor.
Adhi hanya bisa menertawakan dirinya sendiri. Apakah akhir cintanya juga akan seperti apa yang terjadi ada Fira. Di tinggalkan untuk orang lain.
Mengingat Fira, Adhi teringat kalau Fira pernah bilang dirinya pejuang cinta. Adhi tersenyum mengingat kata-kata Fira.
"Semangat pejuang cinta, ini baru awal, jangan kalah sebelum berjuang" ucapnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Adhi pun berlalu meninggalkan kantor.
**
"Kenapa bisa Zara pulang dengan Atta?" tanya Jeje pada Fira saat sedang perjalanan menuju apartemennya.
Fira yang fokus ke jalanan di depannya, di buat menoleh saat Jeje bertanya.
"Ada angin apa dia mau mengurusi orang"
"Zara bilang tadi pagi bertemu Atta sewaktu di halte bus" jelasnya pada Jeje.
"Bukannya dia biasa naik motor?"
"Motornya di tinggal di kantormu, karena kemarin dia pergi bersama nayla" jelas Fira lagi, "Kenapa kamu bertanya tentang Atta dan Zara?" tanyanya lagi.
"Ya aku kesal saja, aku mengirim Zara agar Adhi bisa mendekatinya, tapi bocah itu malah kalah cepat dengan Atta" ucap Jeje yang kesal mengingat niatnya mengirim Zara, untuk mengantikan Fira, agar Adhi bisa dekat dengan Zara.
"Ya aku juga nggak tahu, kamu sudah berusaha membantu, tapi kalau memang takdir membawa Zara dengan Atta, mau apa lagi?" Ucap Fira, "Memangnya kalau Zara dengan Atta apa kamu tidak suka?" tanya Fira yang sedari tadi melihat Jeje yang tidak terlalu suka Zara dekat dengan Atta, padahal yang Fira tahu Atta adalah temannya
"Aku bukan tidak suka, tapi aku ragu dengan Atta. Aku hanya takut, dia hanya bermain-main dengan Zara"
Fira mencerna ucapan Jeje, mungkin Jeje benar, Atta yang suka bermain wanita akan mudah menyakit Zara. Fira lebih suka Zara dengan Adhi, karena Fira tahu Adhi seperti apa.
"Mungkin saja dia bisa berubah saat bersama Zara" Sebenarnya Fira juga ragu dengan ucapannya sendiri, tapi menuduh orang seburuk itu, Fira tidak bisa.
"Sebagai teman aku berharap dia berubah"
"Tapi apa temanmu itu sanggup memiliki kekasih playboy seperti Atta?" tanya Jeje menoleh sebentar pada Fira, sebelum akhirnya kembali melihat arah jalanan di depannya.
"Kan Zara juga belum tentu suka" elak Fira yang memang tahu Zara belum terlihat ada ketertarikan dengan Atta.
__ADS_1
"Ya semoga saja Zara tidak tertarik"
Fira masih memikirkan setiap ucapan Jeje, "Sebaiknya aku tanyakan nanti pada Zara"
"Sudahlah biarkan mereka berjuang dan bersaing, kita lihat siapa yang menang" ucap Jeje dengan senyuman licik.
"Kamu pikir ini permainan, ada menang kalah" Fira kesal dengan ucap Jeje.
Jeje langsung tergelak, "Kamu benar, ini namanya permainan cinta, ada yang menang dan yang kalah" ucapnya pada Fira.
"Seperti aku yang menang mendapatkanmu dalam permainan cintamu" sombong Jeje pada Fira.
Fira hanya mengeleng-geleng kepala mendengar ucapan Jeje.
**
Di sepanjang perjalanan Atta mengantar Zara, dia selalu mengajak bicara Zara. Zara memang tipe yang cerewet tapi entah kenapa di depan Atta dia bisa diam, dan jarang membuka mulutnya untuk bercerita.
"Aku sering melihatmu banyak bicara dengan Fira, tapi kenapa kamu diam saat bersama ku?, Apa kamu tidak nyaman?" Atta melihat perubahan pada Zara.
"Tidak" ucap Zara ragu-ragu.
"Anggaplah aku temanmu, jadi kamu bisa bercerita seperti biasa" ucap Atta menatap sejenak Fira sebelum kembali fokus pada kemudi.
"Iya"
"Berarti kita berteman?" tanya Atta dan Zara mengangguk.
"Bagainana kalau kita makan dulu untuk merayakan pertemannan kita?"
"Aku tidak menerima penolakan" ucap Atta sebelum Zara menolaknya, dan Zara terpaksa mengiyakan.
Sesampainya di restoran Atta memesan beberapa makanan. Sepanjang makan sesekali Atta menanyakan tentang Zara. Dari menanyakan berapa saudara yang dia punya, sampai apa yang di suka atau tidak di suka oleh Zara.
Zara yang awalnya diam, mulai tertarik untuk membuka mulutnya bercerita, walau pun tidak banyak yang dia ceritakan.
Saat sedang asik mengobrol tiba-tiba ada yang menghampiri mereka.
"Hai ta" sapa seorang wanita cantik, saat dia sudah berdiri di samping Atta.
Atta yang di panggil langsung menengadah melihat ke arah wanita itu, "Celia" gumamnya saat dia melihat wanita yang menghampirinya.
__ADS_1
"Kapan dia kembali kesini !" seru Atta dalam hati.
"Siapa wanita cantik ini, apa dia pacar bang Atta" batin Zara dalam hati saat melihat wanita yang begitu cantik baginya.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Celia pada Atta.
Tapi mata Celia mendapati Atta tidak sendiri, Atta bersama dengan seorang wanita. Dan menurut Celia cukup cantik.
"Hai aku Celia" ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
"Zara" menyebut namanya dan menerima uluran tangan Celia.
"Untuk apa kamu kemari?" Atta tidak menjawab pertanyaan Celia, malah balik bertanya pada Celia. Atta malas berlama-lama dengan Celia dan langsung menanyai maksud kedatanganya.
"Aku ingin kerumah Tania" ucap Celia pada Atta, "Dan kebetulan sekali kamu disini, jadi kamu bisa mengantarku untuk kesana" Celia menatap Atta memintanya untuk mengantarnya ke rumah Tania.
"Oh dia teman kak Tania, pantas cantik, pasti dia juga model "
"Aku tidak bisa" ucap Atta ketus.
"Ayolah, aku cuma sehari disini, besok aku harus pemotretan lagi di luar negeri"
Zara yang melihat Celia memohon, merasa tidak enak, karena pasti alasan Atta menolaknya karena ada Zara.
"Bang Atta bisa mengantarnya saja, aku akan naik taxy "
Atta yang dalam situasi seperti ini menjadi bingung di hadapkan dengan dua wanita di depannya.
"Kenapa dia datang di saat tidak tepat" batin Atta kesal dengan kedatangan Celia.
"Aku akan mengantarmu lebih dulu, dan mengatar Celia setelahnya" ucap Atta pasrah.
Karena kantor Zara lebih dekat, Atta memilih mengantar Zara terlebih dahulu. Zara pun mengiyakan permintaan Atta. Mereka bertiga pun menuju mobil Atta dan menuju kantor Zara terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan ke kantor, Zara mencoba untuk diam mendengarkan Celia bercerita dengan Atta. Celia menceritakan perkerjaan dan perjalanannya yang menyenangkan selama setahun ini di luar negeri. Dan menceritakan, besok dia juga akan kembali untuk pemotretan. Atta yang di ajak bicara pun tak menjawab atau menanggapi.
Sesampainya di kantor Zara berpamitan pada Atta dan Celia. Dan berterimakasih pada Atta.
"Sampai berjumpa lagi Zara" ucap Celia dengan senyuman.
"Iya sampai jumpa lagi" ucap Zara ragu-ragu.
__ADS_1
Dan mobil Atta melaju, meninggalkan Zara di kantornya. Entah kenapa Zara aneh melihat pemandangan ini, "Kalau dia pacarnya kenapa bang Atta cuek sekali" batin Zara, " Mungkin karena ada aku"
Zara pun bergegas mengambil motornya dan segera pulang.