
Sudah satu minggu Radit mendiamkan sang Istri,sudah satu minggu pula Dia tidur di kamar tamu.Radit masih merasa kesal dan merasa dibohongi,sekaligus kecewa dengan sang Istri,seharusnya Bilqis mengerti keinginannya,apalagi usianya kini sudah tidak muda lagi,Dan Dia sangat menginginkan sang Istri bisa secepatnya hamil kembali,agar rumah besarnya itu dipenuhi tawa anak anak,dan jarak dengan umurnya pun tidak semakin jauh,mengingat umurnya sudah semakin matang,namun Bilqis tidak mengerti dengan keinginannya,Dia membuat keputusan sepihak tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengannya,sebagai suami dia merasa tidak dihargai,tidak dianggap.Radit tau itu tubuhnya,Bilqis berhak menentukan segala keinginannya,tapi bukankah Diapun punya hak atas Istrinya itu,bukankah keputusan apapun harusnya Dia diskusikan bersama,tanpa dilakukan dengan sembunyi sembunyi seperti ini.
Salah satu tujuan pernikahan adalah memeroleh keturunan,bukankah seorang wanita diciptakan dengan mempunyai rahim agar kelak Dia bisa mengandung,melahirkan,meneruskan garis keturunan.Tapi Radit merasa bahwa istrinya itu menganggap mempunyai anak adalah hal sangat merepotkan,makanya Dia sampai meminum pil pil itu dengan dalih menjaga jarak,membuat Dia benar benar sangat marah.
Seperti biasa Bilqis yang sudah bangun sejak subuh tadi,sudah menyiapkan sarapan untuk sang Suami,makanan untuk Rafa,ditengah tugas kuliahnya yang menumpuk,Dia berusaha melakukan tugasnya sebagai seorang Ibu dan seorang Istri yang baik untuk keluarga kecilnya,walaupun kini hatinya hampa karena sang Suami masih memusuhinya.
Bilqis mengakui kalau dirinya salah,karena menyembunyikan hal itu dari sang Suami,tapi inilah yang Dia takutkan,suaminya akan marah dan bersikap dingin padanya,walaupun Dia minta ijin,pasti tidak akan Radit ijinkan.Apakah keputusannya ini salah,hanya memberikan jarak untuk hamil lagi agar Dia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan tenang,agar Dia juga bisa memperhatikan Rafa dengan baik,tapi justru malah disalah artikan oleh suaminya.Perasaannya kini seakan hampa,biasanya sang suami selalu manja kepadanya saat pagi pagi sebelum berangkat kerja,ada saja kelakuan mesumnya yang membuat Bilqis kesal dan sebal,namun kini Dia merindukannya.Dia rindu suaminya,rindu belaiannya,rindu kemesraannya,tapi Radit sepertinya begitu sulit memaafkannya kali ini.padahal berulang kali Dia menjelaskan sekaligus meminta maaf,tapi sang Suami masih bersikap ketus dan dingin kepadanya.
Bilqis menghampiri Rafa yang sudah lucu,ganteng dan wangi.Dia menggedong anaknya yang semakin sehat dan pintar.Radit sudah tampil rapi dengan setelan jas dan dasinya.Dia melirik kearah sang Istri yang sedang menggendong Rafa,kemudian menghampirinya.
"Rafa sayang sini sama Papi,Anak Papi udah ganteng,udah wangi,Bi Yuni memang sangat pandai dan telaten mengurusmu ya nak,untunglah ada Bi Yuni yang hebat dalam mengurus anak,tidak merasa kerepotan!"ujar Radit sambil mengambil alih sang anak dari pangkuan sang Istri.
Mendengar kata kata itu terlontar dari mulut sang suami,membuat hati Bilqis panas.
"Apa maksud Kamu berkata seperti itu Mas?memangnya Aku tidak ada andil sama sekali dalam mengurus Anakku?Aku baru kuliah seminggu,seakan akan Rafa Aku telantarkan,seakan akan Aku tidak pernah merurusnya sama sekali."ucap Bilqis nyalang.
"Lho kok Kamu sewot sih,apa omongan Aku salah,Bi Yuni juga kan ngurusin Rafa,mungkin Dia lebih cape dari Kamu,seharian Dia momong anak kita,sedangkan Kamu.Rafa sudah tidur saat Kamu pulang!"
"Aku baru seminggu kuliah,dan ga tiap hari pulang malam,tapi omongan Kamu tadi seakan Aku menelantarkan Rafa,ga pernah ngurus dia sama sekali.Padahal setiap hari Aku selalu mengurus anakku sendiri,walaupun Aku dikampus juga selalu Aku semptakan untuk memperhatikan Anakku Mas,tapi dari arah pembiacaraan Kamu,Aku seperti Ibu yang ga tanggung jawab sama sekali sama anak."
"Aku ga bilang seperti itu,itu hanya perasaan Kamu saja yang sensitif,mungkin karena Kamu merasa kerepotan,sehingga Kamu mudah marah,dan mudah merasa tersindir,sudahlah Aku tidak ingin berdebat sama Kamu,ini masih pagi.Aku harus bersiap siap kerja, akan membawa Rafa ke tempat Ibuku,Kamu silakan pergi kuliah dengan tenang,sehingga Rafa tidak banyak menyusahkanmu!"Ujar Radit
__ADS_1
"Apa ini Mas,Kamubersikap seperti ini sama Aku,Aku tidak merasa repot dan susah mengurus Anakku sendiri,kenapa Kamu memojokkanku terus."
"Cukup Qis,Aku malas berdebat,Aku sudah telat pergi kekantor.Silakan lanjutkan kegiatanmu,Aku akan mengantar Rafa ke rumah Mama!"
Radit pergi meninggalkan Bilqis yang berdiri mematung dengan pandangan kosong.Radit dan Rafa pergi,kini tinggalah Bilqis sendiri,bahkan sarapan yang sudah disiapkan untuk sang suami tidak disentuhnya sama sekali.Dia kini merasa tidak dihargai sebagai seorang Istri.Radit terus saja memojokkannya,seolah apa yang dilakukannya selama ini tidak berarti sama sekali,Dia menjadi merasa serba salah,Dia tidak mengerti apa yang harus Dia lakukan,suaminya masih saja memusuhinya.
Bilqis mengusap air mata dipipinya,pergi kuliahpun rasanya tidak tenang,bila nanti Dia harus memikirkan Anak dan suaminya,anak yang harus Dia titip dimertua,belum lagi Suami yang kian dingin kepadanya,jadilah kini Dia meminta sang Supir untuk mengantarkannya kerumah sang Mertua.
****
Sekita 30 menit kemudian,Bilqis sampai dikediaman mertuanya.
"Lho,Iqis kok ada disini,bukannya berngkat kuliah?"Tanya Mama Radit,begitu melihat sang menantu sudah berdiri dihadapannya.
"Rafa sama Papa lagi liat burung betet yang baru Papa beli dari temannya."Jelas Mama.
"Kamu sudah sarapan belum Qis,makan dulu yuk.Ada makanan kesukaan Kamu tuh."
"Iya Ma,makasih.Iqis belum.lapar!Ucapnya dengan sendu.
"Kenapa wajahnya sembab gitu sayang ada apa?"
__ADS_1
"kenapa?Kamu bertengkar dengan Radit?"
"Maaa......."
"Huuuuu huuuuuu!"Bilqis berlari memeluk Mama mertuanya.
"kenapa sayaang,kok malah nangis kenceng begini,ada apa?"
"Ma,apa salah kalau Iqis berencana untuk KB dulu, agar Iqis bisa konsentrasi untuk membesarkan Rafa sama menyelesaikan kuliah dulu!"
"Memangnya Kamu sudah KB?"Bilqis mengangguk.
"Iqis minum Pil KB,sudah sebulan lebih minum pil itu,maksudnya Iqis cuma biar ada jarak,ga langsung hamil,setahun dua tahun Ma,begitu maksud Iqis,tapi Mas Radit marah banget,Iqis tau Iqis salah ga bilqng dulu,tapi kalau bilang takutnya Mas Radit ga ngijinin,jadi Iqis diem diem!"
"Ya ampuun Mama pikir masalah apa,Mama sebenarnya setuju dengan apa yang Iqis lakukan,memang sih Mama lihat Radit tuh ngebet banget Ingin punya banyak Anak,ingin Kamu hamil lagi,mungkin gara gara waktu koma kemarin,Dia ingin mengulang momen yang hilang,momen dimana seharusnya Dia bisa mendampingi Kamu,mungkin juga karena Dia tidak ingin merasa kesepian seperti dulu,Dia ingin banyak suara tawa anak kecil dirumahnya,agar suasananya semakin ramai dan meriah,itu memang impiannya sejak dulu sayang,Maafin Radit ya,usia boleh tua.Tapi kadang pemikirannya itu sangat egois.Kamu sabar saja dulu,Mama yakin nanti juga Dia ga tahan jauh jauh dari Kamu."
"Teruskan saja program KB nya,nanti kalau kuliah Kamu sudah selesai,baru program punya anak lagi,Kamu tidak usah khawatir dengan sikap Radit,Kamu tunggu saja yang sabar,pasti Dia akan cape sendiri karena sudah bersikap seperti itu sama kamu Qis,lebih baik ...!"Mama membisiki seauatu yang membuat Bilqis senyum senyum sendiri."
"Makasih ya Ma,Iqis lega sekarang,setidaknya Mama mendukung keinginan Iqis!"
"Sama sama sayang,jangan lupa tipsnya dilakukan saja malam ini,biar tau rasa tuh si bayi besar!"
__ADS_1
"Siap Ma!"
*********