Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
Extra Part 1


__ADS_3

Hari sudah larut. Pesta pernikahan pun sudah usai dua jam yang lalu. Tamu-tamu yang diundang dan tak diundang dalam pesta sudah memasuki kamar mereka yang telah disediakan di dalam resort itu dan beberapa resort lain di sekitarnya yang telah disewa oleh keluarga Mahardika.


Nara dan Bisma sudah tidur lelap di salah satu kamar di resort tempat berlangsungnya pesta. Di ranjang yang sama dengan Nara, Hana juga tertidur di sana. Mengurus dua anak majikannya itu tentu saja membuatnya lelah.


Sementara itu, kedua pengantin baru yang baru menikah pagi tadi tidak berada di resort tersebut. Juga tidak di resort-resort lain yang telah dipesan, melainkan di kamar sebuah hotel bintang lima.


Nathan dan Nadia baru saja tiba di kamar presidential suit di hotel tersebut. Kamar itu sudah dihias sedemikian rupa hingga menampilkan kesan yang indah dan romantis.


Ribuan kelopak bunga mawar tersebar di lantai dan di atas ranjang berseprai putih yang hampir tidak terlihat itu. Di tengah ranjang, kelopak bunga mawar putih dan merah dibentuk love yang indah. Lilin-lilin aroma terapi terlihat menyala di beberapa sudut. Sebuket bunga mawar merah yang besar berada di tengah-tengah bantal.


Nadia tidak bisa tidak terpana. Ia sangat menyukai kamar yang ditata dengan indah ini. Wajahnya terlihat lebih cantik meskipun dia sedang lelah sekarang.


“Kamu menyukainya sayang?” tanya Nathan sambil memeluk Nadia dari belakang. Berbisik tepat di telinganya.


“Ini sangat indah mas. Terima kasih.”


“Ini tidak seberapa sayang.” Nathan membalik tubuh Nadia, menatap lekat istrinya yang masih di dalam balutan gaun pesta berwarna putih yang indah.


“Di depanku sekarang adalah keindahan yang paling sempurna.” Lanjutnya sambil mengelus pipi Nadia dengan jari tangannya. Membuat Nadia memalingkan wajahnya karena malu. Wajahnya pasti memerah sekarang.


“Jangan pernah memalingkan wajahmu dariku sayang.” Nathan meraih dagu Nadia. Menariknya menghadap kembali ke arahnya.


“Kamu membuatku malu mas.”


“Apa yang membuatmu malu dengan penampilan sempurnamu ini?” Nathan mendekatkan wajahnya. Perlahan namun pasti, kedua bibir itu menempel sempurna. Hingga decapan terdengar ambigu di dalam kamar beberapa saat.


“Sebelum kita melanjutkannya, aku ingin mengucapkan permintaan maafku.”


Nathan mengernyitkan alisnya. Rasanya Wanita di depannya tidak memiliki salah padanya.


“Semua laki-laki pasti menginginkan seorang perawan. Tapi mas tahu sendiri aku bukanlah seorang gadis. Bahkan aku telah melahirkan seorang anak. Aku minta maaf jika aku nantinya akan mengecewakanmu.” Lanjutnya sendu.


“Nadia sayang, aku menikah denganmu bukan semata-mata untuk urusan itu. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu, aku membutuhkanmu. Aku mendengar, jika pertama kali melakukan untuk seorang wanita itu terasa sangat sakit. Bahkan aku bersyukur karena tidak harus menyakitimu nantinya.”


Nadia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mempercayai ketulusan cinta Nathan untuknya. Ia selalu bersyukur untuk itu. Nadia memberanikan diri untuk mencium Nathan lebih dulu.


“Jangan lagi pernah berkata seperti itu Nadia. Semua itu tidak penting untukku. Bagiku yang paling penting adalah adanya kamu di sisiku.”


“Terima kasih mas.”

__ADS_1


“Aku bosan mendengarmu mengucapkan kata terima kasih berkali-kali tanpa alasan yang jelas. Bagaimana kalau ungkapan terima kasih dalam bentuk yang lain?” Nathan mengetuk dagunya.


“Dalam bentuk apa?” tanya Nadia penasaran. Ia merasa sangat beruntung mendapatkan Nathan sebagai suaminya. Sebagai ucapan terima kasih, tentu saja ia akan rela melakukan apapun untuk itu.


“Dengan ini.” Tangan Nathan yang awalnya melingkar di pinggang Nadia berulah. Ia menarik resleting gaun yang dipakai Nadia. Nadia melotot.


Namun sebelum ia berkata, bibirnya telah berada dalam kekuasaan lawan. Membuatnya lemas tak berdaya. Selanjutnya, ia benar-benar tidak sadar dan terbuai.


Kesadarannya sedikit kembali saat ia mendengar suara denting kepala ikat pinggang Nathan yang membentur lantai hotel. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan ia terbaring di atas ranjang. Dan parahnya, Ia benar-benar polos. Bahkan segala asesoris yang menghiasi rambutnya pun tak satupun tersisa sama sekali. Ia tidak bisa berpikir bagaimana Nathan melakukan semuanya hingga ia melupakan segalanya.


Nadia menelan ludahnya saat melihat dada bidang Nathan terekspose begitu saja di depan matanya. Ia terlalu mempesona untuk diabaikan.


Nathan yang melihat Nadia merona hanya terkekeh pelan.


“Sudah terlambat untuk kembali sekarang sayang.” Nathan menarik tangan Nadia yang menutupi area sensitifnya. Mengalungkannya pada lehernya yang kokoh.


Ini tak seperti yang dibayangkan Nadia sebelumnya. Ia pernah melakukannya berkali-kali dengan juragan Bondan di masa lalu. Tapi kenapa sekarang untuk memulainya dengan Nathan ia merasa sangat gugup? Semua terasa berbeda. Semua yang dilakukan Nathan untuk memanjakan Nadia terasa berbeda. Ini lebih nikmat hingga ia melupakan segalanya.


“Saakiit.” Pekik Nadia ketika ia merasa sakit pada intinya. Tapi kenapa rasanya seperti saat ia pertama kali melakukannya. Bahkan ada darah yang mengalir disana. Nathan sendiri merasa kaget. Ia menghentikan sebentar aktifitasnya demi memastikan sesuatu.


“Sayang, kenapa terasa sangat sempit?” tanyanya heran. Ia awalnya kesusahan menerobos milik Nadia, hanya dengan usaha yang cukup keras akhirnya ia bisa masuk dengan sempurna.


“Ya mas. Tapi kenapa ini terasa seperti pertama kali aku melakukannya. Ini sangat sakit.” Jawab Nadia jujur. Ia sendiri merasa heran.


Ini bukan pertama kali ia melakukannya, tapi kenapa bisa seperti ini? Ia juga tidak pernah melakukan oplas untuk mengembalikan keperawanannya. Lalu kenapa?


“Apa kita berhenti saja?” tanya Nathan cemas. Ia khawatir melihat Nadia kesakitan.


“Tidak mas. Kita lanjutkan saja. Ini akan baik-baik saja.”


“Baiklah. Sesuai keinginanmu. Namun Jika kamu kesakitan, jangan ragu untuk memintaku menghentikannya. Aku tidak mau menyakitimu.”


Nadia mengelus rahang kokoh Nathan. Tersenyum lembut pada suaminya itu. Memberi keyakinan bahwa ia dalam keadaan yang baik-baik saja. Ia pernah mengalaminya dulu, jadi tidak masalah menahan sedikit rasa sakit demi suami yang sangat ia cintai.


Dan akhirnya, sisa malam itu dihabiskan oleh keduanya dengan bahagia dan bersemangat. Mereka baru tertidur di saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi.


Cahaya matahari menelusup masuk dari celah korden berwarna kuning keemasan. Menerpa wajah cantik yang pagi ini terlihat sedikit layu. Nadia masih tertidur dengan lelapnya di bawah selimut. Masih bergelung nyaman di dalam pelukan suami tampannya.


Mata indah itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka dengan sempurna. Melihat pemandangan indah di depannya membuat senyum Nadia terkembang. Tak lama setelah itu ia memerah ketika mengingat malam panjangnya yang menggelora malam tadi.

__ADS_1


Nadia menepuk-nepuk pelan kedua pipinya untuk menghilangkan bayangan-bayangan semalam. Ia tak menyangka jika melakukan itu bisa senikmat malam tadi. Ah. Rasanya ia ingin mengulanginya. Namun ia merasa tubuhnya remuk sekarang.


Tersenyum lagi. Nadia sangat menikmati pemandangan wajah tampan suaminya. Dielusnya rahang kokoh sang suami, membelai lembut pipi Nathan. Tak lama kemudian ia menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Ia merasa sangat tidak percaya.


Di depannya, dengan nyata di leher dan dada sang suaminya yang masih polos jelas terlihat dengan jelas kissmark yang dulu sering ia coba hilangkan dari tubuhnya.


“Aku sangat menyukai hasil karyamu sayang.” Nadia sangat terkejut melihat suaminya yang sekarang menyeringai padanya. Dia sangat malu. Bagaimana ia bisa membuat begitu banyak tanda tanpa ia sadari?


“Apakah aku yang membuatnya mas?” tanya Nadia tidak percaya.


“Tentu saja. Tidak mungkin aku sendiri kan?”


“Tapi bagaimana bisa?”


“Begini.” Nathan segera menarik tubuhnya untuk membungkuk pada istrinya menarik sedikit selimut yang menutupi tubuh istrinya dan membuat satu lagi kissmark di bagian tengah dada sang istri.


“Mash.” Nadia memejamkan mata saat Nathan melakukannya.


“Kamu suka?” Nadia mengangguk malu. Jelas ia suka. Dulu jika ada tanda seperti itu di tubuhnya, ia akan merasa risih dan jijik pada dirinya. Namun sekarang justru merasa senang.


“Mas, sejak kapan kamu bangun?” tanya Nadia gugup. Ia segera menarik kembali selimut yang dibuka suaminya. Ia masih terlalu malu.


“Sejak kamu mengelus menepuk pipimu sendiri. Lalu dengan tangan lembutmu menyentuh wajahku."


Tanpa meminta izin, Nathan segera menggendong Nadia. Ia yakin istrinya masih kesakitan berjalan akibat ulahnya. Nadia mengalungkan tangannya pada leher Nathan hingga merek hilang di balik pintu kamar mandi.


*


*


*


...Ah kalian mah mintanya after Married. Jadinya akoh bikin yang bikin panas deh😎


...


...Kipas-kipas dah aaaahh😁


...

__ADS_1


...Awas kalo nggak di like! Akoh marah nggak mau lagi buat extra part.😚...


__ADS_2