
Nadia duduk sambil menundukkan kepalanya di depan kedua sahabatnya, Joni dan Nita. Baru saja ia mengungkapkan niatnya untuk meninggalkan desa malam harinya.
Nita dan Joni menampilkan wajah yang sama. Keduanya kecewa. Bukannya mereka tidak setuju jika Nadia meninggalkan desa mereka, mereka setuju, sangat setuju. Namun, niat Nadia yang ingin meninggalkan apapun yang berhubungan dengan desa lah yang menjadi penyebabnya. Itu artinya, mereka termasuk di dalamnya.
“Apa kamu tidak menganggap kami sahabatmu lagi, Sehingga hal seperti ini kamu sembunyikan dari kami?" cerca Nita.
“Bukan begitu Nita.”
“Lalu? Jika kamu pergi, kami juga akan ikut bersamamu. Lagi pula kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi di sini.”
"Inilah yang aku takutkan. Kalian ingin ikut pergi bersamaku. Tapi aku minta kalian tetap disini. Pada siapa lagi aku percayakan sanggar kalau bukan pada kalian?"
Nita dan Joni berdecak sebal. Memang benar apa yang diucapkan Nadia. Jika mereka semua pergi, perjuangan mereka selama ini akan sia-sia.
"Baiklah kalau begitu. Kami akan tetap berada disini demi kamu." putus Joni. Nita memandangi suaminya dengan enggan. Kenapa suaminya mau menuruti permintaan Nadia.
“Bagaimana dengan dokter Nathan? Bagaimana kalau dia mencarimu nanti? Apa kamu sengaja melakukannya untuk menghindari Dokter Nathan?”
Nadia semakin menundukkan kepalanya. Joni menghela nafas. Sudah pasti itulah jawabannya. Tapi kenapa? Bukankah keduanya sudah sepakat untuk saling menjaga cinta mereka?
“Aku hamil. Aku tidak bisa bersama dokter Nathan.”
Nita dan Joni saling memandang sebelum keduanya memeluk Nadia di antara mereka. Sungguh takdir telah mempermainkan perasaan Nadia.
“Baiklah Nadia. Jika memang itu yang menjadi jalan terbaik, kami berjanji akan merahasiakannya. Tapi jangan memutuskan hubungan kita Nadia. Apapun yang terjadi, kami tetaplah sahabatmu.” Kata Nita.
“Terima kasih atas pengertian kalian.”
“Kamu mau pergi kemana?”
“Ke kota X.”
“Baiklah. Nanti malam aku akan membantumu pergi dari sini Nadia.”
“Terima kasih Jon.”
Sepulang dari rumah Joni, Nadia membereskan semua barangnya. Baju dan berkas penting yang harus ia bawa. Tak lupa ia juga menyiapkan surat kepemilikan rumah besar.
Sedangkan tanah lainnya yang telah menjadi miliknya telah ia jual untuk membeli rumah dan modal untuk membuka usaha di kota X.
__ADS_1
Nadia juga menulis surat untuk orang-orang yang ia tinggalkan. Mengingat kepergiannya ini secara diam-diam dan tidak akan ada salam perpisahan darinya, jadi ia berharap cukup dengan menggunakan surat untuk mengungkapkan isi hatinya.
Ada tiga surat yang ia tulis. Untuk Devi yang berisi permintaan maaf karena selama ini telah menjadi duri dalam pernikahan Devi dan juragan Bondan. Surat kedua untuk Sinta yang berisi permintaan maaf, terima kasih dan ucapan selamat tinggal. Dan yang ketiga tentunya untuk dokter Nathan. Berisi permintaan maaf karena tidak bisa menepati janjinya. Juga permintaannya agar dokter tampan itu melupakan dirinya dan mencari cinta yang lain.
Surat untuk Devi ia tinggalkan di dalam kamarnya beserta sertifikat tanah. Sedangkan dua surat lainnya ia titipkan pada Joni.
Tepat pukul satu malam, obat tidur yang Joni berikan pada penjaga yang ia masukkan ke dalam kopi mereka mulai bereaksi. Satu demi satu penjaga tertidur lelap hingga Nadia bisa keluar dari rumah besar dengan mudah.
Joni juga telah menyediakan mobil baru untuk misi melarikan diri ini. Setelah Nadia masuk ke dalam mobil yang disediakan Joni, keduanya menjemput Minah dan Bima untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Nadia telah berlatih mengemudikan mobil. Jadi tidak masalah jika ia mengendarai mobilnya sendiri.
“Setelah sampai di tujuan, segera hubungi kami Nadia. Jangan sampai lupa.” Pesan Joni sebelum melepas sahabatnya dengan lambaian tangan. Nadia tidak menjanjikan untuk itu, jadi dia hanya tersenyum sebagai tanggapan.
Nadia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Minah duduk di kursi belakang dengan Bima yang tertidur nyaman dalam gendongan neneknya. Kedua orang dewasa di dalam mobil hanya diam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hanya deru mobil yang mengiringi sepanjang perjalanan mereka.
Di tengah perjalanan, Nadia menghentikan mobilnya. Dia mengeluarkan kartu sim handphone miliknya. Kemudian mematahkan kartu itu. Nadia tahu jika Nathan mempunyai sifat yang tidak mudah menyerah. Yang ia takutkan adalah dokter tampan itu memaksa kedua sahabatnya untuk memberitahunya.
“Maafkan aku Joni, Nita. Aku terpaksa melakukannya.” Gumam Nadia.
“Kenapa Nyonya muda mematahkan kartu simnya?” tanya Minah.
“Saya tidak ingin memulainya disini dari awal Bu Minah.”
“Kita akan pergi ke kota X bu Minah. Disana, saya sudah menyiapkan rumah untuk kita tinggal. Nantinya, bu Minah akan saya perkenalkan sebagai bibi saya. Jadi, jangan memanggil saya dengan panggilan Nyonya muda lagi. Cukup dengan Nadia.”
“Baiklah nyo...eh masksud saya nak Nadia.”
“Itu lebih baik. Kalau bisa, jangan bicara terlalu formal bi Minah.”
“Saya usahakan.”
“Disana nanti, kita hanya berdua bi, jadi kita hanya bisa mengandalkan satu sama lain. Jangan sungkan meminta bantuan saya jika bi Minah dalam kesulitan.”
“Iya Nak Nadia. Saya sangat bersyukur dapat bertemu dengan wanita sebaik nak Nadia. Terima kasih banyak telah membantu kami selama ini. Sampai kapanpun kami tidak akan bisa membalas jasa nak Nadia.”
“Hidup ini tidak bisa berjalan dengan kita sendiri di dalamnya. Saat ini mungkin saya membantu bu Minah. Siapa tahu jika di lain waktu saya lah yang membutuhkan bantuan Bi Minah.”
“Kapanpun Nak Nadia membutuhkan bantuan saya, saya dengan senang hati akan membantu.”
__ADS_1
“Baguslah. Bi Minah tidur saja dulu. Perjalanan kita masih dua jam lagi.”
“Tapi nak Nadia?”
“Tenang saja. Saya tadi sudah cukup istirahat, jadi jangan khawatir.” Baiklah kalau begitu. Minah segera memposisikan dirinya untuk tidur. Keduanya tidak boleh kecapekan keduanya. Harus ada yang menjaga Bima nantinya.
Nadia mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai ramai saat memasuki kota X. Setelah perjalanan yang menghabiskan waktu lebih dari lima jam mobil mereka memasuki kawasan perumahan tempat rumah yang akan menjadi hunian mereka kedepannya.
Nadia segera mencocokkan gambar di layar handphonenya. Mencari rumah yang mereka tuju.
Mobil berhenti tepat di pekarangan rumah saat jam menunjukkan pukul enam pagi. Rumah dengan ukuran yang cukup besar yang Nadia beli melalui aplikasi penjualan online. Rumah bergaya modern dua lantai ini dilengkapi taman yang tertata rapi di depan rumahnya. Sebuah kolam renang berada di halaman belakang.
“Apakah sudah sampai?”
“Sudah bi Minah. Ayo turun.”
Nadia segera membuka pintu dengan kunci yang baru dua hari ia terima. Bu Minah memindai isi rumah itu. Di dalamnya semua perabotan sudah lengkap.
“Disini ada enam kamar, tiga di lntai bawah dan tiga di lantai atas. Silahkan mau pilih kamar yang mana.” Kata Nadia mempersilahkan Minah memilih kamar yang disukainya.
Nadia sendiri memilih satu kamar di lantai atas yang berada di tengah. Minah memilih kamar di bawah. Usianya yang berumur membuatnya malas untuk naik turun ke lantai dua.
Jika di kota X Nadia memulai hari mereka yang baru. Di desa, kabar mengenai perginya Nadia dan Minah beserta cucunya dengan cepat menyebar.
Banyak dari mereka yang merasa kehilangan. Sosok Nadia sudah seperti pahlawan bagi mereka. Nadia membawa kehidupan baru. Melunasi hutang mereka dan juga menyediakan lapangan pekerjaan yang menjanjikan. Tentu saja mereka merasa kehilangan.
Di lain pihak, Devi meneteskan air matanya setelah membaca surat yang ditinggalkan Nadia. Dalam hati kecilnya, ia menyesal telah melakukan banyak hal pada Nadia yang dengan terpaksa masuk ke dalam biduk rumah tangganya.
Matanya juga tidak buta setiap kali melihat wajah Nadia yang terpaksa berada di dekat suaminya. Apalagi melihat Nadia setiap hari seperti tidak bernyawa ketika di rumah. Ia tabu betul bukanlah keinginan Nadia untuk berada dalam pusaran rumah tangganya. Namun karena rasa cemburunya lah yang membuatnya buta selama ini.
“Semoga kamu mendapatkan kebahagian di luar sana. Sudah lama kamu menderita di sini. Waktunya kamu bahagia Nadia.” Do’a tulus Devi ketika melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke amplopnya.
*
*
*
...~*Aku Istri Muda*~...
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😉
Jangan lupa like 👍 nya ya gaes 😎