
Terlihat sekali jika Nara sedang menahan emosinya. Selama ini, mereka tidak mau berusaha, tetapi mau untungnya saja. Enak sekali mereka? Dan sekarang saat Mahardika menemui masalah yang mereka anggap akan menjadi titik mulai dari kehancuran perusahaan besar itu, mereka langsung berniat untuk pergi dengan dalih tidak mau rugi.
Padahal jika diakumulasikan keuntungan yang mereka dapat selama menjadi pemegang saham di Mahardika Grup, keuntungan mereka bahkan lebih besar daripada modal yang mereka tanamkan. Mereka sudah mendapatkan untung yang besar sejak awal. Mereka tidak rugi sama sekali.
Mereka sudah mendapatkan untung selama bertahun-tahun lamanya, dan sekarang, saat Mahardika membutuhkan sedikit bantuan mereka, mereka enggan dan memilih pergi. Menjengkelkan sekali!
“Nona Nara, Anda memang putri dari pemilik perusahaan ini. Tapi anda tidak bisa seenaknya saja merendahkan kami seperti itu.” Ucap salah satu laki-laki paruh baya yang tidak terima kan ucapan Nara. Bagi mereka, Nara hanyalah anak bau kencur yang baru semalam belajar bisnis. Bisa-bisanya dia berkata jika mereka tidak mengerti konsep dari bisnis yang mereka geluti bertahun-tahun lamanya.
“Tapi nona Nara benar.” Ucapan seorang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruang rapat. Semua orang menoleh ke arahnya. Bahkan Nara sampai menjatuhkan rahangnya melihat laki-laki yang entah mengapa terlihat keren sekali saat masuk tadi.
“Hati-hati dengan mulutmu sayang. Kasihan jika ada lalat yang masuk.” Kata Alex sambil memegang dagu Nara dan mendorongnya naik agar mulut wanita yang menganga itu tertutup.
Nara yang masih belum sadar akan keadaannya mengedipkan matanya dua kali. Baru setelah itu ia menyadari panggilan Alex yang salah.
“Tuan Alex. Bagaimana anda bisa membenarkan gadis ingusan itu?” tuding laki-laki agak tambun kepada Nara yang masih bergeming di tempatnya. Ia masih merasa salah mendengar. Dan sedang memikirkan nya.
“Tapi memang benar jika gadis yang kalian sebut ingusan bahkan lebih mengerti konsep sebuah bisnis.” Jawab Alex sambil melirik Nara yang ada di sampingnya.
“Maksud Anda apa? Apa anda juga memandang kami rendah? Generasi muda saat ini sudah kehilangan jati diri mereka. Mereka sudah tidak mengenal apa itu sopan santun.” Dengus Dona sambil menaikkan kacamatanya.
“Jika semuanya benar, kenapa kalian harus marah? Sebagai generasi yang sudah tua seharusnya kalian paham jika konsep bisnis pada dasarnya adalah tentang untung dan rugi. Dan sebuah tantangan selalu ada bersamaan dengan itu. Dalam bisnis, jika kita enggan mengambil resiko, sampai kapan pun kita tidak akan pernah berhasil.” Jelas Alex.
“Tapi kami akan rugi jika Mahardika sampai gulung tikar.” kata seorang laki-laki menggebu.
“Oh ya? Itulah kalian. Takut mengambil resiko menunjukkan betapa rendahnya jiwa bisnis kalian. Langkah yang diambil tuan Bisma dan nona Nara adalah langkah yang terbaik demi Mahardika. Lalu langkah apa yang kalian lakukan? Langkah kalian justru pergi dan menjauh. Tidakkah kalian malu?”
Skak mat ...
Ucapan Alex tepat mengenai hati mereka. Tanpa berkata pun, Alex memastikan jika mereka tetap pada keputusan awal untuk pergi, mereka⁷ akan di cap sebagai pecundang disini.
Mereka mulai berdiskusi kembali. Mereka harus memutuskan sesuatu dengan hati-hati. Sekarang Alex ada di pihak Mahardika, jadi kesempatan ini patut diperhatikan.
__ADS_1
“Baiklah. Kami akan memberi kesempatan dalam satu bulan terakhir. Jika kalian tetap gagal, kami akan pergi dari sini terserah kalian anggap kami apa.” Putus salah seorang diantara mereka mewakili yang lainnya. Terbukti dengan kesemuanya menganggukkan kepala mereka.
**
Nara bernapas lega. Ia mendudukkan dirinya dengan kasar di sofa ruangan Nathan begitu mereka tiba disana.
“Terima kasih atas dukungan mu Lex.” Kata Bisma yang ikut duduk di samping Nara. Alex duduk di hadapan kakak beradik itu.
“Tidak masalah. Kita teman. Jadi harus bantu membantu kan?” jawab Alex santai.
“Adikmu hebat juga.” Lanjut Alex sambil memperhatikan Nara yang sedang asik dengan ponselnya. Merasa dirinya disebut, Nara melirik Alex sekilas. Ia kembali fokus pada ponselnya yang sedang menampilkan permainan tembak-tembakan buah.
“Hei kau bahkan semakin sombong sekarang hanya gara-gara sedikit pujian yang kau dapat.” Ucap Alex melihat reaksi Nara. Mendengarnya, Nara menegakkan tubuhnya. Dilihatnya Alex dengan malas. Bisma yang sudah sibuk dengan berkas-berkas nya hanya mendengar tanpa mau mengomentari.
“Maafkan saya tuan Alex yang terhormat. Bukan saya bermaksud sombong. Tapi saya sedang menahan mata saya untuk tidak terpejam. Saya mengantuk saat ini.” Nara menangkupkan kedua tangannya. Menyisipkan ponselnya di antara telapak tangannya.
Alex mendengus. Namun ia segera menghela napas ketika melihat mata panda Nara yang kini terlihat. Ia paham jika sekarang gadis itu pasti sangat mengantuk. Gadis seperti Nara tidak mungkin terbiasa dengan dunia bisnis yang menguras segala hal.
“Aku akan ke rumah sakit dulu. Aku mau lihat papa.” Nara berdiri sambil meraih tas tangannya.
“Aku tidak bisa mengantar. Mau diantar Adi?” Bisma mengalihkan perhatiannya dari map yang dua pegang.
“Biar aku antar saja. Sekalian menjenguk tuan Nathan.” Alex berdiri. Menyambar kunci mobilnya yang tadi ia letakkan di meja. Nara memicingkan matanya. Sejak kapan Alex dekat dengan keluarganya.
“Aku pesan taksi online saja.” Kata Nara akhirnya.
“Kenapa mesti repot jika ada yang sudah siap?” Alex meraih tangan Nara dan menariknya keluar dari ruangan. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebagai tanda protesnya. Namun tetap menurut Alex yang menariknya.
Bisma tersenyum melihat Nara dan Alex. Sepertinya tidak salah jika ia ingin menjodohkan keduanya. Meskipun saat ini yang ia lihat hanyalah sikap keduanya yang saling mengelak, namun lama kelamaan ia yakin jika keduanya akan menjadi pasangan yang serasi.
**
__ADS_1
“Bagaiamana bisa gagal? Padahal kita sudah bertindak sejauh ini. Kenapa masih belum bisa menggoyahkan kesombongan anak ingusan itu.” Kata Sorang laki-laki paruh baya yang baru menerima laporan dari rekannya.
“Kita terlalu meremehkan Anak-anak Nathan. Siapa yang menyangka jika mereka akan menemukan ide gila yang penuh dengan resiko.” Kata si pemberi laporan. Laki-laki paruh baya itu mendengus tidak suka.
“Bukankah akan mudah untuk memprovokasi semua orang untuk keluar dari Mahardika?”
“Kau kira mudah!? Berulang kali aku menggiring pemikiran orang untuk keluar dari sana. Mereka beruntung di saat terakhir tuan Alex dari Kingston Corp datang membantu mereka.”
“Tuan Alex?” tanya pria paruh baya itu tidak percaya. Sejauh yang ia tahu jika Alex tidak akan ikut campur dalam urusan perusahaan lain.
“Iya. Dia bahkan mengenal nona Nara dengan baik. Laki-laki itu terlihat sekali melindungi nona Nara dari tekanan para pemegang saham.”
“Aish. Kenapa mesti ada orang sekuat dia di sisi anak ingusan itu?”
“Mau bagaimana lagi?”
“Kita harus segera bertindak. Aku punya rencana yang akan menghancurkan sekali lagi usaha mereka.”
*
*
*
Terima kasih udah mampir 🥰
Jangan dibully Akohnya karena ciptain karakter yang antagonis yang mengganggu Nara dan Bisma.
Akoh juga sebal aslinya. Tapi cerita tanpa adanya konflik kan rasanya hambar kayak sayur tanpa garam, kayak teh tanpa gula, jadi nikmatin aja ya....
Ini baru konflik permulaan. Berawal dari insiden yang menjadi alasan untuk bersama demi tumbuhnya benih-benih cinta yang akoh sebarkan diantara mereka.
__ADS_1