Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
77. Hari Yang Berlalu


__ADS_3

Waktu berlalu tanpa terasa. Detik dan menit saling mengejar. Hari dan bulan pun berganti. Hingga tahun berganti pun kadang tak terkesan. Di sisi lain kehampaan sering mengisi hari-hari yang berlalu tanpa terasa. Apa yang diharapkan jika di dalam hati hanyalah kesepian yang bertahta?


Kata orang, dalamnya hati tidak ada yang bisa mengetahui. Itu benar. Meskipun yang terlihat dari luar adalah senyum yang menghias di bibir, tak menutup kemungkinan jika hati yang di dalam sedang menangis.


Ini sudah tahun keempat Nadia meninggalkan desa. Sedangkan dokter Nathan sudah dua tahun menetap di kota X. Kantor pusat juga ia pindahkan ke kota kecil itu dengan kuasanya. Mencari keberadaan Nadia berbekal kabar singkat dari Joni. Sayangnya, mantan Bodiguard itu tidak memberikan alamat pasti Nadia. Membiarkan ia mencarinya sendiri. Apalagi tak ada satu pun foto yang ia miliki. Sehingga betapapun berkuasanya ia, dengan terpaksa ia tidak bisa memanfaatkan bawahannya untuk mencari sosok Nadia secara maksimal.


Selama waktu berlalu, Nathan selalu berkunjung dari daerah ke daerah untuk menemukan Nadia, namun sayangnya dengan berbagai kesibukan yang ia miliki, hingga dua tahun pencarian ia masih belum membuahkan hasil. Bahkan sedikit titik terang pun.


“Joni, ini sudah dua tahun. Tidak bisakah kamu memberitahuku?” cecar Nathan melalui saluran telfonnya.


“Aku sudah berjanji pada Nadia dokter. Aku sudah memberikan informasi yang tidak menyalahi janjiku pada Nadia. Untuk hasilnya, itu terserah pada usaha dokter.” Joni adalah seseoarang yang teguh dalam menggenggam janjinya.


“Dua tahun ini aku sudah berkeliling kota untuk menemukannya. Setiap tempat sudah aku datangi. Dimana sebenarnya ia berada?”


“Huft. Baiklah dokter, dia memiliki usaha kafe di beberapa tempat. Tapi ia tidak selalu berada di luar ruangannya, dia bekerja di balik meja. Namun yang dapat saya informasikan, rumahnya ada di daerah H. Dia memang jarang keluar dari tempatnya, itulah mengapa selama ini dokter tidak berhasil menemukannya.”


“Jadi aku harus mulai mencarinya di daerah H?”


“Saya rasa begitu."


“Baiklah. Terima kasih Joni.” Tanpa menunggu jawaban. Sambungan diputus sepihak. Sedikit harapan muncul. Ia harus segera mencarinya, mencari cintanya.


Seluruh keluarganya sudah mengetahui apa yang dilakukan Nathan selama dua tahun ini. Awalnya tentu saja mereka menolak. Dengan posisi Nathan, ia bisa mendapatkan wanita manapun yang sederajat. Namun, dengan cinta yang ia simpan di hati dengan begitu dalam untuk wanita desa yang dikenal anaknya selama satu tahun itu, tak ada yang bisa dilakukan keluarganya selain menurut dengan keinginannya. Mereka pun tak mau Nathan pergi.


Namun Rita, sebagai seorang ibu tentu saja tidak menginginkan sang putra satu-satunya melajang hingga senja. Dengan segala upaya ia akan berusaha untuk menjodohkan putranya dengan banyak gadis yang merupakan anak maupun kerabat dari temannya. Meskipun hasil yang dia dapat hanyalah kegagalan, Rita tak pernah menyerah.


Dan untuk saat ini, Rita mempunyai Miranda yang merupakan kerabat dari temannya yang telah ia jodohkan dengan Nathan sejak satu tahun terakhir.


Berbeda dengan gadis-gadis sebelumnya, Miranda merupakan gadis yang pantang menyerah. Meskipun mendapatkan penolakan berulang kali dari Nathan, gadis itu tidak pernah menyerah dan berhenti mengejar Nathan. Sebaliknya, gadis itu semakin gencar melakukan usahanya.


Sebagai seorang gadis yang memiliki wajah yang cantik, serta latar belakang keluarga yang terpandang tentu saja tidak akan bisa menerima kata penolakan. Semakin Nathan menolak, semakin ia akan tertarik untuk mendapatkan. Begitulah Miranda, gadis cantik yang satu tahun ini berkeliaran di sekitar Nathan dan mengusir segala bentuk wanita cantik di sekitar laki-laki yang ia proklamirkan sebagai calon suaminya.


“Tuan, nona Miranda ada di luar ingin bertemu.” Kata Luna, sekretaris Nathan. Namun sebelum Nathan mengucapkan sepatah katapun, pintu terbuka dan menampilkan sesosok wanita cantik melenggang dengan sensual mendekati Nathan.


“Selamat siang sayang.” Miranda segera mengalungkan lengannya pada lengan Nathan.

__ADS_1


“Ck. Jangan pegang.” Nathan menghempaskan tangan yang menempel di lengannya dengan kasar. Menyebabkan si empunya terhempas hingga mundur dua langkah. Namun senyum manis masih menghiasi bibirnya.


“Maaf tuan.” Luna segera meminta maaf. Ia tahu betul jika atasannya sangat tidak menyukai tamu yang datang tanpa undangan itu.


“Tidak apa. Melihat karakter pihak lain yang seperti ulat bulu, ini bukan kesalahanmu. Kamu boleh keluar.”


“Terima kasih tuan. Permisi.” Luna membungkukkan setengah badannya sebelum meninggalkan ruangan.


Tanpa menghiraukan pendatang baru di ruangannya, Nathan melanjutkan pekerjaanya. Ia harus segera menyelesaikan segala tanggung jawabnya di kantor sebelum melanjutkan pencariannya di daerah H sesuai arahan Joni semalam.


Tanpa merasa terprovokasi atas sikap Nathan padanya, Miranda duduk tenang di depan Nathan. Tangannya memainkan ujung rambutnya yang ia gulung-gulung dengan jari. Pandangan matanya tidak beralih dari satu-satunya manusia di dalam ruangan itu selain dirinya.


Sepuluh menit berlalu. Miranda mulai kesal diabaikan. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan kuku cantiknya yang panjang. Menghasilkan suara selain helaan nafas Miranda yang berulang kali serta suara-suara yang dihasilkan ketika Nathan sedang bekerja terdengar di ruangan itu.


“Jika kau tidak bisa diam, lebih baik keluar dari ruanganku.” ucap Nathan tanpa mengalihkan pandangan matanya dari berkas yang sedang ia kerjakan.


“Sayang, kita keluar yuk.” Miranda merengek.


Tanpa di duga, Nathan berdiri dari duduknya. Miranda segera tersenyum senang. Ia tak menyangka jika hari ini ia akan berhasil mengajak Nathan untuk keluar dengannya. Ia juga berdiri dan merapikan baju dan juga rambutnya.


“Bagaimana penampilanku Sayang?” tanya Miranda setelah ia selesai merapikan rambutnya dengan jari.


“Nathan, bagaimana penampilanku?” tanyanya lagi. Ia mengulangi pertanyaannya dengan mengganti panggilannya.


“Seperti biasa.” Mirip ulat bulu. Sambung Nathan di dalam hati. “Ayo cepat.” Sambungnya.


Dengan langkah semangat Miranda bergegas menuju pintu. Tapi tak pernah ia sangka sesampainya ia di luar, Nathan segera menutup pintunya dari dalam dan segera menguncinya. Miranda terdiam beberapa saat sebelum menggedor pintu sekuat tenaga sambil berterika memanggil sosok yang baru saja mengusirnya secara langsung.


“Nona Miranda, jika anda tidak mau diusir dengan kasar dari sini, sebaiknya jangan membuat gaduh apa lagi sampai merusak properti.” Kata Luna yang berada di depan ruangan Nathan. Beberapa staf sekretaris cekikikan mendengar teguran yang diberikan sekretaris cantik itu.


“Huh! Awas kalian! Kalau aku sudah menjadi nyonya Mahardika, hal yang pertama akan Aku lakukan memecat kalian.” Ancam Miranda. Bukannya merasa takut, semua orang disana malah tertawa terbahak-bahak.


“Tapi melihat bagaimana tuan kami memperlakukan anda, sepertinya itu hanya terjadi di dalam mimpi. Jadi silahkan pulang dan melanjutkan mimpi anda di rumah Nona.”


Mendengar hinaan yang terus menerus membuat Miranda menggertakkan giginya. Namun yang lebih menyakitkan untuknya adalah bahwa apa yang dikatakan sekretaris itu adalah suatu kebenaran.

__ADS_1


Tanpa menunggu hinaan lain terdengar, Miranda segera pergi dengan menghentakkan kakinya.


“Untung saja tuan Nathan tidak menyukai gadis seperti itu. Kalau kita memiliki nyonya yang seperti itu, hiii” Tania bergidik ngeri dan diangguki rekannya yang lain.


“Hem. Tuan Nathan bukanlah orang yang bodoh yang bisa tertipu dengan penampilan luar. Kalau melihat dari karakter tuan kita, wanita yang smart dan sederhana sepertinya lebih cocok.” Kata Luna. Luna adalah teman Nathan sewaktu SMA. Jadi tentu saja ia tahu betul selera Nathan.


Perbincangan membahas bos berhenti ketika ada panggilan masuk di saluran milik Luna. Itu artinya bos yang sedang mereka bicarakan sedang memanggil. Kelima orang yang berada dalam satu ruangan terdiam. Segera melanjutkan pekerjaan mereka.


“Siang tuan, ada yang bisa saya bantu?”


“Tolong pesankan saya makan siang.”


“Siap tuan. Mau menu apa?”


“Terserah. Yang penting enak.”


“tut...tut...tut...” sambungan terputus. Membuat mulut yang sudah terbuka dan siap untuk berucap terpaksa menelan kembali kata-katanya.


“Ck. Tidak pernah berubah.” Umpat Luna memaki gagang telfon.


“Ada apa Lun?”


“Si Bos minta di pesankan makanan. Kalian punya rekomendasi?”


“Ada. Aku kemarin pergi ke Purnama kafe. Makanan disana enak-enak lho. Kafe ini spesialis makanan kampung. Aku dengar dulu Tuan Nathan pernah tinggal di kampung kan. Coba pesankan disana. Siapa tahu cocok.”


“Baiklah. Semoga kali ini sesuai dengan selera tuan Nathan.” Untuk masalah makanan Nathan selalu pilih-pilih. Membuat bawahannya kadang kesusahan mencari yang sesuai seleranya.


Di purnama Kafe, Nadia yang hari ini ingin terjun langsung memasak di dapur kafe sedang memasak tumis kangkung dengan semangat.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😃


Siapa yang ikutan gregetan?


__ADS_2