
Setelah mampir ke kantor Kennan yang merupakan ketua team pengacara yang mendukung perusahaan Alex, ketiganya langsung pergi ke lokasi proyek.
Satu jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk menuju lokasi. Di tengah perjalanan Nara juga sudah mengkonfirmasi pada Nadia mengenai catering yang mereka pesan.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti dengan mulus di pelataran parkir proyek. Karena hari ini ada acara perjamuan dengan maka para pekerja sengaja diliburkan dan digantikan mewajibkan setiap orang untuk hadir. Jadi hari ini terlihat lebih ramai karena mereka semua sedang berkumpul.
Beberapa tenda terbuka sudah terpasang. Meja-meja berisi makanan dan minuman sudah berjajar rapi. Para pekerja pun sudah memenuhi tempat duduk yang disediakan.
Ketika Alex dan yang lainnya tiba, pengelola segera menyambutnya. Mengarahkan mereka untuk duduk di bagian depan yang memang telah dipersiapkan. Tepat di depan panggung dengan tulisan VVIP.
Acara pun dimulai dengan meriah. Setelah sambutan yang merupakan waktu istirahat bahkan ada hiburan orkesnya. Pekerja sudah berdiri dan berjoget ria di tempatnya.
“Terima kasih pak Heru. Berkat pak Heru acara ini akan sangat meriah.” Kata Alex. Kemarin untuk urusan tempat dan hiburan memang diserahkan pada Heru yang merupakan ketua tim pengelola.
“Hahaha. Tidak masalah tuan Alex. Ini adalah acara selamatan agar pekerjaan di proyek ini berjalan lancar. Sebagai ketuanya tentu saja saya akan melakukan yang terbaik.
“Kinara masakan dari tempat ibumu sangat enak.” Ucap Gibran yang dengan lahap memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Tentu saja. Koki di sana diajari secara pribadi oleh mama. Bersertifikat.” Jawab Nara santai.
“Mamamu pandai masak?"
“Hem.” Nara mengangguk. Mulutnya penuh makanan. “Papa ku dulu bisa menemukan mama karena makanan yang di buat mama.” Nara mengingat masa kecilnya. Nadia bertemu dengan Nathan di kafenya.
“Jadi apakah kamu juga bisa masak?” Gibran sangat penasaran.
“Tidak. Hehehehe.” Nara terkekeh. Saat dia beranjak remaja sudah sangat memperhatikan penampilan. Menurutnya dengan masak di dapur bisa membuat jarinya cidera, wajahnya bau asap dan kena minyak. Yang paling Nara takuti adalah jika wajahnya terkena percikan minyak panas ketika menggoreng. Nara tidak mau semua itu.
“Kenapa?”
“Ada deh. Hehehe.” Nara tidak mau menjawabnya. Tentu saja dia malu jika kedua laki-laki itu mengetahui alasan nya. Pasti dia akan ditertawakan Alex. Sama seperti kakaknya yang selalu mengejeknya.
“Sayang banget. Padahal banyak cowok yang suka pada pasangan yang pandai memasak. Kamu tidak pengen belajar?”
“Ehm. Apakah semuanya sudah siap Gibran?” Alex yang sedari tadi hanya menyimak obrolan keduanya segera memotongnya.
“Su-sudah tuan.”
“Baiklah. Laksanakan saja.”
Gibran segera berdiri. Kemudian naik ke atas panggung.
“Tuan Alex, tuan Gibran kenapa naik ke atas?” tanya Heru yang merasa bingung.
“Ada sedikit kejutan.” Ucap Alex sambil tersenyum. Nara yang melihat Alex tersenyum palsu mengejek di sampingnya. Penampilan yang jelek.
__ADS_1
“Mohon perhatian!” ucap Gibran di atas panggung. Laki-laki itu mengambil mikrofon dari penyanyi yang sedang melantunkan lagu.
Karena lagu berhenti, semua yang berjoget juga berhenti. Mendengar suara Gibran membuat semua orang duduk.
“Kami disini mempunyai sesuatu untuk kalian semua.” Kata Gibran riang. Para pekerja bersorak ketika melihat Gibran mengeluarkan beberapa amplop dari dalam sakunya. Disusul Nara yang naik ke atas panggung dengan membawa tas yang amplop.
“Apakah hari ini semau pekerja hadir?”
“Hadir.” Jawab mereka serentak.
“Bagus.” Ucap Gibran sbil tersenyum. “Kepada tamu spesial kita diperbolehkan masuk.” Ekspresi wajahnya sudah berubah serius.
Mendengar panggilan untuk mereka, beberapa polisi masuk ke dalam acara. Semua orang merasa heran. Tapi beberapa diantaranya sudah gemetar ketakutan.
“Tuan Alex.” Sapa polisi dengan hormat.
“Tangkap para pelaku korupsi dan penipuan sekarang.” Ucap Alex.
Akhirnya beberapa orang ditangkap. Sejak kemarin bawahan Gibran sudah menyelidiki siapa saja yang terlibat. Ini memudahkan pihak kepolisan.
“Tuan Alex! Anda tidak bisa bertindak seenaknya tanpa bukti.” Teriak Heru.
“Siapa bilang tidak ada. Barang bukti sudah berada di kantor polisi. Bawa mereka!”
“Siap!”
“Awas kalian! Tunggu saja pembalasan dendam ku.” Ancam Heru sebelum dibawa paksa oleh polisi.
Setelah kepergian para polisi, bisik-bisik mulai terdengar riuh.
“Ehm. Tolong perhatian.” Gibran di atas panggung segera menguasai situasi. Para pekerja kembali diam.
“Maaf atas ketidak nyamanan ini. Kalian bisa kembali duduk. Akan saya jelaskan semuanya.” Para pekerja menurut dan duduk di tempatnya.
Gibran pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Para pekerja terlihat begitu terkejut.
“Untuk itu kami disini meminta bantuan kalian.”
“Bantuan apa yang bisa kami lakukan?” tanya salah seorang pekerja.
“Kami minta kalian menuliskan identitas diri kalian sebagai bukti.”
“Baik.”
“Karena kejadian ini, proyek dihentikan sementara. Untuk masalah pekerjaan kalian tenang saja. Begitu semua selesai kami akan memanggil kalian kembali.”
__ADS_1
“Bagus pak. Kami setuju.”
“Di dalam amplop ada gaji kalian satu bulan ini ditambah sedikit bonus dari kami.”
Semua orang senang. Mereka pun antre untuk mendapatkan amplop dan tanda tangan. Untuk mempercepat ada empat orang yang mendata semua pekerja.
“Semoga ini cepat selesai.” Ucap Gibran saat ia dan Nara sudah kembali ke sisi Alex.
“Saya tidak menyangka akan ada kasus seperti ini.”
“Trik dalam perusahaan itu biasa Kinara. Tapi aku baru kali ini mendapati yang seperti ini.”
Dalam dunia bisnis, Nara memang belum mengetahui banyak hal. Baik Nathan maupun Bisma tidak pernah membawa masalah pekerjaan ke rumah. Meskipun membawanya, hanya berkas yang sudah tentu dikerjakan di ruang kerja pribadi masing-masing. Jadi ketika berkumpul bersama tidak akan pernah membawa-bawa masalah pekerjaan.
Ketiga orang mengamati pembagian dari tempat mereka. Tak jarang dari pekerja menghampiri mereka untuk mengucapkan terima kasih. Acara pembagian amplop cukup memakan waktu.
Udara di dalam tenda semakin tidak nyaman. Membuat keringat pekerja menari dengan bebasnya di udara. Nara merasa tidak nyaman. Kepalanya pusing.
“Kita kembali.” Ajak Alex setelah melihat ketidak nyamanan Nara yang sesekali memijat pelipisnya. Dia menduga jika gadis itu pusing. Lagi pula Semua bisa dikendalikan sekarang. Nara dan Gibran mengangguk. Mereka pun juga sudah lelah.
Nara menyandarkan kepalanya begitu masuk ke dalam mobil. Rasanya melelahkan. Belum lagi perutnya yang mual akibat tidak tahan dengan bau badan para pekerja yang menurutnya sangat menyengat.
“Pusing?” Alex melirik Nara setelah memerintahkan Gibran menjalankan mobilnya. Nara mengangguk.
“Nih.” Alex mengangsurkan botol minyak kayu putih ke tangan nara. Nara meliriknya sekilas.
“Apa lagi? Cepat pakai.” Geram Alex. Tangannya sudah pegal dan gadis itu masih belum menerimanya.
“Pakaikan. Pijit sebentar ya.” Nara menoleh. Memberikan wajah memelasnya pada Alex. Wajah gadis itu jelas memerah akibat pusing. Dahinya bahkan mengkerut menahan sakit.
“Aku ini bosmu. Bukan pesuruh.” Dengus Alex. Tapi tangannya berkata lain. Tangan itu begitu terampil mengoles dan memberi pijatan lembut di pelipis Nara.
Gibran melirik melalui spion. Bibirnya melengkung dengan pasti. Apalagi melihat Alex yang terus menggerutu namun tetap menurut memijat Nara. Sedangkan gadis itu hanya diam mengabaikan gerutuan Alex. Bahkan sesekali memerintah dan memuji. Sungguh hebat.
“Kenapa tersenyum seperti itu? Mau menggantikan ku?” sinis Alex saat memergoki tingkah Gibran.
“Tidak boleh. Tangannya tidak akan selembut tangan pak bos.” Gibran yang hendak berucap menelan kembali kata-katanya setelah mendengar ucapan Nara.
“Huh! Memanggilku pak bos tapi memperlakukan ku seperti kacung.”
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😘
Please like, vote and comment. Oke👍