Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_49. Sebelum Pernikahan


__ADS_3

Tina sedang berjalan cepat ke arah kamar Nara. Suasana mansion malam ini sangat sibuk. Anggota keluarga akan berangkat ke KS Hotel malam itu juga agar dapat bersiap untuk acara ijab qobul yang akan berlangsung pagi hari. Jadi sebelum itu ia harus menemui Nara untuk menyampaikan pesan dari tuannya, Alex.


Dengan membawa nampan dengan segelas jus sirsak kesukaan Nara, Tina menaiki tangga dengan hati-hati. Dan saat sampai di depan pintu kamar Nara, ia segera mengetuk pintu.


“Siapa?” Tanya Nara yang saat itu sedang mengemas beberapa pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam koper.


“Saya Tina nona.” Mendengar jawaban dari luar, Nara segera menghentikan aktivitasnya dan segera membuka pintu untuk membiarkan Tina masuk. Setelah Tina menyampaikan pesan Alex waktu itu, ia tahu jika Tina adalah mata-mata Alex.


“Saya mengantarkan jus sirsak kesukaan nona.” Kata Tina saat melihat Nara heran menatap nampan yang dibawa gadis pelayan itu.


“Aku tidak memesan jus." Kata Nara. "Apa ada pesan dari Alex?” lanjut Nara. Sesungguhnya, dibandingkan dengan jus kesukaannya, ia lebih berharap bahwa gadis itu membawa pesan dari Alex.


“Benar nona.” Tina meletakkan nampan di atas nakas sebelum mengeluarkan ponselnya dari dalam bajunya. “Tuan Gibran bilang jika tuan Alex akan menghubungi nona.” Tina menyerahkan ponsel miliknya. Nara segera menerima ponsel itu.


“Nona, jika tidak keberatan saya akan menunggu di balkon. Tuan Gibran bilang jika tuan Alex akan melakukan Vidio call.”


Akan sangat canggung jika Tina berada di ruangan yang sama saat sepasang kekasih yang saling merindu sedang melakukan video call. Jadi Nara pun menyetujuinya.


“Baiklah.”


Mendengar izin dari Nara, Tina segera membuka pintu balkon dan menutupnya kembali dari luar.


Tak lama kemudian, ponsel Tina yang dipegang Nara bergetar, menampilkan layar dengan tulisan Tuan Gibran memanggil. Nara segera menggeser ikon berwarna hijau. Seketika terlihatlah wajah Alex di dalamnya.


“Selamat malam putri matahari yang tak pernah tenggelam meskipun sudah malam.” Sapa Alex dengan senyumnya. Bukannya membalas sapaan dari Alex, Nara justru tertawa lepas.


“Kok malah ketawa sih.” Alex mengerucut kan bibirnya di seberang sana.


“Abisnya aneh benget dengernya.” Nara berusaha menghentikan tawanya dan mendudukkan diri di atas ranjang. Menarik bantal dan diletakkannya di pangkuan


“Kita kan masih dalam misi.” Jawab Alex.


“Terserah padamu saja pangeran gunung es yang sudah mencair.” Ejek Nara.

__ADS_1


“Kamu benar. Gunung es ini telah mencair sekarang. Semua berkat putri matahari.”


Alex semakin melebarkan senyumnya.


“Berhenti bercanda. Kamu menghubungiku tidak hanya untuk bercanda denganku kan Lex?” Nara harus segera menghentikan pembicaraan yang tidak penting itu sekarang. Mereka harus ingat jika mereka sedang meminjam ponsel orang lain.


Mari segenap reader, kita tertawakan dulu kedua orang bos yang sedang meminjam barang anak buahnya.


“Iya. Memang ada sesuatu yang penting yang harus aku beritahu.” Alex sudah berganti dengan mode seriusnya.


“Apa?”


Alex memberitahu Nara jika ia telah berhasil mendapatkan sesuatu yang cukup kuat untuk melawan Rafael. Namun masalahnya, saat ini ia masih berada di luar kota. Jadi dia meminta agar Nara sedapat mungkin mengulur waktu hingga Alex datang.


“Tidurlah nyenyak malam ini. Semua akan baik-baik saja besok.” Kata Alex mengakhiri video call nya. Ia harus segera kembali ke ibu kota. Mereka tidak bisa menggunakan transportasi umum. Jika tidak, anak buah Rafael akan dapat melacak keberadaan mereka. Jadi mereka terpaksa menggunakan jalur darat dengan mobil.


Karena sudah selesai, Nara segera memanggil Tina dan mengembalikan ponsel milik gadis itu. “Terima kasih ya.”


Nara tersenyum mendengar doa tulus dari Tina. “Terima kasih atas do’amu Tina. Semoga kamu dimudahkan dalam jodohmu kelak.”


“Aamiin. Baiklah nona. Saya harus segera keluar. Kalau tidak pasti akan ada yang curiga.” Meskipun mereka sedang berada di mansion Mahardika, tidak berarti mereka aman bertukar informasi. Bisa saja salah satu dari orang-orang yang ada di mansion adalah anak buah Rafael.


Tepat ketika Tina keluar, Nadia datang untuk memanggil Nara untuk segera berangkat. Nara yang memang sengaja hanya menyiapkan dua baju ganti dan satu baju tidur segera menutup koper dan keluar dari kamar. Mengikuti langkah Nadia.


...☘️☘️☘️


...


Sesuai apa yang diperintahkan Alex, malam itu Nara tidur dengan nyenyak. Sepanjang perjalanan ke hotel, gadis itu sudah memikirkan banyak cara yang ia susun dengan rapi di otaknya. Rencana yang akan ia gunakan untuk mengulur waktu selama mungkin.


Banyak hal yang dilakukan Nara, mulai dari sengaja tidur lagi setelah sholat subuh yang mengakibatkan ia bangun kesiangan. Tidak cukup sampai di situ, Nara juga sengaja luluran di kamar mandi dalam waktu satu jam meskipun ia tahu ada dua orang make up artis yang akan meriasnya sudah menunggu di dalam kamar.


Belum lagi ia beberapa kali meminta berganti gaya make up yang sebenarnya sudah bagus. Semua ia lakukan demi mengulur waktu.

__ADS_1


Usaha tidak akan mengecewakan hasil. Gara-gara ulah Nara, ijab qobul yang seharusnya dilaksakan tepat pukul delapan pagi terpaksa diundur sampai pukul sepuluh.


Jika saja Rafael tidak menggunakan kekuasaan nya, mungkin pernikahan itu sudah batal gara-gara bapak Penghulu yang sudah pergi karena harus menikah kan pasangan pengantin yang lain.


Setelah melalui banyak drama, Nara pun sudah siap.


Kebaya modern berwarna putih sudah melekat di tubuhnya. Dengan wajah full make up membuat wajahnya terlihat lima kali lebih cantik dari biasanya. Sanggul modern menghias kepalanya. Dengan berbagai perhiasan yang terbuat dari perak dan Kuningan. Juga disempurnakan dengan beberapa bunga segar yang terselip indah.


Nara duduk di samping Nadia yang menggenggam erat tangannya. Hidung Nadia terlihat merah menandakan wanita empat puluhan tahun itu telah menangis tadi malam. Keduanya sedang berada di kamar hotel yang disewa untuk merias Nara. Nara telah dirias. Dan Nadia meminta waktu untuk berbicara dengan putrinya yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri.


Pernah mengalami pernikahan tanpa cinta membuatnya memahami apa yang dirasakan Nara saat ini. Namun ia tidak berdaya untuk menghentikan semuanya.


“Jangan bersedih ma.” Kata Nara sambil mengelus lembut punggung tangan Nadia.


“Mama tidak menyangka jika putri mama harus mengalami apa yang pernah mama rasakan.” Nadia tidak dapat lagi menahan air matanya.


“Aku beri tahu satu rahasia ma.” Nara membisikkan beberapa kata yang membuat wajah Nadia berubah. Ada sedikit harapan di dalam sorot matanya.


“Benarkah?” tanya Nadia tidak percaya. Nara segera mengangguk pasti.


“Kita tinggal menunggu Alex datang. Dan semua akan berakhir. Aku juga akan pulang dan hanya akan menjadi putri mama.” Ucap Nara pasti.


“Baru kali ini mama mendapati calon pengantin yang berharap pernikahan nya batal selain mama.” Nara hanya tersenyum menanggapi.


“Putri mama ini kan memang beda. Aku ini limited edition.” Dua wanita itu terkekeh.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


__ADS_2