Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_107. Rencana Untuk Virly


__ADS_3

Nara tidur dengan lelap di kamarnya. Di mansion Mahardika. Seharian Nara hanya diam di rumah. Menonton drama di laptop sepanjang pagi di dalam kamarnya. Dia hanya turun untuk makan siang. Setelah makan pun ia kembali ke kamar dan terlelap tidur.


Karena Nara sedang ada di rumahnya, Nadia tidak pergi kemana pun. Wanita itu memasak berbagai macam makanan kesukaan Nara. Ia kangen untuk memanjakan putrinya.


“Selamat siang mama.” Nadia yang sedang asik menonton serial televisi nya menoleh. Alex menghampirinya dengan senyuman ramah. Diraihnya tangan kanan Nadia dan dia cium dengan takdzim.


“Sudah selesai urusannya?” tanya Nadia.


“Sudah ma. Berkat doa mama. Nara mana?”


“Di kamar. Mungkin tidur sekarang. Ia tadi bilang mengantuk. Sini duduklah dulu. Temani mama sebentar.” Alex menurut dan duduk di salah satu sofa.


Pasangan menantu dan ibu mertua itu mengobrol banyak hal. Hingga tak terasa setengah jam berlalu.


“Ah mama jadi kelewatan. Naiklah ke atas. Nara pasti sudah bangun.” Nadia menepuk bahu Alex keras sambil terkekeh. Ia sangat menyukai menantunya.


“Baiklah ma. Alex ke kamar Nara dulu.” Alex berdiri. Kemudian dengan jalan cepat ia naik ke atas tangga.


Dengan hati-hati Alex memutar sknop dan membuka pintu itu. Ia khawatir mengganggu tidur Nara. Saat ia masuk, didapatinya Nara masih terlelap di balik selimutnya. Wajahnya menyembul dari balik selimut. Wajah tenang yang terlihat cantik itu Membuat hatinya menghangat.


Alex tidak bisa menahan tangannya untuk mengelus pipi Nara. Ia duduk di tepi ranjang. Kemudian merapikan anak rambut yang sedikit menutupi kening Nara.


Melihatnya lebih lama, dorongan untuk mencium kening yang sedikit basah akibat keringat itu semakin membuatnya tersenyum.


“Sayang. Sudah kembali.” Nara mengerjapkan kedua matanya. Kedua tangannya juga mengucek mata yang masih terasa berat itu.


“Maaf sudah membuatmu bangun.” Alex mencium pipi Nara.


“Aku sudah cukup tidurnya. Tadi makan kekenyangan. Jadinya ngantuk.” Nara menarik tubuhnya. Duduk di atas ranjang dengan selimut masih menutupi bagian bawah tubuhnya.


“Sayang kamu pakai kemejaku?” Alex baru memperhatikan apa yang dikenakan Nara. Kemeja biru tua dengan dua kancing atasnya yang tidak dikancingkan. Membuat sesuatu yang lembut di dalam bra hitam itu terlihat menggoda.


“Iya. Tadi tiba-tiba aku pengen tidur sambil meluk kamu. Tapi kamunya nggak ada. Jadi aku pakai saja kemeja ini. Harumnya kayak kamu.” Nara menganggukkan kepalanya. Mencium lagi aroma kemeja Alex dipakainya berkali-kali.


Alex mengacak rambut Nara dengan gemas. “Kamu ini ada-ada saja.”


“Tadi aku baca novel katanya kalau pakai baju pasangan sama kayak pelukan. Awalnya aku nggak percaya. Tapi setelah aku cobain ternyata benar. Ini seperti dipeluk sama kamu.” Nara memeluk tubuhnya dengan tangannya sendiri. Wajahnya berseri-seri.


“Tadi aku, Bisma dan Bima sudah berhasil menangkap Roy. Saat ini dia sudah ada di kantor polisi. Mungkin kamu akan dipanggil untuk dimintai keterangan.” Kata Alex serius. Pria itu merapikan rambut Nara yang tadi diacaknya. Dia agak heran, biasanya jika ia mengacak rambut Nara, istrinya itu akan marah karena merusak penampilannya. Tapi kali ini bukan hanya Nara tidak marah, ia malah tersenyum seolah menikmati apa yang Alex lakukan dengan rambutnya.


“Baiklah. Tapi kamu nanti temani aku ya.” Nara memegang lengan Alex.


“Tentu saja. Oh ya, ada fakta yang terungkap. Roy hanya alat. Ada orang yang memanfaatkannya.” Jelas Alex.


“Siapa?”

__ADS_1


“Virly.”


“Virly?!” Nara sedikit tidak percaya. Ia sudah lama menyadari jika Virly memiliki maksud yang lain. Sangat kentara jika gadis itu menyukai suaminya. Tapi Nara sama sekali tidak menyangka jika Virly sampai melakukan sesuatu yang begitu jahat padanya.


“Iya. Roy yang memberitahukannya pada kami. Dia bilang jika Virly lah yang membantunya membawamu dulu. Aku juga merasa jika saat itu Virly sengaja membuatku tidak dapat menemukan mu.”


“Aku tidak menyangka Virly akan setega itu.”


“Orang yang penuh ambisi itu berbahaya.”


“Lalu bagaimana?”


“Aku akan membereskannya. Tapi kita tidak bisa langsung menyingkirkannya begitu saja. Di kantor kinerjanya bagus. Dan keterangan dari Roy saja tidak akan cukup untuk membuktikan keterlibatannya.”


“Jadi kita hanya bisa menunggunya berbuat kesalahan?”


“Tidak. Kita akan memancingnya.”


“Memancingnya?”


“Iya. Yang paling penting saat ini adalah membuka kedoknya di hadapan mama. Kita harus membuatnya melakukan kesalahan di depan mama. Aku khawatir jika mama tidak melihatnya sendiri, mama akan salah sangka pada kita.”


“Kamu benar. Mama saat ini ada di pihaknya. Tidak heran, Virly memang sangat pandai mengambil hati mama. Ini kesalahanku karena membiarkannya.” Kata Nara sendu.


“Jangan berpikir macam-macam. Tidak akan lama sampai mama menyadari bahwa kamu adalah menantunya yang sempurna.” Alex memeluk Nara.


“Aku malas.” Nara menepuk selimutnya dengan cemberut.


“Baiklah. Jika kamu malas untuk mandi, aku tidak keberatan untuk memandikanmu.” Alex menyibak selimut yang menutup sebagian tubuh Nara.


Alangkah terkejutnya Alex saat mendapati Nara yang tidak memakai bawahan. Paha putih mulus itu terlihat di depan matanya. Alex menelan ludahnya. Bukankah ini Nara sengaja menggodanya.


“Kamu mau menggodaku?” Alex mendorong tubuh Nara. Menindihnya dengan sempurna. Nara yang tidak siap mengerjakan kedua matanya dengan tidak percaya.


“Tidak. Aku tidak melakukannya. Aku kan gerah.” Elak Nara. Ia berusaha mendorong dada Alex yang hampir menempel dengan miliknya.


“Ini di rumah mama. Tidak ada peredamnya di sini.” Nara berkata dengan panik.


“Hem. Baiklah. Kamu aku lepaskan kali ini.” Alex bangkit. Membenarkan dasinya yang sedikit longgar. “Tapi aku pastikan besok peredam dengan kualitas tinggi akan terpasang di sini.” Lanjutnya.


“Baiklah. Aku mandi dulu.” Nara berdiri dengan gugup. Ia terburu-buru mengambil baju gantinya dan masuk ke dalam kamar mandi. Jika ia berduaan dengan Alex lebih lama lagi dengan penampilannya yang seperti itu akan gawat.


Sesuai rencana, Alex dan Nara akan menginap di mansion Mahardika sampai acara serah terima jabatan berlangsung.


Sebenarnya itu adalah alasan sampingan, alasan utamanya adalah sikap Serena yang semakin lama semakin terasa tidak mengenakkan untuk Nara. Apalagi kemarin malam sampai membuat Nara pergi dengan marah.

__ADS_1


Namun seperti apapun konflik yang Nara alami di rumahnya, semua itu terkunci rapat di dalam hatinya. Ia tidak akan membiarkan Nadia tahu hal tidak mengenakkan yang ia dapatkan dari ibu mertuanya. Biarkan hanya pandangan baik yang diberikan Nadia pada Serena.


Keesokan harinya, Nara mengantarkan Alex bekerja sampai di depan pintu.


“Jaga hati, jaga diri. Semangat berjuang sayang.” Kata Nara sambil mengangkat tangannya dengan semangat.


“Cih! Kak Alex pergi bekerja. Bukan pergi berperang.” Dini yang kebetulan lewat untuk pergi sekolah mencibir.


“Suka-suka aku dong. Sana-sana jangan ikut campur.” Nara mengibaskan tangannya. Mengusir Dini. Adiknya meraih tangan Alex dan mencium punggung tangannya.


“Belajar yang rajin.” Alex merogoh saku jasnya. Memberikan lima lembar uang seratus rupiah kepada adik iparnya.


“Terima kasih kak Alex. Sering-sering begini. Aku akan dapat membeli koleksi Marcandise Black Pink edisi terbatas.” Dini tersenyum senang. Ia melenggang sambil bersenandung.


“Ck. Dasar bocah.” Nara mengepalkan tangannya dan mengarahkannya pada Dini yang sudah naik ke mobil yang akan mengantarnya.


“Uang saku buatku mana kak?” Gerry nyengir di depan Alex sambil menengadahkan tangannya.


“Kamu juga ikut-ikutan?”


“Iya dong. Aku kan juga adik ipar kak Alex.”


“Sudahlah sayang. Tidak apa-apa. Nih. Belajar yang rajin.” Alex juga memberikan dengan nominal yang sama.


“Tambahin dong kak. Biar aku bisa ajak pacarku kencan.” Gerry masih menengadahkan tangannya.


“Jangan dikasih.” Nara segera melarang.


“Gerry, martabat kita sebagai laki-laki dilihat dari caranya perilakunya. Pergilah. Jalani masa mudaku dengan baik. Jangan sampai menyesal nantinya.” Ucap Alex sambil menyerahkan lima lembar lagi pada Gerry.


“Oke kak Alex. Aku akan memikirkannya baik-baik. Terima kasih.” Gerry melambaikan sepuluh lembar uang berjumlah satu juta rupiah pada kakak dan kakak iparnya sebelum menciumnya dan memasukkannya ke dalam saku jaket almamaternya.


“Kenapa kamu kasih Gerry banyak uang?”


“Tidak apa-apa. Dia masih muda. Masih dalam masa mencari jati dirinya.”


“Terserahlah.”


“Oke. Jangan dipikirkan terlalu keras. Aku akan berangkat. Bantu-bantu mama di sini.” Alex mencium kening Nara. Memeluknya sebentar sebelum masuk ke dalam mobilnya.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 🤩


__ADS_2