
Setelah makan malam, sudah menjadi kebiasaan jika Alex, Nara dan Serena akan berkumpul di ruang keluarga. Nara dan Alex berpandangan saat melihat Serena yang terlihat aneh malam ini. Wanita paruh baya itu terlihat beberapa kali menyeka keringat di pelipis nya. Padahal suhu di ruangan itu tidak terasa panas sama sekali meskipun ruangan itu tidak ber-AC. Tapi angin yang berhembus dari pintu samping yang terbuka lebar cukup besar.
“Mama kenapa? Apa mama kurang sehat?” tanya Nara khawatir.
“Em anu... Eh tidak apa-apa kok. Mama tidak kenapa-kenapa.” Jawab Serena. Meskipun ia merasa Alex sudah baik padanya, tapi ia masih merasa Alex masih sedikit memberinya jarak.
“Kalau ada sesuatu yang mama inginkan, mama bicara saja. Jangan dipendam sendiri.” Nara mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Serena yang ada di paha mertuanya.
Serena memandang Alex dan Nara bergantian.
“Mama ingin cucu.” Ucap Serena ragu.
Mendengar keinginan Serena, Nara menundukkan kepalanya. Ia merasa menjadi menantu yang tidak sempurna. Alex yang melihat perubahan Nara segera menggenggam tangan Alex.
“Ma kami sudah berusaha. Tapi apa boleh buat jika Tuhan belum memberinya pada kami.”
“Mama tahu. Tapi kalian sudah lama menikah. Mama dengar program kehamilan di rumah sakit Y sangat terkenal. Banyak pasangan yang datang ke sana dan berhasil.”
Setelah mendengar perkataan Runi, Serena segera mencari informasi mengenai cara agar cepat hamil. Dan Serena mengetahui informasi mengenai program kehamilan itu juga dari internet.
“Baiklah mama. Kalau mama ingin kami pergi ke sana, aku akan meminta Gibran mengatur jadwal kami.” Alex a dengan serius.
“Itu bagus. Maafkan mama Nara. Mama tahu ini pasti menyakiti perasaanmu. Tapi mama melakukan ini semua juga demi kebahagiaan kalian.” Serena meraih tangan Nara dan mengelus nya.
“Nara tahu ma. Tidak apa-apa. Maaf karena selama ini Nara egois. Alex pernah mengajak Nara untuk ikut program kehamilan, tapi Nara takut kecewa lagi.” Jawab Nara jujur.
“Kalian sudah pantas untuk menjadi orang tua.”
Alex memandang Nara. Sebenarnya dia juga sudah sangat ingin memiliki anak, tapi ia melihat jika Nara belum siap. Istrinya ini masih trauma setelah kehilangan bayi mereka waktu itu. Karena itulah Alex tidak ingin memaksa. Toh mereka masih muda.
**
Sesuai kemauan Serena, Nara dan Alex pergi ke rumah sakit Y untuk ikut program hamil. Gibran sudah mengosongkan jadwal keduanya hari itu. Sekretaris itu juga sudah berisap untuk menyesuaikan jadwal sesuai dengan jadwal keduanya mengunjungi dokter.
__ADS_1
Hari ini adalah hari pertama Alex dan Nara bertemu dengan dokter yang akan menjadi pendamping mereka yang bernama dokter Kania.
Setelah menjelaskan kondisi Nara yang pernah menderita kanker rahim, dokter Kania langsung melakukan tes darah baik Nara maupun Alex. Karena untuk hamil tidak hanya butuh Nara, tapi juga Alex sebagai suaminya.
Tes darah diperuntukkan untuk mendeteksi kemungkinan masalah yang berkaitan dengan hormon yang mempengaruhi seseorang sulit untuk hamil.
Selain melakukan tes darah, Nara juga disarankan untuk melakukan tes untuk mengetahui bentuk rahim, tuba falopi dan juga ovarium.
Alex selalu mendampingi Nara dalam setiap pemeriksaan itu.
“Bagaimana hasil pemeriksaan kami dokter?” tanya Alex. Ketika mereka datang kembali ke rumah sakit untuk menerima hasil pemeriksaan sebelumnya.
Dokter Kania membaca laporan di tangannya dengan teliti sebelum tersenyum dan berkata dengan tenang. “Kondisi tuan dan nyonya semuanya baik. Kondisi rahim nyonya Nara juga sangat baik dan siap untuk dibuahi.”
Nara dan Alex merasa lega saat mendengar penjelasan dokter. Itu artinya mereka memiliki kesempatan untuk memiliki anak secara alami. Awalnya, Nara dan Alex sudah berencana untuk melakukan inseminasi buatan atau bayi tabung untuk mendapatkan anak. Tapi setelah mendengar mereka baik-baik saja, rencana itu hanya akan menjadi jalan terakhir.
Dokter Kania memberi beberapa saran kepada Nara dan Alex. Tentang frekuensi mereka untuk berhubungan intim, membantu Nara menghitungkan masa subur dan juga posisi terbaik saat berhubungan.
Dokter Kania juga memberi tahu Nara apa saja makanan yang perlu dikonsumsi untuk membuat ovumnya semakin sehat dan berpeluang besar saat terjadi pembuahan.
Sepulang dari rumah sakit, Nara langsung mengajak Alex untuk berbelanja di mall. Ia ingin membeli bahan-bahan makanan yang tadi dijelaskan oleh dokter Kania.
**
Alex mendorong troli berjalan di belakang Nara. Sedangkan Nara yang akan di depan dengan serius memilih dua buah ikan di tangannya. Lalu ia memutuskan untuk memilih ikan tuna. Tapi belum ia masukkan ke dalam troli, lagi-lagi ia bingung akan membeli yang utuh atau yang sudah difillet saat melihat salmon fillet di etalase.
“Sayang yang bagus yang mana?” Nara menunjukkan dua buah ikan salmon di tangannya. Yang satu sudah di fillet, sedangkan yang satunya lagi masih utuh.
“Mana aku tahu.” Alex mengangkat bahunya. Dua orang itu memang tidak pernah sekalipun pergi untuk berbelanja.
“Hai Alex, Nara, kalian sedang berbelanja?” Virly yang kebetulan sedang berbelanja segera menghampiri Nara dan Alex saat melihat kedua orang itu.
“Oh iya.” Nara tersenyum canggung.
__ADS_1
Nara dan Virly memang satu fakultas. Satu kelas juga. Tapi mereka berdua tidak dekat sama sekali. Virly sejak dulu terkenal dengan seorang yang mudah berteman. Sedangkan Nara terkenal dengan gadis yang sulit didekati.
Selain itu, Virly juga pernah berpacaran dengan Roy. Padahal sebelumnya ramai dibicarakan jika Roy menyukai Nara. Namun pada akhirnya lebih memilih mundur akibat ancaman Bisma.
“Sepertinya kalian butuh bantuan.” Virly lebih mendekatkan diri. “Kalian ingin memasak ikan salmon?” lanjutnya saat tidak mendapat jawaban dari Nara maupun Alex.
“Iya.” Akhirnya Nara menjawab.
“Ooh. Menurutku keduanya bagus. Itu tergantung akan kalian buat apa nantinya. Memang kalian mau membuat apa?”
“Belum tahu. Aku tidak pilih-pilih makanan. Yang penting enak.”
“Bagaimana kalau aku masakkan Steak Salmon? Kebetulan aku juga ingin menemui Tante Serena.” Tanpa menunggu jawaban, Virly sudah memasukkan beberapa salmon fillet ke dalam troly. Lalu tanpa memberi kesempatan Nara untuk menyela ucapannya, Virly pun mengambil beberapa bahan pelengkap yang akan dia gunakan untuk membuat steak salmon.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka bertiga selesai berbelanja. Karena Virly sudah membantunya dan Nara, Alex akhirnya berbaik hati untuk membayarkan belanjaan Virly yang cukup banyak karena gadis itu sedang belanja mingguan.
“Aku langsung ke rumah kalian saja ya. Kebetulan aku tidak bawa mobil hari ini. Mobilku ada di bengkel.” Ucap Virly saat mereka hendak keluar.
Mau tidak mau akhirnya Alex dan Nara mengiyakan permintaan Virly. Alex memasukkan belanjaannya ke dalam bagasi. Sedangkan belanjaan Virly diletakkan di kursi belakang. Di samping Virly.
“Apa kamu tidak sedang sibuk Virly? Kalau kamu sibuk kami tidak keberatan untuk mengantarmu pulang.” Ucap Nara. Rasanya sangat aneh saat ada orang lain di mobilnya. Ia merasa kurang nyaman.
“Tidak kok. Aku masih belum ada pekerjaan.” Jawab Virly. Ia melirik Alex yang ada di balik kemudi.
“Oh...baiklah kalau begitu.” Nara akhirnya pasrah. Alex yang melihat perubahan ekspresi wajah Nara mengerti jika istrinya merasa kurang nyaman. Namun ia juga tidak bisa begitu saja mengusir seseorang apalagi ia berkata ingin menemui mamanya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir. 😘
__ADS_1