
Jalan hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Bahkan banyak hal yang sangat tidak kita inginkan harus kita lalui sebagai alur dalam kehidupan. Sebagai manusia, yang harus kita lakukan adalah menjalani hidup kita dengan melakukan hal terbaik yang bisa kita usahakan.
Takdir kita telah ditentukan oleh Tuhan yang menciptakan segala sesuatunya ( Meskipun dalam cerita ini, imajinasi akoh lah yang lebih banyak perperan, hehehe. Anggap saja gitu lah... Tapi imajinasi Akoh juga tak akan ada apa-apanya jika bukan atas kehendakNya.)
Segala macam hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, baiknya kita jadikan sebagai bentuk latihan. Pelajaran berharga yang mengajarkan berbagai bentuk perjuangan, kesabaran dan juga melatih kita arti keikhlasan.
Hari ini tepat sepuluh hari masa berkabung Nadia untuk calon anaknya. Tepat di hari ini pula ia telah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Keputusan untuk bertahan.
Dengan kondisi dan situasi saat ini, sangat mudah bagi Nadia untuk pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan yang membuatnya meneteskan air matanya setiap hari. Bapaknya yang selalu menjadi ancaman sudah tiada. Bahkan calon anaknya pun sudah dilenyapkan dengan tanpa belas kasih. Seharusnya tidak ada lagi alasan yang membuat Nadia bertahan dalam hidup yang membuatnya begitu terluka.
Namun, dalam hidup ini memang bukan hanya ada kebahagian. Banyak hal lain yang menyertai. Itulah hidup dengan segala rasa yang ada. Dalam usianya yang baru mencapai dua puluh dua tahun, semua rasa dalam hidup sudah Nadia rasakan. Bahkan Nadia sudah dipaksa dewasa dan mengalami banyak hal sebelumnya. Dalam tahap ini, Nadia bahkan akan lebih bisa berfikir sebagai wanita dewasa dibandingkan wanita lain dengan umur yang terpaut jauh di atasnya.
Di desa tempat Nadia tinggal, mungkin akan ada Nadia yang akan muncul jika dia pergi sekarang. Dengan kondisi ekonomi yang berada di bawah garis kemiskinan, banyak gadis yang akan bersedia dengan senang hati menggantikan posisi Nadia. Namun bukan itu intinya. Kebanyakan manusia hanya bisa melihat, sangat jarang mereka yang bisa merasakan.
Di mata orang lain kebanyakan, yang terlihat adalah kehidupan Nadia yang sempurna. Memiliki segalanya yang ia butuhkan. Harta berlimpah, anak buah yang bersedia mengorbankan nyawanya demi hidupnya, para pelayang yang siap melayani dua puluh empat jam hanya dengan mengucapkan beberapa kata. Yang paling membuat iri adalah dia yang menjadi Istri Muda kesayangan. Dengan status yang dimiliki, semua yang ia mau akan terwujud. Siapa yang tidak ingin berada dalam posisi Nadia?
Tapi ada satu hal sederhana yang abai dari penglihatan mereka. Senyum kebahagian. Nadia tidak lagi memiliki senyum yang tulus dalam bibirnya. Yang tercipta dalam Nadia hanyalah senyum sebagai topeng dari segala penderitaan dan kesedihan yang ia alami selama menjadi seorang istri Muda. Dan Nadia, tidak akan pernah membiarkan orang lain mengalami apa yang ia alami. Kehilangan senyum kebahagiaan bahkan lebih menyedihkan daripada kehilangan satu-satunya nyawa yang melekat di tubuh.
Pagi ini, Nadia sudah diperbolehkan pulang setelah lima hari dirawat di klinik dengan perawatan spesial dari Dokter Nathasya. Dokter cantik itu bahkan menjadikan Nadia pasien idolanya. Dengan berat hati, dokter cantik adik kandung dokter Nathan itu menyetujui untuk memberikan suntikan kontrasepsi untuk Nadia suatu saat nanti.
Bagi Nadia, Kehilangan anak kali ini sudah cukup memberikan penderitaan. Ia tak mau lagi merasakan penderitaan sebab kehilangan anak lagi suatu saat nanti. Ia akan mendedikasikan hidupnya demi masa depan generasi muda di desanya.
“Kita pulang kemana Nad?” tanya Joni saat mobil yang ia kendarai mulai dekat dengan desa. “Juragan bilang untuk sementara kamu boleh tinggal di rumah paman Rahmat jika kamu mau. Juragan khawatir kamu masih merasa sedih dengan semua ini.” Lanjutnya saat melihat Nadia hanya diam.
__ADS_1
“Ck. Alasan. Kamu pasti juga bisa menebak alasan dibalik kebaikannya bukan?” Nadia mencibir. Semua laki-laki yang sudah dewasa khususnya yang sudah mempunyai anak pasti tahu jika seorang wanita tidak akan bisa digunakan setidaknya selama empat puluh hari setelah melahirkan atau hal seperti Nadia.
Joni yang tentunya mengetahui hal itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Manusia seperti Juragan Bondan sangat mudah ditebak dalam hal ini. Kehilangan seorang calon anaknya bukanlah hal baru dan harus dimasukkan ke dalam salah satu daftar hal yang membuatnya bersedih.
“Jadi, apakah kita akan pulang ke rumah paman Rahmat?” tanya Joni memastikan.
“Tidak. Kita kembali ke rumah besar.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja. Jika aku tidak kembali ke rumah besar. Mereka yang akan menang. Mereka akan berpesta di atas kesedihanku. Mereka akan menertawakan anakku yang meninggal. Dan aku tidak akan pernah membiarkan mereka menang begitu mudah.”
“Apa rencanamu sekarang?”
“Tidak ada. Hanya dengan kembalinya aku ke sana, mereka akan kalah. Mereka fikir setelah apa yang telah mereka lakukan pada anakku mereka akan dengan mudah menyingkirkanku dari sana begitu saja. Huh. Jangan mimpi. Akan aku tunjukkan siapa yang telah mereka usik.”
Nyatanya, dengan kejadian ini, Nadia mendapatkan kekuatan tambahan untuk menjalani hidupnya. Tekad yang ada di hati Nadia semakin kuat. Bu Devi dan Yulia tidak boleh melihatnya bersedih. Atau jika tidak, merekalah yang akan menang. Itu artinya mereka berhasil membuat Nadia bersedih. Dengan itu mereka akan menegaskan bahwa Nadia bukanlah apa-apa dan lemah.
Tentunya itu bukanlah hal yang Nadia mau. Mulai saat ini, Nadia bukanlah lagi Nadia yang lemah. Yang akan diam mencari aman. Tidak ada lagi orang lain yang akan menjadi kelemahannya. Bu Devi dan Yulia, tidak akan lagi bisa mengancamnya, bahkan dengan nyawanya sekalipun.
“Langkah apapun yang akan kamu ambil, ketahuilah bahwa aku akan selalu berada di pihakmu Nad. Kamu tidak sendirian. Akan ada aku yang akan selalu berdiri di sampingmu.”
“Aku tahu. Itulah kenapa aku berani mengambil langkah ini. Aku yakin kita akan mampu menjalani semua ini bersama-sama.”
__ADS_1
“Aku menyayangimu Nadia. Entah mengapa, tapi aku merasa mempunyai seorang adik setelah mengenalmu.”
“Jelas itu karena aku memang orang yang cantik, baik, imut dan menggemaskan. Semua orang tentu saja menginginkan aku menjadi adiknya.”
Joni mendengus. Walaupun semua pbyang dikatakan Nadia itu adalah sebuah kebenaran, tapi tidakkah itu terlalu narsis untuk diucapkan.
“Hei ayolah. Aku memang seperti itu Jon. Aku memang cantik, baik, imut dan juga....”
“Menggemaskan. Aku tahu aku tahu Nadia.” Potong Joni cepat dengan nada mengejek.
Mendengar nada yang Joni pakai membuat Nadia tidak bisa tidak tergelak. Sangat sulit membuat Joni sekesal itu. Menggoda Joni bukanlah suatu yang mudah. Dan saat ini Nadia berhasil.
Namun di belakang kemudi, Joni senyum tipis mendengar tawa Nadia. Joni sedikit lega. Ini artinya Nadia memang sudah merelakan semuanya. Untuk ke depannya, dirinya hanya akan mendukung Nyonya Mudanya tersebut. Tidak peduli siapa yang telah memberinya gaji, baginya Nadialah yang akan mutlak memiliki perintah atas dirinya.
‘Apapun langkah yang kamu ambil, aku akan selalu di sampingmu Nadia. Meskipun jalan yang kamu ambil akan sulit untuk dilaluipun, aku akan setia membantu dan menyertaimu.’ Joni mengeratkan genggamannya pada kemudi yang ada di depannya.
Hari ini, kedua orang yang ada di dalam satu mobil itu membulatkan tekad mereka untuk maju. Melangkah melawan segala ketidak adilan dan kejahatan yang ada di depan mereka.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir... 🙂
Dunia tak akan menanti kita yang berhenti meratapi nasib, jadi... berjuang untuk menjadi yang terbaik adalah pilihan yang paling tepat. ~(^_^)~