Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
21. Loyo


__ADS_3

Pagi ini Nadia bangun dengan tubuh yang serasa remuk. Tidur di atas beberapa kursi membuat tubuhnya tidak nyaman. Saat dia bangun, dia melihat Joni duduk tak jauh darinya. Joni segera menghampiri Nadia saat tahu wanita yang ditungguinya semalaman terbangun.


"Jam berapa Jon?"


"Empat subuh Nad. Sholat dulu yuk." ajaknya. Nadia mengangguk. Dengan perlahan dia mendudukkan diri.


"Bapak gimana Jon?"


"Masih belum ada perkembangan Nad. Satu jam yang lalu baru diperiksa lagi." Nadia mengangguk Kemudian mengikuti Joni ke mushola tak jauh dari ruang ICU.


Selesai dari musholla, Nadia melihat dokter Nathan sedang bicara dengan seorang dokter. Nathan mengajak dokter itu menghampiri Nadia yang baru saja duduk.


"Bu Nadia, ini adalah dokter Yoga."Kedua orang yang diperkenalkan saling berjabat tangan. "Dokter Yoga adalah dokter yang menangani pak Rahmat. Dokter Yoga adalah teman saya. Jadi dia akan mengabari saya jika ada perkembangan tentang kondisi pak Rahmat."


"Terima kasih banyak dokter."


"Sama-sama bu Nadia. Kalau begitu saya permisi. Saya masih harus memeriksa pasien saya yang lain."


"Tentu dokter. Silahkan."


Dokter Yoga berlalu. Nathan juga harus kembali ke desa karena dia waktunya menjadi dokter jaga sekarang. Nadia dan Joni juga masih berada di rumah sakit setidaknya sampai siang untuk memantau perkembangan Rahmat.


Pagi ini, Nadia diperkenankan untuk masuk ke dalam ruang Rahmat. Dia menggenggam tangan kurus Rahmat. Bapaknya itu masih belum sadarkan diri walaupun masa kritisnya sudah lewat.


"Kita harus pulang sore ini Nadia."


"Iya Jon. Tadi dokter Nathan juga bilang akan kesini lagi setelah dari puskesmas."


"Dokter Nathan orang yang baik ya Nad?"


"Iya Jon."


"Sudah baik tampan lagi."


"...." Apa Joni mulai menggodaku lagi sekarang?


"Nad?"


"Hem."


"Menurutmu bagaimana dokter Nathan?"


"Baik."

__ADS_1


"Itu saja?"


"Hm. Apa lagi?"


"Bukankah dia calon yang cocok sebagai pendamping masa depanmu?"


"Jangan bicara omong kosong Jon."


"Dia sepertinya menyukaimu."


Nadia terkekeh. "Memang ada yang tidak menyukaiku?"


"Suka dalam arti yang lebih jauh Nad."


"Itu tidak mungkin Jon. Jangan bahas ini lagi. Kamu sendiri yang bilang kalau dokter Nathan itu tampan. Orang tampan itu bahaya Jon."


"Bahaya kenapa?"


"Kamu lihat suamiku Jon? Tampan dilihat dari mana? Dia saja menghabiskan wanita. Apa lagi kalau tampan."


"Ck. Yang kamu lihat selama ini hanya suamimu. Setiap orang beda Nadia."


"Hehehe. Ya pasti lah Jon? Mau melihat siapa lagi kalau bukan suami sendiri hah? Melihat kamu bisa-bisa habis aku sama Nita." Nadia Terkikik.


"Jon Jon. Bisa-bisanya kamu berfikir sejauh itu. Aku sedang mengandung anak dari suamiku Jon. Dan kamu malah memikirkan hal yang tak masuk akal."


"Kamu berhak mendapatkan orang yang lebih baik sebagai suamimu."


"Aku tidak pernah berpikir untuk itu Jon. Tidak akan ada yang mau menerima seorang wanita yang sudah pernah menikah. Semua orang berhak mendapatkan yang terbaik. Dan aku tidak baik untuk siapapun."


"Kamu pantas juga untuk mendapatkan yang terbaik Nad."


"Sudahlah Jon. Aku minta jangan membahas ini lagi. Yang menjadi Fokusku sekarang adalah kondisi kesehatan bapak."


...****...


Malam ini, selesai memenuhi tanggung jawabnya terhadap juragan Bondan. Nadia masih belum bisa masuk ke dalam mimpinya. Dengan hati-hati dia bangun dan memakai kembali pakaiannya sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Nadia membuka jendela kamarnya. Melihat bulan sabit yang terlihat indah di langit sana.


"Bahkan bulan yang berada jauh disana sangat banyak yang mencintainya. Banyak yang menemaninya. Sedangkan aku?"


Gara-gara perkataan Joni siang tadi membuatnya berfikir yang macam-macam. Nadia memang tidak pernah merasa dicintai oleh juragan Bondan. Jadi ketika Joni bilang jika dia berhak merasa dicintai membuatnya terbang.

__ADS_1


Nadia melihat seorang laki-laki dengan perut buncit yang tertidur lelap di atas ranjangnya. Laki-laki yang hampir setiap malam menghabiskan malam dengannya itu memang memperlakukannya dengan baik di atas ranjang. Tapi Nadia tidak menikmati aktifitas ranjang yang selama ini dia lakukan. Melakukannya semata-mata hanya untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


Nadia menghela nafas menyadari nasibnya yang sangat buruk. Tanpa membuang waktu, ia harus segera tidur.


Semilir angin memasuki jendela. Membuat tubuhnya meremang. Baju tidur tipis yang dia pakai tidak mampu melindunginya dari dinginnya malam. Dia baru sadar jika sekarang dia sedang memakai pakaian kurang bahan yang semalam terpaksa dia pakai karena permintaan suami mesumnya.


Buru-buru dia tutup jendela kamarnya sebelum ada yang melihatnya berpakaian terbuka seperti itu. Mana bisa kain tipis transparan ini dinamakan baju.


Nadia memasukkan diri ke dalam selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian diapun tertidur dengan membelakangi suaminya.


Mata Nadia mengerjap perlahan saat adzan subuh terdengar. Tapi bukan hanya karena suara indah itu yang membuat wanita cantik itu terbangun. Perilaku teman tidurnya lah yang membuat seluruh badannya meremang.


Dengan jelas dia melihat dua tangan besar sedang bermain di bagian depan tubuhnya. Tanpa melihat wajahnya pun dia sudah tahu siapa yang melakukannya.


Tangan besar itu membalik dengan segera tubuh ramping Nadia. Memaksanya untuk menghadap ke arah suaminya.


Pakaian tipis yang digunakan Nadia ternyata mampu membangkitkan kembali apa yang semalam beraksi. Dengan tidak sabaran, Juragan Bondan membuka kembali baju tipis yang dipakai Nadia.


Nyatanya, usia tidak bisa dibohongi. Tanpa obat kuat yang selalu dia andalkan, miliknya bukanlah apa-apa. Loyo. Lemas. Baru sebentar dirinya tidak berdaya.


Juragan Bondan melongo. Dia berusaha melakukan apapun agar niatnya bisa terlaksana. Namun miliknya memang sudah tua, sudah waktunya pensiun. Juragan Bondan berdecak.


"Besok jangan pakai pakaian ini lagi. Membuatku tersiksa." Nadia hanya mengangguk. Di dalam hatinya dia menertawakan suaminya itu. Juragan Bondan bangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi dengan memijat pelipisnya. Gagal mendapatkan pelepasan jelas membuat kepalanya terasa pening.


Setelah juragan Bondan sudah benar-benar masuk ke dalam kamar mandi. Nadia Terkikik pelan. Menertawakan wajah lesu suaminya. Menertawakan milik suaminya yang biasanya beringas mendadak loyo tak bertenaga. Tidak bisa menyemburkan bisa.


"Nyatanya tanpa obat kuat, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya sudah tua, namun jiwa mesumnya tidak mau menjadi tua." gumam Nadia sambil memakai pakaian lain yang biasa dia pakai. Kemudian memasukkan pakaian tipis yang lebih terlihat seperti saringan tahu yang sering dia lihat di desanya itu ke dalam keranjang pakaian kotor.


"Selamat tinggal lingerie."


*


*


*


^^^~***Aku Istri Muda***~^^^


**Terima kasih sudah mampir 😍


Jangan lupa TINGGALIN jejak ya 👍


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


...🌾Kediri Raya🌾**...


__ADS_2