
Memulai suatu hubungan yang serius tidak semudah menyatakan cinta seperti pada anak ABG. Apalagi dalam hal ini melibatkan dua orang yang sudah sama-sama dewasa dan siap untuk menikah. Bahkan salah satu dari mereka membawa dua orang di belakangnya seperti Nadia.
Untuk memulai hidup baru dengan orang seperti Nadia jalannya tidak akan mulus tanpa halangan. Justru halangan datang dari berbagai pihak. Setelah mendapatkan restu dari Rita, Nathan dan Nadia juga harus mendapatkan restu dari Bisma, yang merupakan anak angkat Nadia.
Keduanya juga tidak akan memulai hubungan tanpa mendapatkan restu dari orang-orang terdekat mereka. Mereka berdua meyakini bahwa kunci keharmonisan suatu keluarga adalah adanya restu dari semua pihak.
Untuk mendapatkan restu dari bocah laki-laki yang masih di bawah lima tahun itu agaknya sedikit susah. Sebagai anak kecil, Bisma sedikit sulit dibujuk. Tumbuh dengan pengasuhan yang keras dari Minah membuat Bisma menjadi anak yang kuat dalam pendirian. Dan anak kecil ini membuat standar tinggi bagi siapapun yang berniat menikahi mamanya.
Sebenarnya tidak begitu sulit. Hanya orang itu haruslah mampu membuatnya yakin bahwa dia dapat melindungi dan memberikan kasih sayang pada Nadia dan Nara. Dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
Seminggu sudah Nathan melatih sepasang ibu dan anak bermain silat. Keduanya sudah hafal dengan gerakan-gerakan yang akan mereka pentaskan nantinya. Seharusnya ini merupakan peluang yang bagus untuk Nathan mengambil hati bocah kecil itu. Tapi kembali lagi, Bisma sulit dibujuk dan sulit untuk terkesan.
Ini sungguh membuat frustasi.
Hari masih cukup pagi ketika ketiga orang yang sedang melakukan latihan terakhir sebelum tampil esok hari di sekolah Bisma. Pagi ini, Nadia dan Bisma berlatih dengan semangat empat lima. Nathan memandang keduanya dengan bangga. Tidak sia-sia ia mengajari kedua muridnya. Ehehehe...
Namun keseriusan ketiganya mendadak berubah menjadi tegang saat beberapa orang berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa dan wajah panik.
Nathan segera menumpu tubuh Nadia yang ambruk saat mendengar putrinya menjadi korban kecelakaan ketika sedang bermain.
Beberapa saat yang lalu, Hana yang merasa kelelahan mengejar Nara memutuskan untuk berhenti mengejar dan beristirahat sebentar. Melihat sang baby sitter yang beristirahat, Nara mencebikkan bibirnya.
“Ah mbak Hana payah!” serunya sambil mendudukkan dirinya di samping Hana.
“Mbak Hana capek Nara. Sudah hampir satu jam kita main kejar-kejaran. Mbak Hana istirahat dulu ya.” Ucapnya masih ngos-ngosan mengatur napasnya.
“Ya udah deh. Nara main ayunan aja ya.” Pamit gadis itu seraya berdiri. Hana menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lagipula ayunan tidak begitu jauh dari tempatnya duduk. Ia bisa mengawasi anak majikannya itu dari tempatnya duduk dengan bebas.
Namun siapa sangka, entah kenapa ayunan itu tiba-tiba ambruk dan membuat gadis kecil itu terpelanting dan kepalanya membentur pagar pembatas. Darah mengalir deras dari kepala gadis kecil itu. Membuatnya tidak sadarkan diri seketika.
Hana panik dan berteriak meminta pertolongan. Mendengar teriakan meminta tolong, banyak orang yang sedang menikmati minggu pagi mereka di taman mengerubungi Nara dan Hana.
__ADS_1
Salah seorang dari mereka menawarkan diri untuk membantu Nara ke rumah sakit. Tanpa berpikir lanjut Hana mengiyakan. Dan setelah meminta seseorang untuk memberikan kabar itu pada Nadia yang sedang latihan silat di taman itu, Hana membawa Nara bergegas pergi ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, Hana mengirim pesan pada Nadia ke rumah sakit mana Nara dibawa.
Nadia masih sesenggukan di dada Nathan. Sejak mendapatkan kabar kecelakaan yang menimpa sang putri, wanita cantik itu tidak berhenti menangis hingga Nathan kebingungan untuk menenangkannya. Saat ini mereka sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang UGD.
“Tenanglah sayang, di dalam dokter sedang berusaha menyelamatkan Nara.”
“Bagaimana aku bisa tenang mas. Anak sekecil Nara harus menerima luka yang begitu parah. Hiks hiks.” Nathan menepuk punggung Nadia. Sedangkan tangan kiri Nadia terus digenggam Bisma.
“Maafkan saya bu. Andai saya tidak membiarkan Nara bermain sendiri, mungkin..hiks hiks.” Ucap Hana menyesal. Andai ia menuruti Nara untuk terus bermain semua ini tidak akan terjadi.
“Ini semua bukan salahmu Han. Semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu di sesali.”
“Tapi tetap saja saya merasa bersalah.”
“Han tolong bawa Bisma pulang ya.”
Bisma yang menjadi objek pembicaraan sontak memicingkan matanya. Tentu saja ia tidak terima. Adiknya di dalam sedang berjuang. Bagaimana dia sebagai kakak meninggalkannya.
“Tidak ma. Bisma mau disini. Nunggu Nara.”
Bisma mau mengeluarkan protesnya ketika pintu ruangan terbuka. Seorang dokter ditemani seorang suster keluar dari dalam sana.
Nadia segera berdiri dan berjalan menghampiri sang dokter. Menanyakan keadaan putrinya.
“Luka di kepalanya mendapatkan tujuh jahitan. Tapi secara umum Kondisinya sudah baik. Namun dia kehilangan banyak darah. Dan kebetulan di rumah sakit ini stok darah yang sama dengan pasien sedang kosong. Barangkali dari pihak keluarga yang golongan darahnya sama bisa mendonorkan darahnya.” Terang dokter.
“Golongan darahnya sama dengan bapak. Golongan darahnya A golongan darahku jelas tidak sesuai.” Gumam Nadia yang dapat di dengar semua orang disana.
“Ambil saja darahku dokter. Aku kakaknya.” Seru Bisma membuat semua orang memandang Bisma.
“Tidak Bisma. Kamu masih belum cukup umur untuk memberikan darahku. Ambil saja darahku. Golongan darahku A.” Ucap Nathan.
__ADS_1
Dokter itu mengangguk dan meminta Nathan mengikuti perawat untuk melakukan transfusi darah untuk calon putrinya.
Nara segera dipindahkan ke ruang perawatan setelah kondisinya stabil. Bisma juga akhirnya mau pulang setelah mengetahui adiknya sudah baik-baik saja.
Kini tinggalah Nadia dan Nathan yang berada di dalam ruang rawat Nara. Nadia menggenggam tangan mungil putrinya yang masih terkulai lemas. Nathan mengusap bahu Nadia.
Nadia melepaskan tangannya yang menggenggam Nara. Kemudian berganti memegang tangan Nathan yang bertengger di bahunya ketik mengingat pesan suster pada Nathan agar laki-laki itu istirahat setelah mendonorkan darahnya. Tak tanggung-tanggung, laki-laki itu menyumbangkan dua kantong darahnya.
“Mas istirahat saja di sana. Mas pasti lemas kan?” ucap Nadia sambil memandang Nathan yang berdiri di belakangnya dengan tatapan penuh arti.
“Tidak apa. Aku baik-baik saja. Aku akan menemanimu.” Nathan membungkukkan badannya untuk mencium pucuk kepala Nadia.
Tak menghiraukan perkataan Nathan, Nadia berdiri dan menarik Nathan ke arah kasur yang memang disediakan untuk keluarga pasien. Sedikit mendorong tubuh tegap itu untuk duduk.
“Istirahatlah dulu disini mas. Kalau mas tidak istirahat, bagaimana jika sewaktu-waktu aku membutuhkan bantuan mas sedangkan mas masih lemas seperti ini?” ucap Nadia serius.
Nathan memandang Nadia sambil berfikir. Akhirnya ia menyetujui untuk merebahkan dirinya di atas ranjang. Kepalanya memang terasa sedikit pusing.
“Terima kasih mas sudah menolong Nara. Kalau tidak...”
“Tidak akan terjadi pada Nara, sayang. Kita berdua akan menjaganya bersama. Sudah cukup kamu menjaga mereka seorang diri, mulai sekarang kamu harus ingat ada aku yang akan menemanimu menjaga mereka. Hem?” Nadia menghangat mendengar perkataan Nathan. Ia bersyukur bertemu kembali dengan laki-laki tampan dan baik hati seperti Nathan.
“Terima kasih telah memberi kami banyak cinta mas.” Nadia memeluk Nathan yang berbaring di atas ranjang.
“Aku mencintaimu Nadia. Aku menyayangi kalian.” Ucap Nathan sambil membalas pelukan Nadia.
Keduanya tidak menyadari ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka berdua dari celah pintu yang sedikit terbuka.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 😊