Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_41. Mundur Untuk Menang


__ADS_3

“Rafael ini orang yang sangat berambisi. Dia bahkan mempunyai mata-mata di kantorku yang sampai sekarang masih belum aku ketahui siapa penghianatnya. Tidak hanya itu, dia juga beberapa kali menyadap ponsel dan telepon di kantor tidak peduli sebanyak apa pun digagalkan oleh Bima. Dia akan mencoba lagi.” Alex menjelaskan keadaan yang sesungguhnya.


Nara tersentak. Ia tidak menyangka jika Rafael akan bertindak sejauh itu.


“Setiap tindakanku selalu dibaca olehnya. Dia akan menghalangi setiap langkah yang aku gunakan untuk membalik keadaan di perusahaan.”


“Jadi kamu ke sini tadi dengan sembunyi-sembunyi?”


“Iya. Aku berhasil menghubungi mu tadi siang itu juga karena ponselku baru saja bebas dari sadapannya.”


“Maafkan aku Lex. Semua ini gara-gara aku.” Ucap Nara sendu. Jika saja ia mau berkorban untuk menikah dengan Rafael, kejadian ini tidak perlu terjadi. Tapi Nara jelas tahu, hatinya tidak akan menerima hal seperti itu.


“Jangan bicara omong kosong.” Alex mengelus puncak kepala Nara. “Orang yang terobsesi dengan milik orang lain memang seharusnya segera dihapuskan. Hanya akan menjadi sampah dunia.” Ujar Alex tersenyum. Mengulurkan tangannya untuk membingkai wajah Nara. Ia ingin menghibur Nara yang ia yakin pasti merasa sangat bersalah.


“Apa yang bisa aku lakukan Lex?” Nara menyentuh tangan Alex yang membingkai pipinya. Meletakkan tangan kecilnya di atas tangan besar Alex.


“Kamu cukup tenang dan konsentrasi pada skripsi mu.”


“Di saat kondisi perusahaan sedang tidak stabil seperti ini, mana mungkin aku hanya bisa diam Lex?” Nara sedikit geram. Alex dan kakaknya ini tidak mau ia membantu. Padahal semua kekacauan ini berasal dari nya.


“Sebenarnya tugasmu yang paling berat disini sayang.”


“Apa?” tanya Nara penasaran.


“Kamu hanya perlu percaya padaku. Mulai hari ini mungkin kita akan sulit berkomunikasi. Aku dengar Rafael telah berhasil mendapatkan orang yang lebih ahli dari Bima.” Alex berkata sambil menatap Nara dengan serius.


“Apakah itu artinya kita juga akan jarang bertemu lagi Lex?” tanya Nara khawatir. Hubungan keduanya baru saja maju satu langkah.


“Apakah kamu akan merindukan ku?” Alex tersenyum menggoda. Membuat Nara tersipu. “Kesinilah. Biarkan aku mendapatkan kekuatan darimu.”


Nara berdiri dan mendekati Alex. “Ahh.” Pekiknya saat Alex menarik tangannya dan mendudukkannya di pangkuannya. Tangan Alex melingkar di pinggang Nara dengan sempurna. Nara merasa geli saat wajah Alex berada di ceruk lehernya. Hembusan nafas laki-laki itu membuat seluruh tubuhnya meremang.


“Lex...” ucap Nara tertahan.


“Biarkan seperti ini sebentar lagi Nara.” Nara pasrah. Ia tahu jika Alex sedang banyak pikiran. Semua ini pasti menguras tenaga dan pikiran.

__ADS_1


Masih dengan posisi itu, Alex berkata dengan nada yang rendah dan berat. “Aku dan Bisma menemukan sesuatu yang tidak beres mengenai Rafael. Tapi aku butuh waktu untuk menyelesaikan nya. Dengan Rafael yang selalu mengawasi pergerakan ku, aku khawatir semua itu akan sia-sia. Jadi...” terdengar sekali jika Alex enggan mengucapkan nya. Ia mendesah beberapa kali setelah itu.


“Jadi apa Lex?”


“Jadi aku dan Bisma memutuskan untuk saling menjauh beberapa waktu. Kami akan menciptakan keadaan yang memperlihatkan jika kami sudah tidak lagi bekerja sama.”


“Apa itu artinya aku juga akan dijauhi?”


“Bukan hanya itu Nara...”


“Bukan hanya akan dijauhi?”


“Iya. Inilah hal penting yang aku maksud.” Alex menarik wajahnya dari leher Nara. Kemudian memandang Nara Dengan sendu.


“Aku akan mengalihkan perhatian Rafael dengan menjauhimu dan mendekati wanita lain. Kamu masih ingat putrinya tuan Yuda?”


“Wanita genit dengan pakaian pengemis yang digunakan kan? Hem. Kucing liar.” Alex tertawa terbahak-bahak mendengar sebutan Nara untuk Diandra.


“Dia bekerja sama dengan Rafael dalam masalah ini. Dan aku akan...”


“Biarkan aku menjelaskannya dulu sayang.” Alex kembali menarik Nara dan mendekapnya erat. Membuat Nara semakin berontak. Alex tidak punya cara lain untuk menenangkan Nara yang sedang emosi selain melemahkannya dengan caranya.


Dengan agresif Alex mencium Nara yang terus memberontak. Namun setelah beberapa saat, Nara pun luluh karena terlena. Alex berhasil membuat Nara menghentikan perlawanannya.


Hanya setelah mengetahui Nara Hampir kehabisan napas Alex melepaskan bibirnya dari bibir Nara. Mengelap bibir basah itu dengan jempolnya dengan lembut.


“Apa yang kamu lakukan Lex?”


“Menciummu. Apa lagi?” jawab Alex dengan senyuman tanpa bersalah yang ia tunjukkan.


“Huh!” Nara melengos. Dia sedang marah saat ini. Dan Alex berani sekali menciumnya dengan paksa.


“Apa boleh buat? Aku tidak memiliki cara lain selain mencium sampai lemas untuk meredakan amarah seorang gadis yang sedang terbakar cemburu.” Alex memasang wajah tidak berdayanya. Padahal semua pembaca pun tahu jika Alex sangat senang saat ini.


“Aku tidak cemburu.” Ucap Nara judes.

__ADS_1


“Kenapa di sini merasa sakit ya...” Nara menunjuk dadanya.


“Masa bod3h. Aku tidak peduli.” Nara menyedekapkan tangannya.


“Baiklah baiklah.” Alex menyerah. Ia kembali menarik Nara dalam pelukannya.


“Nara, aku hanya minta kepercayaan darimu. Entah apa yang akan terjadi di masa depan, yang harus kamu percaya adalah aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah membaginya dengan wanita manapun. Apa yang aku lakukan semata-mata hanya untuk membuat Rafael lengah dan mencari celah untuk menyerangnya. Apa kamu mengerti?” Nara mendengarkan penjelasan Alex dengan hati-hati sebelum mengangguk. Ia sadar akan semua keadaan yang mendesak ini. Tidak apa mengambil langkah mundur terlebih dulu untuk menang.


“Aku tahu Lex. Kamu dan kak Bisma pasti melakukan yang terbaik. Aku percaya padamu.”


“Itu bagus. Dan ingat satu hal, apapun nanti yang diminta Rafael dengan ancaman apapun aku minta jangan pernah menyerah. Percaya padaku dan semua akan baik-baik saja. Hem?”


“Oke. Kamu juga harus hati-hati. Diandra itu lumayan cantik. Meskipun masih cantik aku banyak. Tapi dia itu pandai menggoda. Aku takut...”


Alex segera memotongnya. “Tidak perlu takut. Aku tidak akan tergoda. Aku mencintaimu bukan hanya karena fisik Nara. Aku pun tidak tahu alasan pastinya. Tapi yang pasti hatiku telah memilihmu. Dan aku tahu itu yang terbaik. Paham?” Nara mengangguk. Ia mengeratkan pelukannya sambil menghirup dalam harum tubuh Alex yang menenangkan.


Keduanya menikmati waktu berdua hanya dengan saling memeluk dan membicarakan hal-hal kecil yang tidak ada lagi hubungannya dengan masalah perusahaan.


**


Nara masih terngiang apa yang diucapkan Alex malam itu. Membuat Nara hanya melamun sepanjang siang hari keesokan harinya. Apalagi saat ini tidak bisa ia elak lagi bahwa dirinya merasa cemburu dengan gosip yang beredar luas. Bahkan di laman gosip, berita itu menjadi trending topik sejak berita itu muncul dua Minggu yang lalu.


“Woy ngelamun aja.” Syifa yang baru tiba di taman kampus menyenggol lengan Nara. Menyadarkan gadis itu dari lamunan panjangnya.


“Kamu pasti kepikiran gosip itu ya?” Gita ikut duduk di samping Syila. Vera duduk di samping Nara.


Mengetahui Nara hanya diam sambil menghela napas, ketiga sahabatnya saling memandang. Ketiganya merasa kasihan. Untuk pertama kalinya Nara jatuh cinta, sudah mengalami hal yang sangat menyiksa. Cemburu.


“Laki-laki bukan hanya dia saja Ra. Masih banyak lagi. Ke depannya kami akan membantu mu menemukan yang lebih baik.” Ucap Syila semangat. Ya. Ketiga sahabatnya tidak mengetahui hubungan Nara dan Alex. Serta kesepakatan apa yang mereka lakukan. Semakin sedikit yang tahu. Akan semakin baik.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih 🥰


__ADS_2