Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_59. Sisi Lain Alex


__ADS_3

Nara celingukan di depan hotel. Sekarang ia menyesal kenapa meninggalkan Alex tadi. Dan sekarang ia bahkan tidak memiliki apapun. Ponselnya kehabisan baterai. Sedangkan dia tidak membawa dompet apa lagi tas. Lalu Alex, suaminya itu juga belum menyusulnya sampai sekarang. Mau kembali lagi ke kamar, Nara merasa gengsi.


Tiba-tiba ide muncul di otak cantiknya. Ia akan pulang dengan taksi dan membayarnya setelah ia pulang dan mengambil uang. Rencana yang sempurna. Tapi baru selangkah ia menuruni anak tangga, Alex sudah muncul di depannya dengan mobil hitam kesayangannya. Berhenti tepat di depan Nara.


Pria itu segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri Nara. Membuka pintu mobilnya dan menunduk hormat. “Silahkan masuk putri matahari..” Alex mengayunkan tangannya mempersilahkan Nara masuk.


“Terima kasih pangeran es.” Nara segera masuk ke dalam mobil. Alex berlari kecil dan masuk ke dalam mobil. Ia yang akan mengemudikan mobilnya sendiri.


“Antar aku pulang Lex. Aku lelah ingin cepat istirahat.”


”Oke.” jawab Alex sambil menyalakan audio di mobilnya.


Sepanjang perjalanan mereka tidak bicara. Nara sibuk dengan grub chat nya yang membahas skripsi mereka. Sedangkan Alex fokus pada jalanan di depannya.


”Lex ini bukan jalan pulang.” kata Nara saat melihat Alex melewati persimpangan jalan yang seharusnya mereka lalui untuk ke rumah Nara.


”Ini memang jalan pulang sayang.” Alex hanya melirik sebentar. Jalanan sedang padat karena jam makan siang.


”Tapi Lex. Rumahku seharusnya tadi persimpangan belok kanan. Ini kemana?”


”Kamu lupa kamu itu sekarang siapa?”


”Tidak. Aku Nara. Kinara Pramudita Maheswari Mahardika.”


”Ck. Maksudku statusmu sekarang Nara sayang.” Alex mengelus kepala Nara tanpa menoleh.


Nara diam berpikir. Kemudian dia memukul ringan keningnya. ”Ya ampun aku lupa.” Alex yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Bisma yang memiliki otak dengan kecerdasan tingkat tinggi memiliki adik yang mudah lupa.


”Lalu kita mau kemana sekarang?”


”Tentu saja ke rumahku. Rumah kita.” jawab Alex jengah. Mereka memang menikah dengan tanpa rencana. Tapi ia tidak menyangka jika Nara akan menanyakan hal yang sangat jelas seperti itu. Sudah menjadi tradisi yang umum jika seorang wanita menikah akan mengikuti dimana suami tinggal.


”Oh oke.” Nara mengangguk paham. Dia kembali taralihkan saat mendengar notifikasi dari grup chat nya.


”Tapi barang-barangku ada di rumah mama.” Nara ingat bahwa saat ia keluar rumah kemarin ia hanya membawa sedikit baju ganti. Dan saat ini semuanya ada di laundry hotel.


”Kamu tenang saja. Aku sudah meminta Tina untuk mengemas barang-barang penting yang tidak bisa dibeli. Setelah kita istirahat, kita akan membeli lagi sisanya. Baju, sepatu, tas. Kita beli baru.”


”Itu tidak perlu Lex. Aku tidak membutuhkan begitu banyak barang. Yang ada di rumah mama sudah cukup aku gunakan. Lebih baik uang itu digunakan untuk kepentingan lainnya.”


Alex tercenung mendengar jawaban dari Nara. Jika kebanyakan wanita akan sangat suka jika mendengar kata belanja, namun ini berbeda dengan Nara.

__ADS_1


”Tapi semua barang itu bukan aku yang membelinya untukmu.”


”Itu tidak masalah Lex. Pada akhirnya aku juga kan yang akan memakainya. Tubuhku hanya satu. Jadi tidak mungkin membutuhkan banyak barang. Itu membuang uang.”


”Kamu sungguh tidak ingin banju baru?” Nara menggeleng cepat.


”Sepatu?” Nara menggeleng.


”Tas?”


”Tidak Alex. Kamu tahu, aku memiliki koleksi sepatu dan tas satu lemari penuh. Dan baju bahkan ada dua lemari. Kalau kita membelinya lagi harus beserta lemari juga.” Nara mengatakannya dengan setengah bercanda. Gadis yang baru saja jadi wanita itu menggeleng pelan. Namun Alex menanggapinya dengan serius.


Mobil yang dikemudikan Alex berbelok masuk ke dalam sebuah mansion yang megah. Bahkan lebih megah dari mansion Mahardika. Di depan rumah bahkan ada air mancur yang besar dengan kolam ikan koi di bawahnya. Di atas kolam juga terlihat beberapa bunga teratai yang sedang mekar.


Begitu Nara turun, ia segera berlari kecil melihat kolam karena tertarik pada bunga teratai yang terlihat cantik.


”Hei nyonya Alexander Briano Juantama. Kenapa malah main air kayak bocah.” Alex menggeleng melihat kelakuan Nara.


”Ini sangat indah Lex.” jawab Nara tanpa mengalihkan perhatian nya pada kolam. Tangannya ia masukkan ke dalam air dan membuat gelombang kecil di atasnya. Melihat ikan di dalam kolam berenang dengan lincah membuatnya terpesona.


Alex menghampiri Nara dan memeluknya dari belakang. ”Kamu bisa mengaguminya sepuasnya nanti. Sekarang lebih baik kita masuk dulu.” bujuk Alex.


”Baiklah. Ayo masuk.” Nara menggamit lengan Alex. Sedangkan Alex memeluk pinggang Nara saat membawa istrinya masuk ke dalam rumah.


Treeetttt tet tet teeet!


Nara dan Alex sontak menutup telinga mereka saat suara yang sangat berisik memenuhi gendang telinga mereka saat baru saja pintu terbuka.


Di dalam ruang tamu, tampaklah dua orang perempuan paruh baya yang salah satunya membawa nampan berisi sepiring nasi kuning di atasnya. Sedangkan satu lainnya membawa terompet. Ada juga dua orang laki-laki yang salah satunya Nara kenali sebagai pak Farid. Dia sedang berdiri di belakang laki-laki yang membawa panci.


”Selamat menikah. Selamat menempuh hidup baru.” ucap keempat orang itu. Tepatnya hanya tiga, karena pak Farid hanya tersenyum canggung tempatnya.


”Apa yang kalian lakukan?” tanya Alex heran.


”Kami sedang memberikan sambutan untuk tuan dan nyonya.” Jawab wanita yang membawa terompet di tangan kanannya dan bersiap untuk meniupnya kembali.


”Jangan berisik Mak Jum. Pak Karyo.” ucapan Alex membuat Mak Jum dan pak Karyo menghentikan aksi mereka.


”Kami ikut senang akhirnya tuan Alex sudah menikah. Apa lagi tuan membawa nyonya yang cantik dan baik ini ke rumah yang sepi ini.” perempuan yang membawa nasi kuning hampir menangis haru.


”Sudahlah Mak Marni. Terima kasih kalian semua sudah menyambut kami. Tapi lain kali kalau mau menyambut jangan sampai berisik ya.” Mak Jum dan pak Karyo yang menjadi pelaku utama dari penyumbang polusi suara hanya terkekeh dengan rasa bersalah mereka.

__ADS_1


”Maafkan kami tuan. Lain kali kami tidak akan mengulanginya.” ucap pak Karyo sambil menyenggol Mak Jum. Mereka adalah pasangan suami istri.


Nara melihat interaksi antara Alex dan para orang tua ini. Saat ini Nara melihat sisi lain dari Alex. Jika Nara biasanya melihat Alex yang dingin dan acuh pada orang lain, nyatanya hari ini ia melihat dengan nyata kasih sayang antara mereka. Jika Nara tidak melihatnya langsung hari ini, mungkin selamanya ia mana menganggap Alex adalah pribadi yang dingin yang tak terbantahkan.


”Ini tuan, kami sudah buatkan nasi kuning kesukaan tuan untuk menyambut tuan dan nyonya.” Mak Marni menyodorkan nampan yang ia bawa. ”Tuan silahkan menyuapi nyonya sebagai ucapan selamat datang.” lanjutnya.


Sesuai dengan ucapan Mak Marni, Alex mengambil sesendok nasi kuning beserta lauk dan menyuapkannya pada Nara. Nara membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Alex.


”Nah sekarang giliran nyonya yang menyuapi tuan.” Nara mengambil sendok dan menyuapkannya pada Alex.


”Nah sekarang semua prosesnya sudah selesai. Selamat datang nyonya. Semoga tuan dan nyonya segera diberi keturunan oleh Allah, aamiin.” doa Mak Marni yang dimainkan oleh semua orang.


”Tuan. Tuan Alex belum memperkenalkan nyonya pada kami.” pak Karyo yang dari tadi melihat ke arah Nara bertanya dengan antusias.


”Benar tuan.” Mak Jum juga ikut mendesak.


”Namanya Kinara. Kalian bisa memanggilnya nyonya Nara.”


”Selamat datang nyonya Nara.” keempat orang itu berkata dengan kompak. Lalu memperkenalkan diri secara bergantian.


”Karena sudah selesai, kami pamit ke kamar dulu ya.” pamit Alex.


”Siap tuan! Jangan lupa bikin dedek bayinya yang banyak.” seloroh pak Karyo membuat Nara kembali memerah.


Kesan pertama Nara tentang para anggota pekerja di rumah Alex adalah ceria dan sopan. Ia tidak menyangka jika ternyata mereka ini kadang agak gesrek. Bagaimana bisa ada pembantu yang berkata pada majikannya dengan begitu berani.


Awalnya Nara mengira jika Alex akan marah saat masalah pribadinya diusik oleh laki-laki yang bekerja untuknya sebagai tukang kebun itu. Namun reaksi Alex bahkan tidak terduga, Alex malah terkekeh mendengar ucapan Frontal pak Karyo.


”Kamu pasti heran kan?” tanya Alex yang melihat Nara tengah menatapnya dengan cara yang aneh.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩


Semua orang memiliki sisi tersembunyi nya sendiri. Entah itu berupa sisi baik maupun sisi buruk.


Jadi kita tidak bisa menyatakan seseorang itu buruk hanya dengan kita melihat satu sisinya saja. Karena itu sangatlah tidak adil.

__ADS_1


Kalimat dalam bahasa Jawa yang terkenal berkata, Urip kui isine sawang sinawang. Yang artinya Hidup itu berisi saling melihat. Melihat kekurangan dan kelebihan dari orang lain itu mudah. Karena kita hanya tinggal melihatnya saja.


Melihat hidup seseorang yang sepertinya mudah, belum tentu mereka merasakan hidup mereka mudah seperti apa yang kita lihat. Jadi akoh berpesan agar kita harusnya berpuas diri dengan apa yang kita miliki. Karena yang kita miliki itulah yang terbaik untuk kita.


__ADS_2