
Nadia dan Nathan datang dengan mengajak Dini dan juga Gery. Bisma tidak ikut karena ada pekerjaan yang belum ia selesaikan. Sebelumnya, Nara sudah menceritakan apa yang terjadi mengenai Serena pada Nadia. Ia berharap mamanya bisa membantunya untuk membuat Alex mau menerima Serena.
“Ma, mama dan papa sudah datang. Ayo Mama ikut menemui mereka dulu.” Nara menemui Serena yang sibuk menata makanan di meja makan.
“Tapi ini belum selesai.” Serena menunjukkan beberapa piring berisi lauk yang sedang ia siapkan.
“Masih ada yang lain yang bisa. Ayo ma.” Nara menarik tangan Serena mengikutinya.
“Mama gugup sayang. Apa mama pantas bertemu dengan orang tuamu?” Serena berhenti untuk melihat penampilannya malam ini.
Jika itu di masa lalu, ia akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sejak kecil ia hidup dalam keluarga terpelajar. Semua yang dia inginkan selalu tercapai. Tapi beberapa tahun terakhir semenjak bisnis Hans perlahan menurun, ia mulai kehilangan rasa percaya diri.
Apa lagi saat ia datang ke mansion Juantama kali ini. Ia datang dengan keadaan yang menyedihkan.
“Mama sudah cantik. Mama dan papaku bukan orang yang memandang seseorang dari penampilannya. Mama tenang saja. Ayo.” Nara merangkul lengan Serena saat ia mengajak mama Alex itu menemui Nadia dan Nathan.
Saat keduanya sampai di ruang tamu, Nadia dan Nathan sedang berbincang dengan Alex. Semua orang yang ada di ruang tamu mengalihkan pandangannya pada dua orang wanita yang baru saja masuk ke dalam ruang tamu.
Namun satu diantaranya memiliki ekspresi terkejut di wajahnya. Dia adalah Nadia. Seingatnya, sekitar satu setengah tahun yang lalu saat ia sedang berkunjung ke cabang kafe miliknya, ia pernah bertemu dengan wanita yang sedang digandeng oleh Nara.
“Bukankah ini Bu Serena?” Nadia menunjuk Serena Dengan telunjuknya setelah potongan memori berhasil ia kumpulkan. Sedangkan yang ditunjuk juga memasang wajah yang sama terkejutnya. Dia juga mengingat wajah besannya.
Sekitar dua tahun yang lalu, tepat setelah kematian Hans ia berusaha mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya dan juga untuk mencicil hutang yang ditinggalkan oleh suaminya.
Banyak lowongan pekerjaan yang ia coba. Namun semuanya menolak karena usianya yang tidak muda lagi. Karena sebuah peristiwa kesialan yang berujung menjadi sebuah keberuntungan, ia mendapatkan pekerjaan meskipun hanya sebagai petugas kebersihan.
Saat itu ia sedang berjalan gontai setelah berkeliling mencari pekerjaan. Lalu tiba-tiba saja ia pingsan tepat di depan Purnama Kafe dan segera dibawa masuk oleh karyawan yang tidak sengaja menemukannya saat ia hendak membuang sampah.
Karyawan Purnama Kafe adalah orang yang baik. Mereka pun berusaha menyadarkan Serena. Dan setelah sadar, Serena berkata pada para karyawan untuk memberinya pekerjaan apa saja di kafe itu. Akhirnya karena merasa kasihan, manager kafe pun memberinya pekerjaan sebagai petugas kebersihan.
Serena sangat bersyukur dapat bekerja di Purnama Kafe. Selain gajinya yang lumayan, karyawan lain yang usianya jauh lebih muda darinya juga memperlakukan dirinya dengan baik dan perhatian. Mereka juga terkesan menghormati Serena karena usia Serena yang jauh di atas mereka.
Beberapa bulan bekerja di Purnama Kafe, ia pun dapat berkenalan dengan Nadia. Bos baik hati yang sedang meninjau kafe miliknya.
“Mama sudah mengenal mama Serena?” pekik Nara terkejut.
__ADS_1
“Kami pernah bertemu sekali dulu.” Jawab Nadia.
“Mama ayo duduk dulu.” Nara mengajak Serena duduk di samping Alex yang hanya melirik tangan Nara yang menepuk pahanya lembut.
“Bu Serena kenapa dulu mengundurkan diri?” tanya Nadia setelah melihat Serena sudah duduk dengan nyaman. Dulu ia terkejut saat ia melakukan kunjungan lagi dan tidak mendapati Serena di kafe miliknya. Dan saat ia menanyakan pada karyawan yang lain ternyata Serena telah mengundurkan diri.
“Maaf nyonya Nadia, waktu itu saya sedang keadaan yang kurang sehat. Saya batuk-batuk dan tidak kunjung sembuh. Saya khawatir akan mengganggu kenyamanan pelanggan.” Jawab Serena ragu. Alex hanya meliriknya sekilas.
“Seharusnya tidak sampai seperti itu. Bu Serena bisa bicara pada yang lainnya untuk memberi pekerjaan yang lain daripada keluar. Saya sangat khawatir saat tahu Bu Serena mengundurkan diri.”
“Maaf sudah membuat nyonya khawatir.”
“Kita sekarang sudah jadi besan. Jadi jangan panggil nyonya. Panggil saja Nadia langsung apa ‘jeng’ gitu.”
“Baiklah...jeng.” jawab Serena ragu. Nadia tersenyum mendengar nada bicara Serena yang kaku.
“Saya beberapa kali meminta anak-anak mencari keberadaan Bu Serena, mereka mencari anda di kost-kostan Bu Serena, tapi mereka bilang kalau anda sudah pergi karena tidak bisa membayar lagi. Kemana Anda pergi setelah mengundurkan diri?” tanya Nadia prihatin.
“Itu karena saya sudah tidak lagi bekerja. Jadi saya hanya bisa terlunta-lunta di jalan.” Jawab Serena sendu. Alex melirik dengan kilatan sendu yang hanya sekilas terlihat. Namun Nathan menyadarinya.
“Hem.” Alex berdehem dengan malas.
“Ham Hem ham Hem. Memangnya kami ini mengerti apa artinya Hem-mu itu?” Nara melotot mengintimidasi ke arah Alex. Memberi isyarat bahwa jika laki-laki itu tidak segera mengiyakan permintaan nya, ia akan marah padanya. Akan mendiamkannya dan juga tidak akan membiarkannya masuk ke dalam kamar.
“Huh! Iya iya.” Jawab Alex dengan terpaksa.
“Iya apa?” Nara semakin memojokkan Alex.
“Iya yang kamu bicarakan tadi.”
“Memang aku tadi bicara apa?” Nara memasang wajah bodohnya. Ia harus memancing suaminya itu agar tergerak hatinya. Ia yakin suatu saat nanti ia akan mampu membuat Alex memaafkan Serena.
“Iya aku juga akan menyayangi... Em... Mama.” Kata Alex dengan kaku.
Meskipun Alex mengatakannya dengan cara terpaksa yang sangat jelas. Itu saja mampu membuat sebuah senyum terbit di bibir Serena yang malam ini sedikit terpoles dengan lipstik yang dibelikan Nara.
__ADS_1
“Nah gitu! Kan enak didengarnya.” Nara juga sangat senang. Ia mengelus lengan Alex dan bersandar dengan manja di lengan kekar itu.
Melihat kelakuan anaknya, Nadia dan Nathan geleng-geleng kepala. Mereka tahu niat Nara dalam sekali pandang.
“Woy ada anak di bawah umur disini. Dilarang pamer kemesraan.” Sungut Gerry yang malam ini datang karena dipaksa Nadia untuk ikut serta dalam acara makan malam yang pasti membosankan itu.
Mendengar sindiran dari adiknya, Nara cengengesan. Lalu menoleh pada adik perempuannya yang sepertinya malah tidak memperhatikan apa yang terjadi di sana karena yang ia lihat adiknya itu sedang fokus pada ponselnya.
“Tuh Dini aja nggak perhatiin. Kamunya aja yang baperan.” Nara memonyongkan bibirnya pada Gerry.
“Eh bukan hanya Dini yang masih di bawah umur, aku juga di bawah umur tahu.”
“Halah! Kamu umurnya aja yang di bawah umur. Tapi kelakuan mu ngalah-ngalahin yang sudah lulus kuliah.” Nara menyindir sifat Gery yang terkenal playboy.
“Sudah! Kalian ini sudah dewasa. Setiap ketemu pasti bawaannya ribut. Apa kalian tidak malu!” Nadia menatap tajam dua anaknya bergantian. Dan keduanya kompak menggeleng. Buat apa malu? Pikir mereka serempak.
“Lihat pa! Anak papa bikin kesel.” Nadia mengalihkan pandangannya pada Nathan yang sejak tadi hanya memperhatikan.
“Nak mama juga kan.” Nathan malah menarik pinggang Nadia hingga tubuh wanita itu menempel padanya.
“Papa ih. Sama-sama nyebelin.” Nadia menarik dirinya setelah berhasil membuat Nathan mengaduh akibat cubitan maut di perutnya.
Serena melihat hubungan yang harmonis di dalam keluarga Nara. Ia ikut merasa bahagia. Serena menerawang jauh ke masa lalu. Ia berandai jika saja ia tidak melakukan kesalahan besar di saat itu dan mulai berusaha mencintai suaminya, mungkin ia juga akan mempunyai keluarga yang bahagia.
Namun bagaimana pun ia menyesali masa lalunya, semua tidak akan pernah kembali lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah memperbaiki hubungan nya dengan Alex. Kebahagiaan Alex adalah yang terpenting saat ini untuknya.
*
*
*
Terima kasih masih menunggu 🥰
Maaf Akohnya beberapa hari nggak up. Batuk pilek disertai pusing dan kalian tahulah pengennya tiduran Mulu. Ehehehe...
__ADS_1