
Sekarang masih siang, tatapi Nara sudah pulang. Gadis itu pulang dengan mata yang sembab. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Nadia yang melihatnya segera menyusulnya ke dalam kamar. Nara yang memang tidak terbiasa mengunci pintu kamarnya memudahkan Nadia untuk masuk ke dalam kamar anak gadisnya.
Nadia melihat Nara telungkup di atas kasur. Tubuhnya bergetar ringan. Sebagai seorang ibu tentu saja merasa sangat sedih melihat anak gadisnya yang seperti itu.
“Ada apa sayang?” Nadia duduk di samping Nara. Mengelus kepala Nara dengan lembut.
“Ternyata patah hati itu menyakitkan ma.” Ucap Nara terbata.
Nadia menghela napas. Dia tidak pernah menyangka anaknya akan mengalami hal ini. Apalagi ini adalah untuk yang pertama kali. Sejak awal Bisma memang selalu melindungi Nara dari hal ini. Tak disangka jika ini akan begitu cepat terjadi begitu Nara lepas dari perlindungan Bisma.
“Coba cerita sama mama apa yang terjadi.” Nadia membantu Nara bangun.
Ketika Nara duduk, air matanya membasahi bantal yang dia gunakan untuk menangis. Belum lagi eyeliner yang terlihat berantakan. Penampilannya membuat Nadia menggelengkan kepala.
Dibiarkannya dulu Nara menenangkan diri. Nadia berdiri dan mencari tisu untuk mengelap air mata dan ingus yang berlomba keluar.
“Ini, dihilangkan dulu air mata dan ingusnya. Lihatlah dirimu jadi jelek sekali.” Nadia mengulurkan tisu kepada Nara.
Dengan buru-buru Nara mengambil ponsel untuk dia jadikan cermin darurat.
“Mama aku jelek.” Ucap Nara semakin keras menangisnya.
“Makanya jangan menangis terus. Jelek kan jadinya.” Ucap Nadia. Mendengar itu Nara langsung menghentikan tangisnya. Dengan beberapa tisu ia mengelap kotoran di wajahnya. Ketika mendapati wajahnya yang sudah terlihat lebih baik dan juga cantik, dengan segera ia tersenyum.
Nadia mendengus. Anaknya ini masih sempatnya memperhatikan penampilan di saat seperti ini. Ia kemudian memberikan segelas air putih untuk anaknya.
“Terima kasih ma. Mama tahu saja kalau aku lagi haus.” Ucap Nara setelah menghabisman air di dalam gelas hanya dalam dua teguk. Menangis ternyata membuat tenggorokan kering.
“Jika menangis sampai seperti itu, mana mungkin tidak akan haus. Sekarang cerita sama mama.”
Nara menggenggam erat gelas di tangannya sambil memutarnya saat ia bercerita.
Flash back on....
Setelah Nara keluar dari kamar mandi, ia langsung menuju keluar kantor untuk menemui Daffa. Pria itu sudah menunggunya di kafe sekitar kantor. Nara meminta pria itu pergi terlebih dulu karena dia masih berada di ruangan Alex.
“Kamu yang namanya Kinara?”
Langkah Nara berhenti saat mendengar seseorang bertanya kepadanya. Ia berbalik dan mendapati seorang wanita cantik dengan penampilan yang menawan namun terlihat arogan. Nara mengerutkan alisnya. Ia tidak pernah melihat wanita ini di kantor. Lalu siapa dia?
“Iya. Saya Kinara. Anda siapa ya?”
“Aku Flora. Aku adalah calon istri Daffa.” Jawab wanita bernama flora itu sombong. Nara terkesiap mendengar jawaban Flora. Pasalnya, Daffa lah yang pertama mendekati Nara. Dan laki-laki itu tidak pernah menyinggung masalah tunangannya.
“Karena kamu sudah tahu, mulai sekarang jauhi calon suamiku. Apa kamu mempunyai cita-cita menjadi pelakor?” sinis Flora.
“Hati-hati ya kalau bicara. Memangnya jika kamu bilang kalau kamu tunangannya itu akan selalu benar. Tanpa bukti aku tidak percaya. Bisa saja kamu mengaku-ngaku saja. Padahal kamu hanya fans yang tak dianggap.” Bela Nara.
__ADS_1
“Oke kalau kamu tidak percaya. Apakah kamu mau taruhan?”
“Taruhan apa?”
“Kita taruhan siapa yang akan dipilih Daffa diantara kita. Siapa yang menang berhak menuangkan minuman di kepala yang kalah. Bagaimana, apa kamu berani?” tantang Flora.
“Baik. Siapa takut?” Nara percaya diri. Secara wajah dan penampilan dia percaya jika dia lebih unggul. Lagipula dia yakin jika Daffa menyukainya.
“Ayo kita temui bersama. Biarkan dia memilih.” Ucap Flora. Nara jelas menyetujui. Dia juga ingin mengetahui kebenarannya.
Di dalam hati Nara hanya berdoa semoga dia tidak dikecewakan saat ini. Nara yakin jika Flora tidak lebih dari seorang penipu.
Nara dan Flora mengendarai mobil mereka masing-masing. Flora memimpin di depan. Dan ketika sampai, keduanya bersama-sama menemui Daffa yang sudah menunggu Nara.
Daffa terlihat gugup ketika melihat Nara dan Flora datang bersama-sama. Nara mulai merasa perasaan yang tidak enak. Apakah memang benar Flora adalah tunangan Daffa? Dan itu artinya dialah pelakor disini. Mimpi buruk.
“Hai sayang.” Flora langsung memeluk Daffa begitu sampai di depan laki-laki itu. Nara merasa sakit di hatinya.
“Jadi benar?” tanya Nara sedikit tak percaya.
“Tentu saja. Sayang katakan padanya jika aku adalah calon istrimu. Dan dia hanyalah pelakor di antara kita?” Ucap Flora keras sebelum ia berbisik tepat di telinga Daffa. Raut wajah laki-laki itu berubah seketika. Ia semakin tegang.
“Maafkan aku Nara. Dia benar.” Ucap Daffa lirih.
“Benar apa sayang?” Flora berusaha memojokkan Daffa.
“Hahahaha. Masih kurang. Dan apa sayang?” Flora terbahak dan masih berusaha terus memojokkan Daffa agar menyebutkan jika Nara adalah seorang pelakor.
“Flo, Nara tidak ada hubungannya dengan kita. Jangan mempermalukan dia.”
“Dia sudah berani mendekatimu. Apanya yang tidak ada hubungannya. Cepat katakan siapa dia diantara kita?”
Nara menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika Daffa yang selama ini dikenalnya sebagai laki-laki yang ramah dan baik hati bisa begitu menyakitinya.
“Cepat sayang. Apa mau....”
“Baiklah aku akan katakan.”
“Ayo katakan. Tunggu apa lagi?”
“Huft. Maafkan aku Nara. Kamu hanyalah pelakor diantara kami.” Ucap Daffa pada akhirnya. Flora sangat bahagia. Dia segera mencium pipi Daffa.
“Sekarang aku menang. Rasakan ini!” Nara bergeming dan menutup matanya saat Flora menumpahkan segelas air di wajahnya. Lagipula memang itulah kesepakatan mereka.
Namun setelah beberapa detik, tidak ada sedikit air pun yang mengenai wajahnya. Sebaliknya, ia merasa tubuhnya dipeluk dengan erat. Saat ia membuka mata, ia melihat Alex ada tepat di depannya. Menghalau air dengan punggungnya.
“Tuan Alex.” Panggil Daffa gugup saat Alex menatap tajam ke arahnya dan Flora.
__ADS_1
“Kalian kira siapa kalian berani melakukan semua ini pada Nara?” suara Alex mendominasi. Kini semua perhatian pelanggan kafe terarah pada mereka. Daffa dan Flora gemetar ketakutan. Meskipun Flora tidak bekerja di perusahaan Alex. Tapi dia tahu siapa Alex.
“Kenapa kamu hanya diam saat ada yang menyakitimu Hem?” Alex menyentuh pipi Nara yang sudah berlinang air mata. Menghapus benda cair yang terasa panas itu.
“Sett. Jangan menangis.” Ucapnya.
“Ini sakit Lex.” Nara semakin terisak.
“Laki-laki seperti itu tidak pantas membuatmu seperti ini. Dia tidak sebanding denganmu. Apalagi ucapan wanita jal5ng sepertinya. Abaikan saja.” Alex memeluk Nara. Mengelus kepala gadis di pelukan nya.
“Hiks hiks. Bawa aku pulang Lex.”
“Baik.” Alex menuntun Nara pergi. Namun sebelum meninggalkan dua orang yang tercengang melihat interaksi antara Alex dan Nara, Alex memberikan ultimatumnya.
“Aku tidak mau melihat kalian di kota ini lagi. Apalagi kantorku. Segera pergi sejauh-jauhnya. Jika sampai kalian melihat aku maupun Nara. Segera pergi. Jangan biarkan kami melihat wajah kalian yang memuakkan itu.”
“Ba-baik tuan.” Jawab Daffa dan Flora bersama. Keduanya jelas ketakutan. Mereka pun tahu apa yang harus mereka lakukan.
Flash Back Off....
“Alex benar. Daffa tidak berhak untuk air matamu yang berharga.” Ucap Nadia. Ia lega jika semua itu yang terjadi. Meskipun Nara merasa sakit, itu lebih baik daripada terjerat dengan orang seperti Daffa.
“Jadi kamu diantar pulang oleh Alex?” tanya Nadia.
“Iya. Memangnya siapa lagi?”
“Kenapa dia tidak mampir?”
“Dia kan harus kembali ke kantor ma.”
“Lain kali ajaklah main kesini.”
“Buat apa?”
“Biar mama lihat cowok ganteng.”
“Ih mama ganjen. Dia itu terlalu muda untuk mama.”
“Dia memang terlalu muda untuk mama. Tapi tidak untuk kamu kan?”
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1
Please like, vote and comment. Oke👍