
Nara bersiap sambil menunggu Alex yang masih berada di kamar mandi. Tangan Nara tanpa sadar mengelus perutnya sambil tersenyum. Ia benar-benar berharap di dalam rahimnya sedang tumbuh buah cintanya dengan Alex.
Alex tersenyum saat melihat Nara yang sedang berdiri di depan cermin sambil tersenyum. Saat ini Nara sedang membayangkan dirinya dengan perutnya yang buncit. Nara yang sedang tenggelam dalam pikirannya tidak menyadari bahwa Alex telah keluar dari kamar mandi dan sedang memperhatikannya.
Melihat ekspresi Nara sungguh membuat Alex bahagia. Ia tahu betul bahwa istrinya sangat berharap untuk segera hamil.
Tapi detik berikutnya, ekspresi Nara yang tadinya berbinar bahagia berubah muram seketika. Alex tahu betul apa yang terjadi. Dengan segera ia menghampiri Nara dan memeluknya dari belakang. Mengecup pipinya dengan lembut.
“Jangan khawatir.” Ucap Alex.
“Aku takut hasilnya nanti tidak sesuai dengan harapan kita.” Nara mengelus lengan Alex yang melingkar di perutnya.
“Jika memang dia belum ada di dalam sana, itu artinya kita masih diberi waktu untuk pacaran lagi.”
“Tapi...”
“Jangan banyak pikiran. Aku akan ganti baju dulu. Setelah sarapan kita pergi ke rumah sakit. Aku sudah menghubungi dokter Kania.”
“Baiklah.” Nara tersenyum. Sekali lagi ia mengelus perutnya.
Setelah sarapan Alex dan Nara berangkat ke rumah sakit. Serena sangat bahagia saat mendengar cerita Alex yang menjelaskan kondisi Nara pagi ini. Dia juga menebak jika Nara sedang hamil. Serena berdoa agar apa yang mereka harapkan benar-benar menjadi kenyataan.
Nara dan Alex langsung masuk ke dalam ruangan dokter Kania. Di dalam ruangan, dokter Kania sudah menunggu kedatangan mereka.
“Apa kabar nyonya Nara. Mari silahkan duduk.” Sapanya ramah.
“Baik dokter. Terima kasih.”
“Apa yang nyonya Nara rasakan beberapa hari ini?”
“Beberapa hari terakhir saya sering merasa mual di pagi hari. Lalu muntah sampai isi perut terasa kosong.”
“Apakah sampai lemas?”
“Iya. Kebetulan beberapa hari ini suami saya ada di luar negeri. Jadi saya kadang menunggu di kamar mandi hingga kembali bertenaga.” Jelas Nara. Alex segera memeluk bahu Nara. Menepuknya pelan sambil mencium kepala istrinya. Ia sangat merasa bersalah karena tidak ada di sisi Nara saat Nara dalam keadaan tidak berdaya.
“Maaf ya. Aku tidak ada saat kamu membutuhkan.”
“Tidak apa-apa.”
“Lain kali aku akan selalu ada di sampingmu.” Nara tersenyum senang. Dokter Kania yang melihat interaksi harmonis antara Alex dan Nara juga ikut bahagia.
__ADS_1
“Apa ada keluhan yang lain?”
“Ya. Karena dokter bertanya jadi saya baru teringat kalau akhir-akhir ini saya mudah lelah dan juga sering mengantuk.” Dokter Kania tersenyum mendengar penjelasan Nara.
“Baiklah, suster tolong bantu nyonya Nara mengambil sampel.” Seorang perawat membawa Nara masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Alex menunggu sambil berbicara dengan dokter Kania.
“Melihat dari tanda-tanda yang ada kemungkinan besar istri anda memang sedang hamil.”
“Saya juga berharap seperti itu dokter. Nara sudah lama ingin memiliki bayi. Setelah kehilangan bayi kami terakhir kali, dia sering terlihat murung. Dan pagi ini saya melihat lagi senyum yang sudah lama tidak saya lihat. Jadi saya takut jika ternyata Nara tidak hamil. Itu akan menjadi pukulan berat untuknya.”
“Anda benar. Saya juga berharap nyonya Nara benar-benar hamil. Sebagai seorang wanita memiliki anak adalah hal yang menakjubkan. Apalagi nyonya Nara sudah pernah kehilangan. Jadi itu wajar.”
Nara kembali bersama perawat yang tadi membawanya. Perawat itu membawa hasil pemeriksaan dan menyerahkannya pada dokter Kania. Sedangkan Nara kembali duduk di samping Alex.
“Selamat tuan, nyonya, menurut hasil pemeriksaan hasilnya adalah posistif. Usia kehamilannya adalah lima Minggu.”
Nara tertegun setelah beberapa saat. Ia masih tidak menyangka jika ia benar-benar hamil. Kebahagiaan dan harapan bercampur di dalam hatinya. Air matanya pun tidak dapat tertahan dan mengalir di kedua pipinya.
“Hei, Kenapa kamu menangis? Kita akan memiliki bayi.” Alex menangkup pipi Nara. Menghapus air mata istrinya dengan lembut.
“Aku Hamil Lex. Katakan jika ini bukan mimpi!”
“Ini kenyataan sayang. Bayi kecil kita sedang tumbuh di dalam sini.” Alex mengelus perut Nara. Air matanya juga tanpa sadar mengalir.
“Ini air mata kebahagiaan.” Alex memeluk Nara dengan erat. Mengecup kepala Nara dengan mesra. Keduanya menangis dalam pelukan. Melupakan dokter Kania dan perawat yang melihat mereka dengan haru.
Cukup lama mereka hanyut dalam dunia mereka. Baru setelah mendengar deheman dokter Kania, keduanya sadar dan mulai melepaskan pelukan mereka.
“Ehm. Maaf mengganggu.” Ucap dokter Kania canggung. “Sekali lagi saya ucapkan selamat atas kehamilannya.” Dokter Kania tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
“Terima kasih dokter.” Ucap Nara bahagia.
“Baiklah. Sekarang bisakah kita mulai pemeriksaannya?” Nara mengangguk dengan antusias.
Dokter Kania segera memulai pemeriksaan umum pada kehamilan. Menimbang berat dan tinggi badan. Setelah itu juga memeriksa kondisi janin Yang ada di rahim Nara.
Nara dan Alex sangat antusias saat melihat penampakan benda kecil di dalam layar. Dokter Kania, benda kecil itu adalah bayi mereka yang masih sangat kecil. Janin itu dalam keadaan sehat.
Saran dan nasihat diberikan dokter Kania untuk kedua calon orang tua baru itu. Memberi tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Juga makanan apa yang baik untuk kesehatan ibu dan janin. Tidak lupa juga makanan yang harus dihindari selama masa kehamilan.
Dokter Kania memberi Nara beberapa vitamin dan juga suplemen saat mereka pulang. Keduanya pulang sambil bergandengan tangan. Foto cetak USG yang baru saja Nara lakukan didekap erat oleh Nara di depan dada.
__ADS_1
**
Di kediaman Mahardika, Nadia yang sedang menyiram tanaman hiasnya menghentikan aktivitasnya karena ponselnya yang ada di meja taman berbunyi. Nathan yang berada di dekat ponsel itu segera membuka pesan yang masuk.
Saat membaca pesan dari Alex yang mengabarkan Nara tengah hamil hampir menjatuhkan ponselnya jika saja Nadia gagal menangkap ponsel miliknya yang meluncur begitu saja dari tangan Nathan.
“Hati-hati dong pa! Untung saja ponsel mama tidak jatuh. Kan sayang kalau rusak.” Omel Nadia.
Nathan tidak menghiraukan Omelan Nadia. Dia berdiri dan memeluk Nadia dengan erat.
“Pa! Lepas!” teriak Nadia.
“Kita akan segera mendapatkan cucu ma! Kita akan segera menjadi kakek dan nenek!” ucap Nathan antusias.
Setelah mendengar ucapan Nathan, ponsel yang ada di tangan Nadia hampir terjatuh untuk kedua kalinya. Kali ini Nathan yang berhasil menangkapnya.
“Tuh kan mama juga begitu. Tadi menyalahkan ku.” Cibir Nathan.
“Papa tadi bilang apa?”
“Dengarkan papa bbaik-baik yang tadi mengirim pesan adalah Alex. Kata Alex, Nara putri kita hamil.”
Nadia menutup mulutnya tidak percaya. Air mata kebahagiaan mengalir begitu saja. Ia memeluk Nathan dan terisak di pelukan suaminya.
**
Tidak berselang lama setelah Nara dan Alex pulang, empat buah mobil box berhenti di pelataran rumah sakit.
Gibran keluar dari dalam mobil yang mengikuti empat mobil itu segera masuk ke dalam rumah sakit. Mencari keberadaan dokter Kania seperti yang diperintahkan Alex padanya. Alex ingin memberikan parcel kepada semua orang yang ada di rumah sakit.
Setelah mendapatkan izin, Gibran dan anak buahnya membagikan parcel pada setiap orang. Dalam setiap parcel yang diberikan, selalu ada doa yang terucap.
Kekuatan doa, meskipun tidak terlihat tapi sangat berarti. Semakin banyak orang yang mendoakan kebaikan untuk kita, itu artinya semakin banyak juga orang yang menyukai kita.
Tidak ada yang salah dengan memberi. Dan tidak ada yang salah dengan menerima. Hidup di dunia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Saling berbuat baik dan kehidupan akan bahagia. 😘
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih 🤩