Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_10. Teman Baru


__ADS_3

Sudah hampir tiga jam Nara duduk di meja barunya. Sebuah bilik di ruangan staf sekretaris yang berada tepat di depan ruangan Alex. Ruangan ini tidak memiliki pembatas apapun, hanya bilik yang memisahkan satu dengan lainnya. Sedangkan Gibran yang merupakan sekretaris inti meja kerjanya tepat berada di depan ruangan Alex.


Dengan cepat Nara menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya. Tidak terdapat banyak perbedaan sebenarnya. Hanya saja data yang ia terima lebih banyak karena tidak berasal dari perusahaan pusat saja. Melainkan dari beberapa perusahaan cabang maupun data keuangan yang dikirim oleh perusahaan rekanan.


Map-map yang tadi bertumpuk menunggu dikerjakan pun sudah banyak berkurang. Merasa pegal, gadis itu memutar lehernya sebelum memijitnya pelan.


“Ternyata begini rasanya bekerja. Sangat melelahkan.” Gerutunya.


“Kamu masih baru, belum terbiasa. Jadi wajar jika merasa lelah.” Gadis bernama Indri yang duduk di bilik sampingnya menyahutinya. Padahal Nara rasa tadi ia hanya berbicara pelan. Tidak menyangka Indri mendengar nya.


“Eh iya mbak Indri. Ternyata melelahkan ya. Hehehe.” Nara tertawa garing. Ia pikir Indri pribadi yang kaku pada awalnya. Sebab waktu ia memperkenalkan diri tadi, Indri seperti sangat acuh dan dingin.


“Sudah selesai?” tanya Indri.


“Belum mbak. Masih sebagian. Ternyata jadi sekretaris biru tidak mudah.” Indri melongok melihat tumpukan map di meja Nara.


“Kamu lumayan juga. Biasanya Beni akan membutuhkan waktu lebih lama mengerjakan separo dari itu.” Pujinya. Memang benar seperti itu kenyataannya.


“Hehehe. Syukurlah kalau begitu. Tapi aku tidak tahu ini sudah benar apa belum. Nanti sebelum jam makan siang akan aku serahkan dulu yang sudah selesai pada pak Gibran.”


“Itu juga bisa. Jadi sekalian nanti kamu bisa belajar.” Gadis cantik berlesung Pipit itu tersenyum ramah pada Nara sebelum kembali duduk di kursinya dan meneruskan pekerjaannya. Gadis itu mungkin juga sedang lelah smaa seperti Nara sehingga ia memutuskan untuk mengajak Nara mengobrol sembari istirahat.


“Iya mbak.” Nara pun sudah lebih baik. Ia juga melanjutkan pekerjaannya.


Tepat setengah jam sebelum jam makan siang, Nara membawa berkas yang sudah ia kerjakan pada Gibran.


“Permisi pak Gibran. Saya mau menyerahkan data-data yang sudah saya kerjakan.” Nara menyerahkan hasil kerjanya.


Gibran yang sedari tadi fokus pada pekerjaan nya mendongak. Membenarkan kaca mata baca yang sempat melorot. Kemudian menerima berkas yang diberikan Nara.


“Apa itu sudah benar?” Nara menggigit bibir bawahnya. Ia takut jika pekerjaan yang dilakukan salah.


“Duduklah dulu. Biar aku cek.” Gibran memeriksa hasil kerja Nara. Sedangkan Nara duduk di kursi tepat di depan Gibran.


Nara meremas jemarinya di atas paha. Jelas sekali ia sedang merasa cemas. Selama di kelas, ia tidak begitu memperhatikan dosen yang sedang mengajar. Jadi saat ini dia tidak yakin dengan hasil kerjanya. Dan sekarang, ia menyesal telah mengabaikan dosen yang sudah bekerja keras mengajar muridnya.

__ADS_1


“Em sudah bagus. Cukup rapi. Oh ya Kinara, besok kita akan mengunjungi salah satu lokasi proyek.” Ucap Gibran.


“Maksudnya kita pak?” tanya Nara penasaran. Ia tak yakin untuk apa staf sekretaris ke lokasi proyek.


“Iya kita. Aku, kamu dan tuan Alex.” Nara lebih melotot mendengar jika ia akan pergi dengan Alex besok.


Sejak kembali dari meja Gibran, Nara terlihat murung. Ia tidak sesemangat tadi ketika ia baru datang. Dan ketika Indri menanyakan alasannya, gadis itu hanya bilang tidak ada apa-apa. Indri pun tidak ingin memaksa dan memilih mengabaikannya saja. Toh mereka juga tidak sedekat itu sekarang.


“Hei Kinara, sudah waktunya makan siang lho. Kamu mau bareng aku?” seorang laki-laki tampan berdiri di depan bilik Nara. Tersenyum ramah yang semakin membuat wajahnya terlihat dua kali lebih tampan.


“Ah tidak terima kasih kak Rudi. Aku akan menemui teman-teman ku saja.” Ucap Nara sambil melihat jam di tangannya sebelum merapikan barangnya sebelum ia buat untuk pergi.


“Oh baiklah. Tapi lain kali bisa ya.”


“Hehehe. Lihat nanti saja ya kak.” Nara sebenarnya tidak merasa nyaman berada di dekat Rudi. Tapi untuk menolaknya secara terang-terangan, Nara sungkan.


“Hem. Kuharap kita bisa lebih dekat. Bye Kinara.” Rudi berlalu. Meninggalkan Nara yang merasa lega.


“Kamu harus hati-hati terhadap Rudi. Meskipun kelihatannya baik, dia adalah seorang playboy.” Indri menepuk pundak Nara sebelum berlalu.


Laki-laki memang banyak macamnya. Harus ekstra hati-hati dalam memberikan hati. Jika salah sedikit saja, bukan kebahagiaan yang akan diterima, justru penderita lah yang akan didapati.


Nara memang sering melihat teman-teman nya putus dengan kekasihnya. Banyak alasan yang menyebabkan putusnya hubungan percintaan yang terjalin. Namun Nara belum pernah mengalami secara langsung.


Mengingat banyaknya alasan yang membuat hubungan percintaan teman-temannya kandas di tengah jalan, Nara jadi ngeri sendiri.


“Kinara kamu dipanggil tuan Alex. Datanglah segera ke ruangannya.” Ucap Gibran melalui interkom setelah jam makan siang berakhir.


“Ada apa ya pak?” Nara mengerutkan bibirnya. Belum-belum ia sudah malas membayangkan jika ia harus berada satu ruangan dengan Alex. Sosok dingin beku selain kakaknya, Bisma.


“Saya tidak tahu. Mungkin mengenai laporan yang tadi kamu laporkan padaku.”


“Oh. Baik pak, saya akan segera kesana.”


Setelah sambungan terputus, Nara segera berdiri. Merapikan rok span yang dipakainya.

__ADS_1


“Mau kemana?” Indri yang melihat Nara bersiap pun bertanya.


“Dipanggil pak bos.”


Mendengar jawaban dari Nara alis Indri mengkerut. Tidak biasanya atasannya itu memanggil staf sekretaris. Biasanya dia akan memanggil Gibran sebagai ketuanya.


“Ya sudah mbak Indri aku mau ke sana dulu.” Nara pamit setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya.


“Oke. Semangat!” kata Indri saat gadis yang baru setengah hari menjadi rekannya itu melewati biliknya.


“Oke siap.” Nara mengacungkan jempol kanannya dan menggoyangnya sedikit sambil tersenyum manis.


Nara melenggang menemui Gibran terlebih dahulu. Sebelum berusa dengan Gibran masuk ke dalam ruangan Alex.


“Kamu bisa tinggalkan kami Gibran.” Kata Alex. Gibran segera membungkukkan setengah badannya dan berbalik pergi. Sebelum pergi, ia melirik Nara sekejab.


“Kenapa pak Gibran harus keluar sih. Bisa mati beku aku satu ruangan dengan balok besi ini.” Gerutu Nara di dalam hati.


“Mau sampai kapan kamu akan terus berdiri di sana?” ucap Alex yang melihat Nara masih berdiri di tempatnya semenjak masuk ke ruangan nya.


“Ah oh. Iya tuan. Maaf.” Nara segera maju dan duduk di kursi tepat di hadapan Alex. Dua tangannya bertautan dengan jari sambil meremas di atas paha. Di dalam otak cantiknya sibuk memikirkan apa yang akan dikatakan atasannya itu.


Beberapa saat keduanya diam. Nara semakin kesal. Ekor matanya berkeliaran menilik seluruh ruangan sang atasan. Sedangkan Alex masih sibuk dengan dokumen di tangannya. Sesekali ia melirik Nara yang sibuk menjelajah.


“Kamu adiknya Bisma?” pertanyaan Alex membuat Nara mendongak seketika. Pandangan mata keduanya terkunci.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🥰


Klik like, vote dan komen-komen ya gaes... Biar Akohnya semangat update 😘

__ADS_1


__ADS_2