Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
65. Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

Nathan membawa Nadia ke puskesmas yang memang buka setiap hari untuk diobati. Sedangkan Yanto dibawa ke kantor polisi untuk mendapatkan hukuman mereka.


Luka Nadia tidak serius. Hanya lecet di kedua betisnya. Nathan sendiri yang mengobati kedua kaki Nadia. Dokter tampan itu membawa Nadia ke ruangannya untuk melakukan perawatan. Nathan dengan telaten mengobati Nadia yang duduk di depannya. Tangan Nadia meremas bahu Nathan setiap kali ia merasa perih akibat alkohol yang digunakan untuk membersihkan lukanya.


“Tahan sebentar ya.” Kata Nathan melihat Nadia meringis menahan sakit.


“Ini sakit.” keluh Nadia.


“Sebentar lagi. Kalau tidak dibersihkan dengan alkohol bisa-bisa infeksi. Tali yang mereka gunakan sangat kotor.” Kata Nathan sambil terus membersihkan luka dan meniupnya sesekali.


“Apakah mas Yanto sudah ditangkap?”


“Sudah. Kalau kamu sudah merasa baikan, kita pergi kesana. Keterangan kita dibutuhkan.”


“Aku masih tidak menyangka mas Yanto tega melakukan itu semua. Padahal selama ini, hanya mas Yanto lah yang tidak pernah membuat masalah denganku. Dia juga terlihat sangat menyayangi mbak Yulia, Lisa Dan Bima.”


“Uang bisa mengubah seseorang Nadia.”


“Dokter benar. Uang memang sangat berbahaya.”


“Maka dari itu ikutlah denganku. Kita jalani kehidupan yang baru berdua.”


“Tidak bisa. Ini bukan hanya masalah uang dan harta. Tidak semudah itu.” sifat Nadia yang keras kepala membuat Nathan merasa frustasi.


“Nadia, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan.” Nathan menghentikan sementara aktifitasnya sebelum mendongakkan kepalanya untuk menatap lekat manik hitam milik Nadia.


“Aku bahagia dokter.”


Nathan mendesah. Bagaimana cara meyakinkan Nadia. Tapi mengingat sifat keras kepala wanita itu, dia hanya bisa mengalah. “Waktuku disini hanya dua minggu lagi. Jika kamu berubah pikiran, kamu bisa bilang padaku. Aku akan membantumu mencari tempat yang layak di kota.”


“Terima kasih dokter.”


Keduanya kembali diam. Luka Nadia sudah selesai diobati. Nathan memintanya untuk beristirahat sementara waktu di ruangan itu. Dia akan pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Namun Nadia menolak dan memilih untuk pergi ke ruang rawat Joni.


Akhirnya dengan dipapah Nathan, Nadia pergi ke ruangan Joni. Di dalam ruangan, ada Nita yang duduk di kursi sebelah brangkar, sedangkan Shela berada dalam pangkuan Jennika.


Melihat Nadia datang, Nita segera bangun dan menghampiri Nadia. Berniat menggantikan Nathan membantu Nadia, namun dengan sopan ditolak Nathan dan langsung membantu Nadia duduk di sebelah Jennika.


“Sebenarnya apa yang terjadi Nad? Siapa yang menculikmu?” tanya Nita yang langsung mendudukkan dirinya di samping Nadia. Sedangkan Nathan duduk di sofa single.


“Mas Yanto.”


“Pak Yanto?” tanya Nita dan Joni bersamaan.


“Benar. Aku juga tidak menyangka dia yang melakukannya. Bahkan ini lebih rumit.”


“Rumit bagaimana?” tanya Joni penasaran.


Sebelum Nadia menjawab, pintu ruangan dibuka secara paksa. Devi dan Yulia masuk begitu saja dari sana. Wajahnya menyiratkan kemarahan. Di belakangnya, beberapa penjaga mengikuti mereka.


“Apa yang kamu lakukan Nadia? Lepaskan Mas Yanto!” teriak Yulia.

__ADS_1


“Kamu sungguh keterlaluan! Selama ini Yanto selalu membelamu, tapi apa balasanmu?”


“Balasan yang aku dapatkan adalah sebuah penculikan.” Jawab Nadia enteng. Dia segera menegakkan tubuhnya. Dibantu Nita, ia berdiri. Jennika yang baru melihat Nadia seperti itu merinding. Aura Nadia begitu agung.


“ Mas Yanto pasti kamu jebak kan?” tanya Yulia putus asa.


“Mbak, sekarang aku rasa kita tidak boleh bermusuhan lagi. Kita semua telah dibohongi oleh Mas Yanto.”


“Bohong! Jangan bicara omong kosong Nadia. Kami tidak akan terpengaruh. Ini pasti salah satu caramu untuk merebut harta warisan kan? Agar semuanya jatuh padamu. Iya kan?”


Nadia tersenyum miring. Mengejek Devi dan Yulia. “Sejak dulu aku tidak pernah berniat mengambil harta warisan bapak sedikit pun. Tapi Kalian tidak pernah percaya padaku. Justru mas Yantolah yang memiliki niat seperti itu.”


“Kamu bohong!” Yulia mulai marah dan berniat menyerang Nadia. Namun dengan cepat dihalangi Nathan. Yulia semakin marah. Dia terus mengumpat dan memaki Nadia.


“Mbak, aku tidak bohong. Percayalah padaku.”


“Tidak. Semua yang keluar dari mulutmu adalah kebohongan.”


“Sayangnya apa yang diucapkan Nadia adalah kebenaran. Silahkan lihat ini.”


Nathan menunjukkan handphone miliknya. Ia telah merekam apa yang terjadi selama penculikan itu. Dan video itu juga telah ia kirim kepada pihak polisi.


Yulia segera ambruk melihat apa yang dia saksikan sendiri. Ia tak menyangka jika suaminya itu tega melakukan semua itu padanya. Selama ini Yulia selalu percaya pada Yanto saat ia menerima telfon dari Ratna yang mengatakan bahwa ini masalah penggilingan.


Kepercayaan yang diberikan Yulia pada Yanto ternyata disalah gunakan. Sebagai gantinya, Yanto malah memberinya perselingkuhan dan juga niat untuk merebut harta keluarganya. Hati Yulia tentu saja akan hancur.


“Ini semua bohong kan bu?” ratap Yulia, Devi ikut mendudukkan dirinya di lantai. Menenangkan Yulia.


“Kamu tidak perlu menasehatiku Nadia!” hardik Yulia.


“Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum pihak puskesmas mengusir kalian karena membuat keributan disini.” Kata Nathan. Akhirnya, Yulia dibantu Devi keluar dari tempat itu. Pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan masalahnya dengan Yanto.


Setelah kedua wanita ular itu pergi, Nadia berjalan pelan ke arah Joni. Duduk di kursi yang ada di sebelah brangkar Joni.


“Maafkan aku Jon. Karena melindungiku, kamu jadi seperti ini.” Nadia menundukkan kepalanya. Joni telah melawan lima orang bertubuh besar karenanya. Dan sekarang, laki-laki yang selalu berada di sisinya itu terbaring dengan penuh luka karenanya.


“Aku yang harusnya minta maaf Nad. Sebagai bodyguard, aku telah gagal. Jika juragan masih ada, aku pasti mendapatkan hukuman yang berat. Kamu tenang saja, setelah aku sembuh, aku akan mengambil hukumanku.” Kata Joni yakin.


“Apa yang kamu katakan Jon? Kalau bapak masih ada, dia pasti akan bangga mempunyai anak buah sepertimu yang melindungi istri tercintanya dengan segenap jiwanya.” Goda Nadia.


“Hahahaha. Sepertinya aku harus meminta bonus dari juragan.”


“Sekarang juraganmu aku Jon. Kamu minta apa sebagai imbalanmu?”


“Kamu akan memberikannya kan?”


“Tentu saja, kamu tahu kan aku sekarang kaya raya. Hehehehe.”


“Kalau begitu, aku minta kamu pergi dari desa Nad.” Kata Joni tegas.


Senyum Nadia menghilang. Wajahnya terlihat suram.

__ADS_1


Joni meraih tangan Nadia, digenggamnya erat tangan wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. “Kamu berhak bahagia Nadia. Warga desa sudah terbebas. Sekarang waktunya kamu mencari kebahagiaanmu Nadia.”


“Jon...”


“Sebagai sahabatmu juga sebagai anak buahmu, terlebih sebagai kakakmu, aku hanya minta itu Nadia. Bahagialah.”


“Jon, tugasku disini belum selesai. Masih ada satu tugas yang belum aku selesaikan.”


“Nadia, bisakah kamu egois sekarang?”


“Tidak Jon. Aku tidak bisa.” Lirih Nadia.


Nathan memandang pilu Nadia. Wanita itu sudah sangat menderita sampai saat ini. Namun ia tetap bersedia terluka demi orang lain.


“Warga desa sudah bebas sekarang Nadia, sanggar keterampilan juga sudah dapat menjamin kehidupan warga desa. Apalagi yang kamu tunggu?” tanya Joni. Selama ini kedua hal itulah yang Nadia perjuangkan. Dan sekarang semua berhasil, sedikit demi sedikit hutang warga desa berkurang.


“Aku harus memastikan anak Dian mendapatkan baik-baik saja Jon. Mereka berdua telah menderita selama ini. Untuk merekalah aku akan bertahan. Dian mempercayakan anaknya padaku.”


“Nad...”


“Dukunglah aku Jon, sebagai sahabat dan kakakku. Dukunglah apa yang aku perjuangkan. Kamu lah yang bisa aku andalkan Jon.”


Joni mendesah. Hampir tiga tahun ia mengikuti Nadia, tentu saja ia tahu watak Nadia yang keras dan tidak akan menyerah.


“Baiklah nyonya muda. Anak buahmu ini akan setia mendukungmu. berdiri di belakangmu.”


“Itu bagus. Joni, sebagai yang mulai janda selir kesayangan, aku memerintahkanmu untuk segera sembuh agar bisa melindungiku lagi!” kata Nadia.


“Sesuai keinginanmu yang mulia janda selir kesayangan.” Joni melipat tangan kananya di depan dada dan bicara dengan serius.


Nadia dan Joni terkekeh. Mereka selalu mampu menghibur diri dengan permainan drama mereka.


“Ck. Kalian ini masih suka memerankan drama itu. Dan sekarang apa? Gelarmu sudah bertambah Nyonya muda? Cih! Yang Mulia Janda Selir kesayangan.” decak Nita. Ia selalu kesal melihat Nadia dan Joni memainkan drama mereka.


Joni dan Nadia hanya memberikan kekehan kepada Nita. Keduanya jelas tahu bahwa Nita tidak menyukai permainan peran mereka.


Nathan tahu betul hubungan ketiganya. Namun ia masih saja menghangat saat melihat keduanya mengungkapkan kasih sayang mereka.


Sedangkan Jennika, ia akhirnya mampu melihat siapa sebenarnya Nadia. Dan diam-diam membenarkan ucapan Nathan bahwa Nadia adalah wanita paling hebat. Semakin besar pula kekagumannya pada Nadia, sang Istri Muda.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😍


Jangan lupa like👍 nya ya😎


Bisakah ini disebut Karma? Dihianati oleh orang yang dipercaya.

__ADS_1


Tapi tenang, masih ada yang lain yang sudah Akoh siapkan. Tunggu tanggal mainnya....


__ADS_2