Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_83. Titik Terendah


__ADS_3

...PERINGATAN!...


...Siapkan Kanibo kering atau tisu paling tidak!...


...Part ini siap membawa anda semua mewek berjamaah...


...Jangan lupa sediakan juga segelas air putih. Biar nanti kalau air matanya habis setelah menangis bisa langsung isi ulang ***secara langsung...


ಥ‿ಥ***


Jika bisa, Alex akan memindahkan penyakit yang ada di tubuh Nara padanya. Ia rela menahan sakit asal istri dan calon anaknya akan selamat. Namun apa daya, dia hanya manusia biasa. Apapun yang ia lakukan, jika Tuhan berkehendak jika ia dan Nara memang masih belum bisa menjadi orang tua, semua yang dilakukannya adalah sia-sia.


Mendengar pertanyaan dari dokter Smith, Alex mengangguk dengan pasrah. Ia yakin Nara pasti akan membencinya jika sampai Nara mengetahui ia telah menyetujui aborsi ini. Tapi ini adalah keputusan yang terbaik untuk sekarang.


Dokter Triana kembali ke ruangan Nara bersama Alex. Sedangkan dokter Smith sedang bersiap di ruang operasi bersama dengan para tenaga medis yang akan ikut andil dalam operasi pengangkatan janin ini.


Alex memilih menunggu di luar saat mereka sampai. Ia tidak akan tega melihat Nara yang terluka.


Di dalam ruangan, dokter Triana meminta suster untuk memberi obat penenang pada Nara melalui cairan infus. Jika tidak seperti itu, ia yakin Nara akan memberontak seperti sebelumnya saat ia datang. Melihat sikap Nara, ia yakin jika wanita itu enggan mengaborsi anaknya.


Sebenarnya bisa saja melahirkan anak dalam kondisi hamil. Namun ini akan sangat berbahaya. Bukan hanya bagi janin, bagi keselamatan ibu juga sangat berbahaya.


Dalam keadaan hamil, pengobatan untuk kanker tidak akan bisa dilakukan. Jadi jika memilih mempertahankan bayinya, sang ibu harus bersiap menahan rasa sakit setiap waktu.


Jadi, tindakan aborsi ini adalah hal yang paling tepat dilakukan untuk saat ini.


Perlahan Nara kehilangan kesadarannya saat obat bius sudah merasuk. Nadia dan Serena yang mengetahui apa yang terjadi pun menangis tak tertahan lagi. Mereka menangis dan meraung. Seketika, keadaan menjadi semakin pilu. Apalagi saat dua orang suster mendorong brangkar Nara keluar menuju ruang operasi.


Alex hanya bisa pasrah melihat tubuh lemah istrinya dibawa pergi. Ia hanya berharap keputusan yang diambilnya tidak salah. Nathan menepuk bahu Alex dua kali.


“Apa yang kamu lakukan sudah benar. Aku akan membantumu menjelaskan pada Nara nanti. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu saat ini.”


“Terima kasih pa.”

__ADS_1


“Sama-sama. Ayo kita juga ke sana.” Nathan kembali menepuk pundak Alex sebelum ia pergi mengikuti Nadia dan Serena yang sudah terlebih dahulu mengikuti Nara. Nathan menghapus setitik air mata yang hendak keluar dari sudut matanya.


Alex berjalan dengan gontai. Air matanya keluar tanpa malu. Pada tahap ini, Alex sudah tidak memperdulikan lagi citranya. Ia tidak terpengaruh apalagi malu menjadi pusat perhatian karena telah menangis di sepanjang jalan.


Presdir dingin juga manusia biasa yang memiliki perasaan dan empati. Dia juga bisa terluka. Juga bisa merasakan sedih. Dan juga bisa menangis saat dirinya sudah tidak mampu menahan kesedihannya sendirian.


Serena, Nadia dan Nathan duduk dalam diam di depan ruang operasi. Ketiganya menoleh saat melihat Alex datang.


“Yang sabar ya nak.” Serena segera menghampiri Alex. Memeluknya dengan erat. Alex dalam kondisi paling rapuh selama hidupnya. Bahkan dulu saat Serena meninggalkan nya, ia tidak sehancur saat ini.


Alex semakin terisak di dekapan sang mama. Memang benar, sebesar dan sehebat apapun seorang anak, di hadapan seorang ibu akan tetap menjadi anak kecil yang kadang perlu untuk dimanja. Saat ini Alex berada di dalam titik terendah dalam hidupnya.


Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Alex. Tapi semua orang tahu jika laki-laki yang biasanya tangguh itu sedang bersedih saat ini. Baik Serena, Nathan maupun Nadia semuanya memang bersedih. Tapi di sini yang paling bersedih adalah Alex.


Selama menunggu operasi selesai, tidak ada dari mereka yang berbicara. Proses aborsi memang bukan termasuk operasi besar, namun karena ini adalah pengangkatan janin yang sangat dinanti, keadaan kali ini melebihi kondisi mereka yang menunggu operasi pasien yang berjuang antara hidup dan mati.


Hingga lampu tanda selesainya proses operasi selesai, empat orang yang menunggu di luar segera bangkit dan berlari menghampiri pintu.


“Bagaimana dokter?” Nathan yang paling bisa menguasai diri bertanya pada Dokter.


“Kami mengerti. Terima kasih dokter.” Dokter itu mengangguk dan meninggalkan ruang operasi.


**


Keesokan harinya, Tubuh lemah Nara masih terbaring di atas ranjang. Pemandangan yang serba putih membuat suasana semakin terasa mencekam. Tiga orang paruh baya yang duduk menunggu di sofa hanya diam sejak mereka datang ke rumah sakit setelah semalam mereka kembali ke hotel untuk istirahat. Sedangkan Alex menolak kembali dan lebih memilih tidur di rumah sakit untuk menjaga Nara jika sewaktu-waktu istrinya bangun.


Alex menggenggam erat tangan Nara sejak ia bangun pagi tadi. Berulang kali ia mencium punggung tangan dan telapak tangan Nara yang terasa sedikit hangat. Kata maaf terus bergema di dalam hatinya.


Mata Nara mengerjap beberapa kali. Jari tangannya yang ada di genggaman tangan Alex juga bergerak-gerak. Alex seketika memandangi wajah Nara yang perlahan mendapatkan kesadarannya.


“Sayang apa ada yang merasa tidak nyaman?” tanya Alex. Ketiga orang yang mendengar pertanyaan Alex segera ikut menghambur mendekati Nara.


“Mana anakku Lex?” Nara menarik tangannya dari genggaman Alex dan mengelus perutnya dengan cemas. Seingatnya kemarin ia tidak sadar. Ia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Jadi ia takut sesuatu terjadi pada bayinya saat ia tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Mendapati pertanyaan Nara, Alex hanya bisa diam. Ia sungguh tidak tega memberitahu kebenaran bahwa ia mengizinkan dokter mengambil anak mereka. Ia belum siap dibenci Nara dengan dalam.


“Sayang, saat kamu tidak sadar kemarin, bayi kamu tidak bisa diselamatkan. Jadi kami tidak punya pilihan lain...” Alex memandang tidak percaya Nathan yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Laki-laki itu mengelus lengan Nara dengan lembut. Membantu Alex menjelaskan kebohongan pada Nara.


“Tidak pa. Semua ini pasti bohong. Ia kan Lex? Kamu tidak akan membiarkan mereka menyakiti anak kita kan Lex?” Nara terisak. Ia menggoyang-goyangkan lengan Alex.


“Maafkan aku sayang. Aku gagal menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian.”


Nara tidak bisa berkata-kata lagi. Semua yang ada di dalam hatinya sudah ia tumpahkan dalam Isak tangis yang membuat orang yang mendengarnya merinding. Mereka secara tidak sadar akan ikut merasa sedih mendengar suara tangisan yang menyayat hati itu.


Cukup lama Nara menangis di pelukan Alex. Namun setelah sekian lama, Nara mulai sadar, ia segera mendorong tubuh Alex dengan keras.


“Sayang...” Alex tidak percaya Nara akan mendorongnya.


“Aku membencimu Lex. Pergi dari hadapanku sekarang juga! Aku tidak ingin melihatmu lagi. Huhuhu~” teriak Nara. Nadia segera menghampiri Nara dan memeluk putrinya.


“Nara sayang, kamu jangan marah pada Alex. Semua ini di luar kendali kita semua sebagai manusia biasa.”


“Maafkan aku. Maafkan aku.” Alex menangis lagi. Nara terhenyak saat melihat Alex menangis. Ia sempat tertegun beberapa saat. Namun saat mengingat jika calon anaknya telah pergi, ia kembali menangis dan meraung.


“Alex, lebih baik kamu keluarlah dulu. Nara sedang dalam kondisi yang tidak stabil. Kami akan membantumu untuk memberinya penjelasan.” Serena menepuk pundak Alex. Ia juga menghapus air mata yang mengalir dari mata anaknya.


“Kamu tidak boleh larut dalam penderitaan. Setelah ini perjalanan kalian masih panjang. Kanker di dalam tubuh Nara harus segera dihilangkan. Untuk itu kamu perlu memikirkan langkah selanjutnya.” Lanjut Serena.


“Baik ma. Aku serahkan Nara pada kalian. Aku akan pergi mengurus semuanya.” Alex mengangguk paham sebelum pergi keluar dari ruangan Nara. Serena benar. Tidak ada gunanya jika ia menangis dan terus larut dalam kesedihan. Ia harus memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.


*


*


*


Sediiiih....😭😭😭😭

__ADS_1


Akoh sampai ikut nangis. Akoh pengen ikutan peluk Nara.....


__ADS_2