
“Kapan semua ini berakhir Lex? Aku takut Rafael akan benar-benar mewujudkan ancamannya.” Nara memandang sendu Alex.
“Aku, Bisma dan Bima sudah berhasil mengumpulkan kelemahan Rafael sedikit demi sedikit. Hanya menunggu waktu yang tepat dan kuat. Hingga saat itu tiba. Aku minta kamu untuk bertahan. Jangan sampai kamu termakan ancaman Refael.” Alex memandang Nara serius. Dengan karakter Nara yang mudah bersimpati, ia khawatir Nara akan melakukan tindakan yang sembrono.
“Hem.” Nara mengangguk pelan. Meskipun di dalam hatinya ia masih belum yakin akan hal itu. Banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan. Ini semua terlalu berat.
Nara kemudian teringat sesuatu. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Alex dan mendorong pria itu.
“Kenapa?” tanya Alex bingung. Sebelumnya tidak terjadi apa-apa dengannya dan gadis itu. Lalu tiba-tiba gadis itu mendorongnya dengan keras. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Bukankah kamu makan malam dengan ulat keket tadi?” sindir Nara.
“Tidak.” Alex menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak ada ulat keket yang secantik nona Diandra.” Alex menyunggingkan senyumnya.
Nara mendengus. Berani sekali Alex memuji wanita lain di hadapannya. “Ya sudah. Kalau begitu pergi sana. Temui ulat keket cantik itu. Kenapa kamu malah menemuiku di sini?” sarkas Nara.
“Aku sudah bosan dengan yang cantik.” Alex mendekat. Masih dengan senyumnya yang tercetak jelas di bibirnya. Mencoba meraih Nara sekali lagi. Namun gadis itu dengan cepat menghindar.
“Jangan pegang. Sana pergi!” Nara membalikkan badannya dengan kesal. Melipat kedua tangannya.
“Baiklah. Aku akan mengajak nona Diandra makan sekali lagi.” Ucap Alex sambil tersenyum senang. Ia segera menggendong Nara. Membiarkan gadis itu meronta di pelukannya. Ia membawa Nara masuk ke dalam mobilnya dengan masih tertawa penuh bahagia.
Sedangkan di belakang sebuah mobil yang tak jauh dari Nara dan Alex. Rafael mengepalkan tangannya saat dia melihat dan mendengar pembicaraan antara kedua orang yang sedang ia intai.
“Jadi mereka berusaha mengelabui ku rupanya. Tunggu saja apa yang akan aku lakukan pada kalian semua.” Ucapnya menggertakkan giginya.
Rafael tadi sudah hampir masuk ke dalam mobil saat ia teringat untuk meminta bantuan teman-teman Nara. Namun ia justru melihat Nara dan Alex yang sepertinya sedang bertengkar. Tapi setelah ia mendengar ucapan mereka, ternyata mereka bukanlah sedang bertengkar, melainkan Nara yang sedang merajuk dan Alex yang berusaha untuk membujuknya. Dan sialnya, mereka terlihat sangat mesra membuatnya ingin sekali menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya.
**
“Ke mansion Mahardika pak.” Ucap Alex saat ia duduk dengan nyaman di samping Nara.
Pak Farid segera mengiyakan dan melajukan mobilnya dengan tenang setelah melirik dua orang di kursi belakang.
__ADS_1
Si pria, majikannya terlihat sangat bahagia hari ini. Senyum di wajahnya terlihat sangat mempesona. Sedangkan si gadis ya g merupakan pacar dari majikannya, terlihat kesal dengan bibirnya yang mengerucut lucu. Apalagi dengan tangan yang melipat ke depan. Dalam pandangan mata pak Farid, keduanya adalah pasangan yang sangat serasi.
Tangan Alex hanya bisa diam beberapa menit saja. Setelah itu, ia menggunakan jarinya untuk mentoel pipi Nara. Dengan kesal gadis itu menepisnya.
“Ish Lex. Sudah aku katakan jangan pegang-pegang.” Sungut gadis itu.
“Baiklah.” Alex mengangguk patuh. Namun sedetik setelahnya. Ia segera menarik Nara dan mendekapnya erat.
“Sudah aku katakan jangan pegang!” Nara meronta. Namun Alex hanya diam mengeratkan pelukannya. “Lepasin.” Nara memukul lengan Alex yang melingkar di pinggang nya.
Alex menggeleng dengan cepat. “Aku tidak memegang. Aku hanya memeluk.” Kilah Alex.
“Tidak tahu malu. Apa kamu tidak malu ada pak Farid di depan?”
“Tidak.” Alex kembali menggeleng. “Aku sudah bilang kan kalau di depanmu aku tidak akan mempunyai apa-apa lagi. Bahkan malu sekalipun.”
“Jangan keterlaluan deh. Aku tidak mau dipeluk dengan orang yang sudah terkontaminasi ulat keket.” Nara kembali meronta.
“Jika tidak terkontaminasi berarti boleh mencium juga kan?” senyum Alex mengembang penuh harap.
Beberapa menit kemudian, Alex duduk dengan puas di samping Nara yang menunduk dengan pipi yang merona merah. Dan jangan lupakan bibirnya yang sedikit bengkak akibat ulah Alex. Laki-laki itu sungguh tidak tahu malu. Di depan mereka ada pak Farid. Meskipun laki-laki itu menghadap ke depan dan fokus mengemudi, suara decapan itu pasti terdengar jelas olehnya. Belum lagi dengan spion tengah yang dapat digunakan untuk melihat kondisi di kursi belakang. Jika pak Farid mengintip mereka akan sangat memalukan.
“Aku sudah bilang aku...”
Alex segera memotong ucapan Nara. “Aku sudah membuang pakaian yang aku gunakan untuk makan malam bersama Diandra tadi. Bahkan aku menyewa kamar hotel untuk mandi dan mengganti pakaianku. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanyakan pada pak Farid.” Jelas Alex yang melihat wajah Nara masih menyimpan amarah terhadapnya.
“Benar nona. Tadi saya sudah memberikan pakaian yang dipakai tuan kepada security hotel.” Kata pak Farid mendukung ucapan majikannya. Mendengar ucapan pak Farid, Alex tersenyum penuh kemenangan.
“Benar kan apa kataku.” Ucap Alex bangga.
“Huh! Tapi tidak harus menciummu seperti itu juga kan.” Dengus Nara.
“Bukankah tadi aku sudah minta izin.” Alex menatap Nara dengan tatapan menggoda. Sangat menyenangkan bagi Alex melihat wajah Nara yang bersemu merah karenanya. Entah itu memerah karena kesal, marah, malu ataupun senang. Semuanya terlihat indah di matanya.
__ADS_1
“Sudah lah.” Nara menghela napas pasrah. Tidak akan menang jika berdebat dengan Alex.
“Terima kasih asupan energinya sayang.” Ucap Alex saat ia pamit akan pulang. “Ingat pesanku. Jangan sampai termakan ancaman Rafael. Cukup percaya padaku. Pada Bisma dan pada Bima. Semua akan baik-baik saja.” Tambah Alex sebelum mengecup kening Nara. Gadis itu mengangguk.
***
Nara masih memikirkan perkataan Alex dua hari yang lalu. Namun kini hatinya mulai ragu. Apa yang diucapkan Rafael benar-benar dilakukan oleh laki-laki itu. Hanya dalam waktu empat hari saja, dua perusahaan sebesar Mahardika Grup dan Amerta Corp hampir gulung tikar dibuatnya.
Masalah internal dan eksternal di perusahaan silih berganti muncul. Bahkan semakin lama semakin menjadi.
Dengan keadaan perusahaan yang sedemikian rupa, tidak mungkin bagi mereka untuk merahasiakan nya lagi dari Nadia dan Alex. Keduanya juga ikut membantu.
Beruntung bagi Nadia karena kafe dan restoran miliknya tidak ikut terdampak. Sejak awal memang ada pemisahan kepemilikan atas Purnama Kafe dan Mahardika Grup. Jadi apa pun yang terjadi pada Mahardika Grup tidak akan berpengaruh pada Purnama Kafe. Dengan begitu Nadia masih bisa sedikit membantu perusahaan Nathan. Namun apa saja yang mereka lakukan hanya bisa sedikit meredakan. Menghambat waktu hingga Mahardika benar-benar bangkrut.
“Aku tidak menyangka jika kamu akan tumbuh menjadi seorang pria dengan ambisi yang terlalu besar Rafael.” Ucap Nathan sambil menatap Rafael yang duduk di depannya sambil mengangkat cangkir kopinya dengan elegan.
“Apa boleh buat om. Putri anda, Nara sangat mempesona.” Jawab Rafael tenang.
“Apapun yang kamu lakukan. Aku tidak akan mengizinkan putriku Nara menikah dengan laki-laki pengecut sepertimu.” Ya. Rafael datang ke mansion Mahardika untuk melamar Nara pada Nathan dan Nadia.
“Untuk masalah itu bukan anda yang berhak menentukan. Bukankah kita belum mendengar jawaban Nara?”
Kini semua mata yang berkumpul di ruang tamu bahkan mata para pembaca juga menunggu jawaban dari bibir tipis gadis pemilik rambut hitam bergelombang yang cantik rupawan.
Nara yang dari tadi hanya diam menyimak, perlahan mengangkat wajahnya sebelum pandangannya menyapu setiap wajah yang hadir di sana.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1
Geregetan?
Penasaran?