
Malam harinya, Nadia dibuat kaget dengan tamu yang datang mencarinya. Gadis cantik yang baru saja ia kenal tadi pagi sudah duduk manis di teras rumah besar.
“Hai Jen. Sungguh kejutan kamu mengunjungiku malam ini.” Selama hampir tiga tahun tinggal di rumah besar, baru kali ini Nadia mendapatkan tamu.
Senyum Jennika terkembang. Gadis ceria itu seperti mempunyai saudara perempuan sekarang. Kedua kakaknya laki-laki. Jadi ketika ia mengenal Nadia, ia sangat senang.
“Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku tinggal di sebelah rumahmu.”
“Rumah Bu Karim?” Nadia memastikan.
“Iya. Kita jadi tetangga sekarang.”
“Wow. Ini kejutan yang menyenangkan.”
“Joko memberitahuku jika kamu tinggal di rumah ini. Jadi saat ia berkata bahwa aku akan tinggal di rumah bu Karim, aku sangat senang.”
“Baguslah kalau begitu. Semoga kamu betah tinggal di desa ini Jen.”
“Mau bagaimana lagi. Dokter Nathan tidak mau aku ajak pulang. Jadi mau tidak mau aku harus betah disini. Lagi pula ini tidak akan lama. Tidak sampai satu bulan. Demi Dokter Nathan.” Jennika mengepalkan tangannya di udara.
“Aku merasa lucu, kenapa kamu memanggil dokter Nathan dengan panggilan dokter juga?” sebenarnya agak canggung bagi Nadia menanyakan hal seintim itu. Namun rasa penasarannya mendorong keberanian. Lagipula Jennika orang yang terbuka dan ramah.
“Ah itu.” Jennika tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. “Itu adalah panggilan sayangku.” Nadia mengernyit heran. Bukankah kebanyakan orang juga memanggil dengan cara yang sama. Bagaimana bisa itu disebut panggilan sayang.
“Emmm. Sebenarnya aku ngin memanggilnya dengan dokter Cinta. Tapi dia memarahiku. Hehehe. Kamu tahu sendiri kan kalau Dia sangat dingin padaku.” Jennika mengerucutkan bibirnya.
Nadia tersenyum canggung. ia memang melihat sendiri bagaimana Nathan memperlakukan Jennika. Nathan yang biasanya ia temui bersikap baik dan hangat pada semua orang, namun nyatanya sikapnya berbanding terbalik jika berhadapan dengan gadis cantik di depannya ini.
“Oh ya Nadia, apakah selama disini Dokter Nathan dekat dengan seorang gadis? Pasti banyak ya?” sedikit terkesiap mendengar pertanyaa Jennika, otak Nadia berpikir cepat mendapatkan jawaban yang menyelamatkannya. Dia tahu betul Nathan tidak sedang dekat dengan seorang gadis manapun, yang ada dialah wanita yang paling dekat dengan dokter idola wanita itu.
“Ah maaf Jen. Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak begitu up date tentang gosip seperti itu. Sepertinya kamu salah orang jika bertanya masalah seperti itu padaku.” Jawab Nadia jujur. Siapa yang akan berani mengajak Nadia untuk bergosip. Tentu saja tidak ada.
“Ah sayang sekali. Padahal aku berharap kamu tahu.”
“Maaf Jen. Aku benar-benar tidak tahu.”
“Tidak masalah." jawab Jennika yang lebih asik memandangi sekitat. "Aku heran. Padahal ini baru jam sembilan malam. Tapi desa ini sangat sepi.”
“Ini di desa. Jam segini sudah dianggap larut.”
“Benarkah? Baiklah kalau begitu aku pamit dulu.” Jennika merasa tidak enak hati dan berdiri untuk pamit pulang. Nadia meminta salah satu penjaga mengantarkan Jennika sampai di depan rumah bu Karim. Bagaimana pun ini sudah malam.
Pagi harinya ketika Nadia hendak berangkat ke sanggar, Jennika sudah berada di teras rumahnya.
“Pagi Jen. Pagi-pagi sudah sampai disini.”
“hehehe. Sebenarnya aku ingin ikut denganmu ke sanggar. Boleh?” Tanya Jennika dengan ekspresi penuh harap.
“Tentu saja. Aku senang jika ada yang menamaniku disana.”
“Nyonya muda. Mobilnya sudah siap.” Joni membungkukkan badannya di depan Nadia.
“Baiklah Jon. Terima kasih. Ayo Jen. Tidak apa-apa kan kalau hari ini naik mobil? Kebetulan hari ini aku ada keperluan di kota.” Kata Nadia sambil berjalan.
__ADS_1
“Tidak masalah. Yang penting aku ada temannya. Dokter Nathan memintaku untuk tidak mengganggunya saat dia di puskesmas.” Nadia tersenyum.
Nadia merasa jika gadis yang duduk di sampingnya itu terlalu kekanak-kanakan. Dia masih belum bisa menghargai orang lain dan bertindak sesuka hatinya.
“Nadia, maukah kamu membantuku?”
“Tentu. Bantuan seperti apa yang bisa aku berikan?”
“Beritahu aku bagaimana kamu membuat suamimu jatuh cinta padamu?” Nadia terbatuk.
“Maaf Nadia. Aku pasti mengingatkanmu pada suamimu kan? Aku sungguh tidak bermaksud begitu.” jennika merasa bersalah.
“Rumah tanggaku tidak seperti rumah tangga pada umumnya Jen. Bahkan hubungan antara aku dan almarhum suamiku tidak bisa dikatakan hubungan yang berdasarkan cinta. Jadi maaf aku tidak bisa membantumu.” Kata Nadia. Ia tak mungkin menceritakan masalah rumah tangganya pada Jennika. Gadis itu terlalu polos untuk mengetahui maslah kehidupannya.
Jennika melihat wajah sendu Nadia. Ia merasa tidak enak. Jadi akhirnya memutuskan untuk diam.
Nadia segera mengajak Jennika masuk ke dalam sanggar keterampilan ketika mereka sampai. Di dalam sanggar, sudah banyak yang memulai aktifitas mereka. Nadia juga harus segera memulai pekerjaannya.
“Jen, aku mau mengecek bahan baku di gudang. Kamu mau ikut aku apa mau disini saja?”
“Em aku ikut.” Jennika yang awalnya duduk di atas tikar bersama beberapa wanita yang sedang menganyam tas pandan segera berdiri.
“Baiklah.”
Di dalam gudang, Nadia melakukan tugasnya. Mengecek bahan yang tersedia dan memastikan kondisi bahan tetap bagus. Jennika melihat Nadia dengan tatapan kagum. Ia merasa iri pada Nadia, di usia yang masih muda, Nadia sudah sangat dewasa dibandingkan dirinya.
Jennika mulai berfikir, jika Nathan tertarik pada gadis di desa ini, pasti orang itu adalah Nadia. Tapi mengingat bahwa suami Nadia baru saja meninggal rasanya tidak mungkin.
'Kalau aku harus bersaing dengannya untuk dokter Nathan, aku pasti kalah telak'
"Argg" tanpa sadar Jennika berteriak keras. membuat Nadia panik dan menghampirinya.
"Ada apa Jen?"
"Ah tidak apa-apa. Tadi aku hanya kaget lihat kecoak. Iya kecoak." jawab Jennika gugup membuat Nadia semakin bingung. Meskipun tempat ini adalah gudang, tapi cukup bersih dari tikus dan kecoak. Jadi Jennika meliht dimana?
"Ow. Aku kira apa." Nadia kembali meneruskan kegiatannya. Bersama seorang wanita yang bertugas di bagian gudang.
“Kapan aku bisa menjadi sepertinya ya?” gumam Jennika lirih. Ia menatap janda muda itu dengan seksama.
“Kamu mengatakan sesuatu Jen?” suara Nadia mengagetkan Jennika yang sedang melamun.
“Ah tidak apa-apa Nad. Sudah selesai?”
“Sudah. Ayo kita gabung sama yang lain. Hari ini mereka membuat tas dari daun pandan. Barangkali kamu mau belajar.”
Jennika mengangguk dan mengikuti Nadia masuk ke dalam sanggar. Dengan telaten, Nadia mengajari Jennika mengubah daun pandan setengah kering itu menjadi sebuah tas kecil.
Sudah dua jam Jennika belajar menganyam. Meskipun pada akhirnya, tas itu tetap tidak terbentuk walau seperempatnya.
“Ini sangat rumit Nad. Sudahlah aku menyerah.” Jennika frustasi dan membanting pelan anyaman di tangannya.
“Memang masih pemula. Tentu saja akan kesulitan. Jika sudah terbiasa pekerjaan ini akan terasa mudah dan menyenangkan.”
__ADS_1
“Menyenangkan apa?”
“Menyenangkan karena bisa dikerjakan sambil mengobrol bersama teman. Seperti ini.” Kata Nadia sambil menunjukkan hasil anyaman buatannya yang sudah hampir jadi.
“Melihatmu dan yang lainnya memang terlihat mudah. Tapi begitu aku mencoba ini terlalu rumit. Bahkan lebih rumit dari kisah cintaku dan dokter Nathan.” Jennika cemberut.
Nadia terkekeh. Kemudian memberikan anyaman Jennika yang tadi dilemparkan dan memberikannya pada seorang wanita disana.
“Mbak Irma, tolong selesaikan ini ya. Juga hiasannya jangan disamakan dengan yang lain. Buat seindah mungkin. Kalau sudah jadi berikan padaku.”
“Baik nyonya muda.”
“Terima kasih. Baiklah Jen, ayo kita pergi. Kamu mau ikut aku ke kota atau mau aku antar pulang?”
“Ada urusan apa kamu di kota?”
“Aku dan dokter Nathan akan menemui seseorang disana.”
“Jadi kamu akan pergi dengan dokter Nathan.”
“Tidak. Kami akan bertemu disana.”
“Kenapa? Kalau tujuannya sama, sebaiknya berangkatnya juga sama-sama. Aku ikut. Ayo kita jemput dia.”
“Baiklah. Jon. Kita jemput Dokter Nathan dulu.” titah Nadia saat Joni datang menghampirinya.
“Kita ke rumahnya apa ke puskesmas?”
“Tanyakan Joko posisi mereka dimana dan bilang kalau kita jemput mereka.”
“Oke.”
“Kalian sangat dekat ya? Saat pertama kali bertemu, aku kira kalian pasangan.”
“Hahahaha tidak Jen. Banyak hubungan yang terjadi antara kami. Kami bisa dibilang teman suatu waktu, saudara di waktu yang lain. Dan di saat-saat tertentu kami akan berubah menjadi majikan dan anak buahnya.” Nadia terkekeh di akhir ucapannya. Yang ia ucapkan memang benar.
Jennika memandang Nadia dan Joni bergantian. Sekali lagi poin plus yang membuat Jennika iri. Nadia memiliki seseorang yang begitu loyal padanya. Bersamanya dan menemaninya dengan tulus.
Sangat berbeda dengannya. Kebanyakan orang yang bersamanya hanya karena uangnya. Teman-teman ya g ia punya hanya memanfaatkannya untuk meningkatkan statusnya. Ini menyedihkan.
*
*
*
...~*Aku Istri Muda*~
...
Terima kasih sudah mampir. 😊
Kalau mampir, tinggalin jejak ya 😉
__ADS_1