Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_12. Penemuan


__ADS_3

Setelah satu jam Nara berada di dalam ruangan Alex, ia baru keluar. Ia menghembuskan nafas lega. Memang keduanya nyambung saat membicarakan pekerjaan, namun bagi Nara itu merupakan siksaan. Alex tetap balok besi dingin yang tidak ia sukai.


“Kinara. Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan tuan Alex?” Tanya seorang wanita bernama Tasya yang merupakan staf sekretaris bagian personalia. Wanita dengan wajah full make up itu memakai baju press body.


“Tidak ada apa-apa.”


“Lalu mengapa kamu dipanggil tadi?”


“Tuan Alex ingin membicarakan masalah laporan ku tadi.”


“Jangan bohong!”


“Tidak. Aku tidak bohong. Kalau tidak percaya tanyakan sendiri pada tuan Alex.” Kata Nara jengah. Ia duduk dengan kesal di biliknya.


Tasya akhirnya diam. Ia tidak mungkin untuk pergi menemui Alex dan bertanya langsung. Ia pun pergi dengan menghentakkan kakinya hingga terdengar suara hak dari high heels nya. Para laki-laki di dalam ruangan hanya menggelengkan kepala mereka. Memang sudah jadi kebiasaan Tasya untuk melabrak wanita yang dekat dengan Alex apapun alasannya.


“Biarin saja. Tasya emang kayak gitu.” Indri berujar dari biliknya. Nara hanya mengiyakan dan mengangguk. Akhirnya ada yang mengerti dirinya.


“Ngomong-ngomong tadi ngomongin apa saja sama tuan Alex?”


Retak sudah kedamaian Nara. Ia kira Indri tidak akan sama dengan wanita lain yang begitu mengagungkan Alex yang dingin.


“Pekerjaan mbak Indri. Mbak juga nggak percaya?” Nara memicingkan matanya.


“Hehehe. Bercanda kali Kin. Gitu aja ngambek sih.” Indri terkekeh. Dia adalah salah satu karyawan yang tidak tertarik pada Alex. Bukan tidak tertarik, lebih tepatnya sadar diri. Alex tidak mungkin menyukainya. Meliriknya pun mungkin tidak pernah. Dan bahkan, Alex mungkin tidak mengenali semua wajah karyawan nya. Jadi untuk apa mengidamkan yang terlalu jauh untuk digapai?


Nara dan Indri kembali fokus pada pekerjaan mereka. Apalagi Nara yang harus membuat persiapan yang akan dibawanya besok.


...🍃🍃🍃


...


Keesokan harinya, bahkan berita kedekatan antara Nara dan Alex menyebar di seluruh kantor. Entah siapa yang memulai membuat cerita-cerita yang akan membuat Nara bergidik jika mendengarnya. Yang pasti, banyak saksi yang melihat Nara masuk ke dalam mobil yang hanya ditumpang tiga orang. Alex, Nara dan Gibran. Dengan Nara yang duduk di belakang berdua dengan Alex.


Tentu saja mereka bukan pergi untuk berkencan. Mereka akan pergi meninjau proyek yang katanya macet karena kendala keuangan. Padahal menurut data yang masuk dana yang sudah digelontorkan untuk pembangunan hotel itu sudah sesuai dengan target.


Dari pihak perusahaan sudah beberapa kali terjun langsung untuk memeriksa adanya kesalahan. Namun semuanya seperti baik-baik saja. Namun hal sama kembali terulang hingga Alex memutuskan untuk memeriksanya sendiri.

__ADS_1


Sementara tiga orang sedang dalam perjalanan, keadaan di kantor penuh dengan bisik-bisik. Di setiap sudut, bilik dan ruangan semua membicarakan topik terpanas. Semua orang membicarakan hubungan antara Alex dan Nara.


Ketiga sahabat Nara tak kalah hebohnya dengan karyawan yang lain. Pasalnya mereka mengetahui betul jika Nara tidak menyukai tipe seperti Alex. Lalu bagaimana semua ini berjalan? Seperti melawan takdir.


“Menurut kalian apa Nara ada hubungan dengan tuan Alex?” tanya Vera saat jam makan siang. Hari ini mereka makan di kafe tak jauh dari kantor. Mereka sudah jengah mendengar gosip mengenai Nara. Apalagi di sini Nara mendapatkan dampak buruknya.


Di kantor tersebar berita jika Nara telah menggunakan wajahnya yang cantik dan juga tubuhnya untuk merayu Alex hingga sampai sejauh ini. Nara memang cantik, tapi dia bukan gadis seperti itu.


Lebih parahnya lagi. Ada yang mengaitkan Nara dengan ilmu perdukunan. Nara telah mengguna-gunai Alex. Prasangka aneh macam apa ini?


“Aku yakin jika semua itu tidak benar. Aku yakin Nara tidak akan melakukan semua itu. Kita semua tahu jika ia tidak menyukai tuan Alex.” Ucap Gita.


“Ya. Aku juga begitu. Tapi kita tetap harus meminta penjelasan pada Nara jika ia kembali nanti. Ngomong-ngomong mereka sudah pergi terlalu lama.”


Di tempat yang berbeda. Alex membawa Gibran dan Nara makan siang di sebuah restoran mewah. Mereka berada di sana untuk sekalian membahas tentang temuan mereka yang menunjukkan adanya perbedaan antara jumlah pekerja dan juga gaji yang dikeluarkan.


Mengingat ini Nara ingin sekali merobek mulut Alex yang seenaknya memberi perintah.


Flash Back On....


Nara baru saja memeriksa keuangan yang ada di proyek. Datanya sudah sesuai dengan yang dikirimkan ke kantor. Tapi Nara merasa ada yang aneh. Dia terbiasa berada di tengah hiruk pikuk kehidupan kampus. Dan ia dapat dengan mudah memprediksi jumlah orang yang ada di suatu tempat dengan mudah.


“Bagaimana?” tanya Alex saat Nara meletakkan berkas yang baru selesai dia baca.


“Semua sudah sesuai dengan yang di kantor. Tapi aku merasa ada yang aneh.” Pandangan Alex dan Gibran langsung tertuju padanya.


“Ada apa?” tanya Gibran penasaran. Ia juga sudah memeriksanya dan tidak menemukan apapun yang salah.


“Sepertinya kita sudah ditipu mengenai jumlah pekerja kasar. Mereka tidak harus menandatangi kontrak atau menyerahkan identitas diri kepada kita kan?”


“Benar. Mereka di bawah naungan kontraktor. Jadi apa masalahnya?”


“Saya curiga jika jumlah pekerja kasar yang dilaporkan tidak sesuai dengan jumlah riil yang ada. Sehingga dengan pekerja yang banyak membutuhkan waktu yang lama akan membuat pengeluaran membengkak di bagian gaji.”


“Apa kah ada yang seperti itu?” Gibran menimpali.


“Hem. Untuk mengetahuinya kita harus menyelidikinya.”

__ADS_1


“Bagaimana?”


“Apa yang membuatmu yakin?” tanya Alex yang sedari diam dan mendengarkan.


“Sebenarnya aku bisa mengira-ngira jumlah orang di lingkungan tertentu. Dan dengan orang yang kita temui tadi tidak sebanding dengan jumlah yang dilaporkan.” Ucap Nara.


“Kalau begitu, aku rasa ini ada orang dalam yang bermain curang.” Kata Gibran.


“Bukan orang. Lebih tepatnya orang-orang. Kasus seperti ini tidak bisa Sesimple yang terlihat. Tidak bisa hanya ada satu dua orang yang terlibat.” Kata Nara.


“Nara benar. Jadi kita harus menyelidikinya tanpa ada dari orang proyek yang curiga.”


“Saya setuju.” Ucap Gibran yang diangguki Nara.


Setelah itu mereka mengatur rencana.


“Apa tuan benar-benar akan menggunakan aku sebagai umpan?” tanya Nara yang masih ragu dengan rencana mereka.


“Lakukan saja. Kamu kan perempuan. Pasti mudah.”


Nara mendengus. Tidak semua perempuan itu sama. Tidak semua pandai merayu. Dan itu termasuk dirinya. Dirinya bahkan tidak mempunyai pengalaman merayu sedikitpun.


Namun misi harus berhasil. Dengan beberapa box pizza di tangannya. Nara masuk ke dalam kantor proyek yang berada tidak jauh dari pembangunan.


Melihat gadis cantik seperti Nara di tempat mereka yang kesemuanya laki-laki tentu saja sangat menyegarkan mata mereka.


Dengan sikap centilnya ia menawarkan pizza yang dibawanya. Semua orang bahkan melupakan keberadaan Alex dan Gibran yang seharusnya datang bersama Nara.


Di saat orang-orang di kantor sedang menikmati pizza mereka, Alex dan Gibran menghitung jumlah pekerja kasar. Dan benar yang dikatakan Nara jika jumlahnya jelas berbeda.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🥰

__ADS_1


Maaf episodenya kurang greget. Habisnya episode ini juga penting. Nikmatin dulu aja ya❤️


__ADS_2