Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_117. Alexis Sandiago


__ADS_3

...Episode terpanjang 🤩 1700 kata lebih😎...


...Selamat membaca😘...


“Kamu!? Siapa kamu?” Virly bertanya pada seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk putih membelit tubuh bagian bawahnya. Wajahnya tampan dengan tubuh yang atletis.


Sama seperti Virly, Nara dan Serena juga menatap laki-laki itu dengan penuh tanya. Ketiga wanita di dalam kamar terkejut melihat orang yang sama sekali tidak mereka kenal.


Nara dan Serena memalingkan wajah mereka saat melihat tampilan laki-laki itu.


“Sayang, baru semalam kita saling mengasihi, pagi ini sudah lupa? CK ck ck.” Laki-laki itu berjalan santai mendekati Virly. Senyuman di bibirnya terlihat menyebalkan.


“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!” Virly berteriak histeris. Tidak mungkin kan jika ia melakukan hal itu dengan orang asing ini?


“Apa? Semalam kamu mendesahkan namaku berkali-kali. Kenapa sekarang kamu pura-pura tidak ingat?” laki-laki itu menaikkan alisnya.


“Jangan berbohong kamu! Aku tidak mengenalmu sama sekali. Bagaimana bisa aku memanggil namamu?”


“Sayang, apa aku harus membantumu mengingatnya?” laki-laki itu mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk memakainya.


“Apa maksudnya semua ini Virly?” Serena yang dari tadi memperhatikan situasi angkat bicara.


“Tante percaya sama Virly Tante. Virly tidak mengenal laki-laki itu.” Virly dengan panik memeluk lengan Serena.


“Kalau kamu tidak mengenalnya, bagaimana dia ada di dalam kamarmu?”


“Virly juga tidak mengerti Tante. Jelas-jelas semalam aku sendiri yang memapah Alex yang mabuk ke dalam kamarku. Hemp.” Virly segera menutup mulutnya. Bagaimana dia bisa membuka rahasia yang harusnya ia tutup rapat-rapat.


“Jadi kamu yang sengaja membawa Alex ke dalam kamarmu?” Serena terjingkat mendengar penjelasan Virly.


“Bukan begitu maksud Virly Tante. Maksudku adalah semalam aku membantu memapah Alex yang sedang mabuk. Tapi Alex tiba-tiba menarikku ke dalam kamar.”


“Iya. Aku Alex yang kamu bawa masuk semalam.” Laki-laki yang juga bernama Alex itu keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa. Menyilangkan kaki kirinya dan duduk dengan santai di sana.


“Tidak. Bukan kamu.”


“Itu aku sayang.”


“Diam kamu!” bentak Virly.


“Sebenarnya apa yang terjadi di sini?” Serena memijit pangkal hidungnya. Kejadian pagi ini membuat kepalanya pusing. Terlalu banyak hal yang membuatnya terkejut.


“Biar aku yang jelaskan mama.” Alex masuk dan berdiri di samping Nara. “Maaf sayang aku datang terlambat. Ada beberapa hal yang harus aku persiapkan.” Alex mencium kening Nara sebelum menatap Virly dengan dingin.


“Semalam, Virly merencanakan rencana liciknya. Untung saja aku berhasil lolos.” Alex menatap Virly mengejek.


“Kamu..tidak mungkin.” Virly menutup mulutnya tidak percaya.


“Apa maksudmu Lex. Jelaskan dengan benar.”


“Aku akan jelaskan. Jadi mama harus mendengar dengan seksama hal licik apa yang telah dilakukan oleh wanita kebanggaan mama ini.” Virly mulai meneteskan air matanya. Tubuhnya pun bergetar karena terisak.


Alex pun menjelaskan apa saja yang terjadi. Juga membawa masuk orang-orang yang telah diminta Virly untuk bekerja untuknya.


“Benarkah semua itu Virly?” tanya Serena nanar setelah mendengar semua penjelasan Alex.


“Tidak Tante. Semua itu bohong.” Virly menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Masih mau mengelak?”


“Aku benar-benar tidak mengerti. Aku tidak mengenal mereka. Mereka pasti anak buah Nara yang telah berbohong.” Virly berteriak dengan panik. Matanya menatap tajam Nara yang hanya diam melihat semua yang terjadi.

__ADS_1


“Kamu bisa saja tidak mengakui mengenal mereka. Tapi apa kamu juga tidak mengenal cincin ini?” Alex mengeluarkan cincin berlian yang diambil Bisma dari Denis.


Serena yang memberikan cincin itu pada Virly jelas mengenal betul cincin itu. Ia mengambil cincin dari tangan Alex.


“Ini adalah cincin yang aku berikan pada Virly sebagai hadiah. Dari mana kamu mendapatkan ini?” Alex yang ditanya menoleh pada Denis. Memberi kode laki-laki itu untuk menjelaskan apa yang terjadi.


“Cincin itu diberikan oleh nona Virly pada saya sebagai imbalan.”


Plak... Serena menampar pipi kanan Virly dengan keras hingga meninggalkan bekas merah di pipi putih gadis itu.


“Tante kecewa padamu Virly. Aku mengira kamu adalah gadis yang polos. Tidak menyangka kamu adalah gadis licik yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.” Serena menatap Virly dengan kecewa.


“Tidak Tante. Maafkan Virly. Aku tahu aku salah. Tapi aku melakukannya karena aku sangat mencintai Alex. Aku ingin menikahinya. Huhu.” Pada tahap ini, Virly sangat frustasi. Jika Serena tidak berada di pihaknya lagi, semuanya akan sia-sia.


“Aku tidak peduli. Mulai sekarang jangan pernah menemuiku lagi.”


“Tante maafkan Virly Tante.” Virly segera bersimpuh dan memegang kaki Serena. Namun Serena segera berdiri, Dengan kasar dihempaskannya Virly dari kakinya.


“Aku tidak akan memaafkanmu. Kamu sudah membuatku melakukan banyak kesalahan.” Serena pergi dengan marah. Keluar kamar dengan wajah penuh emosi. Rini dan Denis juga keluar. Tugas mereka sudah selesai di dalam.


“Ini semua gara-gara kamu! Kamu brengsek!” Virly mendekati Alex yang duduk di sofa dengan tenang sambil melihat pertunjukan.


“Apa salahku di sini? Aku hanya mencintai wanita. Dimana ada wanita yang membutuhkan perhatianku, aku akan memberikan perhatian padanya tiga kali lipat.” Alex mengangkat tangan kanannya. Menunjukkan tiga jarinya dengan senyum merekah. Amukan Virly tidak ada artinya untuknya.


“Apa kamu tidak penasaran bagaimana aku bisa digantikan oleh tuan Alexis Sandiago?” Alex membawa Nara duduk di sofa. Lalu menatap Virly dengan sinis.


Mendengar pertanyaan Alex, Virly menatap Alex dengan sendu. “Ini semua ternyata permainan kalian. Kalian orang-orang yang jahat.” Virly terduduk di lantai. Menatap ketiga orang yang duduk di sofa dengan tatapan ingin membunuh.


“Ya. Lebih tepatnya rencana kami di atas rencanamu. Aku akan berbaik hati memberitahumu. Jangan menyebut kami sebagai orang jahat. Kenyataannya, di sini kamulah yang paling jahat.” Sebelum melanjutkan, Alex menoleh pada Alexis penuh arti. “Sebelumnya saya sampaikan terima kasih pada tuan Alexis. Berkatnya rencana kami berjalan lancar. Terima kasih tuan Alexis.” Alex tersenyum pada Alexis


“Tidak masalah tuan Alex. Apapun yang berhubungan dengan wanita aku akan dengan senang hati membantu.” Alexis menatap Virly dengan lapar. Dari sekian banyak wanita yang pernah ditidurinya, hanya Virly yang masih tersegel. Dan sensasi beda itu ingin kembali ia rasakan.


“Terima kasih pujiannya tuan Alex.”


“Ngomong-ngomong mengenai Bisma, Bisma lah yang mendapatkan obat halusinasi yang diimpor langsung dari Cina. Dengan obat itu, kamu berhalusinasi bahwa yang semalam bersamamu adalah tuan Alexis ini. Sebelum masuk, aku pura-pura terjatuh. Dan saat itulah tuan Alexis menggantikanku. Bukankah ini sengat hebat?” Virly menatap Alex nyalang.


“Kalian orang jahat!” teriak Virly keras.


“Hei hei. Sudah dibilang jangan menyebut kami orang jahat. Pelakor sepertimulah yang layak disebut penjahat yang sesungguhnya.” Alexis berdiri dan menjepit dagu Virly dengan keras. “Sebejat-bejatnya aku, aku tidak pernah menginginkan wanita yang menjadi milik orang lain.” Lanjutnya.


“Cukup sampai di sini. Saya dan istri saya tidak akan mengganggu kalian lagi. Kamu pamit.” Alex membantu Nara berdiri.


“Ah silahkan tuan Alex. Terima kasih jamuan istimewanya ini.” Alexis menatap wajah Virly yang ada tepat di depan wajahnya.


Melihat Alex dan Nara yang akan keluar, Virly segera berdiri dan mengejar keduanya. Tetapi tangan besar Alexis menariknya dengan kuat. Menarik tubuh Virly hingga menabrak tubuhnya sendiri. Alexis segera melingkarkan tangan besarnya di perut Virly. Mengelusnya dengan lembut sambil mengecup leher belakang Virly.


“Lepaskan aku brengsek.” Teriak Virly. Tangannya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Alexis.


“Semalam kamu dalam pengaruh obat. Jadi kamu mungkin lupa apa yang terjadi semalam. Kali ini aku akan mengingatkanmu lagi.” Tanpa menunggu lagi, Alexis menarik tubuh Virly dan menghempaskannya ke atas ranjang. Menindihnya dengan penuh minat.


Di bawah Kungkungan Alexis, Virly meronta dan terus berteriak meminta dilepaskan. Tangan Virly yang terus memukul dada Alexis segera diikat dengan dasi. Bibirnya yang terus berteriak dibungkam dengan paksa. Seberapa kuatnya pun Virly melawan, tenaganya jelas kalah telak dari Alexis. Membuatnya sekali lagi melakukan hal ini dengan Alexis.


**


Serena yang sampai di mansion lebih dulu segera masuk ke dalam kamarnya. Mengemas beberapa pakaian dan keperluan miliknya. Ia berniat ingin pergi dari mansion.


Semua yang telah dia lakukan selama ini begitu keterlaluan. Virly membuatnya membenci Nara. Juga melakukan hal yang menyakiti menantunya itu. Saat ini, hanya penyesalan yang ada di hatinya.


Dalam perjalanan pulang, kenangannya dengan Nara kembali terngiang. Bagaimana kebaikan Nara padanya. Juga usaha yang telah Nara lakukan untuk keluarganya.


Di masa lalu, semua kenangan itu seperti tertutup. Kenyataan bahwa ia bisa tinggal di mansion Juantama adalah berkat Nara terlupakan begitu saja. Hasutan dari Runi dan juga Virly melupakan banyak fakta kebaikan yang telah dilakukan oleh Nara untuknya.

__ADS_1


Mengingat semua itu, rasa bersalah Serena semakin besar.


Setelah selesai mengemas barangnya dalam satu koper, Serena keluar dari kamarnya. Saat ia berjalan hendak keluar, Nara dan Alex sudah menunggunya di ruang tamu.


“Mama mau kemana?” tanya Nara yang melihat Serena membawa koper bersamanya.


“Mama mau pergi. Mama sudah banyak berbuat kesalahan.” Air mata Serena kembali mengalir. “Maafkan mama Nara, Alex. Mama sudah melakukan hal yang jahat pada kalian. Terutama kamu Nara.”


“Ma, kami sudah memaafkan mama. Kami tahu mama berbuat semua itu karena hasutan.”


“Tapi mama tetap bersalah. Jika mama tidak mudah dihasut semua ini tidak akan terjadi. Jadi biarkan mama pergi.”


“Jangan ma. Mama mau kemana jika pergi dari sini?”


“Mama akan mencari kontrakan di pinggir kota yang jauh dari tempat ini. Mama akan berkerja untuk memenuhi kebutuhan mama di sana.”.


“Tidak ma. Mama tidak boleh pergi dari sini. Mama jangan meninggalkan kami.”


“Sayang, jika mama ingin pergi biarkan saja. Toh itu semua keinginan nya.” Alex sejak tadi menatap Serena dengan tajam.


“Mama pergi. Kalian hiduplah dengan bahagia.” Serena menghapus air matanya dan menarik kopernya untuk dibawanya pergi.


“Lex jangan biarkan mama pergi. Tolong tahan mama.” Nara menarik lengan Alex.


“Buat apa Nara? Mama sudah jahat padamu? Kenapa kamu masih saja baik padanya?” Alex menatap Nara tidak percaya.


“Mama berbuat seperti itu karena mama memikirkan kebahagiaan mu. Tolong mengertilah.”


“Apa mama tidak bisa memahami jika kebahagiaanku adalah berada di sisimu? Kenapa dia malah ingin memisahkan kita?” ucap Alex dengan suara keras. Serena yang mendengar itu semakin terisak.


“Semua sudah berlalu Lex. Kita juga masih bersama kan? Tidak ada salahnya memaafkan mama.”


“Huh!” Alex mendengus kesal.


“Demi aku ya. Tolong jangan biarkan mama pergi.” Nara menatap Alex penuh harap.


“Baiklah. Demi kamu aku akan melakukannya meskipun aku sangat enggan. Tapi jika suatu hari nanti mama melakukan hal ini lagi, kamu pun tidak akan bisa menyelamatkannya.”


Nara tersenyum senang. Ia segera mencium dan memeluk Alex.


*


*


*


Terima kasih 😘


Semoga tidak ada yang protes jika Serena dimaafkan begitu saja.


Pada dasarnya, jika seseorang yang merasa bersalah mendapatkan perlakuan yang baik dari orang yang pernah dijahati, orang itu akan mempunyai rasa tidak nyaman setiap saat. Penyesalan akan selalu menghantuinya hingga ia akan berusaha membuat orang yang pernah dijahati selalu bahagia.


Manusia itu tempatnya salah. Jadi jika seseorang telah melakukan kesalahan dan menyadari kesalahannya dan bertobat, rangkul dan dukung orang itu. Bukan malah membuang dan memusuhinya. Dengan begitu, manusia dapat berdampingan hidup dengan baik karena belajar menjadi lebih baik dari sebuah kesalahan.


Apalagi di sini, Serena adalah ibu dari Alex. Bisa melakukan hal-hal itu karena berfikir semua yang dilakukan adalah yang terbaik untuk Alex.


Ah sudahlah. Intinya gitu.


Salam sayang,


Author Naif

__ADS_1


__ADS_2