
Tawa menggema di setiap tempat. Suara anak-anak kecil yang bermain dengan riang di arena playground. Ada juga yang bermain kejar-kejaran dengan teman-temannya.
Taman kota menjadi tempat yang menyenangkan bagi masyarakat untuk menghabiskan waktu libur mereka seperti hari Minggu ini. Kebanyakan yang berada di taman adalah pasangan keluarga. Baik keluarga kecil hingga keluarga besar yang seperti memboyong seluruh anggota keluarganya untuk menikmati hari minggu dengan bersenang-senang di taman.
Para orang tua mengawasi anak-anak mereka yang sedang bermain. Tak sedikit dari orang tua yang ikut menemani putra putrinya bermain. Di beberapa sudut juga terlihat kelompok-kelompok kecil keluarga yang menggelar tikar mereka dengan berbagai makanan dan minuman sebagai pelengkap di tengah mereka.
Namun, macam-macam kegiatan yang dilakukan kebanyakan orang di taman itu sungguh berbeda dengan dua orang paruh baya yang sedang melakukan penyamaran. Ke dua orang tua itu memakai masker menutupi wajah bawahnya. Juga kaca mata hitam yang besar juga bertengger di pangkal hidung keduanya. Ini membuat keduanya tidak bisa dikenali. Mereka berdua berjalan keluar taman setelah selesai menjalankan misi mereka.
Ya, kedua orang itu adalah Rita dan Panji.
Mereka baru beranjak dari sana setelah mereka puas melihat interaksi antara anaknya dengan pasangan ibu muda dan anaknya di depan sana. Tapi lebih tepatnya, sang suami yang puas dan memaksa sang istri ikut mengakui kecocokan keduanya.
“Aduh...” pekik seorang gadis kecil yang menabrak tubuh Rita hingga terjatuh.
“Maaf nenek, Nara tidak sengaja.” Gadis kecil itu adalah Nara. Ia sedang bermain kejar-kejaran dengan Hana sambil menunggu Nadia dan yang lainnya selesai berlatih.
“Maafkan saya nyonya.” Ucap Hana yang baru saja datang. Ia segera meminta maaf pada Rita akibat kecerobohannya. Rita mengangguk. Ia masih mengamati gadis kecil yang terlihat lucu di depannya.
“Nara tidak apa-apa?” Hana memindai tubuh anak majikannya.
“Sikunya terluka. Mari ikut oma. Oma akan mengobatimu.” Ajak Rita. Jiwa seorang ibu melekat padanya. Meskipun kedua anaknya sudah dewasa, ia tetap membawa P3K di dalam tasnya untuk berjaga-jaga.
”Tidak perlu merepotkan nyonya. Saya akan membawa Nara kembali. Di tas mamanya juga ada P3K.” Tolak Hana. Ia tak mau merepotkan orang yang baru saja ia temui.
“Tidak perlu. Di tasku juga ada. Jadi akan lebih cepat ditangani. Sini sayang ikut oma.” Rita mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Nara. Gadis kecil itu tentu saja sangat senang karena ia sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang nenek setelah Minah meninggal.
Hana dan Panji mengikuti dua wanita yang berbeda generasi dari belakang.
“Jadi namamu Nara?” tanya Rita sambil membersihkan luka Nara.
“Iya oma.” Jawab Nara pendek karena ia harus menahan perih di area sikunya.
“Sakit ya?”
“Sedikit. Tapi mama bilang kita tidak boleh menangis karena hal yang kecil seperti ini. Luka ini akan segera sembuh jika dicium mama.” Ucap Nara.
__ADS_1
“Bagaimana kalau oma saja yang menciumnya. Apakah lukanya juga akan segera sembuh?” tanpa menunggu jawaban, Rita mencium kain kasa yang digunakan untuk menutup luka Nara agar tidak infeksi.
“Ini tidak sakit lagi oma. Benar kata mama. Ciuman dari seorang ibu itu adalah ciuman yang paling ajaib.”
Kedua wanita berbeda generasi itu akhirnya membicarakan banyak hal. Sedangkan kedua orang lainnya hanya memperhatikan kedekatan keduanya yang terlihat cepat akrab.
“Itu mama. Mama!” teriak Nara membuat atensi ketiga orang dewasa pada tiga orang yang terakhir datang.
Wajah Nadia sedikit kikuk. Ia merasa canggung sekarang. Bagaimana bisa Nara berada di pangkuan Rita? Apa yang dilakukan keduanya?
Rita sendiri kaget. Ia melihat Nara dan Nadia bergantian. Kenapa ia baru menyadari jika keduanya sangatlah mirip.
“Mama, oma sangat baik. Dia menceritakan kancil dan buaya.” Nara dengan antusias menceritakan pada Nadia.
“Nara, sikumu luka.” Bisma segera melihat siku Nara yang berplester.
“Oh ini tadi Nara lari-lari sama mbak Hana terus jatuh karena nabrak oma.” Jelas Nara.
“Ini pasti sakit kan?” Bisma merasa kasihan adiknya mempunyai luka.
Bisma memeluk Nara. Mengusap punggungnya. Berharap menghilangkan rasa sakit yang dirasakan adiknya.
Melihat keintiman dua bersaudara, Nadia ikut memeluk kedua anaknya. Ia sangat bahagia melihat kedekatan dan kasih sayang yang mereka tunjukkan.
“Kak ayo kenalan sama oma!” Nara menarik Bisma untuk menghampiri Rita yang berdiri di samping Panji.
Rita yang baru mengetahui kebenaran mengenai Nara menjadi sedikit canggung. Namun setelah melihat gadis kecil itu begitu menggemaskan hatinya luluh. Ia pun segera menyambut Nara dan Bisma dengan hangat.
“Anak-anakmu begitu menggemaskan Nadia.” Ucap Rita saat mereka berkumpul duduk bersama sambil mengawasi Bisma dan Nara yang sedang bermain.
Nadia yang diajak bicara secara tiba-tiba sedikit kaget.
“Terima kasih tante.”
“Aku salut padamu bisa membesarkan kedua anakmu dengan baik seorang diri.”
__ADS_1
“Terima kasih tante. Sebenarnya saya tidak sendiri. Ada mas Satria yang membantuku.”
“Satria teman SMK Nathan dulu ma. Kebetulan dia anak tiri Nadia juga.”
“Ha?” Rita tidak bisa tidak kaget. Ia memang mendengar Nadia seorang janda. Tapi ia tidak menyangka jika salah satu anak tiri Nadia bahkan seumuran dengan putra sulungnya. Seketika di dalam hatinya muncul pertanyaan sebenarnya seberapa tua ayah dari dua anak kecil yang sedang bermain riang disana.
Nadia yang menyadari raut wajah terkejut Rita hanya bisa diam. Ia sudah terbiasa mendapati ekspresi seperti itu dari orang-orang yang mengetahui hubungannya dengan Satria.
“Ma, bukankah mereka cucu-cucu yang menyenangkan?” tanya Panji memecah keheningan. Nathan sendiri membiarkan Nadia dan Rita berinteraksi. Dia menggenggam tangan Nadia di sebelahnya.
Rita menghembuskan nafasnya. Melihat tawa Bisma dan Nara yang terlihat menggemaskan. Kemudian melihat raut wajah putranya yang terlihat sangat mencintai Nadia.
“Papa benar. Dengan Nathan menikah dengan Nadia, kita tidak perlu menunggu waktu lama untuk bermain dengan cucu kita.”
Nathan dan Nadia saling berpandangan.
“Maksudnya mama merestui hubungan kami?”
“Apa boleh buat. Mereka terlalu menggemaskan untuk diabaikan.”
Meskipun ucapannya terdengar pedas. Namun di dalam hatinya ia mencoba menerima Nadia sebagai menantunya. Lagipula Nadia telah membuktikan bahwa dia adalah wanita yang baik.
Nadia juga telah membuktikan menjadi ibu yang luar biasa. Membesarkan dua anaknya dengan baik meskipun ia hanyalah seorang single parrent yang belum tentu wanita lain mampu melakukan hal yang sama.
“Terima kasih mama. Sekarang aku akan semakin berusaha mendapatkan restu Bisma.”
“Semoga cepat berhasil agar kami mendapatkan cucu lagi. Ah... tidak sabarnya rumah kita ramai dengan suara anak-anak.” Ucap Panji bersemangat.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
__ADS_1