Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
53. Amarah Devi


__ADS_3

Nadia meminta Joni mengantarkannya ke rumah sakit setelah dari kantor polisi. Bergabung dengan keluarganya yang menunggu jenazah juragan Bondan yang sedang di autopsi.


Nathan dan Dokter Wisnu memutuskan untuk tetap di kantor polisi untuk memberikan kesaksian yang diperlukan.


“Puas kamu sekarang Nadia? Jal*ng yang kamu lindungi telah membunuh bapak. Apa ini yang memang kamu rencanankan?” cecar Devi ketika melihat Nadia baru saja sampai di rumah sakit. Dia segera berdiri. Yulia yang ada di sampingnya juga ikut berdiri.


“Apa kamu masih bisa disebut seorang istri yang baik? Bahkan kamu lebih memilih menemani gadis yang telah membunuh suamimu!” Devi semakin kalap. Ia berusaha menyerang Nadia. Dengan sigap Joni menghalangi tangan Devi yang terus menyerang Nadia.


“Sebenarnya siapa majikanmu hah?! Kenapa kamu membela wanita itu?” teriak Devi pada Joni yang mencoba menghalanginya melukai Nadia. Sedangkan wanita cantik yang juga baru saja menjadi janda itu hanya bisa menangis. Tidak dipungkiri jika ia juga menyalahkan dirinya atas semua yang dilakukan Dian. Dian melakukan pembunuhan untuk membantunya. Tapi sungguh ini bukanlah apa yang ia inginkan.


“Sudahlah bu. Ini bukan salah Nadia.” Kata Sinta yang juga datang bersama suaminya saat mendengar kabar tentang bapaknya.


“Kamu itu sama saja. Dari dulu membela wanita jal*ng ini.” Sarkas Devi sambil mengibaskan tangan Sinta yang akan memegang lengannya.


“Bukan begitu bu. Tapi...”


“Tapi apa? Kalau saja dia tidak menyembunyikan Dian, wanita itu tidak akan pernah membunuh bapak. Huhuhu.”


“Jika saya tidak menyembunyikannya, tentu saja nyawa Dian yang akan hilang di tangan anda. Begitu maksud bu Devi?” sinis Nadia di sela isak tangisnya.


“Apa maksudmu menuduhku seperti itu?” teriak Devi marah. Ia tak menyangka jika Nadia akan menuduhnya di depan semua orang.


“Menuduh? Huh! Ibu pikir saya tidak tahu jika selama ini bu Devi dan Yulia lah yang membuat semua wanita yang hamil anak bapak keguguran bahkan kehilangan nyawa, termasuk nyawa anakku. Bukankah begitu nyonya besar?” Cibir Nadia.


“Jangan mengatakan omong kosong ini?” Devi segera dikuasai amarahnya.


“Jika ini hanya omong kosong. Kenapa bu Devi begitu gugup hah?”


“Diam kau penghianat!” teriak Yulia.


"Siapa yang penghianat. Justru seharusnya kalian berterima kasih padaku karena aku tidak melaporkan tindakan kalian selama ini."


"Untuk apa kami berterima kasih pasa pelakor sepertimu!"


"Jika aku seorang pelakor, sudah sejak lama aku meminta bapak mengusir kaliam berdua dari rumah."


"Beraninya kau!!!"


“Hentikan pertengkaran ini. Saat ini kita sedang berduka. Jangan membuat keributan. Yul, bawa ibu pulang. Ajak dia istirahat.” Yanto menghentikan perdebatan ketiga wanita yang saling berteriak. mereka sedang dalam masa duka. terlebih lagi mereka sedang berada di lingkungan rumah sakit.

__ADS_1


Dengan sedikit paksaan, Devi akhirnya berhasil dibawa pergi oleh Yulia.


Setelah kepergian keduanya, Sinta mengajak Nadia duduk di kursi tunggu. Selain mereka berdua, ada Joni, Yanto, Candra,suami Sinta dan Satria yang duduk tak jauh dari mereka.


“Sebenarnya apa yang terjadi Nad?” tanya Sinta ketika Nadia mulai tenang.


“Ketika aku sedang dirawat di rumah sakit akibat keguguran itu, bu Minah menjual keperawanan Dian pada bapak.” Nadia mendesah. Semua orang yang mendengar cerita Nadia segera menoleh dan memusatkan perhatian pada wanita itu. Baik Sinta, Candra, Yanto dan Satria tidak menyangka hal itu.


“Apakah semua ini benar?” tanya Satria.


“Apakah aku pernah berbohong mengani hal seperti ini?”


“Bukan begitu maksudku Nadia. Tapi bapak...”


“Bapak tidak akan melakukan hal seperti itu maksud mas Satria? Apa yang mas Satria tahu tentang bapak? Dian bahkan sampai depresi setelah kejadian itu. Hati wanita mana yang tidak sakit hati mengetahui suaminya berbuat seperti itu? Seperti apapun bapak, aku masihlah istrinya. Tapi nuraniku sebagai seorang wanita tentu saja tidak akan tega melihat wanita lain kesusahan. Lima bulan lebih aku dan dokter Nathan menyembunyikan Dian dan Bu Minah.” Nadia kembali mendesah. Kenyataan ini sungguh tidak terduga.


“Dokter Nathan?” Sinta bertanya. Dia belum pernah mendengar nama dokter itu selama ini.


“Dokter Nathan adalah dokter yang menggantikan dokter Wati. Kami meminta bantuannya untuk mencarikan seorang dokter jiwa untuk menyembuhkan Dian.” Jelas Joni.


“Tapi dua minggu yang lalu bapak mengetahuinya, dan berakhir memberikan hukuman untukku. Aku dilarang keluar rumah tanpa izin bapak. Dan itu membuat Dian murka.” Nadia menjelaskan.


“Lalu bagaimana dengan ucapanmu tentang para wanita yang keguguran tadi. Apakah itu juga benar?” tanya Satria.


“Itu benar. Selama ini aku telah mengumpulkan banyak bukti, tapi sampai sekarang belum ada bukti yang kuat yang mengarah pada bu Devi.” Jawab Nadia.


“Lalu darimana kamu menyimpulkan jika semua itu perbuatan ibu?”


“Aku pernah mendengar bu Devi dan Mbak Yulia mengatakan rencana mereka. Mulai saat itu, aku selalu berusaha mencari bukti untuk menghentikan keduanya. Paling tidak ada yang bisa aku gunakan untuk mengancam mereka. Tapi semua bukti tidaklah kuat.”


“Aku masih belum bisa percaya jika ibuku mampu melakukan hal seperti itu.” Kata Satria.


“Normal jika mas Satria tidak mempercayai ucapanku. Sebagai anaknya, mas Satria pasti akan membela ibu mas.”


“Saya punya buktinya.” Joni kemudian mengeluarkan handphone miliknya. Membuka salah satu video di sana. Terlihat seorang dukun yang sedang memberikan pernyataannya.


“Dia lah yang memberikan ramuan pada nyonya besar untuk menggugurkan kandungan semua orang. Termasuk kandungan nyonya muda."


Semua orang tercengang mendengar penuturan Joni. Mereka tidak menyangka orang yang mereka hormati mampu melakukan hal sekeji itu.

__ADS_1


"Ramuan ini sudah dibawa ke laboratorium untuk diteliti, dan ternyata memang ramuan inilah yang menyebabkan keguguran. Hanya dengan memberikan dua tetes setiap hari, dalam waktu satu minggu, janin yang dikandung akan gugur." jelas Joni.


“Aku tidak menyangka Yulia dapat melakukan itu.” Yanto menggelengkan kepalanya.


“Semua sudah terjadi mas Yanto. Tidak ada yang perlu disesali. Ini akan menjadi rahasia di antara kita. Kita adalah satu keluarga. Yang perlu kita pastikan bahwa semua ini tidak akan terulang lagi.” Kata Nadia, ia takut jika rumah tangga Yulia dan Yanto akan terganggu.


“Apa kamu tidak berniat membongkar semuanya?” tanya Sinta.


“Aku rasa sekarang itu tidak perlu. Setelah bapak tidak ada. Tidak akan ada lagi yang ditakutkan oleh bu Devi kan? Lebih baik kita rahasiakan semua ini. Bu Devi sudah tua, jika sampai dia dipenjara itu tidak akan baik untuknya. Lisa dan Bima juga masih kecil, kasihan jika ibu mereka harus dipenjara.”


“Baiklah. Aku rasa memang sebaiknya seperti itu.” Kata Yanto.


“Benar. Ini akan menjadi rahasia di antara kita.” Kata Satria sambil menoleh pada Sinta dan suaminya. Dan keduanya mengangguk tanda menyetujui.


Tak berapa lama, tiga orang petugas dari kepolisian menghampiri kelima orang yang masih menunggu di luar ruangan autopsi.


“Bagaimana pak polisi? Apakah kami sudah bisa membawa jenazah bapak kami pulang?” tanya Satria.


“Proses autopsi sudah selesai. Jadi jenazah sudah bisa dibawa pulang ke rumah duka.” Jawab seorang polisi.


“Terima kasih pak polisi.”


“Baiklah kalau begitu kami permisi.” Ketiga polisi itu berlalu sambil membawa beberapa berkas dan barang bukti berupa pakaian yang dipakai juragan Bondan yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik.


Mendapat kabar itu, Satria dan Yanto segera mengurus administrasi untuk dapat membawa jenazah juragan Bondan pulang.


...~*Aku Istri Muda*~


...


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😍


Seperti biasanya, like 👍, Vote, dan komentarnya akoh tunggu 😘

__ADS_1


Pastikan tanda 💙 sudah berwarna biru biar dapat notifikasi update, oke 😉


__ADS_2