
Mobil Alex sudah berhenti di pelataran kantor Mahardika lima belas menit yang lalu. Sang sopir pun sudah turun dan sekarang tengah ngobrol sambil merokok bersama dengan para sopir yang lain di tempat istirahat dekat kantor satpam.
Tapi mesin mobil masih menyala. Dua orang yang duduk di kursi penumpang masih tenang dengan posisi mereka. Yang satu sedang tertidur pulas berbantalkan kaki satu orang yang lain yang mulai terasa kram.
“Aku akan meminta imbalan yang setimpal atas rasa sakit ini nanti.” Gerutu Alex.
Nara yang berada di bawahnya samar-samar mendengar suara yang tak asing di telinganya. Ia mulai mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya.
“Sudah bangun?” ucap Alex saat melihat Nara membuka lebar kedua matanya sambil bergegas bangun dari posisi nya. Alex segera menggoyangkan kakinya ke kanan dan ke kiri.
“Maaf.” Cicit gadis itu. Nara meringis melihat Alex yang kesakitan akibat ulahnya. Entah berapa lama ia tidur dengan posisi itu.
“Hanya seperti itu?” Alex menaikkan sebelah alisnya.
“Terima kasih.” Ucap Nara akhirnya.
“Dan rasa kram yang aku rasakan?”
“Maaf...” ucap Nara lagi. “Aku kan tidak tahu kalau aku tidur di kakimu.”
“Rasa sakit yang aku rasakan harus mendapatkan imbalan yang sesuai.” Alex tersenyum smirk. Melihat reaksi Nara yang paham akan maksud nya, ia mengetuk pipi kanannya dengan jari telunjuk nya. Memberi tahu Nara dimana dia harus menciumnya.
“Kenapa kamu jadi mesum begini sih Lex? Dimana kamu yang dingin itu?” Nara menggerutu. Ia mengepalkan tangannya.
“Aku kan menuruti keinginan mu. Kamu tidak suka dengan pria dingin. Jadi aku pikir kamu akan suka dengan pria mesum.” Ucap Alex bangga. “Tunggu apa lagi? Apa aku saja yang menciummu?” lanjutnya saat melihat Nara hanya diam saja.
“Tidak-tidak!” ucap Nara panik sambil mengibaskan tangannya. Alex tersenyum puas. “Aku yang akan menciummu.”
“Baiklah. Kalau kamu bersikeras untuk menciummu, aku tentu saja akan dengan senang hati mempersilahkan nya.” Mendengar ucapan sombong Alex Nara hanya berdecih. Percuma juga menanggapi manusia paling narsis itu. Padahal dia yang meminta untuk dicium, sekarang dia berkata seperti Nara lah yang memaksa untuk mencium. Dasar!
“Ayo cepat.” Ucap Alex mendekatkan wajahnya.
“Huh!” Nara mendengus sebelum memajukan wajahnya bersiap untuk mencium pipi Alex.
Namun saat Nara hendak menempelkan bibirnya ke pipi Alex, laki-laki bergerak cepat dengan membalik wajahnya sehingga sebuah ciuman bukan didapatkan oleh pipinya melainkan bibir nya. Dengan cepat pula ia melingkarkan tangannya di pinggang Nara. Menarik tubuh gadis itu menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Alex masih bisa menahan diri. Dia tidak melewati batas dengan menikmati bibir Nara dengan buas. Hanya ciuman capung yang ia inginkan untuk saat ini. Jangan sampai gadis yang ia cintai merasa tidak nyaman dan malah membencinya jika ia terlalu agresif.
Nara mendorong tubuh Alex yang masih memeluknya setelah ciuman singkat itu.
“Ish. Apa jadinya jika karyawanmu tahu kamu mesum begini.” Ejek Nara sambil memperbaiki bajunya yang kusut.
“Mereka tidak akan ada yang percaya. Aku hanya mesum padamu saja.” Jawab Alex santai.
“Aku yakin jika kak Bisma tahu kamu memanfaatkanku seperti ini dia akan menghajarmu.” Ancam Nara.
Alex terkekeh. “Tenang saja aku sudah memiliki SIM K dari Bisma. Jadi jangan khawatirkan aku.” Alex memandang Nara dengan senyum kemenangan.
“SIM K?”
“Iya SIM K.”
“Surat Izin Mendekati Kamu. Hahahaha. Tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Wajah tampanku ini tidak akan terluka sedikitpun karena Bisma.”
“Aku verifikasi, aku tidak mengkhawatirkan kamu!” Sangkal Nara. Siapa juga yang khawatir?
“Aleeeex.” Teriak Nara kesal. Ia dengan cepat keluar dari mobil Alex. Berlama-lama berada di dalam mobil bersama Alex tidak akan baik untuknya. Alex tersenyum melihat tingkah Nara. Ia sangat suka menggoda gadis itu. Apalagi tadi kakinya yang kram tidak akan nyaman digunakan untuk berjalan. Jadi dia berusaha mengulur waktu.
Alex ikut turun dan berjalan di samping Nara. Mereka berjalan berdampingan sampai di ruangan Bisma.
“Apa yang kau lakukan Lex?” tanya Nara saat ia baru membuka laptop miliknya. Alex tersenyum jail melihat ekspresi masam Nara.
“Itu pekerjaan ku. Ada yang salah?”
“Apa-apaan kamu ini! Kurang ajaaar!” Nara memukuli Alex yang ada di sampingnya. Alex hanya diam menerima pukulan dari Nara yang baginya tidak terasa sakit. Ia malah tertawa terbahak-bahak.
Bisma yang awalnya duduk tenang di kursi Nathan segera menghampiri keduanya. Meraih laptop Nara yang diletakkan di atas meja. Sedetik kemudian dia sendiri tertawa terbahak-bahak seperti reaksi Alex.
Bagaimana mereka tidak tertawa melihat foto Nara yang berdandan cantik oleh Alex diedit dengan berbagai macam tambahan yang aneh. Ada yang tubuhnya diganti dengan tubuh boneka, ada yang diberi tanduk dan juga kumis, ada juga yang awalnya di dalam foto Nara bergaya dengan menggantung tas tangannya, sekarang oleh Alex diganti dengan menggantung keranjang berisi emoticon tawa. Dan masih ada yang lain yang tak kalah anehnya. Foto-foto itu kemudian oleh Alex dibuat kolase dan diatur sebagai wallpaper sehingga begitu Nara membuka laptopnya, ia akan melihat hasil karyanya yang luar biasa.
Merasa ditertawakan oleh dua orang termenyebalkan di dunia, Nara segera meraih laptopnya kembali. Membuka file foto untuk menghapus hasil karya Alex yang aneh dan menyebalkan. Lalu dia akan menggantinya dengan fotonya yang cantik. Itu pasti lebih baik.
__ADS_1
Nara sudah menyelesaikan pekerjaan mengubah wallpaper nya. Kini ia sudah akan melanjutkan mengerjakan pekerjaannya yang tadi tertunda karena ketiduran.
“Kalian berdua berhenti tertawa!” kata Nara keras. Dia merasa sedang dibully saat ini oleh dua orang balok besi. Mendengar nada bicara Nara yang terdengar marah membuat keduanya diam. Mereka kembali duduk di tempatnya dan mengerjakan pekerjaan masing-masing.
“Bukankah kamu memiliki kantor sendiri? Kenapa kamu masih belum pulang juga?” tanya Nara yang melihat Alex malah sibuk disini bukan di kantornya sendiri.
“Aku juga memiliki saham di sini. Jadi aku juga berhak. Lagipula, kamu akan kebingungan mencariku nanti.” Jawabnya santai. Meskipun Nara tidak mengerti maksud dari ucapan Alex, ia lebih memilih membiarkan saja.
Nara mendengus. Memang Jawaban apa yang ia harapkan dari Alex si narsis ini? Lebih baik ia fokus pada pekerjaannya.
Namun ketika ia membuka filenya, ia bingung. Dia tidak menyangka semuanya sudah siap. Bahkan ada beberapa poin tambahan yang tertulis disana. Dia yakin itu pasti perbuatan Alex. Tentu saja.
Nara memicingkan matanya ke arah Alex yang duduk tak jauh darinya. Laki-laki itu sedang fokus pada ponselnya.
“Kenapa? Ada yang salah?”
“Ini kamu yang menyelesaikan nya?” tanya Nara. Padahal tanpa bertanya seharusnya ia tahu.
“Tentu saja. Apa kamu pikir pak Farid bisa mengerjakan sesuatu sesempurna itu!” lagi-lagi Nara mendengus. Baiklah pekerjaan Alex memang sempurna. Ia akui itu. Dan point yang ditambahkan Alex juga sangat berguna.
“Terima kasih.” Ucap Nara tulus. Alex hanya berdehem.
“Kamu akan menyukai bagian akhirnya.”
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🥰
Adakah yang jawabannya benar? Hahaha🤩
Kena preng! Wlek😜😝😛🤪
__ADS_1