
Hari ini, Nadia membuat janji dengan dokter Nathan. Nadia ingin meminta tolong pada dokter tampan itu. Mengenai kondisi yang dialami Dian, jelas dokter Nathan yang lebih mengerti. Apalagi dokter Nathan juga sudah bertemu dengan Dian saat memberikan pertolongannya ketika Dian mencoba mengakhiri hidupnya.
Dokter Nathan jelas tidak keberatan. Dia memang berniat untuk menemui Nadia dengan alasan yang sama. Mengenai Dian.
Semenjak dia bertekad untuk berjuang bersama Nadia dan Joni, ini pertama kalinya ia merasa tenaganya digunakan. Nadia dan Joni mungkin tidak ingin melibatkan Dokter Nathan lebih jauh dalam urusan mereka. Ini berbahaya.
Dokter Nathan dan Joko sudah menunggu Nadia di sebuah kafe di luar desa. Lagi pula ini adalah pertemuan rahasia yang harus disembunyikan, jadi mereka memilih tempat yang jauh untuk bertemu.
Tak lama setelah menunggu, Nadia dan Joni sudah masuk ke dalam kafe dan segera mendatangi kedua orang laki-laki yang telah menunggu merekan.
“Maaf kami terlambat.” Kata Nadia sambil membungkukkan sedikit badannya.
“Tidak masalah Bu Nadia, Joni, mari silahkan duduk.” Dokter Nathan memberi isyarat bagi keduanya untuk duduk.
Seorang pelayan segera menghampiri mereka setelah Dokter Nathan melambaikan tangan untuk memanggil. Keempat orang itu memesan makanan dan minuman mereka. Pembicaraan mereka akan menguras tenaga. Jadi lebih baik dimulai dengan acara makan.
“Jadi, bu Nadia sudah tahu?” tanya dokter Nathan setelah sebelumnya Nadia menjelaskan apa tujuannya menemui dokter muda itu.
“Ya dokter.”
“Saya awalnya tidak begitu mengerti apa yang terjadi pada gadis itu sehingga menyebabkan dia sampai depresi berat. Tapi dari apa yang saya dengar barusan, saya sudah mengerti penyebabnya. Saya sangat menyayangkan hal ini terjadi pada gadis semuda dian.”
“Begitulah dokter. Yang terjadi pada Dian sungguh tindakan yang tidak manusiawi. Bagaimana ibunya bisa dengan mudahnya menyerahkan anak gadisnya pada seseorang yang sudah jelas hanya bisa merusak.” Nadia mengaduk jus alpukat miliknya. Matanya menerawang begitu banyak hal yang terjadi. Dibandingkan dengan nasibnya, nasib yang dimiliki Dian jelas lebih menyedihkan.
Nadia menghela nafas. Nasibnya yang sudah seperti ini masih ada yang melebihinya.
“Lalu rencana kita selanjutnya bagaimana?” dokter Nathan menatap lekat wanita cantik yang duduk di hadapannya.
Nadia mengangkat wajahnya, matanya membalas tatapan serius dokter Nathan dengan tatapan yang tak kalah serius. Sedangkan kedua anak buah kedua orang yang sedang berdiskusi hanya menyimak kedua atasan mereka.
“Saya sudah berhasil membujuk Bu Minah untuk keluar dari desa sementara waktu hingga semuanya aman. Dan saya butuh bantuan dokter untuk menyelesaikan psikis Dian yang terganggu.”
“Baiklah. Saya punya kenalan seorang psikolog sekalogus dokter Jiwa yang tidak jauh dari sini.”
__ADS_1
“Baiklah. Untuk urusan tempat tinggal dan segalanya selama disana akan menjadi urusan saya.”
“Baiklah bu Nadia, saya akan segera menghubungi teman saya agar bisa dilakukan tindakan.”
“Hem... menurut dokter, dengan keadaannya yang sekarang, apakah kehamilan Dian tidak akan terpengaruh?” Nadia ragu mengemukakan apa yang ia fikirkan. Menjadi seorang wanita hamil tidaklah mudah, apalagi dengan kondisi psikis yang terganggu. Nadia takut keadaan ini akan membahayakan keduanya.
“Sedikit banyaknya pasti berpengaruh Bu Nadia. Tapi untuk saat ini, kesehatan jiwa Dian yang menjadi prioritas kita.”
Nadia mendesah, suaminya yang berbuat, dirinya yang harus dibuat repot seperti ini.
“Apakah kali ini kita melibatkan juragan Nad?” tanya Joni. Beberapa bulan ini, laki-laki tua itu agak melunak. Mungkin ia bisa membantu.
“Tidak dalam arti yang kasar, dan iya dalam arti yang lebih halus.” Nadia menyeringai licik. Sebuah ide tercetak di kepalanya.
“Maksudnya?” Joni melihat seringaian itu. Dan ia tahu bahwa Nadia mempunyai rencananya sendiri untuk itu. Setelah cukup lama berada di sisi Nadia, jelas dia sedikit banyak mengerti apa yang ada di otak cantik Nadia. “Kamu bukan berniat...”
“Ya Jon. Memang itu maksudku.”
“Tenang saja. Itu menjadi urusanku. Kamu tidak perlu khawatir oke?” Nadia mengedipkan sebelah matanya. Mencoba menenangkan laki-laki yang duduk di sebelahnya.
Joni hanya bisa mendesah dan mengiyakan. Lagi pula Nadia itu seorang yang keras kepala. Seperti apapun mengubah niatnya, jika dia sudah bertekad siapapun tidak akan pernah berhasil mengubahnya.
“Apa yang kalian rencanakan?” kecurigaan dan kekhawatiran muncul begitu saja di hati dokter Nathan. Walaupun sedari awal ia menyimak apa yang kedua orang itu bahas, tak sedikit pun pemahaman yang ia dapatkan.
“Ah dokter Nathan. Ini hanya masalah kecil.” Jawab Nadia canggung.
“Kita ini satu team oke. Dan saya minta tidak ada rahasia diantara kita dalam misi ini.” Dokter Nathan tidak bisa dibegitukan. Jika sesuatu yang akan Nadia lakukan berbahaya, tentu ini akan menjadi masalahnya. Mereka bergerak dalam satu team. Mempunyai tujuan yang sama. Sudah seharusnya saling membantu dan bekerja sama.
“Hahahaha. Dokter, tidak perlu serius seperti ini. Saya hanya akan sedikit bermain dengan isi rekening suami saya. Itu saja.” Jawab Nadia dengan memutar telunjuknya di mulut gelas. Menjawabnya dengan canggung. Lagi pula dalam prosesnya, tentu saja tubuhnya yang akan banyak bekerja. Dan akan sangat memalukan jika membahas cara untuk keberhasilan “Permainan isi rekening” yang dimaksud Nadia.
Baiklah, karena pembahasannya menyangkut suami, itu artinya masalah pribadi dalam rumah tangga. Dokter Nathan tahu diri dan tidak ingin membahasnya lagi. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
“Nyonya muda...” Joko berkata dengan sedikit gemetar. Dia gugup. Bagaimana pun ini pertama kalinya ia berbicara secara langsung dengan wanita berstatus istri muda itu.
__ADS_1
“Kamu kenapa Joko? Sepertinya wajahmu terlihat pucat.” Tanya Nadia. Sejak awal, Nadia tidak begitu memperhatikan Joko yang memang senak awal hanya diam. Tapi saat laki-laki muda itu terlebih dulu memanggilnya, Nadia melihat ada jejak ekspresi yang sulit diartikan dalam wajah itu.
“Tidak tidak nyonya muda. Saya baik-baik saja. Sungguh.” Joko menggelengkan kepalanya dengan berulang kali. Menandakan bahwa dia memang sedang dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja, dia sedikit merasa Nervous.
“Kamu kenapa Joko? Berbeda sekali sepertinya. Ada yang salah?” dokter Nathan merasakan anak buahnya yang biasanya bersikap tenang entah kenapa tiba-tiba kehilangan ketenangannya.
“Saya baik-baik saja dokter. Hanya saja.. hanya saja...”
“Apa? Hanya apa?” tanya Dokter Nathan panik.
“Saya hanya gugup.” Jawabannya membuat ketiga orang yang duduk bersamanya dalam satu meja mengernyitkan dahinya. Ketiganya dilanda kebingungan dan pertanyaan yang sama. Apa yang membuatnya gugup?
“Bicara yang jelas.”
“Saya hanya gugup karena ini pertama kalinya saya Bicara kepada Nyonya Muda.” Joko merasa malu. Penyebab gugup yang agak aneh.
Tawa menggelegar milik Joni keluar begitu saja. Bahkan bodyguard serba bisa itu masih sempat-sempatnya mengejek majikannya di sela tawanya yang keras.
“Hahaha Nadia, sepertinya wajahmu sangat menakutkan hingga membuat seorang pemuda merasa gugup. Hahaha.”
Sedangkan Dokter Nathan yang menjadi atasan dari Joko hanya bisa tersenyum simpul. Sudah lama ia tahu bahwa Joko adalah salah satu orang yang begitu mengagumi Nadia dari jauh. Ya. Dari jauh. Tidak ada yang berani melewati garis teritorial maya yang dibangun Juragan Bondan di sekitar Nadia. Secara alami, reaksi Joko tergolong normal untuk kelas seorang fans yang bertemu idolanya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa mampir juga ke cerita akoh yang lain ya😬
Setiap cerita akoh tidak memiliki cerita yang sama bahkan mirip sekalipun, semuanya jauh berbeda. 😉
Tingkiu....
__ADS_1