Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_50. Bagaimana Para Saksi? Sah?


__ADS_3

Kedua mempelai sudah duduk di depan Satria yang akan menjadi wali nikah untuk Nara. Keduanya duduk dengan kerudung putih menutupi kepala mereka. Membuat keduanya seakan terhubung. Di samping satria seorang laki-laki dengan memakai kemeja formal berwarna hitam duduk dengan buku dan kertas di depannya.


Nathan dan Bisma duduk di samping Nara menjadi saksi. Sedangkan dua orang yang sama sekali tidak dikenal duduk di samping Rafael yang juga bertindak sebagai saksi.


Tangan Rafael sudah menjabat erat tangan Satria yang bergetar di atas meja dengan penutup putih dengan hiasan bunga beraroma harum. Wajah Rafael jelas terlihat sangat bahagia dengan senyum kepuasan di bibirnya. Lain halnya dengan Nara.


Beberapa orang sudah siap dengan kamera di tangannya untuk menangkap setiap momen sakral ijab qobul.


Wajah Nara yang terbiasa terbingkai dengan senyum manis kini lenyap lah sudah. Namun bukan kesedihan maupun keputusasaan yang menggantinya, melainkan ketegaran yang tercetak jelas.


Gadis itu sudah pasrah dengan jalan hidup yang harus dilaluinya. Jika memang pada akhirnya ia harus menikah dengan Rafael, ia pun akan menerima. Namun bagaimana ia menjalaninya nanti, ia memiliki rencananya sendiri.


“Ayo Nara. Jangan tunjukkan kelemahanmu pada siapapun! Buktikan jika kamu memang pantas menjadi putri seorang Nadia. Wanita tangguh yang selalu jadi inspirasi mu.” Semangat Nara dalam hati. Putri Nadia tidak boleh cengeng. Putri Nadia harus memiliki ketegaran ibunya.


Berbeda lagi dengan beberapa wanita yang duduk bersama Nadia. Wanita yang menjadi inspirasi bagi ketegaran Nara malah menangis terisak. Meskipun Nara sudah memberitahu segalanya, dirinya masih tidak bisa menyembunyikan keputus asaannya. Wanita itu kehilangan sinarnya. Apalagi sampai acara ijab qobul hampir dimulai, ia tidak mendapati tanda-tanda bahwa rencana Nara berhasil.


Belum lagi Tasya, Yulia, Lisa dan Nita yang duduk bersamanya. Mereka seperti bukan menghadiri acara ijab qobul, melainkan menghadiri sebuah pemakaman. Dengan air mata yang tak hentinya keluar dari lima mata wanita itu, jika mereka tidak menghentikan tangis mereka, bisa dipastikan tempat itu akan banjir air mata.


Ada juga wajah-wajah heran. Wajah dengan raut wajah heran sekaligus bingung ini dimiliki oleh ketiga sahabat Nara yang sudah tidak berhenti tersenyum setibanya di dalam hotel. Bukan salah mereka jika mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Namun saat ini, senyum mereka juga sudah lenyap.


“Apa yang terjadi sih?” Gita bertanya pada Vera.


“Entahlah. Ini apa hanya aku yang merasa apa kalian juga merasa ada yang tidak beres di sini?” Syifa bertanya pada kedua sahabatnya. Matanya berkeliaran memindai semua orang.


Menurut ketiganya, Nara menikah dengan Rafael adalah sesuatu yang sudah sewajarnya. Rafael baik hati, lembut. Ramah dan juga tampan. Selain itu, mereka juga tahu betul jika Rafael juga merupakan pebisnis muda yang sukses. Tidak ada alasan untuk menjadikan pernikahan ini sesuatu yang membuat sedih.


“Aku juga merasa.” Jawab Gita sambil berbisik karena merasa suasana semakin 5erasa aneh dari waktu ke waktu.

__ADS_1


“Aku juga.” Vera juga mengiyakan. Melihat banyaknya tangis di acara sakral pernikahan ini memang tidak aneh, tapi....


“Mungkin mereka menangis karena bahagia.” Putus Syifa akhirnya. Dengan terpaksa, kedua rekannya yang lain mengangguk dengan berat meskipun di dalam hati mereka jelas masih menginginkan jawaban yang sebenarnya.


Meninggalkan ruangan ijab qobul yang memiliki banyak rasa, di tempat yang lain keriuhan terjadi.


Berita pernikahan antara Nara dengan Rafael menjadi trending topik yang menggeser popularitas berita Alex dan Diandra yang memang sudah mulai surut.


Kabar pernikahan Rafael dengan Nara menjadi sangat terkenal seketika. Secara otomatis, identitas Nara yang merupakan putri dari keluarga Mahardika yang merupakan keluarga pemilik Mahardika Grup juga terekspos.


Berita itu cukup menggemparkan di kantor pusat Amerta Corp. Mereka sebelumnya tidak pernah menyangka jika anak kuliahan yang sedang melakukan penelitian di kantor mereka adalah seorang putri dari pemilik perusahaan sebesar Mahardika.


“Ternyata Kinara itu putri Mahardika.” Kata seorang karyawan yang baru saja tiba di kantor.


“Iya lho. Nggak nyangka banget ya? Memang sih kalau dilihat dari penampilannya, ia selalu menggunakan pakaian dari brand terkenal. Belum lagi mobil yang ia pakai.” Jawab yang lain sambil mengetuk dagunya. Mencoba menggali ingatannya mengenai sosok Nara.


Yang mereka lupakan adalah, jika memang Nara menggunakan kekuasaan, apa perlunya ia sampai pergi ke perusahaan lain di saat perusahaannya tidak kalah besar dari Amerta?


“Kamu benar. Jadi itu juga alasan mengapa tuan Alex memperlakukan Kinara dengan cara berbeda?”


“Tepat!” seru yang lain.


“Benar-benar! Apalagi tuan Bisma dari Mahardika kan sahabat tuan Alex. Jadi pasti tuan Alex merasa tertekan saat harus memperlakukan Kinara dengan spesial.” Hah...melenceng jauh lagi.


“Hem... Ini jadi semakin jelas. Sebelumnya tuan Alex pasti merasa tidak nyaman jika mengabaikan Kinara yang menyukainya. Jadi dengan terpaksa menerima dan menjauh dari gadis yang sebenarnya ia cintai.” Wah wah wah... Jika perkataan ini didengar oleh yang bersangkutan pasti akan sangat murka.


“Tapi sekarang tuan Alex sudah bebas setelah Kinara menemukan tuan Rafael. Dan tuan Alex akhirnya bisa bersama dengan nona Diandra. Bukankah mereka pasangan yang serasi?”


Para lambe-lambe ini sepertinya perlu mendapat bimbingan konseling beserta orangnya. Sangat mudah menjadi netizen. Apa yang dilihat, akan mereka anggap sebuah kebenaran tanpa mencari tahu dengan benar.

__ADS_1


Kembali lagi ke hotel....


“Tuan Satria, bisa kita mulai sekarang.” Penghulu mempersilahkan satria memulai acara.


Satria menghirup napas dalam sebelum berucap...”Saya nikahkan, adik saya yang bernama Kinara Pramudita Maheswari Mahardika binti Bondan Darusman dengan....” Satria menghentikan kalimatnya. Ia lupa. Padahal ia sudah menghafalnya dari pagi. Dan sepertinya saat latihan tadi semuanya lancar. Tapi kenapa saat ini pikirannya seperti nge-blang?


“Nama mempelai prianya Rafael Saputra bin David Wirama.” Penghulu di sampingnya membaca kertas yang berisi keterangan nama masing-masing mempelai dan juga besarnya mahar yang diberikan. Menunjukkan kertas itu pada Satria, berharap laki-laki yang usianya tidak jauh darinya itu bisa mengingatnya dan acara yang sudah diundur hingga dua jam segera selesai. “Bisa diulangi lagi?” lanjutnya. Satria mengangguk sebagai jawaban.


Beberapa kali kalimat ijab berusaha Satria ucapkan, hingga penghulu menyarankan untuk satria mengambil air wudhu untuk menenangkan diri. Sebagai penghulu, baru kali ini ia mendapati yang grogi adalah wali nikahnya. Karena kebanyakan adalah mempelai Pria yang tidak hafal atau salah berucap karena grogi.


Meskipun begitu, penghulu itu berusaha untuk bersabar meskipun banyak pertanyaan Yanga dan di hatinya. Sebelumnya, ia mengira jika wali nikah yang merupakan kakak dari mempelai wanita akan berumur jauh di bawahnya. Namun saat melihat Satria yang bahkan sepertinya lebih tua beberapa tahun darinya, dia tidak bisa tidak u tuk tidak terkejut.


Setelah mengambil air wudhu, untuk keempat kalinya berusaha, akhirnya Satria berhasil mengucapkannya dengan lancar.


Setelah Satria selesai mengucapkan kalimat bagiannya, Rafael segera mengucapkan kalimat bagiannya dengan lancar dan dengan suara yang lantang.


Mendengar jawaban yang lantang yang keluar dari mulut Rafael, penghulu segera bertanya pada keempat saksi. “Bagaimana para saksi? Sah?”


*


*


*


Dag Dig dug jantung berdegup❤️


Kasih jempol dulu jika mau lanjut 😁


Wakakakaka😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2