Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
6.Kalah Oleh Harta


__ADS_3

Benar apa yang dikatakan oleh Sinta. Menjelang malam, juragan Bondan datang ke rumah Nadia. Memastikan sendiri gadis yang dia sebut sebagai calon istrinya. Dia sungguh sudah tidak sabar menjadikan Nadia istri dan menikmati kemolekan tubuh gadis muda itu.


Sinta menemani Nadia yang duduk di depan juragan Bondan di ruang tamu rumahnya. Genggaman erat tangan Sinta mengalirkan kekuatan untuk berani membuka mulutnya untuk mengajukan permintaan pada laki-laki paruh baya yang sialnya dia sebut sebagai calon suaminya. Sungguh menjijikkan walau hanya membayangkannya.


"Bagaimana keadaanmu Nadia?" Juragan Bondan memandang Nadia dengan seksama. Mencari tahu sendiri jawabanya dengan matanya.


"A-aku s-sudah baik juragan." kata Nadia gugup. Dia melirik Sinta yang tersenyum ke arahnya. Meyakinkan semua akan sesuai rencana.


"Kalau begitu, bisakah kita menikah besok?" tatapan mesum sungguh membuat kedua gadis itu merasa mual. Umurnya bahkan sudah lebih dari setengah abad.


"Sebelum saya menikah dengan anda. Saya punya satu syarat juragan." Nadia semakin gugup. Dengan tubuh gemerar dia memberanikan diri memandang wajah rentenir tua di hadapannya.


Juragan Bondan tertawa. Mendengar perkataan yang keluar dari bibir merah alami Nadia, juragan Bondan senang bukan kepalang. Bukankah itu berarti Nadia telah menerima jika dia akan menikah dengannya.


"Apa syarat yang kau ajukan? Berapa mas kawin yang kamu inginkan dariku?"


"Ini bukan masalah mas kawin. Ini menyangkut masa depan saya."


"Masa depanmu adalah menjadi istriku. Tanpa bekerjapun kamu akan bergelimang harta." bibir Juragan Bondan berkedut.


"Saya tahu itu juragan. Tapi ini adalah syarat saya."


"Ohohoho. Baiklah. Katakan saja."


"Setelah saya menikah, saya ingin memastikan kalau saya masih bisa kuliah."


Juragan Bondan terkejut. Bukankah tempat gadis itu menuntut ilmu tempatnya jauh. Apakah gadis itu sedang mempermainkan nya?


"Di kampus Sinta ada jurusan yang sama dengan jurusan yang di ambil Nadia bapak. Aku fikir Nadia bisa pindah kesana." Sinta memberanikan diri. Walaupun dia adalah anak kandung juragan Bondan, tapi pria paruh baya itu seperti tak pernah menganggap adanya hubungan darah dengan siapapun. Tak ada kasih sayang yang dia berikan selain uang kepada anak-anaknya.


"Kalian sedang tidak menipuku kan?" tanya Juragan Bondan penuh selidik. Ia takut jika anaknya juga akan membantu Nadia kabur darinya.


"Tidak juragan. Kalau saya masih kuliah, setidaknya saya akan punya kegiatan lain selain melayani anda. Jadi saya tidak akan bosan." hoek! bahkan aku harus mengatakan hal yang menjijikkan itu. lanjut Nadia dalam hati.


"Hahahaha. Baiklah kalau itu maumu. Besok aku akan mengantarmu untuk mengurus kepindahan mu."


"Itu tidak perlu Bapak. Aku yang akan menemani Nadia. Lagian bapak disini harus menyiapkan pesta pernikahan bukan?"


"Kamu benar Sinta. Aku yakin kalian akan jadi pasangan anak tiri dan ibu tiri yang kompak." Kedua gadis itu tersenyum. Nadia merasa hatinya teriris mendengar dia akan menjadi ibu tiri bagi sahabatnya sendiri.


"Apa kamu bisa menjamin bahwa Nadia tak akan lari?" kini pandangan penuh selidik tertuju pada Sinta. Gadis itu harus memberikan jaminan yang kuat agar bapaknya bisa percaya padanya.


"Jika Nadia kabur, maka aku akan bersedia menikah dengan Juragan Roki seperti yang bapak inginkan."


Ya. Beberapa bulan yang lalu, juragan Bondan mendapat lamaran dari sahabatnya sesama rentenir untuk anak ketiganya itu. Juragan Roki itu sama dengan bapaknya. Rentenir bau tanah. Tentu saja Sinta menolak dengan keras.

__ADS_1


"Kamu sungguh percaya pada ibu tirimu Sinta. Baiklah. Kubiarkan kalian pergi besok. Anak buahku akan mengawasi Kalian."


"Baik juragan."


"Jangan coba-coba untuk kabur. Ingat aku masih mempunyai calon bapak mertua miskin tersayangku yang ada di tanganku. Aku bisa saja membunuhnya sewaktu-waktu."


Ancaman juragan Bondan tidak pernah main-main. Sebuah nyawa bahkan seperti tidak ada artinya bagi seorang juragan Bondan.


...****...


Sepeninggal Juragan Bondan, Nadia dan Sinta mempersiapkan segala sesuatunya. Kesempatan yang mereka miliki mungkin hanya itu. Tak ada yang boleh tertinggal.


Sebelumnya, Nadia telah mengkonfirmasi pada pihak kampus mengenai syarat-syarat untuk kepindahanya. Pihak kampus menyayangkan keputusan Nadia. Namun apa bisa dikata.


Tentu saja alasan yang sebenarnya dari kepindahan itu disembunyikan. Nadia bilang jika dia ingin kuliah di tempat yang lebih dekat dan dapat merawat bapaknya yang sudah mulai renta.


Pagi-pagi sekali, kedua gadis itu meninggalkan desa mereka dengan menaiki mobil yang dikendarai oleh antek-antek juragan Bondan. Nadia hanya pasrah mengenai itu. Yang paling penting sekarang adalah pendidikan nya tetap berjalan.


"Tenang Nadia. Aku akan menemanimu."


"Terima kasih Sinta. Jika kamu tidak ada. Aku mungkin sudah hancur tak bersisa sekarang."


"Itulah gunanya sahabat Nad."


Setelah perjalanan selama lima jam, akhirnya rombongan Nadia sampai di depan kampusnya. Sinta dan Nadia meregangkan otot mereka yang kaku.


Sinta mengancam antek bapaknya agar tak mengikuti mereka. Akan sangat canggung jika mereka dikawal oleh para antek-antek yang berwajah seram itu.


Deby segera menghambur memeluk sahabatnya yang sudah satu minggu tidak bertemu. Apalagi dia sudah mendengar sedikit cerita dari Nadia di telfon kemarin. Rasanya dia ingin menarik Nadia dari masalah yang menjeratnya, tapi dia sendiri juga berasal dari keluarga dalam golongan ekonomi ke bawah.


"Sabar ya Nad." Deby menepuk punggung sahabatnya. Begitu berat cobaan yang dihadapi Nadia. Baru seminggu ibunya meninggal dan sekarang malah masuk dalam jerat rentenir.


"Do'akan aku Deb."


"Tentu saja Nad."


"Kenalkan Deb. Ini temanku Sinta. Sinta ini Deby, temanku juga." kedua gadis yang diperkenalkan itupun saling berjabat tangan.


"Jadi beneran kamu mau pindah?" tanya Deby pada Nadia saat mereka sudah duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Deby.


"Ya Deb. Ini semua berkat Sinta. Jadi setidaknya aku bisa tetap melanjutkan kuliah."


"Bagaimana dengan pekerjaanmu di kafe?"


"Aku sudah menghubungi mbak Rita kalau aku resighne. Setelah dari sini aku akan kesana Deb." Nadia menghembuskan nafas kasar. "Sebenarnya aku sangat berat meninggalkan kehidupanku disini. Walaupun aku harus bekerja keras untuk hidup disini, aku menikmatinya." keluh Nadia.

__ADS_1


"Aku yakin kamu bisa menjalani semuanya Nad. Aku tahu kamu gadis yang kuat." Sinta memeluk Nadia. Deby ikut memeluk mereka berdua.


"Kalau suatu saat kamu memerlukan bantuan dariku. Kamu bisa menghubungiku Nad." Deby memandang lekat sahabatnya.


"Terima kasih Deb. Semoga pertemanan kita tetap terjalin."


"Ya. Kamu adalah sahabat yang baik."


"Tolong temani aku menemui pihak kampus Deb. Kamu nggak ada kelas kan?"


"Nggak kok. Hari ini masuk siang. Baiklah. Ayo pergi."


Ketiga gadis itu berjalan beriringan. Tidak ada pembicaraan sepanjang jalan. Ketiganya sibuk dengan piikirannya sendiri. Kehidupan Nadia akan berubah setelah semua ini.


Nadia terpaksa meninggalkan kampus yang sejak dulu diincarnya. Dia pun sudah berjuang dengan keras agar mendapatkan beasiswa agar dapat kuliah di kampus itu. Semua berakhir sekarang. Tapi dia harus bersyukur karena tetap bisa melanjutkan pendidikan walaupun di kampus yang tidak sebagus kampusnya sekarang.


Sudah dua tahun Nadia menempuh pendidikan di Kampus ini. Banyak yang sudah dia pelajari. Walaupun tidak banyak teman yang dia kenal karena Nadia merasa tidak pantas bergaul dengan mereka yang notabene adalah orang-orang kaya dan terpandang. Lalu siapakah dia? Gadis kampung miskin yang mengandalkan beasiswa untuk mendapatkan ilmu dari kampus elit itu.


Nadia mengambil nafas lalu mengeluarkan nya pelan sebelum dia masuk ke dalam ruang administrasi. Di tempat inilah dia memulai menggantungkan mimpinya. Mencoba peruntungan dengan kuliah di kampus elit tempat para horang kaya kuliah. Berharap bisa memperbaiki nasib keluarganya yang sejak dulu berada di garis kemiskinan.


Saat Nadia keluar dari ruangan itu, setetes air matapun lolos dari kedua bola matanya. Segera dia menghapus butir air mata itu sebelum kedua temannya mengetahuinya.


Nadia tak mau orang lain ikut sedih merasakan luka hati yang bersarang di hatinya. Biarlah penderitaan yang dialami hatinya hanya ia yang rasa. Biarkan mereka yang disayangi bahagia. Dia akan ikut melebarkan senyumnya walaupun hatinya menangis.


Deby mengantarkan Nadia dan Sinta sampai ke depan mobil yang akan membawa mereka kembali ke desa.


Sebelum masuk ke dalam mobil yang dibukakan oleh Tarjo, Nadia mengedarkan pandangannya ke area kampus. Dia akan pergi sekarang. Walaupun dia tidak banyak mempunyai kenangan disana, tapi rasa sesak saat meninggalkan tempat itu tentu saja ada.


Apalagi dia meninggalkan kampus itu dengan alasan yang akan mengubah hidupnya. Nadia segera masuk ke dalam mobil sebelum tangisnya benar-benar pecah disana.


Setelah Nadia masuk ke dalam mobil, Tarjo segera menutup pintu dan masuk mobil melalui pintu depan, duduk di kursi samping kemudi. Deby melihat mobil yang membawa sahabatnya kembali ke desa. Ke tempat dimana penderitaan Nadia akan dimulai. Ke tempat yang akan membuat Nadia merasa dikalahkan oleh harta. Benar-benar kalah.


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir ๐Ÿ˜...


...Maaf Typo bertebaran ๐Ÿ™...


...Like ๐Ÿ‘ VOTE ๐Ÿ˜ dan Rate ๐ŸŒŸ lima...


...Ramaikan juga kolom komentar biar Akoh semangat Up ๐Ÿ˜Ž...

__ADS_1


...โคโคโคQueen_OKโคโคโค...


...๐ŸŒพKediri Raya๐ŸŒพ...


__ADS_2