
Hari-hari berikutnya merupakan hari yang cukup santai unuk Nadia. Duo serigala yang selalu membuat masalah dengannya juga sepertinya masih diam dan belum mengambil langkah apapun. Ini membuat Nadia sedikiterasa bosan berdiam diri di rumah.
Dan hari ini, Dua minggu setelah kepergian juragan Bondan, secara alami Nadia mendapatkan kembali kebebasannya. Waktu berkabung telah berlalu. Dan ia bisa keluar rumah dengan lebih bebas sekarang. Namun dia tidak lagi menjadi salah satu guru di sekolah. Dia lebih memfokuskan diri pada sanggar dan kasus hukum yang dihadapi Dian. Dia mulai datang lagi ke sanggar keterampilan.
Pagi ini, saat Nadia sedang berjalan kaki ditemani oleh Joni yang berjalan di belakangnya menuju sanggar, seorang gadis cantik menghentikan langkahnya.
“Permisi mbak, mas.” Sapa gadis itu sopan. Nadia dan Joni segera menghentikan langkahnya. Merasa sapaan itu mengarah padanya.
“Ya. Ada yang perlu kami bantu?” tanya Nadia tak kalah sopan. Memindai gadis di depannya yang asing dan penampilannya jauh berbeda dari kebanyakan gadia di desanya. Dia jelas pendatang.
“Apakah kalian tahu dimana tempat tinggal dokter Nathan?” tanyanya. Nadia dan Joni saling berpandangan. Mereka tidak dapat memberikan alamat seseorang begitu saja. Mengetahui kebimbangan dua ornag yang baru di temuinya, Jennika memperkenalkan diri.
“Ah. Perkenalkan, nama saya Jennika. Saya adalah calon tunangan Dokter Nathan. Saya mendengar dari calon mertua saya jika Dokter Nathan mengabdi di desa ini. Jadi saya segera menyusulnya.” Lanjutnya. Senyum bangga menghias bibirnya.
“Oh begitu. Saya Nadia, dan ini Joni. Kebetulan kita searah. Apakah mbak Jennika mau sekalian bersama kami?”
“Apakah kalian juga mau ke rumah dokter Nathan?”
“Eh tidak. Saya mau ke sanggar keterampilan. Kebetulan searah.”
“Sanggar ketrampilan?” tanya Jennika antuisias.
“Ya. Yah semacam perkumpulan warga desa yang membuat berbagai jenis keterampilan. Kalau mbak Jenika ada waktu senggang, silahkan mampir.” tawar Nadia. Gadis di depannya sedikit menarik.
“Tentu saja. Saya sangat menyukai barang-barang kerajinan. Mereka unik. Bolehkah saya minta nomor mbak Nadia?”
“Tentu.” Keduanya pun bertukar nomor telfon. Mereka juga banyak berbicara selama perjalanan. Ini adalah perjalanan yang paling menyenangkan untuk Nadia. Sudah lama ia tidak bicara dengan sesama wanita secara normal.
Dari pembicaraan keduanya, Jennika sebenarnya datang dengan mengendarai mobilnya, namun karena mobil itu mengalami pecah ban di ujung desa, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki. Lagipula pemandangan di desa ini sangat indah.
Joni yang berjalan di belakang kedua wanita yang sedang saling mengobrol dan sesekali bercanda merasa diabaikan. Keduanya tampak akrab dalam waktu yang relatif sempit. Nadia kini mulai mendapatkan kembali jati dirinya yang dulu. Ceria dan penuh aura positif. Tanpa senyum palsu dan juga intrik.
Namun senyum samar terselip di bibir Joni. Laki-laki itu turut bahagia melihat senyum Nadia dan sifat cerewet yang biasanya hanya ditunjukkan padanya.
“Ah, Jennika kita sudah sampai. Ini adalah rumah dokter Nathan. Kita pisah sampai disini. Tapi jika kamu membutuhkan sesuatu di desa ini, kamu bisa mengandalkanku. Oke?” bagus, bahkan panggilan mereka sudah semakin akrab.
Nadia memegang lengan Jennika sambil tersenyum tulus. Bagaimanapun Jennika berasal dari luar kota. Selain Dokter Nathan tidak ada lagi yang dia kenal di sini. Sebagai seorang kenalan baru sepatutnya menawarkan bantuan. Apalagi mereka sama-sama perempuan.
“Baiklah Nadia, terima kasih banyak sudah mengantarkanku sampai disini. Entah apa aku akan bisa menemukan tempat ini tanpamu. Dan untuk tawaranmu itu, tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.” Jennika adalah seorang gadis yang hangat.
__ADS_1
“Oke. Bye Jennika.” Nadia melambaikan tangannya saat dia mulai berjalan mengikuti arah jalan.
Setelah berjalan cukup jauh, Joni yang sedari tadi memperhatikan senyum Nadia memberanikan diri bertanya. Dia mensejajari langkah Nadia sebelum bertanya.
“Menurutmu bagaimana Nona Jennika.”
“Baik.” Satu kata meluncur mulus bahkan tanpa difikirkan.
“Kamu tidak cemburu?” Nadia menghentikan langkahnya. Joni reflek mengikuti.
Nadia menatap tajam Joni. Matanya menyipit tidak suka.
“Jangan membahas yang tidak-tidak Jon. Tanah kuburan bapak masih basah bisa-bisanya kamu bertanya hal seperti itu. Lagi pula, aku bukan siapa-siapa dokter Nathan. Kenapa aku harus cemburu?”
“Tapi yang aku lihat...”
“Memang apa yang kamu lihat? Isi hati seseorang tidak ada yang tahu. Sesuatu yang terlihat kadang tidak seperti apa yang terlihat.” Joni tak bisa berkutik.
Mungkin dia yang terlalu bersemangat. Tapi memang semenjak juragan Bondan tiada, besar harapannya bahwa Nadia dan dokter Nathan akan menjadi pasangan suatu hari nanti. Tapi setelah hari ini ia bertemu dengan seorang gadis yang mengaku sebagai calon tunangan dokter Nathan, di dasar hatinya, ia menjadi tidak rela.
Baginya, selain Nadia nya, tidak ada yang lebih layak bersanding dengan dokter Nathan. Mengesampingkan bahwa dalam sekali lihat, Nadia dan Jennika setara dalam hal kecantikan. Keduanya memiliki sisi cantik yang berbeda namun memiliki daya tariknya masing-masing.
Sisi keanggunan dan keagungannya menggetarkan siapa saja yang melihat. Mata Nadia yang begitu teduh namun menyimpan begitu banyak hal yang menghanyutkan. Terbingkai bulu mata lentik yang panjang. Hidung kecil dengan dagu lancip yang indah.
Sedangkan Jennika memang lebih mungil dari pada Nadia. Dengan tinggi badan lima senti di bawah Nadia, dia terlihat lebih awet muda. Apalagi dengan kulit putih selembut bayi. Ia akan terlihat seperti nona muda yang memiliki wajah bayi.
Ekspresi wajah yang ceria sepanjang waktu membuat kecantikannya tak membuat jenuh siapa pun yang memandang. Matanya lebar dan berbinar seperti tanpa beban. Bibirnya yang mungil berpoles lipstik berwarna pink cerah menunjukkan betapa semangatnya ia.
Sifat keduanya juga seperti dua mata koin yang berbeda. Jennika lebih ceria, penuh semangat dan sedikit centil. Sejak kecil hidup dalam gelimang harta dan limpahan kasih sayang dari semua orang di sekitarnya membuatnya hidup dalam kebahagiaan dan jauh dari kesulitan dan kesedihan. Menjadikannya tumbuh menjadi anak yang manja.
Berbanding dengan Nadia yang terbiasa hidup dalam kesederhanaan selama hidupnya. Dengan banyaknya rintangan hidup yang harus ia lalui membuat dirinya jauh lebih dewasa dari gadis seperti Jennika meskipun keduanya seumuran. Membuatnya terkesan terlihat dingin dan menyendiri. Namun, meskipun Nadia terlihat dingin di luar namun dia sebenarnya pribadi yang hangat jika sudah mengenal.
Di tempat lain...
Seorang laki-laki muda berparas tampan baru saja terlonjak karena kaget. Sedangkan di sampingnya, pemuda desa polos begitu terpesona melihat gadis cantik imut yang terlihat menggemaskan di depan mereka berdua.
“Dokter Nathan.” Sapa gadis itu dengan mata berbinarnya.
“Kenapa kamu ada disini?” Nathan menunjuk Jennika di depannya. Ekspresinya tidak bisa ditebak.
__ADS_1
“Aku? Tentu saja karena aku merindukanmu.” Jennika langsung bergelayut manja di lengan Nathan. Meletskkan kepalanya di bahu Nathan. Sedangkan si pemilik lengan segera berwajah gelap. Namun ia tidak bisa menyinggung gadis ini. Bisnis keluarganya sedang dipertaruhkan sekarang.
“Di sini lingkungan desa. Bertindak seperti ini sangat tidak sopan. Jaga perilakumu.” Dengan enggan Jennika melepaskan tangannya.
“Aku kan merindukanmu. Padahal aku Cuma minta waktu satu minggu saja untuk bisa bersamamu. Apa itu begitu sulit?”
“Aku seorang dokter Jen. Dan tidak ada penyakit yang mengenal hari libur. Apalagi sampai selama itu.”
“Makanya berhentilah jadi dokter disini. Ayo pulang bersamaku. Aku akan minta papa angkat kamu jadi direktur di rumah sakit. Jadi kamu akan punya banyak waktu luang untukku.”
“Ini semua tidak sesederhana yang kamu bicarakan. Kedua orang tuaku memberiku waktu untuk menikmati kebebasanku menjalankan profesiku sebagai dokter sebelum aku benar-benar melepas gelar itu. Jadi aku tidak bisa pergi.”
“Baiklah Dokter Tampan. Karena kamu masih akan tinggal disini. Maka aku juga akan tinggal disini.” Jennika memberikan keputusannya secara sepihak. Dia adalah Jennika Wiratmaja, putri bungsu keluarga Wiratmaja yang menjadi putri kesayangan. Kedua kakak laki-lakinya yang sangat menyayangi dan selalu memenuhi keinginannya. Tidak ada yang menolak keinginannya.
“Hidup di sini tidak mudah Jen. Tidak ada mall, cafe, bahkan Sinyal sulit. Kamu tidak akan bisa bertahan.” Perkataan Nathan membuat Jennika berubah murung. Semua yang disebutkan Nathan adalah kesukaannya, tapi bahkan semua itu tidak ada disini.
“Tidak masalah. Karena kamu sudah bersembunyi di tempat yang tidak mengizinkanku mengganggumu sepanjang waktu, aku akan mulai mengganggumu secara langsung.” Kedua sudut bibir gadis itu terangkat. Sepertinya keputusan yang baru saja ia buat adalah yang paling hebat.
*
*
*
......~*Aku Istri Muda*~......
Dalam kisah cinta selalu ada rintangan.
Tergantung setiap pribadi bagaimana menyikapinya.
Ketika lulus menghadapi rintangan itu, rasa cinta akan semakin bertambah.
Namun sebaliknya, jika kita menyerah dan kalah, rasa cinta itu akan terkikis sedikit demi sedikit sebelum akhirnya menghilang...
So, Perjuangkan cintamu sobat!
Tapi harus cinta yang murni dan bukan yang terlarang lho ya😄
Terima kasih sudah mampir ☺️
__ADS_1
Seperti biasanya, sempatkan diri untuk memberikan like 👍komen😎 dan vote😍. Terima kasih 🙏