
Pagi ini untuk pertama kalinya Nadia makan bersama keluarga besar dari suaminya. Dia duduk di sebelah Sinta yang dari tadi menatapnya dengan nanar.
Juragan Bondan tak melunturkan senyum bahkan Sedetikpun. Dengan bangga dia bahkan menyatakan bahwa dirinya telah puas menikmati malam pengantinnya bersama Nadia.
Hal itu tentu saja membuat Devi dan kedua anaknya meradang. Yulia, Anak pertama juragan Bondan yang sudah menikah dan telah mempunyai dua orang anak bahkan menatap Nadia dengan tatapan kebencian.
Belum lagi Satria, anak kedua juragan Bondan yang dulu menganggap Nadia adik kini memandangnya seperti ingin membunuhnya.
Satria memandang sang ibu yang memasang wajah sedih dari kemarin membuatnya terpukul. Merasa ibunyalah orang yang paling tersakiti dengan pernikahan ini. Dia mengira bahwa Nadia lah yang telah menggoda bapaknya.
Selama ini Satria tinggal di kota. Dia tidak mau meneruskan pekerjaan bapaknya. Dia memilih memulai usahanya sendiri sehingga dia tidak pernah tahu kelakuan bapaknya yang gemar mencari daun muda untuk memuaskan hasratnya.
Nadia menunduk mendengar pembicaraan Juragan Bondan. Betapa malu dan terpuruknya dia. Tangan Sinta menggenggam erat tangannya. Mencoba memberikan ketenangan pada ibu barunya. Cih! Ibu baru!
Setelah sarapan, Sinta mengajak Nadia untuk ikut ke kamarnya. Sedangkan anggota keluarga yang lain melakukan aktifitas mereka seperti biasa.
"Kamu baik-baik saja kan Nad?" tanya Sinta setelah keduanya masuk ke dalam kamar.
Nadia segera menubruk sahabatnya itu. Dilimpahkannya air matanya di dalam pelukan sahabatnya. Satu-satunya orang di rumah ini yang mengerti kesedihan yang dia rasakan.
"Aku hancur Sin. Hancur." adu Nadia. Air matanya lolos begitu saja. Membuat baju belakang Sinta basah oleh air mata. Air mata kesedihan.
"...." Sinta tak bisa bicara. Hanya air matanya lah yang menunjukkan bahwa ia merasa sedih atas apa yang terjadi pada Nadia.
"Aku kotor Sin."
"Jangan bicara seperti itu Nad. Kamu melakukannya dengan suami kamu."
"Ya." Itu memang benar. Nadia memang melakukan itu dengan suami nya. Sah di mata hukum dan negara. Memang tidak salah apa yang telah mereka lakukan. Apa yang dilakukannya tidaklah membuat dirinya kotor. Tapi apakah itu bisa mengobati luka Nadia?
Dia sendiri bahkan merasa lebih dari sekedar pel*cur yang menjual dirinya. Dirinya hanya pemuas nafsu belaka. Dia melakukannya secara terpaksa. Diiringi air mata dan kesakitan. Tidakkah ada yang bersimpati untuk itu? Tangis Nadia semakin pilu.
"Aku tahu kamu kecewa Nad. Tapi kamu harus tetap tegak berdiri. Kamu harus bangkit dan mengalahkan semua kesedihanmu. Kamu tidak boleh larut terlalu lama dalam kesedihan. Ingat perjuangan kita demi melindungi masa depanmu." kata Sinta pada Sahabatnya. Dia tentu saja ikut merasa sedih atas apa yang terjadi. Tapi dia harus kuat. Dia harus menjadi penyemangat untuk sahabatnya yang telah dihancurkan oleh bapaknya.
"Kamu benar Sin."
__ADS_1
"Anggap saja tak pernah terjadi sesuatu Nad. Lupakan jika itu menyakitimu. Biarkan saja bapak melakukan apapun yang dia mau. Tapi apapun itu jangan sampai merusak impian dan semangat pada dirimu sendiri. Kamu mengerti?"
"Terima kasih Sin."
"Sama-sama. Itulah gunanya sahabat. Sekarang kamu tidurlah disini. Aku tahu semalam kamu pasti lelah menangis. Lihatlah kantung matamu itu. Pasti air matanya sudah habis sekarang." Sinta menghapus air mata Nadia yang membekas di pipi putih itu.
Sinta membantu Nadia berbaring. Diselimutinya Nadia. Menunggu Nadia sampai masuk ke dalam mimpinya. Sinta tahu betul perasaan Nadia saat ini pasti sangat terpukul.
Setelah Nadia tertidur, Sinta memperhatikan bekas merah di leher Nadia. Dia ngilu membayangkan apa yang dialami sahabatnya itu. Segera ditariknya selimut itu agar menutupi leher Nadia yang dipenuhi kissmark karya bapaknya. Bapaknya menghabisi Nadia semalam. Dia tahu jika bapaknya selalu meminum obat kuat ketika akan melakukannya. Maka dari itu, ibunya sudsh tidsk sanggup melayani hasrat bapaknya yang tak lekang oleh waktu. Hehehe
Sinta sungguh tak menyangka jika bapaknya mampu melakukan itu di umurnya yang sudah senja.
...***...
"Kenapa kamu melindungi wanita jal*ng itu?" suara berat itu membangunkan Nadia. Namun dia masih berpura-pura tidur. Satria masuk ke dalam kamar Sinta dan mendapati Sinta tengah menjaga Nadia yang tertidur di kasurnya.
"Stt. Mas jangan berisik." Sinta mengajak Satria untuk keluar dari kamarnya.
Nadia meneteskan air mata mendengar sebutan dari Satria untuknya. Apa salahnya disini? Bahkan dia sendiri diseret dalam pernikahan yang terpaksa ia lakukan. Kenapa ada orang yang tega menyebutnya sebagai seorang jal*ng.
"Mas jangan bicara seperti itu tentang Nadia."
"Kamu membela wanita murahan itu Sinta?"
"Nadia bukan wanita murahan mas."
"Kalau bukan wanita murahan tentu dia tidak akan mau menikah dengan laki-laki yang lebih pantas disebut bapak olehnya."
"Mas tidak tahu apa-apa tentang Nadia."
"Kamu membela wanita itu dari pada ibu kandungmu sendiri hem?"
"Disini bukan ibu yang paling tersakiti. Tapi Nadia."
"Nadia? Hah?! Omong kosong! Derajatnya terangkat sekarang. Seorang anak dari seorsng buruh kasar kini menjadi nyonya di rumah ini. Apapun yang dia minta akan terwujud. Menderita dari mana hah?! Dasar gadis licik."
__ADS_1
"Aku kecewa pada mas. Dimana mas Satria yang lembut dan perhatian?"
"Mas tidak akan pernah lembut pada pelakor. Semua orang bilang jika Nadia menggoda bapak. Meminta bapak untuk dinikahi. Wanita macam apa yang bertindak seperti itu hah? Hanya wanita jal*ng yang bisa melakukan itu di saat masih ada seorang istri yang mendampingi seorang suami." Satria meninggalkan Sinta yang berisi airmata. Mendengar kakaknya menyebut Nadia dengan sebutan jal*ng sungguh membuatnya ikut merasakan sesak di hatinya.
Di kampung memang sudah tersebar gosip bahwa Nadia lah yang meminta untuk dinikahinya oleh juragan Bondan. Siapa yang tega menyebarkan gosip tidak bermutu seperti itu?
Mereka tidak tahu kebenaran dari semua ini. Memang banyak gadis yang menginginkan posisi sebagai istri dari juragan Bondan yang merupakan orang terkaya di desa itu. Tapi itu bukan Nadia. Nadia sama sekali tidak menginginkannya. Jika bukan karena baoaknya yang disekap oleh juragan Bondan. Dia sudah melarikan diri. Bahkan dia akan bersembunyi di ujung dunia jika perlu.
Nadia menikah hanya untuk menebus hutang. segepok uang yang harus dibayar dengan mahkotanya. Dibayar dengan tubuhnya. Dibayar dengan masa depannya. Dibayar dengan sisa usianya
Air mata itu mengalir begitu saja. Tubuhnya yang serasa remuk bahkan tak sesakit luka di hatinya. Harga dirinya sudah hilang sekarang. Tidak akan ada yang bisa dia banggakan. Hidupnya memang sudah hancur.
Sinta masuk dan mendapati Nadia meringkuk di bawah selimut. Selimut itu bergetar menandakan manusia di dalamnya sedang larut dalam kesedihan. Menangis pilu merenungi nasib yang begitu buruk.
"Nad" Sinta menepuk pundak Nadia yang tertutup selimut. "Jangan dengarkan suara orang lain. Biarkan mereka bicara sesuka mereka hem." lanjutnya.
"Ini terlalu menyakitkan Sin."
"Aku fikir aku hanya akan menderita secara fisik saja. Aku tidak menyangka jika luka di hati lebih menyakitkan Berkali-kali lipat. Aku tidak sanggup lagi Sin." Nadia menyingkap selimutnya. Memeluk sahabatnya. Dia butuh pelukan sebagai tempat bersandar sekarang.
"Kamu harus semangat Nad. Masih ada aku yang selalu mendukungmu. Masih ada bapakmu yang masih menunggu suksesmu."
"Sekarang sepertinya itu tidak akan mungkin Sin."
"Dengarkan aku Nadia. Lusa kita akan mulai kuliah. Kamu bisa menghilangkan kesedihan kamu oke? Masa depanmu harus tetap cerah. Kamu masih mau kan menjadi guru dan membebaskan anak kecil disini."
Tujuan Nadia kuliah memang untuk menjadi guru. Kemudian dia akan berjuang menarik kehidupan warga desa dari belenggu kejam juragan Bondan. Warga sudah terlalu lama dibodohi oleh lintah darat itu. Dia tidak akan membiarkan gadis lain merasakan hal sama seperti dirinya.
*
*
*
^^^~***Aku Istri Muda ***~^^^
__ADS_1