
Satu minggu telah berlalu. Setiap hari, Jennika akan selalu ikut Nadia ke sanggar. Dan ketika sore tiba, gadis itu menghabiskan waktunya untuk mendekati Nathan. Berharap dapat mengambil hati dokter tampan itu.
Hari ini adalah hari Minggu. Itu artinya ada banyak waktu bagi Jennika untuk dapat bersama Nathan. Sejak jarum jam menunjukkan angka tujuh, gadis itu sudah duduk manis di kursi teras.
Minggu lalu, Jennika baru berada di rumah itu setelah jam sembilan. Tapi laki-laki yang ingin ditemui ternyata tidak berada di rumah. Nathan pergi ke kota untuk menemui Nathasya. Jadi untuk mengantisipasi hal yang sama terulang, Jennika memutuskan untuk datang begitu ia selesai sarapan.
“Kenapa kamu sudah ada disini?” tanya Nathan mendapati gadis cantik itu tersenyum cerah kepadanya.
“Hehehe. Ini hari minggu. Jadi akan banyak waktu yang bisa aku habiskan denganmu dokter.”
Nathan mendesah. Awalnya ia ingin pergi belanja mencari kenang-kenangan untuk rekan-rekannya di puskesmas. Dengan adanya Jennika, ia terpaksa harus menundanya dan mungkin akan lebih praktis memesannya via online.
“Apa maumu sekarang?” tanya Nathan pasrah. Jennika tidak akan mudah dikalahkan.
“Dokter Nathan mau kemana? Aku tidak keberatan menemanimu kemanapun kamu pergi.”
“Itu bisa ditunda.”
“Baiklak, kalau begitu ayo jalan-jalan. Sepertinya ladang di sekitar ini terlihat sangat indah.”
“Baiklah. Tunggu sebentar.”
Jennika tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Senyumnya terlihat sangat manis.
Tak lama berselang Nathan sudah keluar dengan baju santainya. Kaos polo berwarna hitam dengan celana jeans setinggu lutut. Penampilannya terlihat lebih segar dari biasanya.
Jennika yang melihat Nathan dalam penampilan seperti itu tidak bisa tidak terpesona. Nathan tampak lebih muda dari usianya. Penampilan yang biasanya ditutupi dengan pakaian formalnya memang tampak memukau. Tapi penampilan seperti ini terlihat, Wau!
“Wah wah Dokter! Kamu sangat tampan! Bagaimana bisa aku akan melepaskanmu begitu saja?”
“Sudahlah. Tidak usah banyak bicara jika masih ingin pergi.”
“Tentu saja. Aku akan diam.” Kata Jennika sambil menggerakkan tangannya di depan mulut seperti gerakan mengunci dengan senyum manisnya.
Nathan segera berjalan menuju arah ladang yang berada di sebelah barat karena pemandangan disana akan lebih indah. Jennika tentu saja dengan ringan mengikuti di belakangnya.
Jennika begitu menikmati pamandangan di sepanjang jalan. Di hadapannya, terbentang luas pemandangan yang indah.
__ADS_1
Sejauh mata memandang, hamparan padi yang telah menguning terlihat seperti permadani. Indah dan berkilau terkena cahaya matahari pagi. Angin sepoi-sepoi yang menyapa wajah keduanya menyejukkan jiwa.
“Dokter, bukankah itu Nadia.” Tunjuk Jennika pada sosok yang berada hampir di tengah hamparan luas itu. Berdiri dengan anggun di sana. Tak jauh darinya, Joni berjongkok beberapa meter di sebelahnya. Seperti sedang mengamati sesuatu.
“Nadia!” teriak Jennika membuat beberapa orang sedang bekerja di sawah menoleh. Pun dengan Nadia yang Menampilkan paras sempurna terbias sinar matahari.
Nadia tersenyum mendapati gadis yang dikenalnya mendekat. Namun bukan hanya seorang mendekat, melainkan dua. Dan Nadia juga segera mengenali orang yang datang bersama Jennika.
“Hai Nad. Kebetulan sekali kita bertemu disini.” sapa Jennika ketika ia sudah berada di dekat Nadia.
“Hai Jen. Selamat pagi dokter Nathan.” Nadia menyapa sambil memiringkan tubuhnya untuk dapat melihat Nathan yang berdiri di belakang Jennika.
“Pagi Bu Nadia. Ada apa di tengah seperti ini?”
“Kebetulan saya ingin jalan-jalan. Pagi ini cerah tidak seperti Biasanya. Akan sangat cocok untuk jalan-jalan.”
“Aku juga merasa seperti itu. Makanya aku mengajak Dokter Nathan kemari.”
“Baguslah. Kita bisa menikmati pagi bersama.”
“Selamat pagi Joni. Apa yang kamu lakukan?”
“Emm. Sebenarnya ada sedikit masalah dengan ladang beberapa minggu ini. Para petani mengeluhkan banyaknya belalang yang mengganggu tanaman padi mereka.” Jawab Joni.
Nathan mengernyitkan dahinya. Ada masalah itu dan ia tidak mendengarnya. Joko yang biasanya selalu update denga n berita terbaru tidak mengatakan apapun mengenai ini.
“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Nathan kemudian.
“Sepertinya semua sudah teratasi. Aku lihat di beberapa lahan belalangnya sudah normal.” Jawab Joni.
“Itu bagus. Masalah teratasi.” Kata Nadia.
Senyum Nadia terpancar. Rona kebahagiaan jelas terlihat disana. Nadia yang menerima laporan seperti itu segera bergerak cepat. Nadia meminta peternak bebek untuk membawa bebek mereka untuk mengatasi belalang. Dan itu berhasil.
Nadia menunduk untuk menyentuh tangkai padi. Setiap butirnya penuh dan berisi. Tersenyum puas. Padi adalah tanaman andalan disini di saat musim penghujan seperti sekarang. Jika hasilnya bagus, tentu saja warga sekitar akan makmur.
“Sepertinya kamu sangat menyukai tumbuhan padi.” Kata Jennika.
__ADS_1
“Tentu saja. Padi adalah lambang kemakmuran. Semakin baik hasilnya. Semakin makmur pula warga sekitar. Selain itu, padi adalah guru yang baik untuk kita. Jika kita bisa hidup seperti bagaimana padi itu tumbuh, kita akan menjadi manusia yang paling baik.”
“Anda benar bu Nadia. Jika seseorang bisa hidup seperti padi, yang rendah hati, dia akan menjadi manusia paling hebat.”
“Nad, hari sudah hampir siang, bukankah kamu tadi meminta mbok Darmi membuatkan somay untukmu.” Joni mengatkan nyonya mudanya karena mereka belum sempat sarapan ketika keluar rumah tadi.
“Wah benar sekali. Pantas saja pertuku rasanya keroncongan. Apakah kalian mau mampir?” tanya Nadia sambil memandang Jennika dan Nathan bergantian.
“Maaf bu Nadia, sebenarnya saya sangat ingin berkunjung, tapi ada sesuatu yang harus saya lakukan.” Jawab Nathan. Dengan datang ke rumah besar tidak akan menjadi baik untuk Nadia. Nathan tahu jika rumah yang dihuni Nadia bukan seperti rumah normal seperti biasanya. Apalagi dengan tiadanya juragan Bondan di rumah itu, ia tak mau membuat Nadia kesusahan.
“Yah sayang sekali Nadia. Aku ingin ikut denganmu. Tapi aku hanya punya waktu sedikit dengan dokter Nathan. Jadi, maaf aku juga tidak bisa ikut.”
“Itu tak menjadi masalah. Kamu bisa datang kapanpun ke rumahku Jen.”
“Tentu.”
“Baiklah kalau begitu kami permisi.” Nadia segera berjalan keluar dari sawah diikuti Joni di belakangnya. Banyak warga desa yang menyapanya. Bagi warga desa, Nadia bukan hanya seorang nyonya muda, Nadia seperti dewi penyelamat untuk mereka. Mempunyai Nadia di sisi mereka membuat mereka percaya suatu saat mereka semua akan makmu dan bahagia.
“Nadia sangat hebat ya dokter!” Jennika tidak dapat menutupi kekagumannya pada Nadia. Sosok itu sungguh membuatnya iri. Mampu melakukan apapun dengan sempurna dan anggun.
“Dia wanita terhebat yang pernah ada.” Jawab Nathan sambil berjalan melewati Jennika yang diam terpaku mendengar jawaban Nathan. Ini mengisyaratkan bahwa laki-laki muda incarannya jelas mempunyai rasa tertarik pada perempuan lain.
“Tidak adakah harapan untukku? Bahkan pesonaku kalah telak dari seorang janda desa.” Gumam Jennika sambil berjalan cepat menyusul Nathan.
Nathan tidak bisa lagi berjalan santai ketika melihat seorang pria yang ia kenali tertelungkup di atas tanah dengan banyak luka di tubuhnya. Dokter itu segera berlari dan memeriksa keadaan pria itu.
“Joni! Apa yang terjadi?” tanya Nathan panik saat melihat Joni berusaha mempertahankan kesadarannya.
“Nadia diculik.” Dua kata yang terucap sebelum mata itu terpejam sempurna.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir😍
__ADS_1