Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_86. Nara Sembuh


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu sejak Nara melakukan operasi untuk mengangkat kanker yang ada di dalam rahimnya. Operasi berjalan lancar dan sukses. Setelah melakukan pemeriksaan beberapa kali menunjukkan hasil yang memuaskan.


Sel kanker berhasil diangkat secara menyeluruh. Tidak ditemukan sisa sel kanker yang tertinggal sehingga Nara dinyatakan bebas dari kanker dan tidak perlu lagi melakukan kemoterapi yang sudah direncanakan sebelumnya.


Hari ini Nara dinyatakan sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit.


Alex mendorong kursi roda Nara berjalan di depan. Di belakangnya, Nadia dan Nathan berjalan dengan bergandengan tangan. Di belakang mereka, pak Farid membawa dua buah tas besar di kedua tangannya. Belum lagi satu buah ransel yang ada di belakang punggungnya. Tas-tas itu berisi barang-barang dan juga perlengkapan Nara dan Alex selama di rumah sakit. Dari tiga buah tas itu, dua diantaranya adalah milik Alex.


Kenapa?


Itu karena, Selama Nara dirawat di rumah sakit, Alex juga lebih memilih tinggal di sana untuk menemani istrinya. Sepulang bekerja, pria itu akan langsung pergi ke rumah sakit. Itulah mengapa lebih banyak barang yang dibutuhkan Alex dari pada Nara.


Sesampainya di parkiran, Alex memindahkan Nara ke dalam mobil. Setelah memastikan Nara sudah duduk dengan nyaman, ia melipat kursi roda dan diletakkan di kursi depan. Setelah itu ia duduk di samping Nara.


“Hati-hati bawa mobilnya ya pak.” Nathan memberi pesan pada pak Farid yang baru saja menutup bagasi mobil setelah meletakkan semua tas yang dibawanya.


“Siap tuan. Saya akan hati-hati.” Namun Nathan masih melanjutkan beberapa kalimat untuk pak Farid yang kesemuanya berisi pesan agar pak Farid berhati-hati dalam menyetir jangan sampai membuat Nara tidak nyaman.


“Kalau ada semut tabrak saja pak. Jangan dihindari.” Nara yang mendengar papanya memberi pesan yang banyak pada pak Farid menyela dari dalam.


“Iya pak Farid. Pokoknya kenyamanan Nara harus diutamakan.” Nathan masih belum sadar jika ia disindir oleh Nara.


“Papa kalau papa terus bicara kapan kita sampai di rumah?” Nadia mengait tangan Nathan dan membawanya masuk ke dalam mobil mereka sendiri.


Pak Farid menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba gatal. Ia tidak menyangka jika seorang Nathan yang terlihat berwibawa bisa terlihat sedikit konyol demi anak perempuannya.


“Papa memang seperti itu pak Farid. Harap maklum. Hehehe.” Ucap Nara saat pak Farid masuk dan duduk di balik kemudi.


“Ah tidak apa-apa nyonya. Saya mengerti. Saya kalau menyangkut anak juga sering seperti itu.” Nara tersenyum.


“Kita berangkat ya tuan, nyonya?” tanya pak Farid. Ia tidak mau sampai mengagetkan Nara jika ia tiba-tiba menjalankan mobilnya. Nara Baru saja operasi. Ia takut gerakan yang tiba-tiba dapat membuat luka bekas operasi yang baru sembuh terasa sakit kembali.


“Iya pak. Aku sudah tidak sabar pulang. Rasanya seperti setahun tidak pulang.” Sudah beberapa kali Nara merengek minta pulang. Tapi Alex tidak mengizinkan.

__ADS_1


Meskipun kondisi Nara semakin membaik pasca operasi, tapi Alex lebih tenang jika Nara tetap di rumah sakit agar jika terjadi sesuatu dapat ditangani dengan cepat.


Perjalanan yang jika dalam keadaan normal hanya akan menghabiskan waktu tiga puluh menit dari rumah sakit hingga ke mansion Juantama, kali ini menghabiskan waktu hingga satu jam lamanya. Bukan karena macet atau harus putar arah, melainkan karena kecepatan mobil yang bisa dibilang sangat lambat.


Nathan mewanti-wanti pak Farid untuk mengendarai mobilnya tidak lebih dari enam puluh kilometer per jam. Ini sudah seperti kelinci yang dipaksa menggeliat seperti siput.


Di jalanan, banyak pengguna jalan yang menatap heran ke arah mobil mewah Alex. Mobil yang sebenarnya bisa melaju dengan kecepatan dua ratus kilometer per jam ini berjalan dengan sangat pelan. Mereka menyangka jika pengemudi mobil pasti masih amatir yang baru belajar.


Belum lagi mobil mewah lain milik Nathan yang juga tidak lebih cepat dari mobil hitam milik Alex. Laki-laki itu juga meminta sopirnya untuk mengikuti di belakang mobil yang dikendarai pak Farid. Dengan begitu ia bisa mengawasi secara langsung apakah putrinya merasa tidak nyaman.


Pak Farid segera mengeluarkan kursi roda begitu mereka berhenti tepat di depan mansion. Pak Farid juga membantu memegangi kursi roda selama Alex memindahkan Nara ke atasnya.


“Terima kasih pak Farid.” Alex berterima kasih dengan tulus pada pak Farid. Sopir yang sudah sejak kecil bekerja di keluarga nya ini tidak diragukan lagi kesetiaan dan dedikasinya.


“Tidak masalah tuan.” Pak Farid mengangguk. “Saya akan mengambil barang-barang di bagasi.” Lanjutnya. Alex mengangguk.


Alex hendak mendorong kursi roda Nara untuk masuk ke dalam rumah, namun gerakannya dihentikan oleh Nara.


“Aku ingin menemui Cinta dulu. Aku rindu padanya.” Ucap Nara. Alex tersenyum dan mendorong Nara ke tempat yang ia inginkan. Jujur Alex juga sudah lama tidak mengunjungi tugu yang merupakan pusara calon bayinya itu. Terakhir saat hari dimana Nara akan dioperasi.


Nathan dan Nadia mengikuti keduanya dari belakang.


Kursi roda Nara berhenti tepat di depan tugu bertulis Cinta itu. Nara mengulurkan tangannya untuk mengelus ukuran nama itu dengan penuh perasaan.


“Bagaimana kabarmu sayang? Apa kamu merindukan mommy? Maaf mommy sudah lama tidak mengunjungi mu. Hari ini mommy baru pulang dari rumah sakit.” Alex menepuk bahu Nara.


“Mommy punya kabar baik untukmu, penyakit sialan itu sudah mommy buang. Mommy sudah sehat sekarang. Cinta ikut senang kan?” Alex menyeka air mata Nara yang mengalir di pipi istrinya itu.


“Jangan menangis. Kamu baru pulang dan menemui Cinta. Jangan tunjukkan air matamu di depan putri kita.” Ucap Alex sebelum mendaratkan kecupan di pipi Nara. “Di luar dingin, ayo masuk.” Ajak Alex. Ia harus segera membawa Nara masuk, kalau tidak Nara pasti akan terus menangis. Nara pun mengangguk.


Alex kembali mendorong kursi roda Nara. Saat mereka masuk ke dalam mansion, semua orang menyambut kedatangan mereka. Wajah-wajah yang lama tidak Nara jumpai hadir di sana.


Syila dan Gita pun menyempatkan diri pulang untuk menyambut Nara. Mereka ikut bahagia saat mendengar Nara sembuh. Selama Nara dirawat di rumah sakit, keduanya sering melakukan panggilan video Dengan Nara. Jadi meskipun mereka jauh di luar negeri, Nara tidak akan kesepian di saat dirinya harus di kurung di ruangan serba putih itu.

__ADS_1


“Gita, Syila, ini kejutan yang menyenangkan.” Ucap Nara berbinar.


Kedua sahabatnya itu menghambur memeluk nya.


“Kami tentu saja akan ikut merayakan kesembuhan mu.” Syila mengelus punggung Nara. Sahabatnya itu sudah melalui banyak hal yang menyakitkan.


Di tempat lain, di sebuah terminal, seorang gadis cantik baru turun dari dalam bus. Di tangannya ada sebuah tas besar yang berisi beberapa potong baju yang ia bawa dari desa.


Gadis itu adalah Karina. Gadis cantik yang sama yang tidak sengaja ditemui oleh Bisma saat di Lombok.


Sebenarnya Karina bukan asli warga Lombok. Bukan juga warga Jakarta. Dia berasal dari salah satu desa di Semarang.


Karina dan Fania bisa berada di Lombok karena tuntutan pekerjaan. Saat itu mereka sedang menjadi karyawan dari resort cabang yang berada di Semarang yang baru dipindah tugaskan ke Lombok.


Namun karena kesehatan dari nenek Karina yang semakin menurun, Karina meminta di kembalikan ke resort yang ada di Semarang agar bisa menemani neneknya.


Tetapi Tuhan berkehendak lain, satu bulan setelah Karina kembali, neneknya meninggal. Karena ada suatu hal di desa, akhirnya Karina terpaksa meninggalkan desa dan merantau di Jakarta.


*


*


*


Maaf ya jika ceritanya terkesan di skip 🙏


Kisah selama masa pengobatan Nara tidak akoh jelasin, menghemat waktu juga. Jadi bisa masuk ke cerita selanjutnya. Semoga bisa memaklumi 😘


Sudah ketebak kan kalau Karina bakal jadi pasangannya Bisma?


Bagaimana mereka bertemu?


Masih dalam proses. hihihi

__ADS_1


__ADS_2