
Nadia berdiri di pematang sawah. Pandangan matanya mengikuti laju sebuah mobil yang menjauh dari desa. Di belakangnya, Joni pun mengarahkan pandangannya ke arah yang sama. Menghela nafas.
“Kamu yakin dengan keputusanmu Nad?” tanya Joni setelah mobil itu tak terlihat lagi di kejauhan.
“Tentu.”
“Kenapa kamu lakukan jika ini sulit?”
Nadia mengambil nafas dalam sambil memejamkan mata. “Kami mempunyai kewajiban sendiri-sendiri yang harus kami tunaikan Jon.”
“Kamu berhak bahagia Nad. Begitu juga dokter Nathan. Kalian saling mencintai.”
“Kami memiliki cinta. Apalagi yang kurang? Ini hanya masalah waktu. Jika kami memang berjodoh, takdir sendiri yang akan mempertemukan kami.”
Huft. “Kamu benar-benar keras kepala.”
“Aku tahu kamu ingin yang terbaik untukku. Dan menurutku, yang terbaik untukku adalah tetap berdiri disini. Mendampingi warga desa. Sudahlah. Ayo kembali.”
Nadia melihat ujung jalan dimana mobil yang membawa Nathan pergi. Memantapkan hatinya jika yang ia ambil adalah keputusan yang terbaik. Setelah itu, Nadia berjalan dengan langkah pasti kembali ke kehidupan di depan yang ia tahu tidak akan mudah.
Sejalan dengan terbenamnya matahari, Nadia memantapkan hati untuk membenamkan pula rasa cintanya. Cinta yang mungkin tumbuh tidak pada orang dan waktu yang tepat. Nadia sudah tenggelam terlalu dalam dalam permainan takdir.
Bagi Nadia, merasakan cinta adalah hal yang tak terduga. Ini berkah. Namun ia tidak bisa mengabaikan semua kebenaran yang ada. Dia adalah janda, sedangkan Nathan adalah seorang laki-laki yang pantas mendapatkan seseorang yang sempurna untuk mendampinginya. Jika suatu saat ia menemukan Nathan yang tidak sendiri, ia pun akan iklas.
Nadia juga tidak bisa mengabaikan cita-citanya. Melihat desa kelahirannya menjadi makmur dan memastikan tidak akan ada lagi Nadia yang lain, selain dirinya. Tidak boleh ada lagi seseorang yang akan merasakan hidup seperti miliknya.
Biarlah cinta yang baru bersemi terkubur kembali. Mungkin, inilah jalan yang terbaik untuk semuanya....
Seiring berjalannya waktu, cinta yang mereka rasakan akan hilang dan digantikan oleh cinta lainnya, atau malah semakin bersemi meski jarak memisahkan. Entahlah, tidak ada yang tahu yang terjadi di masa depan. Nadia hanya berharap, semua berjalan dengan baik mulai sekarang.
Flash Back On.....
Pagi harinya.....
Di kursi pinggir telaga, Nathan dan Nadia duduk berdampingan. Keduanya sudah berada disana hampir setengah jam dalam diam. Joko dan Joni duduk agak jauh dari mereka. Memberikan privasi untuk kedua orang yang sedang berbicara.
“Aku akan pergi Nadia.” Ucap Nathan setelah lama terdiam. Melirik ke arah Nadia yang juga diam menatap dalam telaga di depan mereka. “Aku mencintaimu Nadia.” Nathan memberanikan diri meraih tangan Nadia untuk digenggam. Nadia tersentak. Baru kali ini ia merasakan hal semacam ini.
“Maafkan aku dokter.” Nadia menarik tangannya dengan hati-hati. “Aku tidak mencintai dokter.” Nadia menggigit bibir bawahnya. Tatapan matanya nanar. Mengisyaratkan kesedihan. Mulutnya bisa saja berbohong, tapi bahasa tubuhnya berbicara lain.
“Aku tidak percaya.”
“Dokter pasti salah dalam mengenali perasaan dokter. Di samping dokter ada Jennika, mana mungkin dokter bisa jatuh cinta pada saya yang tidak ada apa-apanya ini.”
“Tapi hati ini memilihmu Nadia. Aku tidak mungkin salah mengenali hatiku sendiri.”
“Ini tidak benar dokter. Saya tidak sebanding dengan dokter. Apalagi saya tidak men...” Nathan menutup mulut Nadia dengan telunjuk tangannya. Menghentikan Nadia melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Berhenti membohongi perasaanmu sendiri Nadia.”
“Bahagialah dengan Jennika dokter.”
“Ini tidak akan berhasil. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Jennika. Cintaku telah memilihmu Nadia.”
“Maafkan aku dokter, aku sungguh tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Banyak alasan yang bisa kuberikan dokter.”
Nathan menghela nafas panjang. Ia tahu betul alasan Nadia. Wanita cantik itu memiliki cita-cita yang mulia. Dia mungkin memang harus mengalah pada takdir sekarang.
Di kota, tugasnya telah menunggu. Kedua orang tuanya mengizinkannya mengabdikan diri di puskesmas selama setahun dengan syarat akan terjun ke perusahaan keluarga setelah itu.
Sebagai seorang anak dan juga sebagai lelaki sejati, tidak mungkin baginya untuk mengingkari janji yang ia buat. Meskipun dengan bayaran besar yang harus ia korbankan.
Sudah lebih dari enam tahun ia bertahan tanpa merasakan cinta. Hatinya seperti telah mati untuk wanita. Namun, siapa sangka jika hatinya yang telah lama berdiam ternyata tergerak merasakan cinta yang sayangnya tumbuh pada orang yang salah.
Tak pernah sedikit pun ia duga ia akan mencintai istri orang. Membuatnya merasakan pedih setiap kali mengingat jika wanita yang ia cintai bersama dengan laki-laki lain yang memang lebih berhak. Dan sekarang, setelah status itu berganti, ia masih harus merelakan cintanya tak bersambut.
“Aku tahu ada yang terjadi di antara kalian.”
Suara seorang gadis yang terdengar putus asa mengagetkan kedua orang yang kembali terdiam itu. Keduanya membeku mengenali siapa yang berada di depan mereka. Dengan reflek pula keduanya sama-sama saling memandang.
“Jennika, ini tidak seperti yang kamu pikir.”
Gadis bernama Jennika itu tersenyum mendengar perkataan Nadia. Dari pandangan matanya ia jelas melihat cinta yang ada di mata kedua orang di depannya. Perasaannya diam-diam teriris pilu.
Awalnya seiring berjalannya waktu ia berharap akan dapat memenangkan hati dokter Tampan yang telah menarik hatinya sejak pertama kali bertemu. Ia tidak menyangka jika ia akhirnya akan kalah hanya dengan seorang wanita desa. Terlebih lagi dengan status janda yang melekat padanya.
“Nadia, dokter Nathan. Terima kasih untuk pengalaman yang satu ini. Dengan ini aku menyadari jika sebenarnya sesuatu yang aku inginkan tidak selamanya akan aku miliki.”
“Jen...”
“Tidak Nadia. Sejak awal aku memang sudah tidak memiliki kesempatan. Tenang saja. Aku menerima semuanya. Bahagialah kalian berdua.” Jennika melenggang pergi. Nadia yang ingin mengejarnya tangannya segera digenggam dan ditarik oleh Nathan. Meminta Nadia untuk tetap berada disisinya.
“Biarkan dia sendiri Nadia. Dia butuh waktu menenangkan diri.”
“Tapi...” Nadia menyerah. Ia kembali duduk tenang di samping Nathan.
“Kamu lihat Jennika, dia saja melihat ada cinta di antara kita. Jangan pernah menghalangi kebahagiaanmu Nadia. Aku berjanji akan membahagiakanmu.”
“Tapi dokter. Aku bukanlah wanita yang pantas bersanding dengan dokter.”
“Kamu selalu pantas Nadia. Bagiku status tidak menjadi penghalang. Keluargaku juga bukan orang yang melihat dari segi pandang itu.” Nathan menghela napas. Ia tahu betul apa yang ditakutkan Nadia.
__ADS_1
Satu persatu penghalang bersatunya mereka telah menghilang. Tinggal sedikit lagi untuk menjadikan Nadia miliknya. Ia hanya harus memberi Nadia kepercayaan diri untuk memegang tangannya. Bergantung padanya.
“Setelah aku meninggalkan desa ini, aku mungkin sulit untuk kembali Nadia. Aku telah berjanji pada kedua orang tuaku untuk membantu mereka di perusahaan. Tolong pikirkanlah untuk terakhir kali.” Nathan meraih tangan Nadia kembali. Menggenggam erat tangan itu.
“Kehidupan kita berbeda dokter. Kita juga memiliki tanggung jawab masing-masing. Lanjutkan hidup dokter. Saya sangat menghargai perasaan dokter untuk saya. Tapi maaf saya tidak bisa menerima. Lupakan saya.”
“Aku tidak akan menyerah Nadia. Setelah semua beres. Aku akan kembali kesini untuk menjemputmu. Aku janji ini tidak akan lama.”
“Terima kasih untuk cinta dokter yang luar biasa. Jika memang kita berjodoh, ketika kita bertemu lagi dan memang masih ada rasa cinta itu di hati kita, saya berjanji tidak akan mengelak lagi saat itu.”
“Aku pegang janjimu Nadia. Aku berjanji akan menjaga cinta ini hanya untukmu. Percayalah. Ini tidak akan lama.” Ucap Nathan sungguh-sungguh. Pandangan mata keduanya terkunci.
Tak dapat dipungkiri hati Nadia berbunga-bunga mendengar janji yang Nathan ucapkan. Tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, janji yang diucapkan keduanya berasal dari lubuk hati mereka.
“Peganglah janjiku Nadia. Kamu bisa percaya padaku.” Ucap Nathan sebelum mendaratkan bibirnya di kening Nadia yang menjadi kaku karenanya.
Nathan pun menjadi kaget akan tindakannya. Ia pun reflek melakukannya tadi. Namun, keduanya tersenyum canggung karenanya dengan wajah yang sama-sama memerah.
“Nadia, bolehkah aku mendapatkan pelukan perpisahan darimu?” Nadia mengangguk mengiyakan. Tak membuang waktu, Nathan menarik tubuh Nadia dalam pelukannya.
“Aku mencintaimu Nadia. Aku akan selalu mencintaimu. Aku akan segera kembali untuk membawamu dari sini. Jika kamu masih harus disini, aku pun tidak akan keberatan untuk menemanimu disini.” Kata Nathan sambil mengelus rambut Nadia. Menghirup dalam-dalam aroma wanita itu. Yang akan sangat ia rindukan.
“Terima kasih dokter. Terima kasih telah mengizinkanku merasakan cinta yang begitu manis.”
“Namun sayangnya ini bukan kisah cinta yang manis Nadia, cinta ini hanya kita rasakan sebelum perpisahan. Tapi aku yakin ini adalah perpisahan sementara, setelah kita dipertemukan lagi, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Ingat itu.”
“Baiklah. Aku akan menunggu saat dokter mengejarku nanti. Kita lihat. Apakah dokter akan dengan mudah dapat menangkapku.” Nadia tersenyum.
“Setelah ini, perjalanan cinta kita akan sulit Nadia. Aku harap kuatkan dirimu untuk terus berdiri tegak. Maafkan aku tidak bisa menemanimu menghadapi kerasnya dunia. Namun aku janji, setelah kita bertemu, aku tidak akan membiarkan sedikit pun masalah yang menghampirimu.” Kata Nathan sebelum melepaskan pelukan mereka. Nadia mengangguk pasti.
Sebuah kecupan lama di kening menjadi salam perpisahan keduanya. Baik Nathan maupun Nadia, keduanya memantapkan hati mereka untuk menggenggam janji di antara mereka. Joni dan Joko yang melihat keduanya ikut merasakan getir di hati mereka.
*
*
*
Huhuhuhu....😭😭😭
Salam perpisahan. Emmuach....
Maap ya, akoh buat mereka berpisah dulu 🙏
Tidak akan lama, cukuplah untuk mengasah kekuatan cinta mereka. Hehehe 😅
Hatur tingkiyu ☺️
__ADS_1