Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_56. Malam Pertama


__ADS_3

Hari yang melelahkan akhirnya berakhir. Pesta yang digelar meriah pun juga berakhir. Tamu undangan yang tadi memenuhi tempat acara sudah kembali pulang. Yang tersisa hanya kekacauan pesta dan puluhan orang yang sedang berusaha membereskannya.


Setelah pesta, Alex meminta salah satu pelayan untuk mengantar Nara ke dalam hotel. Sedangkan dirinya sendiri masih harus menanti beberapa klien yang berkumpul di bar kecil di dalam hotel dimana pesta pria dilanjutkan disana.


Sebuah kamar presidential suite sudah disulap menjadi kamar pengantin yang romantis. Nara sangat mengagumi setiap pengaturannya begitu ia masuk. Pelayan pergi setelah menjelaskan beberapa hal penting kepada nara.


Nara langsung mendudukkan dirinya di atas ranjang. Kemudian melepas highhills dan melemparnya begitu saja. Nara sedikit memijit betisnya yang terasa sakit. Berdiri seharian sungguh tidak nyaman.


Setelah lelahnya sedikit berkurang, Nara segera mengambil handuk dan baju tidurnya yang disediakan di dalam almari dan masuk ke dalam kamar mandi.


Di saat Nara baru selesai memakai bajunya, ia mendengar suara pintu yang terbuka, ia yakin jika Alex sudah kembali. Nara masih enggan untuk keluar, ia lalu mendudukkan dirinya di atas closet. Kegugupan tiba-tiba menghampirinya. Status barunya sebagai seorang istri membuatnya bingung menentukan sikap.


Dia sudah dewasa. Tentu saja ia tahu apa yang akan terjadi di malam pengantin. Apalagi tadi ketiga sahabatnya sudah memberinya pencerahan.


Flash Back On....


“Aku tidak menyangka ternyata Rafael itu sangat jahat.” Ucap Gita saat Nara bebas dari Alex dan berkumpul dengan ketiga sahabat nya.


“Iya lho. Aku juga nggak nyangka. Kelihatannya dia kan baik banget.” Syifa ikut berbicara.


“Tapi kenapa kamu nggak cerita pada kami?” Gita bertanya dengan serius. Jika saja Nara menceritakan pada mereka yang sebenarnya, tentu saja mereka tidak akan salah paham selama ini.


“Maaf. Semua membingungkan dan dalam keadaan darurat.”


“Baiklah kami memaafkanmu karena kami tahu keadaan memang genting. Tapi lain kali jangan diulangi lagi. Kalau ada apa-apa kita semua harus saling terbuka. Dengan begitu kita bisa saling membantu.” Syifa berkata dengan sungguh-sungguh.


"Yang terpenting semua sudah berjalan sesuai jalurnya. Ngomong-ngomong Kalian mau honeymoon kemana?” Vera menyenggol lengan Nara.


“Entahlah. Skripsiku belum selesai. Tapi Alex tadi bilang dia akan membawaku terbang nanti malam.” Jawab Nara polos sambil memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya.


Krik krik


Krik krik


Krik krik

__ADS_1


Suara jangkrik mewakili pikiran kosong Gita, Syifa dan Vera. Mereka tidak tahu harus bersedih atau bahagia menanggapi teman mereka yang terlampau polos itu.


“Kira-kira Alex akan membawaku kemana ya nanti malam?”


Gita memandang Syifa, Syifa memandang Vera dan ketiganya melalui kode mata meminta teman mereka untuk menjelaskan pada Nara maksud dari Alex.


“Emm kurasa kamu tidak mengerti apa yang dimaksud Alex deh Ra.” Vera menatap Nara serius. Untuk urusan laki-laki dan percintaan, Vera lah yang paling ahli di antara keempatnya.


“Emm. Memang apa maksud Alex?” Nara mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak salah dalam mengartikan ucapan Alex. Karena baginya ucapan Alex itu sudah jelas. Tidak ada maksud lain yang tersimpan.


Sekali lagi, Nara heran melihat ketiga sahabatnya lagi-lagi saling memandang dengan tatapan yang aneh.


“Kalian kenapa sih? Memang apa maksud Alex? Kasih tahu dong! Jangan bikin penasaran.” Nara menggoyang lengan Syifa yang berada paling dekat dengan tangannya.


Syifa mendesah sebelum membisikkan sesuatu di telinga Nara yang membuat telinga dan wajahnya berubah menjadi merah. Gadis itu langsung menatap Syifa dan yang lainnya. Mereka mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Syifa.


Flash Back Off....


“Sayang apa kamu di dalam?” suara Alex membuyarkan lamunan Nara. Pria itu mengetuk pintu beberapa kali.


“Bagaimana ini?” gumam Nara.


“Nara sayang kamu tidak apa-apa kan?” Alex yang merebahkan dirinya di atas ranjang melirik ke pintu kamar mandi begitu menyadari jika lima belas menit berlalu setelah ia masuk kamar. Dan itu artinya Nara sudah terlalu lama berada di dalam sana.


“I-iya Lex. Aku baik-baik saja.” Nara menggigit kuku jarinya.


Alex menyadari ada yang tidak beres. Ia harus memaksa Nara keluar. Tapi ia tidak bisa melakukannya secara terang-terangan. Atau Nara akan marah padanya.


“Masih lama tidak? Aku pengen ke toilet nih. Udah di ujung.” Ucap Alex berbohong. Ia sudah menduga pasti Nara sedang gugup.


Nara tidak menjawab. Ia bingung alasan apa yang ia gunakan agar bisa lebih lama bersembunyi di dalam kamar mandi.


Alex tersenyum. Ia lalu berjalan menuju pintu dan berteriak. “Aku ke kamar sebelah ya. Aku sudah tidak tahan.” Pria itu membuka pintu dan menutupnya kembali sebelum ia dengan cepat melompat ke sisi pintu kamar mandi sambil menahan tawanya. Ternyata menjahili Nara sangat menyenangkan.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Nara yang mendengar Alex pamit pergi dan juga mendengar pintu terbuka dan tertutup segera keluar. Ia berniat untuk segera melompat ke atas tempat tidur dan tidur sesegera mungkin. Mungkin saja dengan cara itu ia bisa Menghindari malam pertama yang tiba-tiba terdengar begitu menyeramkan.

__ADS_1


Namun begitu terkejutnya ia saat ia mengeluarkan kepalanya berniat untuk melihat situasi malah mendapati Alex yang tersenyum lebar di depan wajahnya.


“Eits! Mau sembunyi lagi?” Alex segera menahan pintu dengan menggunakan kakinya saat Nara hendak menutup pintu kembali.


“I-itu Lex. Aku belum selesai. Tiba-tiba saja perutku mules lagi.” Ucap Nara sambil tersenyum paksa.


Dengan alasan konyol seperti itu mau menipu Alex? Tentu saja tidak berhasil. Pria itu segera membuka pintu dengan paksa dan menarik Nara untuk keluar. Menarik gadis itu hingga menabrak dadanya dan memeluknya erat.


“Hal bodoh apa yang kamu lakukan? Dengan Pakaian seperti ini berada di dalam kamar mandi begitu lama akan membuatmu masuk angin.” Alex mengecup kepala Nara. “Jangan bertindak bodoh hanya untuk menghindari ku.”


“Maafkan aku Lex. Aku tidak bermaksud menghindarimu. Aku hanya takut.” Nara menggigit bibir bawahnya. Ia malu mengatakan itu pada Alex. Tapi ia lebih tidak mau jika Alex salah paham terhadap nya.


Alex tersenyum mendengar Nara berkata dengan jujur padanya. Ia mengelus rambut Nara dengan penuh pengertian.


“Kamu tidak perlu takut. Aku tahu semua ini terlalu cepat untukmu. Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah melakukannya hingga kamu sendiri yang bilang jika kamu sudah siap.”


“Terima kasih Lex.” Nara sangat bersyukur memiliki Alex sebagai suaminya.


“Sama-sama. Ya sudah aku ke toilet dulu. Aku tidak bohong saat aku berkata aku sudah tidak tahan.” Alex melepaskan pelukannya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


“Aku harap aku tidak menyesal mengatakan itu. Dan semoga Nara dengan cepat memberi izin. Kalau tidak bisa mati tersiksa aku sepanjang malam setiap hari. Ayo reader doakan aku juga biar cepat bisa unboxing Nara.” Gumam Alex dalam hati saat dirinya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara itu, Nara mendudukkan dirinya di depan meja rias. Mengaplikasikan perawatan malam untuk wajahnya sambil memikirkan kata-kata Alex barusan.


“Apa aku sudah salah ya?” kata Nara saat memikirkan semuanya. Ia merasa akan sangat egois Jika ia menuruti ketakutan nya. Lagipula dirinya dan Alex telah Sah menjadi suami istri. Jadi cepat atau lambat mereka pasti akan melakukannya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩


Like, vote dan komentar nya selalu ditunggu 🤗

__ADS_1


__ADS_2