Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_91. Kunjungan Nara


__ADS_3

Hari ini Nara tampil beda. Pagi ini ia menghabiskan waktunya di salon. Semenjak ia menjadi asisten Alex, dirinya memang jarang pergi ke salon untuk perawatan. Dan setelah menjadi istri Alex pun ia menjadi semakin sibuk hingga jarang ada waktu luang.


Maka dari itu saat ini ia gunakan waktu untuk memanjakan diri. Pergi ke salon dan jalan-jalan di mall sesekali saat ia bosan di rumah.


Saat keluar dari salon, Nara merasa menjadi manusia yang baru. Tubuhnya terasa ringan. Rambut dan badannya menyebarkan aroma yang menenangkan. Kulit putihnya kini terasa kenyal dan kencang. Rambut di kepalanya juga seakan seringan dan sehalus kapas. Beberapa kali Nara menyentuhnya dengan perasaan bahagia.


“Ada baiknya juga tidak pergi ke kantor.” Gumam Nara sesaat setelah keluar dari salon.


Pak Farid sudah menunggunya di mobil. Alex melarang Nara untuk menyetir sendiri mulai sekarang. Ia tidak mau Nara kelelahan. Namun ia juga tidak ingin membatasi Nara. Jadi ia berpesan pada pak Farid agar menuruti kemanapun Nara pergi.


“Pak Farid tolong antar aku ke restoran H.” Ucap Nara saat pak Farid baru saja menjalankan mobilnya.


“Tapi tadi kata tuan Gibran tidak perlu membawa makanan. Sudah dipesankan oleh tuan Alex.”


“Iya. Alex juga sudah memberitahuku. Tapi aku ingin membeli Quidim di sana. Aku sudah lama tidak memakannya.”


“Baiklah.” Pak Farid mengangguk dan menjalankan mobil menuju restoran khas Brazil yang dimaksud Nara.


Nara segera turun saat mereka sudah sampai. Ia meminta pak Farid menunggu di mobil karena ia tidak akan lama. Saat di salon tadi, ia sudah memesan makanan yang ia inginkan.


Seperti yang dikatakan Nara, hanya sepuluh menit saja Nara sudah keluar. Dengan dua paper bag di kedua tangannya. Ia segera masuk ke dalam mobil.


“Pak Farid ini makanan untuk bapak makan siang nanti.” Nara mengangsurkan satu paper bag yang dibawanya ke depan.


“Tidak usah nyonya. Tidak perlu merepotkan. Saya bisa makan di kantin kantor nanti.” Ucap pak Farid sambil menahan paper bag dengan kedua tangannya. Jika ia mengantar Nara kemanapun, nyonya nya itu tidak pernah lupa memberinya makanan hingga membuat ia merasa sungkan.


“Rezeki tidak boleh ditolak.” Nara tersenyum sambil memaksa pak Farid menerimanya.


“Terima kasih nyonya. Semoga Tuhan membalas kebaikan nyonya.” Doa pak Farid tulus. Ia pun menerima pemberian Nara dan meletakkannya di kursi depan.


“Aamiin.”


**


Gibran sudah menunggu Nara di lobi saat Nara sampai. Ia segera menyambut Nara saat nyonya presdirnya masuk ke dalam kantor.


“Eh pak Gibran. Kenapa ada di sini?” tanya Nara heran.


“Tuan Alex meminta saya untuk mengantar nyonya.”


“Eh. Kenapa panggilannya ganti? Telingaku sakit pak Gibran panggil aku gitu. Panggil seperti biasa saja.” Nara menepuk lengan Gibran. Ia sudah terbiasa bekerja bersama pria itu. Dan ini kali keduanya dipanggil nyonya olehnya. Waktu itu ia sudah pernah melarangnya.


“Tidak bisa seperti itu. Dulu saya setuju memanggil seperti itu karena profesionalisme pekerjaan. Tapi sekarang, saya bukan lagi atasan anda. Dan saya termasuk anak buah anda saat ini.”


“Tapi aku merasa tidak nyaman.”


“Saya melakukan ini juga untuk memberi tahu posisi anda di kantor ini.” Ucap Gibran sambil melirik tajam dua resepsionis yang tadi ketahuan bergosip. Nara bukannya buta dan tentu saja mengetahui hal itu.

__ADS_1


“Mungkin ada masalah di kantor selama aku tidak di sini.” Pikir Nara. Baiklah kali ini aku akan menurut.


“Baiklah. Terserah pak Gibran saja. Sekarang antar aku. Dimana Alex?”


“Mari saya antar.” Gibran mengarahkan Nara masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan. Kemudian memencet tombol dengan tulisan roof.


Lift bergerak naik secara perlahan. Membawa dua orang ke atap kantor Amerta Corp dimana Alex sudah menunggu Nara.


Pintu lift terbuka. Semilir angin pun berhembus menerbangkan rambut Nara yang bergelombang.


“Tuan sudah menunggu anda di sebelah sana. Silahkan.” Gibran menunjuk bagian di sebelah kiri lift. Nara pun keluar dengan rasa penasaran di hatinya. Ini tempat yang tidak biasa untuk makan siang. Apakah Gibran membohongi nya?


Setelah Nara keluar, Gibran kembali menekan tombol lift untuk turun. Membiarkan dua orang yang membuatnya frustasi. Keduanya kerap mengabaikan keberadaannya yang jomblo beberapa tahun belakangan ini. Mereka suka pamer kemesraan.


“Sini sayang.” Alex menghampiri Nara dan mengajak istrinya untuk ke tempat yang ia atur sejak pagi.


Sebuah sofa yang hanya cukup untuk dua orang dengan meja di depannya yang sudah penuh dengan makanan dan minuman. Di atasnya ada atap yang menghalangi sinar matahari maupun hujan. Tadinya, tempat itu tidak terlihat karena tertutup oleh lift. Tapi saat melangkah lebih jauh, tempat itu terlihat dengan jelas.


Tidak terlihat spesial memang. Namun karena tempat itu ada di bagian paling atas bangunan yang paling tinggi dari bangunan di sekitarnya, pemandangan di sana terlihat sangat indah. Nara merasa dapat melihat seluruh kota dari sana.


“Wow. Aku tidak menyangka bisa melihat pemandangan ya g indah dari atas sini.” Decak kagum Nara.


“Jangankan kamu. Aku saja yang sudah belasan tahun bekerja disini juga tidak menyadarinya.”


Alex tidak berbohong. Tempat itu memang tidak sengaja ia temukan saat ia sedang banyak pikiran dan ingin menenangkan diri. Dan seketika itu, ia mempunyai ide untuk membuat tempat istirahat di sana.


Setelah puas menikmati pemandangan, Alex mengajak Nara untuk duduk dan segera makan siang.


“Oh ini. Tadi aku memapir ke restoran H dan membeli Quidim dan Brigasieros.” Nara mengeluarkan isi paperbagnya.


“Makan camilannya nanti saja. Sekarang kita makan makanan ini. Keburu dingin tidak akan enak lagi.” Nara mengangguk dan mulai memakan makanannya.


Setelah makanan di meja habis, Nara membuat kotak makan yang dibawanya. Satu kotak berisi dua buah Quidim berwarna kuning gading. Makanan ini terbuat dari telur, gula, santan dan mentega. Bagian atasnya lembut seperti puding. Sedangkan di bagian bawah sedikit kadar dengan warna keemasan. Di bagian bawah di beri banyak parutan kelapa yang menambahkan cita rasa gurih ke dalam rasa manis.


Dengan cepat Nara menghabiskan bagiannya. Makanan manis memang makanan yang paling ia sukai.


“Kenapa tidak dimakan?”


“Lihat kamu makan saja aku sudah kenyang. Enak?” Alex tersenyum. Nara tidak pernah berubah sejak dulu. Wanita itu tidak jaim saat makan. Tidak seperti kebanyakan wanita.


“Kamu tidak makan ini?” tanya Nara lagi sambil mengangkat Quidim milik Alex.


Alex menggeleng dan mengelus kepala Nara. “Kalau kamu mau, makan saja.”


Nara hanya tersenyum dan kembali menyendok Quidim dengan senang. Beberapa kali ia tersenyum saat menikmati betapa enaknya makanan khas Brazil itu.


“Kenyangnya.” Nara mengelus perutnya yang serasa penuh dengan makanan.

__ADS_1


“Hari ini kamu makan lebih banyak dari biasanya. Apa saja yang kamu lakukan pagi ini!” tanya Alex sambil mengelus bahu Nara.


Nara menggerakkan bibirnya ke kanan dan ke kiri sambil mengingat-ingat. “Em... Pagi tadi aku ikut mama kelas yoga. Lalu jalan-jalan di mall dan terakhir ke salon.”


“Pantas saja. Ayo turun. Setelah jam makan siang aku akan pergi meeting dengan bagian pemasaran. Untuk membahas teknik pemasaran Produk yang akan diluncurkan.” Alex menggandeng tangan Nara dan mengajak nya turun.


“Eh sebentar.” Nara teringat Brigasieros nya yang belum sempat ia makan.


“Ini. Hehehe. Sayang kalau tidak dimakan.” Jawab Nara sambil menunjukkan kotak makan berisi Brigasieros.


Virly duduk di mejanya di depan ruangan Alex. Meja asisten yang sebelumnya ada di dalam ruangan Alex, dipindah ke luar setelah Nara mengundurkan diri.


Saat gadis itu melihat Nara dan Alex yang keluar dari dalam lift, ia langsung berdiri dan menyapa keduanya.


“Kalian baru kembali dari makan siang?” tanyanya.


“Iya. Kamu sudah makan siang?” tanya Nara.


“Sudah. Oh ya Nara, Minggu depan ada reuni kampus kan. Kamu bisa datang kan?”


“Hemm. Aku tidak tahu. Tahun ini tidak akan sama.” Jawab Nara sedih. Sudah berbulan-bulan lamanya Vera menghilang dan tak ada kabar tentangnya sedikit pun.


“Yah kamu benar. Tapi kita tidak bisa terlalu lama larut dalam kesedihan.”


“Kamu benar. Aku juga sudah menghubungi Syila dan Gita. Mereka juga berencana untuk hadir. Siapa tahu teman-teman yang lain ada yang tahu keberadaan Vera.” Kata Nara sendu.


“Em. Aku juga berharap Vera cepat ketemu.”


“Terima kasih Virly.”


“Sama-sama.”


“Sayang aku langsung pulang ya.” Nara menarik lengan Alex yang hendak membawanya masuk ke dalam ruangan.


“Kenapa?”


“Aku tidak enak lama-lama keluar rumah.”


“Baiklah. Hati-hati di jalan.” Alex mencium kening Nara sebelum melepas istrinya pulang.


“Siapkan ruang meeting.” Nada hangat yang tadi Alex tunjukkan pada Nara berubah dingin saat ia memberi perintah pada Virly.


“Baik tuan.” Virly mengepalkan tangannya meskipun senyum tercetak di bibirnya.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😘


__ADS_2