Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_98. Kesalahpahaman Yang Bertambah


__ADS_3

Dengan bantuan anak buah yang dibawa Bima, Alex akhirnya dapat terlepas dari kupu-kupu malam yang terbang liar di pagi hari.


“Bagaimana rasanya?” Bima merasa bersemangat saat mengolok Alex.


“Berhenti bicara.” Alex membenarkan letak dasinya untuk mengembalikan kepercayaan dirinya.


“Salah sendiri. Sudah diberitahu ini daerah seperti apa? Masih saja datang dengan tergesa-gesa seorang diri.” Bima mencibir di sebelahnya.


“Mana aku tahu ada tempat seperti ini di sini. Aku tidak menyangka jika mereka akan bertindak seliar itu di siang bolong.” Alex berkilah.


“Aku masih heran bagaimana bisa Nara sampai di tempat seperti ini?”


Tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya, Nara sedang mengobrol bersama Karina sambil menunggu Alex datang. Keduanya merasa memiliki banyak kecocokan. Dalam sekejap, Nara dan Karina seperti seorang sahabat dekat yang saling bercanda.


“Jadi hari ini kamu mengambil cuti?” tanya Nara saat mendengar cerita Karina tentang pekerjaannya.


“Tidak juga. Sebenarnya saya masih karyawan sementara. Jadi belum bisa ambik cuti selain sakit.” Jawab Karina sendu. Ia baru dua bulan bekerja di hotel.


Sebelumnya semua berjalan lancar. Ia bekerja dengan semangat. Masa trainingnya kurang setengah bulan lagi. Tapi semalam ia meninggalkan pekerjaan tanpa izin dan alasan. Bahkan ia juga meninggalkan kantong sampah di besmen.


Atasannya marah dan mengiriminya pesan beberapa kali menggunakan kalimat ancaman.


Karina tidak dapat memberitahu alasan yang sebenarnya pada atasannya karena takut hal itu berdampak buruk pada Nara. Hal ini tentu saja membuat managernya semakin emosi.


Sejak pagi Karina mendapat pesan ancaman yang mengatakan jika ia tidak datang tepat waktu pagi ini dan memberi alasan yang jelas, ia akan dipecat.


Namun untuk meninggalkan Nara saat ini tentu bukan hal yang baik. Akhirnya Karina memantapkan hati jika ia memang dipecat ya ia akan menerimanya. Mungkin saja setelah itu ia memperoleh pekerjaan yang lebih baik.


“Aku jadi merasa bersalah.”


“Ah tidak perlu merasa bersalah. Sebenarnya aku juga tidak begitu nyaman bekerja di hotel. Kadang ada pelanggan yang memiliki niat buruk. Tapi sebagai pelayan aku tidak bisa melawan. Hanya bisa mengelak dan pergi.”


“Bagaimana kalau..” kalimat Nara terpotong saat ketukan pintu terdengar.


Karina memberi kode Nara untuk diam. Tinggal di tempat seperti itu banyak hal tak terduga yang kerap terjadi. Sebenarnya dia sendiri juga terpaksa tinggal di lingkungan yang kurang moral seperti itu. Jika bukan karena sewa kos di sana lebih murah, ia tidak akan mau.


“Aku akan melihat siapa yang datang.” Karina berdiri dan berjalan mengintip dari jendela. Membuka sedikit tirai biru yang menggantung di jendelanya.


Di luar sana, belasan orang laki-laki berdiri tampak berkuasa. Tiga orang paling menonjol berdiri di depan pintu. Ketiganya tampan dengan tubuh yang proporsional.


“Bagaimana ciri-ciri suamimu?” tanya Karina. Dari pada repot menjelaskan, lebih baik Nara melihatnya sendiri. Saat Nara mengintip dari celah tirai, wajah kusut suaminya langsung terlihat.


“Mereka keluargaku.” Nara membuka tirai lebar. Membuat Alex, Bisma dan Bima dapat melihatnya di balik jendela kaca.


“Sayang buka pintunya.”

__ADS_1


Kriet...


Karina membuka pintu. Alex segera menerjang masuk dan memeluk Nara. Istrinya yang hilang semalaman. Hanya dia yang tahu betapa takutnya ia jika sampai terjadi sesuatu pada Nara. Jika ada hal buruk pada Nara, itu adalah kesalahannya karena ia lalai menjadi suami.


Mereka akhirnya berbincang di teras. Karena itu hanya sebuah kamar kos-kosan. Jadi hanya ada kamar kecil di dalamnya. Tidak akan muat apalagi cocok untuk menerima banyak tanu.


Karina duduk dengan canggung. Menyaksikan momen mengharukan yang terlihat indah di depan matanya. Alex bahkan memangku Nara saat dirinya duduk. Namun saat ia menyadari tatapan lain yang mengarah padanya, ia merasa dingin di punggungnya.


Baik Bima maupun Bisma yang berdiri seperti maneqin, keduanya menatap Karina dengan menyelidik. Mereka berdua mencoba menganalisis bagaimana gadis di depan mereka itu.


Di sepanjang jalan tadi, mereka tidak kekurangan wanita yang menghampiri dan mencari perhatian. Keduanya kini membandingkan tampilan Karina dengan kebanyakan wanita muda yang tinggal di daerah ini.


Celana jeans yang sedikit ketat. Kaos longgar berwarna kuning dengan gambar Winnie the Pooh besar lengkap dengan madu di tangannya terlihat mencolok di bagian depan. Rambut dicepol sembarangan hingga beberapa anak rambut menari liar di dahinya yang berkeringat. Wajah yang tanpa polesan sedikitpun itu terlihat cantik alami.


“Apa lihat-lihat!” ketus Karina sambil melotot ke arah Bima dan Bisma bergantian.


Keduanya kaget melihat reaksi Karina. Namun Bisma berusaha keras agar tidak terpengaruh. Ia tetap dingin seperti biasa.


Gadis pelayan yang tidak sengaja ia lihat di Lombok secara tidak dia sangka kembali ia lihat setelah sekian lama. Dan ini sangat jauh dari Lombok. Apa yang dilakukan gadis ini di sini?


Bekerja sebagai pelayan di sebuah resort bukanlah pekerjaan yang buruk. Itu cukup bagus dengan gaji yang terbilang tinggi. Lalu dengan semua itu, untuk apa pergi hingga jauh ke ibu kota. Apalagi tinggal di kawasan yang rendah moral seperti ini. Apakah ia salah satu dari kupu-kupu malam di sini juga? Bisma menggelengkan kepalanya tanpa sadar saat satu kesimpulan ia ambil dengan sembarangan.


Sudah cukup buruk pandangan Bisma terhadap Karina yang menganggap Karina ini pecinta uang dan tukang hutang. Sekarang tambah satu lagi kesalahpahaman. Sedangkan seseorang yang sedang dinilai Bisma dengan buruk sedang beradu argumen dengan Bima dengan sengit.


“Kak Bima hentikan.” Nara menahan Bima agar tidak lagi menggoda Karina yang kini seperti singa dengan dua tanduk tambahan yang siap berkelahi.


“Hahahaha. Sangat menyenangkan mengganggu temanmu ini.” Bima bahkan tidak perlu repot merasa bersalah telah menjadikan Karina sebagai bahan lelucon.


“Aih berhentilah main-main. Jika kakak seperti ini terus, tidak akan ada gadis yang mau menikah denganmu.” Cibir Nara.


“Tentu saja ada. Hei gadis menikahlah denganku.” Bima menunjuk Karina dengan dagunya.


“Amit-amit!” Karina mendengus kesal. Memalingkan wajahnya dengan keras.


“Hei aku ini tampan dan rupawan. Gagah perkasa dan kaya raya. Kamu tidak akan rugi menikah denganku.” Bima menarik ujung kerahnya.


“Tapi aku yang akan dirugikan. Aku tidak akan memilih seseorang yang tidak tahu malu menjadi suamiku.” Tolak Karina.


“Sudahlah semuanya.” Nara harus menghentikan semua ini. “Karina, kakakku yang satu itu memang minta dihajar. Kalau kamu membantuku menghajarnya aku akan sangat berterima kasih.”


Karina tersenyum mengejek ke arah Bima saat Nara mendukungnya.


“Tapi...” Bima tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat Nara kembali memotongnya.


“Sudah kak Bima! Sekarang biarkan aku memperkenalkan kalian semua.” Nara menoleh pada Alex.

__ADS_1


“Karina, ini Alex suamiku. Alex ini Karina yang telah menyelamatkan ku.” Ucap Nara penuh haru.


“Karina.”


“Alex.” Keduanya saling menjabat tangan.


“Terima kasih sudah menolong istri saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika tidak ditolong oleh anda.” Kata Alex tulus.


“Tidak masalah tuan. Saya hanya kebetulan melihat hal yang tidak baik terjadi. Apalagi saat tidak sengaja melihat pisau yang digunakan untuk mengancam. Jika yang mengetahui adalah orang lain pasti juga akan melakukan hal yang sama. Kita hidup berdampingan dan harus tolong menolong bukan?” Terang Karina.


Alex mengangguk setuju. “Yah. Tapi bagaimana pun saya dan seluruh keluarga sangat berterima kasih.”


“Sama-sama.” Karina mengangguk dan tersenyum.


“Nah yang ini adalah kak Bisma dan kak Bima. Mereka kakakku.” Ketiga orang itu saling menjabat tangan.


Karina mengarahkan tatapan permusuhan pada Bima yang malah dibalasnya dengan senyum puas.


Tapi saat Karina menjabat tangan Bisma, ia akhirnya menyadari bahwa salah satu kakak Nara adalah orang yang pernah dia temui sebelumnya. Namun ia tidak mengatakannya. Ia ingat saat itu ia sedang bekerja di Lombok. Lagipula tidak ada hubungannya dengan mereka yang ada di sini.


“Baiklah Karina, kami harus pamit sekarang. Tolong terima ini sebagai ucapan terima kasih.” Alex mengulurkan amplop coklat berisi uang tunai tiga puluh juta. Uang itu awalnya akan ia gunakan untuk membayar DP detektif untuk mencari keberadaan Nara. Karena tidak jadi, biarkan uang itu dia berikan pada Karina.


Namun gadis itu tahu diri. Dia menolak dan mendorong amplop itu pelan. “Maaf saya tidak bisa menerimanya. Saya membantu dengan ikhlas.”


“Tapi kami juga memberinya dengan ikhlas.” Alex kembali mengulurkan amplop tersebut.


“Maaf. Saya benar-benar tidak bisa menerimanya. Jika saya menerimanya, nanti ketika ada orang yang butuh bantuan, seseorang akan melihat seberapa besar imbalan yang akan dia dapat baru menolong. Dan jika itu sesuatu yang kecil, itu akan benar-benar diabaikan.”


“Ternyata memang benar-benar bijak. Baiklah. Kalau begitu saya tidak akan memaksa. Tapi sebagai gantinya, kamu bisa menyimpan kartu nama ini. Sepertinya tidak masalah kan?” Alex mengangsurkan kartu nama pribadinya yang ekslusif. Tidak banyak orang yang pernah menerimanya. Biasanya, untuk urusan kantor ia akan memberikan kartu nama perusahaan.


“Suatu saat jika kamu membutuhkan bantuan, kamu bisa datang padaku. Kamu bisa menghubungi ku atau langsung datang ke kantorku. Kamu bisa tunjukkan kartu nama ini dan tidak akan ada yang berani menyulitkanmu.” Terang Alex.


“Baiklah. Saya akan simpan kartu nama ini baik-baik.” Karina menggenggamnya dengan kedua tangannya.


“Baiklah sekali lagi terima kasih.” Alex berterima kasih sekali lagi sebelum mengajak Nara untuk segera pergi.


“Karina terima kasih banyak untuk semuanya. Aku akan segera menghubungi mu nanti.” Karina mengangguk. Ia melihat Nara dan rombongan besarnya hingga hilang di ujung jalan.


*


*


*


Terima kasih banyak 🥰

__ADS_1


__ADS_2