
Kepulangan Nara disambut Isak tangis Nadia dan Serena. Keduanya khawatir pada kondisi Nara saat mendengar kabar penculikan itu.
Nadia dan Nathan langsung pergi ke mansion Juantama saat itu juga. Menunggu kepulangan Nara. Kemarin malam, saat mereka mendengar Nara diculik, di ia mereka seakan hancur.
Sejak kecil Nara mereka sayang dan mereka jaga dengan sepenuh hati. Sekalipun tidak pernah mereka biarkan Nara dalam kesusahan. Jadi mereka sangat takut saat terjadi sesuatu yang buruk pada putri mereka.
Nadia menangis sepanjang malam. Nathan bahkan sampai terpaksa memberi Nadia obat tidur agar istrinya itu dapat tenang.
Malam itu adalah malam yang paling menakutkan bagi semua orang. Baru setelah mendapatkan kabar bahwa lokasi Nara ditemukan dan sudah dipastikan jika Nara baik-baik saja karena ditolong seseorang, mereka akhirnya bisa tenang.
Nara menyandarkan kepalanya di pundak Nadia sejak ia pulang. Dengan lemah ia menceritakan apa yang terjadi pada semua orang.
Alex, Bisma dan Bima mengepalkan tangan mereka saat mengetahui siapa pelakunya.
“Aku tidak menyangka jika si brengsek itu bisa nekad juga. Seingatku dia adalah seorang pecundang.” Dulu saat Bisma memberi peringatan pada Roy, pemuda itu hanya bisa diam dan menurut. Bahkan Bisma tidak perlu mengambil banyak tindakan untuk membuat Roy menjauhi Nara.
Jadi ia tidak menyangka sama sekali jika pelaku penculikan adalah Roy.
“Siapapun dia. Dia harus mendapatkan ganjaran yang setimpal.” Nathan menggertakkan giginya.
“Tunggu apa lagi? Cepat lapor polisi.” Serena juga geram.
Mendengar saran Serena, Virly yang ada di sampingnya merasa khawatir jika dirinya akan terekspos. Gadis itu segera datang setelah dia diberitahu Serena kalau Nara sudah ketemu.
Semalaman Virly juga tidak bisa istirahat dengan tenang. Roy tidak bisa dihubungi. Ia penasaran rencananya berhasil atau tidak. Pagi tadi, saat mendengar berita Nara selamat ia merasa tidak senang. Ia mengutuk Nara yang memiliki nasib baik.
“Kita tidak bisa mengandalkan polisi dalam hal ini. Dengan kekuasaan keluarganya, ia tidak akan lebih dari tiga malam berada di dalam penjara.” Bisma mencibir.
“Benar yang dikatakan Bisma. Lebih baik kita gunakan kekuasaan untuk menghukumnya.” Bima tersenyum penuh misteri. “Nara sudah aman, Sekarang saatnya berburu.” Lanjutnya memberi kode pada Alex dan Bisma untuk beraksi.
“Sayang setelah ini istirahatlah dengan baik. Suamimu ini akan memberikanmu keadilan.” Pamit Alex berjongkok di depan Nara sambil menggenggam tangan Nara.
“Hati-hati.” Nara mengangguk.
Gerry ikut dalam kesenangan. Pria muda itu dengan penuh semangat bergabung bersama Alex dan yang lainnya.
Secara pribadi, ia juga ingin memberi pelajaran pada orang yang sudah mencelakai kakaknya. Bagaimanapun, Nara adalah kakak kesayangannya.
Setelah keluar dari mansion, Bima segera meminta anak buahnya mencari keberadaan Roy.
Kemarin malam, tak lama setelah Roy pingsan, ia ditemukan oleh seseorang. Dan orang itu membantu membuat Roy sadar.
Menyadari bahwa perbuatannya akan segera terungkap, ia memutuskan untuk melarikan diri. Awalnya ia ingin pergi ke luar negeri. Tapi setelah ia berpikir, ia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Dengan Bima yang ada di pihak Alex, Roy yakin pelariannya akan segera terungkap. Kemampuan Bima dan juga anak buahnya tidak diragukan lagi. Mereka dapat dengan mudah keluar masuk di jaringan milik orang lain. Dapat memeriksa data penting dan juga rekaman CCTV.
Dengan memikirkan hal itu. Roy akhirnya memutuskan untuk pergi ke vila pribadinya yang ia beli dengan sembunyi-sembunyi. Kesanalah awalnya Roy akan membawa Nara pergi.
“Bagaimana?” tanya Bima setelah sampai di kantornya yang ia juga ia jadikan markas.
“Maaf bos, kami tidak menemukan apapun. Nama target tidak terdaftar di bandara. Kami juga sudah memeriksa CCTV dan tidak menemukan bahwa target pergi ke sana.” Jawab salah satu anak buah Bima setelah menaikkan kaca matanya.
“Bagaimana di tempat lain?”
“Di seluruh terminal nihil.” Jawab yang lain.
“Di stasiun juga nihil. Tapi kami menemukan rekaman jika target sempat mengisi bahan bakar di salah satu SPBU di daerah J. Tapi kami tidak menemukan target setelah mengecek CCTV di jalan tol sekitar.”
“Itu artinya dia kabur dengan mobilnya. Cari tahu semua aset milik keluarga Winata.” Perintah Bima lagi.
“Ternyata dia cerdik juga.” Bisma mendengus kesal.
Alex memiliki rencananya sendiri. Ia mengajak Gibran untuk menemui Surya Winata. Ayah Roy. Laki-laki itu mendatangi Surya di kantornya.
Dengan senyum mengembang, Surya menyambut kedatangan Alex dan Gibran. Meskipun dua orang tamu itu tidak memiliki janji temu Sebelumnya, ia tidak mempermasalahkan nya sama sekali.
“Selamat datang tuan Alex. Saya sangat senang bertemu dengan Anda.” Menanggapi Surya, Alex memilih diam. Ia sudah tidak tahan ingin meluapkan amarahnya.
“Saya datang kesini bukan untuk perusahaan. Ini masalah pribadi.”
“Masalah pribadi?” Surya mengernyit bingung. Dia merasa tidak memiliki masalah apapun dengan pria muda berkuasa di depanya itu. Lalu urusan pribadi apa yang dimaksud?
“Masalah putra tuan.”
“Roy? Ada apa dengan Roy?”
“Semalam Roy menculik nyonya kami. Untung saja nyonya diselamatkan oleh seseorang. Kalau tidak, kami datang kemari hanya untuk menghancurkan.” Gibran mewakili Alex bicara. Sekretaris itu melihat bahwa Alex sudah menggertakkan giginya menahan amarah.
“Itu tidak mungkin.” Sangkal Surya.
“Dimana dia? Dimana si brengsek itu?” tanya Alex dingin.
“Maaf tuan. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.” Surya buru-buru berdiri. Ia hanya memiliki satu putra. Dan jika sesuatu terjadi pada Roy, maka semuanya tidak ada artinya.
“Jadi tuan menganggap kami berbohong?” Gibran ikut emosi.
“Tidak-tidak. Bukan begitu maksud saya.” Surya buru-buru menyangkal. Di depan Alex, perusahaannya tidak ada apa-apa nya. Dengan sekali ucap saja perusahaan kecilnya bisa hancur dalam sekejap.
__ADS_1
“Lalu?”
“Saya memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saya yakin Roy tidak mungkin melakukannya.”
Pakk
Gibran membanting ponselnya di atas meja. Di dalam rekaman video terlibat Roy membawa Nara. Meskipun wajahnya tertutup topi, tapi sebagai orang tua, Surya tahu jika itu memang adalah anaknya.
“Ini tidak mungkin.” Surya menggelengkan kepalanya dengan putus asa sampai ia terduduk di kursinya dengan lemas.
Anaknya yang selalu ia banggakan sudah memprovokasi orang yang seharusnya tidak ia sentuh.
“Jadi? Apa tuan masih mau mengelak?” Gibran mencibir.
“Maaf tuan. Saya rasa ini hanya kesalahpahaman saja. Saya yakin putra saya tidak bermaksud menculik istri tuan.”
“Gibran, perintahkan pada semua perusahaan yang berkaitan dengan PT. SR untuk berhenti. Beritahu mereka semua, jika ada yang membantu PT.SR, mereka akan berurusan denganku.” Perintah Alex sambil berdiri.
“Tidak tuan. Jangan lakukan itu pada perusahaan saya. Saya mohon tuan.” Surya berlari dan berlutu di hadapan Alex.
“Serahkan anakmu atau aku hancurkan perusahaan kecilmu ini.” Alex pergi meninggalkan pria tua yang putus asa.
**
Di vila yang ada di kota B, Roy baru saja bangun dari tidurnya. Semalaman ia menyetir seorang diri. Perjalanan yang menghabiskan waktu hingga lima jam perjalanan tanpa istirahat.
Roy berjalan dengan gontai ke dapur. Mengambil air mineral di dalam lemari es dan pergi ke balkon. Berdiri diam di sana melihat hamparan luas sawah yang berada jauh di bawah sana.
“Sial! Harusnya aku tidak mendengarkan Virly. Awas saja. Jika aku Sampai tertangkap, aku akan menyeret wanita sialan itu meskipun aku pergi ke neraka.” Roy meremas botol air mineralnya sebelum membantingnya ke luar balkon.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
Maaf banget ya Akoh sekarang aksi jarang balas komen kalian. Tapi semuanya akoh baca kok. Dan saran dan kritik yang kalian berikan untuk akoh, akoh gunakan sebagai bahan referensi.
Semoga ke depannya karya akoh semakin baik dan tidak mengecewakan para reader sekalian. 😘
Salam dari Akoh yang ada di sini,
__ADS_1
Love you all🥰