
Beberapa hari ini Nadia tidak bisa masuk sekolah. Walaupun dia juga tidak bisa menemani Rahmat di rumah sakit, tapi dirinya tidak bisa tenang. Dirinya tidak akan bisa mengajar dengan baik dengan kondisinya yang seperti ini. Beruntung pihak sekolah dan rekannya sesama guru mengerti benar keadaan Nadia.
Nadia hanya duduk murung di teras rumahnya dengan Joni yang selalu setia berada di sekitarnya. Pikirannya melayang di rumah sakit. Beberapa kali dia mencoba untuk meminta izin agar bisa menginap dan merawat bapaknya, namun selalu ditolak oleh lintah darat itu.
Beberapa hari ini pula, dokter Nathan selalu memberikan informasi mengenai perkembangan kondisi Rahmat. Dokter muda itu sangat bisa diandalkan. Dia selalu cepat mengambil keputusan demi kesembuhan Rahmat. Nadia sangat merasa beruntung telah mempercayakan bapaknya pada dokter Nathan.
"Saya ingin menemui nyonya muda." seorang wanita berumur tiga puluh tahunan berbicara keras di depan rumah. Membuat Nadia yang baru berbaring terbangun.
"Nyonya muda sedang istirahat sekarang."
Namun wanita itu terus bersikeras untuk menemui Nadia. Wanita itu berteriak memanggil Nadia hingga membuat para penjaga mengusirnya. Terjadi keributan di depan pagar. Nadia segera beranjak karena merasa namanyalah yang dipanggil.
"Maaf nyonya muda. Kami sudah melarangnya masuk." kata penjaga itu panik saat mereka melihat wanita itu memeluk kaki Nadia sesaat setelah Nyonya Mudamya keluar dari rumah.
"Tidak apa-apa." ucap Nadia sambil menyuruh pergi para penjaga yang hendak melepaskan tubuh wanita itu dari kaki Nadia.
"Bangunlah mbak, tidak perlu seperti ini. Mari kita bicara sambil duduk." Nadia menyentuh bahu wanita itu. Wanita itu menurut saat Nadia menggiringnya untuk duduk di kursi yang berada di teras.
"Sebelumnya saya mau meminta maaf nyonya muda." Wanita itu menghela nafas. Nadia masih mendengarkannya.
"Nama saya Narti. Saya adalah seorang janda dari kampung sebelah." Nadia sudah mulai mengetahui kemana arah pembicaraan ini. Gadis, Janda, wanita, pasti berhubungan dengan suami mesumnya. Nadia mendesah pasrah.
"Saya hamil nyonya muda dan saya minta ... " Nadia langsung membungkam mulut Narti. Nadia memperhatikan perut wanita itu. Perutnya sudah sedikit terlihat menonjol. Tidak seperti miliknya yang masih rata. Tiba-tiba dia merasakan nyeri di hatinya. Suaminya menebar benih dimana-mana. Dasar Buaya Darat!
Pasti suami mesumnya tidak tahan dan tidak sempat menggunakan pengaman sebelum beraksi.
"Maafkan saya nyonya muda tapi ini... "
"Saya tahu. Tapi jika anda ingin selamat menurutlah pada apa yang saya katakan." potong Nadia cepat.
Bukan hanya Narti yang pernah datang untuk meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya. Sudah lusinan yang pernah datang selama dua tahun Nadia menjadi istri juragan Bondan. Dan itu semua tidak berakhir baik. Jika bukan janinnya yang hilang, wanita itulah yang akan hilang.
"Sebaiknya kita bicarakan ini di tempat lain."
"Tapi kenapa?"
"Panggil Joni dan bilang untuk menyiapkan mobil untukku." perintah Nadia pada salah satu penjaga gerbang. Joni yang biasanya standby di depan rumah jika sewaktu-waktu Nadia membutuhkan dirinya sedang makan siang di dalam.
Nadia mengajak Narti untuk bicara di pinggir telaga. Joni mengawasi mereka dengan jarak satu meter dari Nadia. Wanita bertemu wanita kadang bukan kombinasi yang baik. Apalagi Joni tahu jika wanita itu salah satu wanitanya juragan Bondan. Beberapa kali Joni pernah mengantar juragan Bondan ke tempat wanita itu di masa lalu sebelum dia secara khusus menjadi bodyguard Nadia.
__ADS_1
"Sekarang bicaralah mbak Narti."
"Nyonya muda... "
"Nadia saja."
"Baiklah. Saya sedang mengandung anak dari juragan Bondan." Nadia mengangguk. Ia sudah tahu.
"Saya ingin meminta pertanggung jawaban. Tolong saya. Saya tidak mau menjadi bahan pergunjingan orang-orang." Narti memegang tangan Nadia.
"Apa boleh saya bertanya sesuatu?" Narti mengangguk.
"Atas dasar apa anda melakukannya dengan suami saya?"
Narti menegang mendapatkan pertanyaan menohok dari Nadia. Dia berfikir sebentar sebelum menjawab. "Saya butuh uang."
"Apakah hanya dengan melakukan hal menjijikkan itu yang anda pikir bisa menghasilkan uang?"
"Anda tidak akan mengerti. Saya miskin dan baru dipecat dari pekerjaan saya. Saya terpaksa." Nadia mendesah.
"Apakah sebelum anda melakukannya, anda tidak berfikir jika anda bisa hamil? Juragan Bondan itu laki-laki normal yang bisa membuat perut anda membesar seperti ini. Apakah anda tidak berfikir sampai sejauh itu ketika melayaninya hah?" tanya Nadia dengan nada tinggi.
Nadia tersenyum miring. "Saya tidak sepicik itu mbak Narti. Sudah lama saya membagi suami saya dengan wanita lain. Bukan hanya dengan anda. Puluhan bahkan ratusan wanita di luar sana yang sudah menjadi tempat saya berbagi suami." Nadia mendesah. Kenyataan yang sangat pahit. Istri mana yang tidak sakit hati jika harus berbagi suami dengan wanita lain? Seperti apapun suaminya, tetap dia merasa sakit.
"Sudah banyak wanita yang datang dengan keadaan hamil seperti anda mbak. Bahkan mungkin puluhan wanita. Dan semua tidak ada yang berakhir baik bagi mereka."
"Maksudnya?"
"Apakah anda pernah berfikir jika membagi harta lebih sulit dari membagi suami?"
"Apa yang anda katakan? Jangan sakiti anak saya!" Narti berteriak sambil memegang perutnya. Takut jika Nadia melakukan sesuatu yang menyakiti anak yang dikandungnya.
"Bukan saya yang seharusnya anda takuti mbak Narti." Nadia menggeleng.
"Saya hanya akan berbagi suami jika anda berhasil menikah dengan suami saya. Dan saya sama sekali tidak keberatan dengan itu. Malah Saya akan senang." Nadia tersenyum. "Duduklah mbak Narti. Dengan kondisi anda saat ini, tidak baik berdiri terlalu lama. Apalagi anda terlihat tegang." Narti kembali duduk.
"Yang ada di rumah besar itu bukan hanya saya mbak. Anda tahu nyonya besar disana. Dialah yang akan berada di garis depan jika sampai mengetahui di dalam perut anda ada anak dari suaminya."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Jika anda menyayangi anak anda, diamlah dan jangan berulah. Jangan sampai nyonya besar tahu kehamilan anda. Itu tidak baik."
"Lalu bagaimana? Saya membutuhkan suami."
"Jika anda berfikir butuh suami saat anda hamil. Kenapa anda melakukannya bukan dengan suami anda? Kenapa malah melakukannya dengan suami saya?"
Narti diam. Dari awal dirinyalah yang salah. Jika dirinya tidak tergiur dengan segepok uang yang ditawarkan oleh laki-kaki tua itu, semua pasti tidak akan terjadi.
Awalnya Narti berfikir jika kehamilannya akan merubah nasibnya. Selama ini juragan Bondan selalu memakai pengaman saat berhubungan. Tapi malam itu, dia tergesa-gesa. Dia sudah tidak dapat menahan hasratnya lagi. Dia sudah meminum obat kuatnya, tapi saat dia menemui Nadia, istri mudanya itu sedang datang bulan.
Narti sangat mengingat malam itu, juragan Bondan terlihat sangat bringas malam itu. Melakukannya dengan tergesa-gesa dan selalu menyebut nama Nadia setiap pelepasannya. Narti sampai kuwalahan mengimbangi kekuatan laki-laki tua yang sudah terpengaruh oleh obat kuat itu.
"Saya tidak bisa membantu anda dalam hal ini. Saya hanya dapat memberi saran, jika anda memang menyayangi anak dalam kandungan anda, dengarkan apa yang saya ucapkan tadi." Narti hanya diam. Dia sekarang bingung harus berbuat apa.
"Mari mbak. Saya akan mengantar anda pulang." Nadia berdiri. Diikuti Narti di belakangnya.
Nadia masuk setelah Joni membukakan pintu untuknya. Narti masuk melalui pintu di seberangnya.
Setelah mengantarkan Narti pulang, Nadia juga segera pulang. Hari ini terasa melelahkan. Nadia menyenderkan kepalanya pada kursi. Memijat pelipisnya yang terasa pening.
"Kamu tidak ingin membantunya Nad?" tanya Joni setelah melajukan mobilnya. Joni melirik Nadia dari spion. Wanita itu tampak tersenyum.
"Aku sudah membantunya Jon. Apa yang kamu harapkan? Menampungnya? bisa-bisa aku akan membangun rumah susun jika aku selalu menampung wanita yang datang dalam keadaan hamil." Nadia terkekeh membayangkannya.
*
*
*
^^^~***Aku Istri Muda***~^^^
...**Terima kasih sudah mampir 😘...
...Biasakan Like👍 ya...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
...🌾Kediri Raya🌾**...
__ADS_1