
Mendekati seorang wanita itu membutuhkan trik. Misalnya memberinya benda yang ia sukai. Mulai dari barang sederhana semisal coklat dan boneka hingga barang-barang mewah yang kadang jadi incaran. Lalu jangan lupakan untuk memberikan perhatian yang tulus.
Sesekali waktu juga perlu mengajaknya jalan. Belanja bareng, liburan bareng. Intinya menghabiskan waktu berdua. Tunjukkan betapa kita mencintainya. Dan seiring berjalannya waktu, gadis yang kamu cintai akan bertekuk lutut di hadapan kita.
Namun keadaan akan berbeda jika orang yang kita cintai tidak lagi sendiri. Ada anak yang berjalan di belakangnya. Trik yang dibutuhkan jelas berbeda dengan trik yang digunakan untuk mendekati gadis single. Dan ini sebenarnya susah-susah gampang.
Ini sudah satu bulan lebih Nathan berusaha mendapatkan restu Bisma untuk meminang mamanya. Dan ini cukup membuat Nathan frustasi.
Berbagai cara dilakukan oleh Nathan untuk itu. Namun semuanya sia-sia.
Pernah suatu hari Nathan mengajak Nadia dan anak-anaknya jalan-jalan di mall. Jika biasanya seorang anak akan sangat menyukai mall karena banyak barang yang bisa mereka pilih, ini tidak berlaku untuk Bisma.
“Bisma, kamu mau beli mainan apa?” tanya Nathan yang melihat Bisma hanya berdiri diam memperhatikan Nara yang sibuk memilih mainannya.
“Aku tidak butuh mainan om Neil. Aku sudah besar.” Jawab Bisma tanpa melihat Nathan yang berdiri di tak jauh darinya bersama Nadia.
“Oh. Baiklah. Kalau kamu melihat sesuatu yang menarik kamu bisa mengambilnya.”
“Tidak terima kasih. Aku bukan anak kecil yang bisa disuap dengan mainan anak kecil.” Ucap Bisma dingin membuat hati Nathan mencelos. Sungguh bukan begitu niatnya. Ia hanya ingin memberikan kasih sayangnya pada anak-anak Nadia. Ia hanya ingin Bisma tahu bahwa ia tidak sendiri untuk menjaga Nadia dan Nara. Ada dia sekarang yang juga bisa diandalkan.
Melihat wajah Nathan yang sendu Nadia memegang lengannya. Ia tahu betul niat baik Nathan. Ia sudah mengenal jauh pribadi laki-laki itu.
“Maafkan Bisma dokter. Dia masih anak-anak. Dia hanya berusaha melindungi apa yang ia sayangi.”
“Aku tahu sayang. Seharusnya aku berterima kasih padanya karena dia telah menjagamu dengan baik selama ini. Aku bangga padanya.” Nathan memandang lembut Nadia. Ia tahu pria kecil yang tangguh itu melakukan semua ini untuk melindungi Nadia dan Nara.
“Perjalanan yang kita ambil ini sangat sulit dokter. Jika dokter merasa lelah, dokter bisa melanjutkan hidup dokter tanpaku. Sepertinya mama dokter juga tidak begitu menyukaiku.” Ucap Nadia.
Beberapa hari yang lalu Nathan membawa Nadia menemui mama dan papanya yang kebetulan sedang mengunjunginya. Dan dari pertemuan pertama itu Nadia menyimpulkan jika Rita tidak menyukainya. Ini terlihat dari beberapa kali Rita memuji Miranda di depannya. Apa lagi dengan terang-terangan berkata bahwa Miranda adalah menantu impiannya.
“Apa yang kamu ucapkan Nadia. Aku sudah memilih jalan hidupku. Aku akan memperjuangkanmu bagaimanapun caranya. Aku juga mau kamu juga seperti itu. Kita berusaha bersama-sama. Hem?” Nathan menggenggam erat tangan Nadia.
Nadia mengangguk. Melihat tekad kuat Nathan ia juga merasa lebih bersemangat. Sudah banyak ia telah berjuang untuk kebahagiaan orang lain. Sekarang waktunya ia berjuang untuk kebahagiaannya. Apalagi ada orang yang juga melangkah bersamanya.
Nathan menarik Nadia bersandar di bahunya. Mencium pucuk kepala wanita yang sangat ia cintai itu.
“Aku mencintaimu Nadia. Apapun akan aku lakukan untukmu. Jangan menyerah. Aku yakin kita akan bahagia suatu saat nanti.”
“Terima kasih dokter.”
“Sayang, sampai kapan kamu memanggilku dokter? Bahkan aku sudah lama berhenti menjadi dokter. Berilah panggilan kesayangan untukku.” Nathan melirik Nadia yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Emm... bagaimana kalau mas? Em mas Nathan. Kedengarannya bagus.” Nadia menggigit bibir bawahnya. Ia agak canggung.
“Hem. Lumayan tapi jika kita sudah menikah nanti aku minta kamu menggantinya.”
“Um. Ok. Baiklah sebaiknya sekarang kita menghentikan Nara sebelum ia menghabiskan isi toko.” Kata Nadia ketika melihat troli yang didorong Nara penuh dengan mainan.
“Tak masalah. Aku akan membelikan semuanya.”
“Lalu apakah dok, emm mas mau membangunkan toko mainan sekalian di depan rumah?” ucap Nadia kikuk. Nathan tersenyum melihat rona malu-malu Nadia.
“Itu sepertinya ide yang bagus.” Nathan mengetuk dagunya. Mempertimbangkan saran. Mendengar jawaban Nathan membuat Nadia memukul lengan yang memeluk pinggangnya dengan kencang. Membuat si empunya meringis.
Hari sudah sore. Nara dan Bisma kelihatan lelah setelah berjalan-jalan seharian. Nathan mengantarkan Nadia dan kedua anaknya pulang. Ketika ia hendak pamit, Satria juga baru pulang dari bengkel sehingga keduanya memutuskan untuk mengobrol di teras rumah.
“Bagaimana jalan-jalannya? Lancar?”
“Huh! Trik yang kau sarankan meleset. Untuk Nara, iya berhasil. Tapi untuk Bisma....” Nathan menggantung ucapannya ketika melihat Satria mulai terkekeh. “Sebenarnya bagaimana kamu membesarkan adik laki-lakimu itu hingga membuatnya sangat kaku.”
“Hei bro! Anak itu dibesarkan dengan keras. Menjadi kuat adalah tujuan hidupnya.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Aku kan bilang memberikan apa yang anak-anak itu inginkan. Sekarang kamu tahu jika Bisma hanya ingin kuat.”
Satria geram pada Nathan. Kemana otak cerdasnya pergi di saat penting seperti ini? Ia pun menyentil dahi Nathan hingga siempunya mengaduh. Dasar calon anak tiri durhaka!
“Karena dia ingin menjadi kuat, jadikan ia kuat.”
“Caranya?”
“Pikir olehmu tuan bucin.”
Satria yang sudah jengkel meninggalkan Nathan di teras.
“Om Neil.” Panggil Nara dari dalam rumah. Gadis kecil itu sangat senang mengetahui bahwa papa idamannya belum pulang. Padahal ia tahu bahwa tadi ia sudah pamit mau pulang.
“Hai sayang. Sudah mandi?” Nathan mengangkat Nara. Menciumi pipi gadis kecil itu dengan gemas.
“Sudah om.”
“Iya. Nara sudah harum. Mama mana?”
__ADS_1
“Mama sedang masak. Kenapa om tidak makan malam disini saja sekalian?”
“Om bau Nara. Belum mandi. Lain kali saja ya.” Bujuk Nathan. Seharian ini ia menemani Nadia dan kedua anaknya jalan-jalan.
“Huh. Baiklah om.”
Nathan menggendong Nara masuk ke dalam rumah. Langsung menuju dapur karena ia memang sudah familiar dengan ruangan yang umum di rumah ini.
“Lho! Mas masih disini?” tanya Nadia yang merasa heran.
Nathan menggaruk tengkuknya sambil terkekeh. “Iya. Tadi mau pulang ketemu Satria di depan. Ini mau pamit lagi.”
“Sebentar lagi malam. Makan malam disini saja sekalian.” Nadia menoleh pada pembantu di sampingnya. Memberi kode untuk meneruskan kegiatannya. sedangkan si nyonya rumah berjalan mendekati tamunya yang sedang pamit.
“Tidak perlu. Lain kali saja. Sebenarnya ada sesuatu yang harus aku urus.”
“Oh begitu. Baiklah. Hati-hati di jalan.”
Nathan mencium kedua pipi Nara sebelum menurunkan gadis cilik itu. Kemudian maju dan mencium kening Nadia.
“Baiklah. Aku pulang dulu. Salam untuk Satria dan Bisma.”
Nadia mengangguk sebelum mengucapkan salam sebagai jawaban dari salam yang diucapkan Nathan.
Interaksi ketiga orang yang keintimannya sudah seperti sebuah keluarga tak luput dari pandangan dua orang laki-laki berbeda usia yang melihat ketiganya dari lantai dua.
“Neil adalah orang baik Bisma. Aku sudah mengenalnya sejak lama.” Satria menepuk pundak Bisma ketika melewati pria kecil yang bertindak seperti orang dewasa itu.
Bisma memang melihat bahwa Nathan menyayangi keluarganya dengan tulus. Tapi ia ingin melihat seberapa jauh perjuangan yang bisa Nathan lakukan.
*
*
*
Go Nathan go!
Ayo Nathan berjuang!!!
Taklukkan hati Bisma yang tangguh!
__ADS_1
Tapi kalau kamuh mau menyerah, Akoh juga mau kok sama kamuh. Hehehe
Reader nggak usah pada ngiri!