
Satu bulan telah berlalu setelah wisuda. Nara akhirnya memutuskan untuk bekerja di kantor Alex daripada melanjutkan pendidikan S-2 nya. Dan Alex tentu saja dengan senang hati menerimanya.
Sudah dua Minggu Nara bekerja sebagai asisten pribadi Alex. Bertugas menyiapkan segala kebutuhan Alex. Juga menemani laki-laki itu bersama dengan Gibran saat ada pertemuan di luar kantor.
Banyak gosip yang beredar mengenai hal itu. Para karyawan berkomentar jika Nara memanfaatkan statusnya untuk mendapatkan pekerjaan. Nara juga tidak berniat untuk menjelaskan. Lagipula semua itu memang benar.
Nara hanya ingin menghabiskan waktunya agar tidak sia-sia. Jika ia hanya duduk diam di rumah menunggu Alex pulang, itu akan sangat membosankan. Lagipula Alex memang suaminya. Dan dia adalah nyonya direktur di sana. Apa salahnya menggunakan kekuasaan? Itu hak miliknya.
“Lelahnya.” Nara mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga begitu ia dan Alex sampai di mansion. Hari ini Alex sibuk. Jadi sebagai asisten nya, secara otomatis ia juga memiliki banyak pekerjaan.
“Sudah aku bilang kan untuk duduk diam di rumah.” Alex mengelus puncak kepala Nara.
“Aku akan mati karena bosan.” Nara melirik Alex dengan malas.
“Kamu juga bisa pergi jalan-jalan. Atau berbelanja.”
“Itu juga membosankan. Aku sudah tidak punya teman sekarang. Syifa dan Gita sudah berangkat ke luar negeri. Vera juga sudah sibuk dengan pekerjaannya.” Keluh Nara.
“Ya sudah. Besok kan weekend. Kita istirahat saja di rumah seharian. Aku ke atas dulu.” Alex mengelus pipi Nara sebelum pergi meninggalkan Nara yang semakin merebahkan dirinya di sofa.
Nara meraih tas yang tadi ia lempar di atas meja saat lelahnya sudah berkurang. Ia hendak berdiri saat Mak Jum datang dan menyampaikan bahwa mereka kedatangan tamu.
“Siapa Mak?” tanya Nara saat Mak Jum ragu-ragu mengatakan siapa tamu mereka saat ia bertanya.
“Ah biarkan aku saja yang melihat.” Nara tidak sabaran dan melenggang ke ruang tamu.
Seorang wanita paruh baya yang terlihat lemah duduk dengan menundukkan kepalanya. Bajunya terlihat dia bukan berasal dari keluarga kaya. Bahkan ia memakai sandal karet yang sudah terlihat lusuh. Nara memperhatikan dengan lekat wanita itu. Berusaha mengingat-ingat apakah ia mengenal wanita itu. Namun sekeras apapun ia mencoba, ia merasa tidak mengenal bahkan melihatnya.
“Maaf, apakah saya mengenal anda?” tanya Nara saat ia duduk di sofa.
Mendengar suara Nara, Perlahan wanita itu mengangkat kepalanya. Nara yakin jika wanita itu akan terlihat cantik jika saja ia berpenampilan rapi. Namun sayang penampilan tertutup dengan pakaian nya yang terlalu biasa, juga wajahnya yang terlihat kusam.
Dan yang membuat Nara terkejut adalah sorot mata wanita itu yang terlihat kecewa. Apa yang terjadi sebenarnya?
“Sayang kenapa kamu belum juga naik ke...” suara Alex terputus saat ia sampai di ruang tamu. Tatapan teduh Alex berubah nyalang dalam sekejap.
“Kamu kenapa datang kesini?” teriak Alex dengan keras.
“Sayang siapa dia?” Nara perlahan mendekati Alex yang Terlihat sangat menyeramkan.
__ADS_1
“Maaf. Maaf. Maaf.” Wanita itu tiba-tiba berlutut sambil menangis tersedu-sedu. Dia kembali menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar dengan Isak tangis yang terdengar pilu.
“Aku tidak butuh kata maafmu. Pergi dari hadapanku sekarang!” Alex menaikkan kembali nada bicaranya. Membuat wanita itu terjingkat karena terkejut.
“Ada apa ini sebenarnya? Sayang, siapa dia? Kenapa kamu berbicara kasar padanya?” Nara semakin bingung. Ia tahu jika Alex adalah orang yang kejam. Namun dia hanya wanita tua yang tidak berdaya.
“Jangan salahkan dia. Aku yang salah. Aku adalah ibu yang jahat. Aku..”
“Masih berani memanggil dirimu sebagai seorang ibu hah?!” Mata Alex memarah karena marah. Di sisi lain, Nara sangat terkejut mendapati kebenaran. Wanita itu ternyata adalah ibu mertuanya.
“Maafkan mama Lex. Mama bersalah padamu. Tapi mana tidak ada pilihan lain.” Serena semakin terisak.
“Huh! Tidak ada pilihan lain. Kami pergi untuk mengejar laki-laki lain agar kamu bahagia. Dan meninggalkan anakmu yang masih kecil menderita di bawah asuhan suamimu yang kejam. Hebat! Kamu hebat!” Alex terkekeh penuh ejek terhadap wanita yang dulu ia panggil mama itu.
“Kamu tidak mengerti sayang. Mama sangat menderita. Papa mu sering main tangan saat ia sedang marah.”
“Dan kau dengan teganya meninggalkan anakmu dengan orang seperti itu hah? Dimana hatimu?”
“Aku salah. Aku tahu aku salah. Aku salah karena meninggalkan mu demi kebahagiaan semu itu. Aku menyesal.”
“Lalu apa? Kemana laki-laki yang kau kejar itu? Mana kebahagiaan yang kamu kejar!”
“Itu karma. Aku sudah mendengar ceritamu. Sekarang kamu bisa keluar dari rumahku.”
“Lex...”
“Jangan pernah memanggilku! Aku muak dengan panggilanku.”
“Aku ini mamamu.”
“Berhenti menyebut dirimu sebagai mamaku. Mamaku sudah mati sejak ia meninggalkan aku dua puluh tahun yang lalu. Sekarang keluar.” Teriak Alex keras. Ia menunjuk dengan tajam wanita yang semakin terisak di depannya.
“Sayang, tolong maafkan mama. Bagaimana pun, dia tetap ibumu.” Nara menyentuh lengan Alex. Mengusapnya ringan.
“Kamu tidak tahu apa yang dia lakukan sayang. Tidak ada baiknya membelanya. Ayo kita naik.” Alex menarik Nara untuk pergi meninggalkan Serena.
Brugh...
Nara menoleh dan segera berlari saat melihat Serena jatuh pingsan. Segera ia mengangkat kepala Serena dan memangkunya.
__ADS_1
“Lex cepat bantu.”
“Tidak.” Tolak Alex tegas.
“Bagaimana bisa kamu berbuat seperti itu pada mamamu?”
“Ahk!” Alex tidak ingin Nara berpikiran buruk padanya. Ia akhirnya mengalah dan mengangkat Serena ke kamar tamu. Nara segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan wanita itu.
Alex mengajak Nara bicara serius mengenai Serena saat dokter memeriksa wanita paruh baya itu.
“Aku tidak ingin dia tinggal di sini.” Alex menolak usulan Nara.
“Mama sudah tua. Kesehatan nya juga buruk. Kita tidak bisa membiarkannya hidup tidak jelas di luar sana.”
“Dia bersalah.”
“Tapi dia sudah meminta maaf. Apa hatimu sekeras batu pada ibumu sendiri? Apa jika aku bersalah kamu juga akan begitu padaku?” Nara memojokkan Alex.
“Dia adalah dia. Kamu adalah kamu. Kalian berbeda.”
“Tapi kami sama-sama wanita. Aku tidak bisa melihat wanita apalagi wanita tua hidup menderita. Bagaimana jika aku mengalami hal yang sama nantinya?”
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
“Maka dari itu, biarkan mama tinggal disini. Aku mohon.” Nara memohon dengan sangat.
Alex menutup matanya saat melihat mata Nara yang mulai berkaca-kaca.
“Baiklah. Tapi jangan paksa aku untuk melakukan hal lebih.” Mendengar persetujuan Alex, Nara segera memeluk suaminya itu.
“Terima kasih sayang. Aku tahu kamu laki-laki yang baik.”
*
*
*
Maaf telat 🙏
__ADS_1
Kemarin temani anak jalan-jalan di sekolah. Lama nggak jalan rasanya capek banget.