
Sore hari di hari pertama liburan mereka, Tora dan Sindy membawa mereka berlayar di atas kapal. Sebuah kapal cukup besar telah disewa untuk perjalanan sore itu.
Laut membentang luas sejauh mata memandang. Angin berhembus menyejukkan suasana. Di atas sebuah kapal, Nathan dan Nadia sedang duduk berdampingan menikmati suasana. Memperhatikan aktivitas keempat anak mereka.
Duduk di ujung kapal, Bisma sedang serius memperhatikan ujung pancingnya yang ia lempar ke tengah laut. Laki-laki tampan itu lebih memilih memancing dari pada berenang seperti saudaranya yang lain.
Tepat berada di depan Nadia dan Nathan, Dini sedang berlatih untuk menyelam ditemani seorang instruktur. Suara gelombang ombak yang menabrak body kapal beradu dengan gelak tawa Dini yang dari tadi malah sibuk menggoda instruktur tampan yang mengajarnya.
Tidak jauh dari kapal, dua orang dengan peralatan menyelam sederhana terlihat bergerak di bawah air yang dangkal. Mereka tidak lain adalah Alex dan Nara. Sebenarnya terumbu karang sudah terlihat dari atas kapal. Tapi pasti akan lebih indah jika melihatnya dari dekat.
Gerry juga sedang menyelam seperti Alex dan Nara. Tapi ia memilih menyelam terpisah dari Nara dan Alex. Sudah dapat dipastikan jika ia hanya akan jadi ikan remora yang tidak akan dianggap keberadaan nya oleh ikan hiu.
Remaja itu mengambil beberapa gambar melalui kamera yang memang dibuat untuk mengambil gambar di bawah air. Tak sedikit ia memotret dirinya sendiri.
Yang mempunyai kegiatan yang paling unik di atas kapal itu adalah Serena. Wanita itu berdiri di atas kanvas yang sudah terlihat gambar gunung di atasnya. Sebuah gunung yang terlihat kecil di kejauhan menjadi objek lukisannya.
Tora dan Sindy sendiri memperhatikan semua orang. Memastikan kenyamanan orang-orang yang akan menjadi majikan mereka beberapa hari mendatang.
Setelah satu jam menikmati pemandangan bawah laut, Alex mengajak Nara untuk segera naik. Tidak baik bagi istrinya berlama-lama di dalam air. Ia tidak mau jika sampai Nara masuk angin karenanya.
Akhirnya meskipun dengan wajah yang cemberut dan bibir yang mengerucut, Nara pun naik ke atas kapal dengan bantuan Alex.
“Aku masih belum puas sayang.” Nara masih menggerutu saat baru menginjakkan kakinya ke atas kapal. Alex mengikuti di belakangnya.
“Kita bisa melakukannya lain kali. Jangan sampai masuk angin.” Alex mengelap tubuh Nara yang basah kuyup. Dengan lembut ia mengusap rambut Nara agar airnya berkurang.
“Dengarkan perkataan suamimu. Jangan main air terlalu lama.” Nathan berdiri dan berjalan ke arah pinggir kapal. Memegang pagar pinggiran kapal.
Alex mengajak Nara mengganti pakaian dengan yang kering agar tidak masuk angin.
“Dini! Kalau kamu hanya bercanda seperti itu sampai ikan tuna makan ikan paus juga tidak akan bisa menyelam. Sudah cukup. Cepat naik!” perintahnya pada sang putri yang malah disambut gelak tawa dari putrinya tersebut.
“Hahahaha. Siap papa. Ayo kakak tampan kita naik. Kita lanjutkan lain kali ya. Aku janji lain kali akan jadi murid yang penurut.” Ucapan Dini hanya ditanggapi senyuman dari instruktur bernama Roy itu.
__ADS_1
“Kenapa putriku bisa genit seperti itu?” tanya Nadia yang entah pada siapa. Nathan yang mendengarnya hanya bisa terkekeh tanpa menyauti.
Tak butuh waktu lama, Dini sudah naik ke atas kapal. Ia segera masuk ke dalam kapal dan mengganti pakaian renangnya.
“Woy kak. Mancing dari tadi Cuma dapat ini?” Gerry yang baru saja naik melihat hasil tangkapan Bisma. Seekor ikan kerapu ukuran sedang, dua ekor dog teeth tuna dan seekor tuna merah cukup besar berhasil naik ke atas kapal.
Rahang Gerry hampir jatuh saat ia menoleh ke samping saat bau harum menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
“Ikan bakarnya sudah siap tuan Bisma. Silahkan.” Dua orang laki-laki muda yang merupakan kru kapal membawa nampan berisi ikan Stripped Bass bakar dengan berat hampir lima kilo di tangan mereka. Melihat tampilan ikan bakar yang menggugah selera, perut Gerry langsung berdemo ingin minta bagiannya.
“Bawa ke depan. Biar semua orang bisa makan.” Bisma menyeringai bangga pada adiknya. “Lihat, akulah pemenangnya. Coba lihat apa yang kamu dapat?” Cibir Bisma yang melirik adiknya yang masih basah kuyup itu.
“Siapa bilang aku tidak dapat apa-apa? Sebentar lagi aku akan meng-upload foto-foto yang aku ambil di bawah sana. Tunggu dan lihat saja nanti foto-foto ku akan membuat followers ku akan tambah banyak.” Gerry melenggang meninggalkan Bisma dan masuk ke dalam kapal.
Nara sangat senang bisa menikmati ikan bakar hasil tangkapan bisma. Dia juga meminta pada kru kapal untuk membuatkannya lagi dengan ikan hasil tangkapan Bisma yang lainnya.
“Lex jangan-jangan selama berada di rumahmu Nara tidak kamu kasih makan ya? Kalau kamu tidak sanggup memberinya makan, kembalikan saja pada kami.” Bisma bertanya setengah mengejek.
“Apa yang kamu katakan Bisma? Papa tidak pernah mengajari kamu ucapan yang tidak bermoral seperti itu.” Nathan menatap tajam Bisma. Meskipun ia tahu jika Bisma hanya bercanda, tapi menurutnya itu sudah keterlaluan.
“Maaf pa. Bisma salah. Lex maafkan aku ya. Aku hanya bercanda.” Bisma meminta maaf dengan penuh penyesalan.
“Aku tahu.” Jawab Alex singkat. Ia tidak menyangka jika Nathan akan setegas itu pada Bisma. Dan ia lebih tidak percaya jika Bisma meminta maaf padanya hanya karena masalah yang ia anggap sepele.
“Sudah-sudah. Jangan terus berbicara. Makan dengan cepat.” Nadia mengintruksi. Semua orang langsung terdiam. “Ayo jeng.” Nadia menyentuh tangan Serena.
“Ikan bakar ini memang enak. Pantas saja Nara minta lagi. Nara sayang, nanti jangan lupa nanti kita makan bersama setelah tiba di vila ya?” seketika, ucapan Nadia membuat Nathan, Nara, Dini dan Bisma menoleh tidak percaya padanya. Sedangkan Serena dan Alex hanya saling pandang dengan canggung.
Itulah emak-emak. Jika ada emak di sana, aturannya lah yang akan berlaku. Seorang pengusaha sukses sekelas Nathan pun akan tunduk pada aturan emak Nadia.
Setelah puas menikmati pemandangan dari atas kapal, mereka memutuskan untuk kembali ke darat. Apalagi sebentar lagi matahari akan tenggelam. Mereka tidak akan melewatkan kesempatan itu untuk menikmatinya.
Setibanya di dermaga, para anak muda berpencar. Mereka membagi diri menjadi dua kelompok. Pastinya Alex dan Nara hanya akan jalan-jalan berdua. Mereka bergandengan tangan di sepanjang pantai.
__ADS_1
Dini menggandeng Bisma dan Gerry. Awalnya Bisma enggan untuk jalan-jalan di pantai. Baginya yang maniak kerja, kegiatan seperti itu sungguh membuang waktu. Jika bukan karena Nara yang merengek memintanya ikut acara liburan kali ini, ia pun sebenarnya juga enggan untuk ikut.
Dan sekarang, karena rengekan adik perempuannya yang lain ia akhirnya ikut berjalan bersama Gerry dan Dini.
Saat ini, Dini sedang berada di tengah-tengah dua kakaknya yang tampan. Beberapa orang yang melihat mereka, tidak bisa tidak untuk menatap heran ketiganya. Mereka menyangka jika mereka bertiga adalah pasangan kekasih yang aneh.
“Kenapa mereka melihat kita seperti itu ya?” Dini menoleh pada Bisma yang terlihat cuek dan Gerry yang sedang tebar pesona bergantian.
“Itu karena pesonaku.” Ucap Gerry bangga sambil menyugar rambutnya dengan penuh gaya.
“Pe-de!” cibir Dini. “Mereka pasti lebih terpesona pada kak Bisma. Kak Bisma lebih bersinar dari pada kak Gerry. Kak Gerry itu menang tampan doang. Tapi kak Bisma lebih berkarisma. Kak Gerry begini.” Dini memberikan jempol terbaliknya pada Gerry. Yang membuat pria muda itu emosi. Dini segera berlari demi menghindari amukan sang kakak.
Bisma hanya melihat kedua adiknya berkejaran tidak jelas di pantai yang sudah berubah menjadi warna jingga. Ia menghentikan langkahnya secara mendadak.
Tepat saat itu, di belakangnya sedang berjalan dua orang gadis dengan seragam pegawai resort yang sedang terburu-buru. Karena Tidak menyangka jika orang di depan mereka berhenti mendadak, satu diantaranya menabrak punggung Bisma dan terjatuh.
“Auuch. Sakit.” Gadis itu meringis sambil mengelus dahinya yang membentur punggung Bisma.
Bisma segera menoleh dan bersiap membantu gadis itu. Namun Bisma kalah cepat dengan teman gadis itu.
“Maafkan kami karena kurang hati-hati.” Dua orang gadis itu menunduk hormat ketika berhasil berdiri dengan seimbang.
“Saya yang seharusnya meminta maaf karena berhenti mendadak.” Ucap Bisma tulus. Ia tahu jika ia lah yang salah.
“Kami juga salah karena kami terburu-buru dan Tidka memperhatikan jalan. Sekali lagi kami mohon maaf. Kami permisi dulu.” Teman gadis itu menarik tangan gadis yang tadi menabrak Bisma. Keduanya berjalan dengan cepat ke arah resort. Bisma memandang keduanya hingga mereka hilang di balik pintu.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🥰
__ADS_1