Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_102. Rival Kecil Nara


__ADS_3

“Setelah ini aku ada meeting dengan divisi perencanaan. Kamu tunggu aku di ruanganku. Aku akan menyelesaikan nya dengan cepat. Setelah itu aku akan mengajakmu jalan-jalan. Oke?” Alex menurunkan Nara ketika mereka keluar dari lift.


“Oke.” Nara mengangguk patuh. Kemudian ia meminta tas miliknya yang dibawakan Virly.


Alex menggandeng Nara masuk ke ruangannya setelah memerintahkan Virly untuk mengatur ruang meeting.


Melihat keduanya masuk tanpa memperhatikannya, ia merasa sangat kesal. Di kantor, bahkan setelah ia menjadi seorang asisten ia masih tidak bisa mendekati Alex sedikitpun. Alex seperti memberi jarak dengannya.


Selain untuk urusan pekerjaan, Alex tidak bisa sembarangan ia dekati.


Di ruangan Alex, Nara duduk dengan santai di kursi kebesaran suaminya. Memutar-mutar kursi dengan malas sambil menonton drama di ponselnya.


Saat ia sedang menikmati dramanya, suara ribut dari luar ruangan mengganggu waktu santainya. Dengan kesal ia turun dari kursinya dan melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan. Siapa sangka, baru ia membuka pintu, seorang gadis cantik tiba-tiba jatuh di depannya.


Jika Nara tidak menghindar tepat waktu, gadis cantik berseragam putih abu-abu itu pasti menabrak tubuhnya.


“Auch.” Gadis itu mengaduh sambil menepuk kedua tangannya. Jika saja tangannya tidak ia gunakan untuk menopang berat tubuhnya, bisa dipastikan ia akan jatuh dengan posisi yang memalukan.


“Kenapa diam saja? Cepat bantu aku berdiri!” teriak gadis cantik itu dengan keras.


Nara mengernyitkan alisnya. Memindai gadis yang masih terduduk dilantai dengan menyedihkan. Terlihat segar dan manis. Meskipun gadis ini cantik, baginya dia hanyalah Gadis bau kencur.


“Tunggu apa lagi?” teriaknya semakin marah. Dua karyawan wanita yang berdebat dengan gadis itu tadi berdiri dengan takut.


“Siapa dia?” Nara melirik dua wanita itu.


Dengan ragu salah seorang dari mereka membuka mulutnya, “Ini nona Megan. Putri tuan Ajisaka.”


“Ooh.” Nara melirik Megan. “Masih betah duduk di sana?” Nara mengejeknya lewat tatapan matanya.


Megan berdiri dengan kesal. Ia langsung pergi ke kantor Alex setelah pulang sekolah. Dan di sini ia malah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.


“Nyonya...” dua karyawan wanita ragu-ragu untuk bertindak. Yang satu adalah nyonya mereka, yang lainnya adalah putri kesayangan klien penting perusahaan mereka. Menyinggung salah satunya pasti bukan hal yang sederhana.


“Kalian pergilah. Lanjutkan pekerjaan kalian.” Menghela napas lega, mereka pergi setelah membungkukkan badan.


“Siapa kamu? Bertindak sangat arogan.” Megan menyilangkan kedua tangannya. Melihat Nara dengan tatapan permusuhan.


“Siapa kamu? Bertindak sangat tidak sopan.” Nara membalik pertanyaan Megan. Membuat Megan mengepalkan tangannya.


“Ish! Aku akan memberitahumu, aku adalah calon istri kak Alex.” Nara menahan tawanya. Tapi ia gagal dan tawa renyah akhirnya terdengar di dalam ruangan Alex.


“Apa? Apa yang kamu tertawakan?” Megan sangat marah.


“Kalau kamu adalah calon istri Alex. Aku akan memberitahumu kalau aku adalah istrinya.” Nara masih berusaha menahan tawanya.


“Ooh. Jadi kamu istrinya kak Alex." mendengar pernyataan Nara bukannya membuat gadis itu takut, Megan malah terlihat bahagia. "Kenalkan. Aku Megan Savier Ajisaka.” Megan mengulurkan tangannya dengan bangga. “Aku adalah calon istri kak Alex. Ke depannya kita akan menjadi kakak beradik. Mohon kerjasamanya.” Mendengar pernyataan percaya diri lawan bicaranya, Nara tidak bisa menahan tawanya.


Hahahaha


Megan mengerucutkan bibirnya. Melihat Nara dengan kesal. Ia tahu jika Nara melihatnya dengan remeh.


“Sudahlah. Lagi pula kamu tidak penting. Dimana kak Alex?”

__ADS_1


“Suamiku sedang meeting. Setelah ini dia akan mengajakku jalan-jalan.”


Nara dengan sengaja menekan kata suamiku. Berharap agar Megan menjadi terpancing.


Klak... Pintu terbuka dari luar. Alex masuk ke dalam ruangannya dengan tatapan heran.


“Sayang, kenapa dia ada disini?” tanya Alex heran.


“Heh sayang, bukankah dia adalah calon istrimu.” Nara mencibir.


Alex mengernyitkan alisnya. Lalu melihat gadis yang ada di samping Nara yang sedang tersenyum dengan manis. Matanya yang bulat bersinar.


“Hei kak Alex. Kenapa lama tidak mengunjungiku? aku rindu tahu.” Megan berkata dengan percaya diri.


Ia berjalan mendekati Alex. namun segera diblokir oleh Nara.


“Oh. Kenapa ada di sini?” Alex melingkarkan tangannya di pinggang Nara.


Nara mengecup pipi Alex sebelum tersenyum penuh kemenangan. Namun harapan bahwa Megan akan melihatnya dengan kesal ternyata tidak terjadi. Gadis itu bahkan masih mempertahankan senyum dengan gigi kelincinya.


“Aku sangat kangen kak Alex. Bisakah aku ikut jalan-jalan dengan kalian?” tanya Megan penuh harap.


“Kami mau pergi kencan. Kamu mau apa ikut?” Nara menatap kesal gadis yang tak tahu malu itu.


“Kita kan bisa kencan bersama. Aku tidak keberatan membagi kak Alex denganmu.”


“Aku yang keberatan.” Nara berteriak keras. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi gadis kecil itu.


“Kamu pulanglah.” Potong Alex cepat. Ia tidak bisa membiarkan istrinya tidak senang. Dampaknya akan tidak baik untuknya.


“Huh. Baiklah. Kalau kak Alex memintaku untuk pergi, aku akan pergi. Tapi jangan lupa untuk menemuiku ya.” Megan bersungut-sungut. Tapi ia menurut. Ia segera keluar dari ruangan dan dengan cepat hilang dari pandangan Alex dan Nara.


Ruangan tiba-tiba menjadi canggung. Luapan emosi masih menggumpal di hati Nara. Suasana hatinya sedang kacau saat ini. Wajahnya yang masam membuat Alex takut untuk melakukan sesuatu. Ia takut akan salah langkah dan malah membuat Nara semakin marah.


“Jangan dimasukkan ke hati. Dia hanyalah anak kecil.” Alex menangkup pipi Nara.


“Tapi kenapa kamu diam saja? Seharusnya kamu mengelak saat dia bilang seperti itu. Apakah kamu tahu sangat menyakitkan saat wanita lain menyebut dirinya calon istrimu. Lalu aku apa? Hiks hiks hiks.” Nara mulai menangis. Sejak tadi ia berusaha tetap tenang untuk menghadapi Megan.


“Sayang maafkan aku. Dia sebenarnya hanyalah gadis yang kurang kasih sayang.” Alex menghapus air mata Nara dengan ibu jari tangannya dengan lembut.


“Lalu apa harus menggantinya dengan kasih sayangmu? Ini tidak adil untukku. Huhuhu.” Nara semakin terisak. Alex segera membawanya ke dalam pelukan.


“Bukan seperti itu.”


“Lalu apa?”


“Aku hanya menganggapnya sebagai adik. Aku mengenal tuan Ajisaka sudah lama. Aku banyak belajar darinya. Aku sendiri melihat bagaimana gadis itu tumbuh.”


“Tapi dia tidak menganggapmu sebagai kakak.” Tubuh Nara bergetar. Hubungan seperti itu akan rumit. Ia tidak ingin terjebak.


“Karena dia sudah seperti adik bagiku, bukankah dia juga adik untukmu.”


“Maksudmu apa? Kamu ingin aku berbaik hati padanya? Aku tidak mau!” Nara menolak dengan tegas.

__ADS_1


“Megan sebenarnya gadis yang baik. Hanya saja ia tidak mendapat cukup perhatian. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Sejak kecil dia dirawat oleh pembantu. Dua orang kakaknya memperlakukannya sebagai noda. Penjahat yang membunuh ibu mereka. Dan tuan Ajisaka ayahnya hanya sibuk pada bisnisnya. Selalu mengabaikannya. Yang ia tahu adalah jika Megan butuh sesuatu, ia akan memenuhi semua keinginan nya. Itulah yang membuatnya manja.” Alex menjelaskan sambil merapikan rambut di kening Nara yang basah akibat keringat.


“Aku tahu kamu adalah perempuan yang hebat. Aku yakin kamu mengerti apa yang aku maksud.” Nara mengangguk.


“Baiklah. Sekarang basuh wajahmu. Kamu kehilangan sepuluh persen cantikmu saat kami menangis.” Alex mencubit hidung Nara.


“Ish! Kenapa kamu jadi seperti papa? Menyebalkan!” Nara berpaling dan masuk ke dalam kamar mandi. Alex tersenyum melihat tingkah Nara.


**


Alex membawa Nara untuk menikmati danau buatan di hotel miliknya yang baru saja diperbarui. Daerah di pinggir danau sudah diatur sedemikian rupa hingga terlihat cantik.


Bunga-bunga berwarna-warni bermekaran dalam pola yang sudah diatur. Pepohonan rindang mensuplay oksigen yang akan memanjakan paru-paru.


Menghabiskan waktu sore di sana pasti sangat menyenangkan.


Dua orang yang masih saja seperti pengantin baru meskipun usia pernikahan mereka sudah tidak batu lagi berdiri dengan mesra menghadap matahari yang hampir terbenam di ufuk timur. Nara berdiri dengan dada bidang Alex dia jadikan sandaran. Kedua tangan Alex melingkar di perut Nara dengan tangan Nara yang ada di atasnya. Bibir Alex seperti tidak pernah berhenti mencium pucuk kepala yang ada di depannya. Aroma harum rambut Nara ia cium tanpa bosan.


Di depan mereka, danau buatan yang luas terbentang. Bias cahayanya memantul di atas permukaan danau yang tenang. Meskipun danau ada di area hotel, wilayah dia sekitar danau dibuka untuk umum. Dulunya, danau itu adalah rawa-rawa milik pemerintah yang tidak digunakan. Sering dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga.


Daerah di sekitar rawa sudah cukup maju. Perekonomian mulai menggeliat dengan banyaknya pabrik dan gedung perkantoran yang didirikan. Melihat itu, Alex ikut membangun hotel bintang lima. Dan saat melihat lahan, ia tertarik pada lahan rawa yang ada di sebelah lahan yang akan ia beli.


Meskipun dengan proses yang alot karena itu adalah lahan pemerintah, akhirnya lahan itu dapat diambil alih setelah pemerintah mengetahui jika lahan itu akan diubah menjadi danau dan lahan terbuka.


Setelah resmi dibuka untuk umum. Danau buatan itu menjadi salah satu tempat tujuan berkumpul untuk menghabiskan waktu. Mulai dari anak-anak, muda-mudi dan para orang tua senang berada di sana. Lingkungan indah dan udara yang segar.


Begitu juga dengan Nara dan Alex. Sesekali mereka akan datang ke sana untuk menghabiskan waktu.


“Sudah malam. Ayo kita ke hotel.” Alex melepaskan pelukannya.


“Kita pulang saja. Kasihan kalau mama di rumah sendirian.”


“Baiklah. Ayo.” Alex menarik tangan Nara. Merek meninggalkan danau dengan saling bergandengan tangan.


Saat di tengah perjalanan pulang, Bima menghubunginya karena ada kabar mengenai keberadaan Roy.


“Ada apa?” tanya Nara heran melihat wajah Alex yang berubah serius.


“Persembunyian Roy sudah ditemukan.” Nara mengangguk paham. “Sekarang aku akan mengantarmu pulang. Setelah itu aku akan menemui Bima.”


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩


Sabar ya... Nikmatin dulu alurnya... pasti ada saatnya dimana pelakor dihukum 😎


Akoh ini juga P3 (Pasukan Pembenci Pelakor) akoh juga kesal kalau baca part yang buat pelakor bahagia. Kita sama!


Dalam karya akoh, yang namanya Pelakor tidak akan menang 🤪

__ADS_1


__ADS_2