Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_36. Amarah Nara


__ADS_3

Untuk beberapa saat Nara dan Alex larut dalam keadaan. Wajah mereka tidak lebih dari sejengkal jaraknya. Mereka sama-sama dapat merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa wajah.


Alex yang pertama sadar dari keadaan itu. Ia menyeringai melihat Nara yang memasang ekspresi imut menurutnya. Ah! Padahal para pembaca bahkan tahu apapun ekspresi yang dipasang Nara akan dianggap lucu oleh Alex.


“Memangnya kenapa? Aku hanya ingin merapikan rambutmu yang sedikit berantakan.” Alex mengulurkan tangannya membelai rambut Nara. Menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga.


Nara tersentak. Ia reflek mendorong tubuh Alex hingga terjengkang dengan posisi yang memprihatinkan. ****5* Alex merasakan ngilu akibat berbenturan dengan lantai yang keras. Sukses membuat laki-laki itu mengaduh.


“Tidak berperasaan.” Ucap Alex dengan masih di posisi duduk. “Padahal kan aku hanya ingin membantu.” Lanjutnya.


Dengan cepat Nara menghampiri Alex. Mensejajarkan tubuhnya dengan Alex dengan menggunakan lutunya sebagai tumpuan. “Maaf. Aku tidak sengaja. Lagian kamu sih bikin aku kaget.” Ucapnya.


“Setelah semua ini masih bisa menyalahkan ku?” dengus Alex. Meskipun wajahnya terlihat sangat menyedihkan. Hanya dia dan Tuhan yang tahu bahwa di dalam hatinya ia sedang tertawa terbahak-bahak.


“Maaf. Sini biar aku bantu berdiri.” Nara segera berdiri dan menjulurkan tangannya untuk membantu Alex berdiri.


Entah Nara yang terlalu polos atau Alex yang terlalu pintar memanfaatkan keadaan. Niat baik Nara dimanfaatkan dengan seenaknya oleh Alex. Pria yang beberapa detik yang lalu masih menampilkan wajah teraniaya nya, sekarang memutar keadaan dengan senyuman licik yang baru disadari Nara setelah dirinya merasakan tubuhnya tertarik dan menabrak dada Alex yang keras.


“Tuan Alex, saya....” Gibran menghentikan ucapan dan langkahnya seketika saat melihat pemandangan ambigu di depannya. Dengan panik Gibran segera menutup pintu yang masih belum tertutup sempurna. Akan jadi masalah besar jika ada orang lain yang melihat keadaan di dalam ruangan.


Alex dan Nara berada di atas lantai dengan Alex yang ada di bawah. Kedua tangan laki-laki itu melingkar di pinggang ramping Nara. Sedangkan di dadanya, tangan Nara menahan tubuhnya agar tidak menempel pada tubuh Alex. Dalam keadaan ini, terlihat seperti Nara mendominasi permainan.


“Lex lepaskan aku.” Nara meronta berusaha melepaskan diri. Namun sepertinya laki-laki itu enggang melepaskan Nara. Kesempatan yang susah payah ia dapatkan mana boleh terlewat begitu saja.


“Tidak akan.” Alex menggelengkan kepalanya dengan cepat. Membuat Nara semakin frustasi.


“Kamu tidak malu dilihat pak Gibran?” Nara semakin keras berusaha melepaskan diri. Mendorong tubuh Alex dengan sekuat tenaga. Nara menunjuk Gibran dengan dagunya karena tangannya ia buat penyangga agar tubuhnya tidak menempel pada Alex terlalu dekat.


“Tidak.” Jawaban Alex membuat Nara naik pitam. Ia pun berteriak dengan suaranya yang aduhai.


“Kamu tidak malu tapi aku yang malu. Lepaskan!”


Alex segera melepaskan pelukannya pada Nara dan menggunakan tangannya untuk menutup telinga sebagai gantinya saat suara Nara yang begitu memekakkan telinga berhasil membuat telinganya berdengung untuk beberapa saat.


Gibran yang berdiri tiga meter dari keduanya bahkan juga merasakan dampaknya. Telinganya juga sedikit berdengung. Ia diam-diam bersyukur bahwa bukan dirinya yang ada di posisi Alex. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya telinga Alex saat itu.


Memanfaatkan keadaan, Nara segera berdiri dan menyilangkan tangannya dengan sombong. Ia menyeringai melihat Alex yang saat ini berwajah gelap yang bukan pura-pura lagi.


“Hemph! Rasakan! Masih berani mengambil kesempatan dalam kesempitan?” sindir Nara yang melihat Alex mulai berdiri dengan lemas.

__ADS_1


“Tentu saja masih. Jika ada kesempatan lain akan aku gunakan dengan lebih baik lagi.” Jawaban Alex membuat Nara ingin memukul kepala laki-laki itu. Membuat kesal saja.


“Lex! Bisakah kamu memiliki malu sedikit?” Nara menghentakan kakinya.


“Apa boleh buat? Aku hanyalah laki-laki biasa yang sedang jatuh cinta.” Nara memandang aneh ekspresi Alex. Jika digambarkan seperti komik NT yang sering dibacanya, mungkin Author akan menggambarkan Alex dengan bunga-bunga dan gambar hati berwarna pink di sekitar kepala Alex. Dan jangan lupakan bola mata berbentuk wajik berkilauan.


Alex kembali mendekat saat Nara tidak menyadarinya. Hingga ia kembali berakhir dalam pelukan laki-laki itu.


“Bisakah kamu menjaga imejmu sebagai pria antagonis yang cuek dan dingin di cerita ini?” Nara mendesis. Alex ini benar-benar. Apakah ia tidak melihat atau memang sengaja menganggap Gibran yang berdiri sebagai tokoh tunggal itu sebagai pajangan?


“Tidak. Di depan gadis yang aku cintai aku akan menanggalkan semuanya.” Alex tersenyum dengan pasti. Membuat Nara bergidik.


“Ini bukan intinya. Aku tidak peduli semua itu. Sekarang yang terpenting adalah lepaskan aku! Aku tidak ingin dipeluk olehmu.” Nara kembali meronta.


“Gibran ini salahmu. Nara jadi malu aku peluk karena kamu ada di sini.” Tiba-tiba Alex melirik Gibran dengan tajam. Laki-laki yang sedari tadi hanya diam itu tiba-tiba merasa terancam. Mengapa jadi ia yang salah sekarang?


“Hei bos! Kekasihmu yang tidak mau dipeluk olehmu kenapa jadi aku yang salah?” ingin sekali Gibran mengucapkan semua itu. Tapi apalah daya dia yang tidak memiliki kekuatan apapun di depan bosnya itu. Nasib jadi anak buah. Sudah jadi penonton tunggal yang hanya bisa gigit jari. Disalahkan pula!


“Lepaskan aku Lex! Mau aku teriak lagi?” Alex masih enggan menuruti permintaan Nara. Hingga ia melihat Nara bersiap untuk berteriak lagi baru melepaskan Nara.


“Jangan memelukku sembarangan lagi.”


“Sudahlah aku lebih baik pulang saja. Aku hanya akan membuat darahku naik jika terus di sini.” Nara segera mengambil tas dan ponselnya.


“Baiklah. Biar aku antar.” Alex hendak menyusul. Tapi Nara lebih dulu mencegahnya.


“Tidak mau. Aku akan naik taksi.”


“Aku yang membawamu kesini. Dan bilang pada Bisma akan mengantarmu pulang.”


“Ish! Biarkan pak Farid saja yang mengantarku.” Putus Nara. Ia tak mau berdebat lagi dengan Alex yang akan selalu mencari kesempatan.


“Baiklah. Hati-hati di jalan.” Nara mengangguk sebelum keluar dari ruangan Alex.


“Gibran sampaikan pada pak Farid untuk bersiap.” Gibran segera mengambil ponselnya dan melaksanakan tugas dari Alex.


Nara baru saja keluar dari ruangan Alex saat merasakan perutnya mulas.


“Ish. Kenapa harus sekarang sih?!” gerutunya. Ia pun segera berjalan ke arah toilet yang ada di ujung koridor. Lorong itu sepi. Para karyawan sibuk dengan pekerjaan mereka di ruangan mereka.

__ADS_1


Saat Nara baru saja keluar setelah selesai menuntaskan hajatnya, ia mendengar beberapa suara yang ia kenali sedang membicarakannya. Ia pun berhenti dan berniat menguping.


“Apa kamu tadi lihat tuan Alex membawa Nara masuk ke dalam ruangannya?” seorang karyawan perempuan yang sedang menyisir rambutnya berkata pada temannya.


“Tentu saja. Emang dasar gadis s1alan. Padahal sudah keluar dari kantor ini amsih saja merayu tuan Alex.” Jawab temannya.


“Padahal kita tahu sendiri dulu dia bahkan berani bermesraan dengan pria lain. Aku rasa Nara menggunakan tubuhnya untuk menggoda para pria tampan.”


“Kamu benar. Aku ingin tahu ibu seperti apa yang membesarkan anaknya seperti itu. Pasti ibunya tidak jauh beda dengan anaknya.”


Brak... Nara membuka pintu kamar mandi dengan sangat keras. Membuat dua wanita yang sibuk bergosip terkejut dibuat nya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🥰


Like👍 dan komen² oke😁


Pojoknya Akoh....


Gibran : Kenapa nasib aku gini banget sih Koh?😳


Akoh : Ya emang skripnya kayak gitu. Udahlah terima aja perannya.😏


Gibran : Bisa nggak sih tukar peran aja? Ngenes banget jadi sekretarisnya si Alex.🤔


Alex : Kamu nggak suka? Mau aku potong gaji?😡


Gibran : Padahal nggak ada gajinya juga. Masih aja belagu!🙄


Alex : Oke! Bulan ini kamu nggak akan dapat gaji!🤬


Gibran : Ampun tuan Bos! Saya punya tiga anak dan dua orang istri yang harus saya biayai...🥺


Akoh : ?????????😱😱😱😱

__ADS_1


__ADS_2